
foto=kolaborasi antara House of L’MAR, Bala Maharddhika, dan Grand Diamond Hotel
NASIONALTERKINI.COM. YOGYAKARTA. Semangat pelestarian budaya melalui pendekatan kreatif dan kekinian akan hadir dalam gelaran “Helai Masa: Bala Maharddhika Show”, sebuah pertunjukan kolaboratif yang memadukan fashion, tari, dan musik dalam satu panggung budaya. Acara ini akan berlangsung pada Minggu, 14 Juni 2026 pukul 15.00 WIB di D’Lounge, Grand Diamond Hotel Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara House of L’MAR, Bala Maharddhika, dan Grand Diamond Hotel Yogyakarta yang menghadirkan karya para desainer lokal, pertunjukan tari ikonik, serta lagu-lagu legendaris Indonesia dalam balutan konsep yang mengangkat nilai-nilai warisan budaya Nusantara.
Ketua Bala Maharddhika, Angkin, menjelaskan bahwa Bala Maharddhika merupakan komunitas seni tari yang telah berdiri sejak era 1980-an dan hingga kini tetap aktif berkontribusi dalam pelestarian budaya, khususnya seni tari, dengan sentuhan yang relevan bagi generasi masa kini.

“Bala Maharddhika telah menjadi bagian dari perjalanan seni budaya Yogyakarta selama puluhan tahun. Kami terus berupaya menjaga warisan tari Indonesia agar tetap hidup dan dicintai generasi muda melalui berbagai pendekatan yang lebih dekat dengan perkembangan zaman,” ujar Angkin.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui pertunjukan tari, tetapi juga melalui wastra dan busana yang menjadi bagian penting dari identitas bangsa. Karena itu, Helai Masa hadir sebagai ruang yang mempertemukan berbagai elemen budaya dalam satu panggung kolaboratif.
Sementara itu, Lia Mustafa, Founder L’MAR The Unique Boutique Line sekaligus penggagas acara, mengatakan bahwa Helai Masa lahir dari keresahan sekaligus harapan agar budaya Indonesia tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi terus menjadi sumber inspirasi bagi masa depan.
“Helai Masa adalah sebuah perayaan identitas. Setiap helai kain menyimpan cerita tentang perjalanan bangsa, tentang tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan tentang kreativitas yang terus berkembang. Kami ingin menunjukkan bahwa budaya bukan sesuatu yang diam, tetapi sesuatu yang hidup dan terus bergerak bersama masyarakat,” kata Lia Mustafa.
Ia menjelaskan bahwa konsep acara ini dibangun di atas gagasan bahwa seni tidak memiliki batas. Fashion, tari, musik, dan karya kreatif lainnya dapat saling bertemu untuk menghadirkan pengalaman budaya yang lebih luas dan relevan bagi masyarakat modern.
“Melalui batik, wastra, dan karya-karya berbasis kerajinan lokal, kami ingin mengajak publik melihat bahwa warisan budaya Indonesia memiliki nilai yang sangat besar. Bukan hanya sebagai identitas, tetapi juga sebagai sumber ekonomi kreatif yang mampu menciptakan peluang bagi banyak orang,” ujarnya.
Lia menambahkan bahwa keterlibatan komunitas, pelaku UMKM, desainer muda, serta para seniman menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan secara kolaboratif.
“Budaya akan tetap hidup ketika ada ruang untuk berkarya. Karena itu, kami berusaha menghadirkan panggung yang mempertemukan para pelaku kreatif lintas generasi. Ketika desainer, penari, musisi, dan komunitas budaya bergerak bersama, maka warisan budaya akan semakin kuat dan relevan di tengah perubahan zaman,” tambahnya.
Peragaan busana dalam Helai Masa akan menampilkan karya dari Beco, Jogjiestory, L’MAR Collection x Pheryno Leather, dan Griya Batik Lestari. Setiap sesi fashion show akan diiringi lagu-lagu Indonesia yang telah menjadi bagian dari perjalanan musik nasional, mulai dari karya-karya Chrisye, Afgan, Vina Panduwinata hingga Ismail Marzuki.
Sebagai kolaborator utama, Bala Maharddhika akan membawakan dua tarian yang menjadi identitas komunitas tersebut, yakni Tari Bhineka Tunggal Ika dan Tari Nandak Betawi, yang menggambarkan keberagaman budaya Indonesia.
Acara akan dipandu oleh MC Awang dengan penampilan spesial dari penyanyi muda Lala Singer yang akan membawakan sejumlah lagu populer Indonesia.
Rangkaian acara juga akan dihadiri oleh Gusti Prabukusumo, tokoh budaya yang selama ini dikenal aktif mendukung pengembangan komunitas seni dan budaya di Yogyakarta. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya yang dilakukan melalui kolaborasi lintas bidang kreatif.
Menurut Lia Mustafa, Yogyakarta memiliki posisi strategis sebagai pusat kreativitas dan budaya Indonesia. Oleh karena itu, kolaborasi seperti Helai Masa diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi berbagai komunitas kreatif lainnya.
“Yogyakarta selalu memiliki energi kreatif yang luar biasa. Kota ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga melahirkan inovasi-inovasi baru berbasis budaya. Melalui Helai Masa, kami ingin menunjukkan bahwa budaya dan kreativitas dapat berjalan berdampingan serta menjadi kekuatan untuk membangun masa depan,” ungkapnya.
Puncak acara akan ditandai dengan Parade Flash Mob yang melibatkan seluruh model, desainer, penari, dan pengisi acara sebagai simbol semangat kebersamaan dalam menjaga warisan budaya Indonesia.
Mengusung pesan ‘Everyone Can Wear Art, Everyone Can Preserve Culture’, Helai Masa menjadi perayaan kreatif yang mempertemukan tradisi dan modernitas dalam satu panggung, sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota budaya yang terus melahirkan inovasi berbasis warisan Nusantara.Pungkas:Lia(Tyo)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com
