
NASIONALTERKINI. Upacara adat Kirab Pusaka Saparan Ki Ageng Wonolelo kembali digelar dengan khidmat dan meriah di Kompleks Masjid dan Makam Ki Ageng Wonolelo, Dusun Wonolelo, Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman. Gelaran ke-58 ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal dan warisan budaya leluhur masih hidup dan lestari di tengah masyarakat modern.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, turut hadir dalam perhelatan budaya ini dan berkesempatan membagikan apem—ayam manis berbentuk bulat yang sarat makna—kepada masyarakat. Apem menjadi simbol dari semangat berbagi, keikhlasan, dan doa keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Upacara adat ini bukan hanya prosesi budaya, tetapi jembatan silaturahmi antara warga dan para keturunan (trah) Ki Ageng Wonolelo. Nilai-nilai luhur yang diwariskan beliau patut kita teladani,” ujar Bupati Harda:Minggu:03/08/2025

Filosofi dari Leluhur: Menyatukan Spiritualitas dan Kemanusiaan
Ki Ageng Wonolelo, atau Syekh Jumadigeno, bukanlah tokoh sembarangan. Ia adalah sosok penyebar agama Islam di wilayah Sleman yang juga merupakan keturunan langsung dari trah raja besar Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sebagai anak dari Syekh Khaki (Jumadil Qubro), dan cucu Pangeran Blancak Ngilo, garis keturunannya menunjukkan kesinambungan antara kekuasaan kerajaan dan spiritualitas keagamaan.
Dalam sejarahnya, Ki Ageng Wonolelo mendirikan pondok dan pusat dakwah di wilayah Wonolelo. Ia mewariskan lebih dari sekadar peninggalan fisik seperti pusaka dan benda keramat, tetapi juga nilai-nilai luhur berupa kesederhanaan, kepemimpinan spiritual, dan keteguhan dalam menyebarkan kebaikan.

Kirab Pusaka: Jejak Fisik dan Spiritual
Kirab pusaka menjadi puncak peringatan, di mana warga bersama para keturunan Ki Ageng membawa dan mengarak peninggalan leluhur dalam sebuah prosesi sakral. Kirab ini bukan sekadar seremoni visual, melainkan manifestasi penghormatan terhadap perjuangan masa lalu, sekaligus pengingat bahwa spiritualitas dan budaya tidak bisa dipisahkan.
Ketua Panitia, Kawit Sudiyono, yang juga merupakan Ketua Trah Ki Ageng Wonolelo, menyampaikan rasa syukur atas pengakuan resmi Kirab Saparan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional dengan sebutan Apem Wonolelo.

“Ini adalah bentuk dharma bakti anak cucu kepada pepunden. Dengan pengakuan ini, kita semua dituntut untuk menjaga, melestarikan, dan merawatnya dengan sepenuh hati,” kata Kawit.

Warisan Takbenda yang Bernyawa
Tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari setengah abad ini bukan sekadar pelestarian budaya, tetapi juga penanaman nilai-nilai karakter kepada generasi muda. Di tengah derasnya arus modernisasi, Saparan Ki Ageng Wonolelo hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan tidak berarti meninggalkan akar.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi bagian dari wisata budaya yang hidup. “Semoga upacara adat ini terus lestari, dan menjadi ruang kontemplasi, kebersamaan, dan penghargaan terhadap leluhur.”
Saparan Ki Ageng Wonolelo bukan sekadar ritual. Ia adalah cermin jati diri masyarakat Jawa, yang mampu menyatukan dimensi spiritual, sosial, dan budayaPungkas:Kawit(Tyo)
