
Yogyakarta — Dalam semangat merayakan harmoni antara budaya, alam, dan kesejahteraan manusia, Indonesian Fashion Chamber (IFC) berpartisipasi aktif dalam Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) dengan menghadirkan rangkaian workshop kreatif yang menyoroti pentingnya keberlanjutan dan kearifan lokal dalam dunia fesyen.

Acara yang digelar di Mustika Resort & Spa ini menjadi salah satu wujud kolaborasi antara komunitas kreatif dan pelaku industri fesyen Yogyakarta untuk memperkuat gerakan sustainable fashion, serta mengajak masyarakat kembali mengenal nilai-nilai keseimbangan dalam berkarya.
🌿 Apresiasi dan Pesan GKR Bendara
GKR Bendara selaku Ketua Jogja Cultural Wellness Festival 2025 menyampaikan apresiasinya atas kontribusi IFC dalam menghadirkan nilai keberlanjutan melalui medium fesyen. Menurutnya, kreativitas yang berakar pada budaya tidak hanya melahirkan karya estetik, tetapi juga menghadirkan keseimbangan bagi jiwa dan lingkungan.

“Kolaborasi seperti ini menghadirkan makna yang lebih dalam bagi dunia fesyen kita. Ketika kreativitas diselaraskan dengan kearifan lokal dan keberlanjutan, maka fesyen tidak lagi sekadar gaya, melainkan gerakan kesadaran,” ujar GKR Bendara.
Ia menegaskan bahwa JCWF bukan hanya festival, melainkan ruang pembelajaran bersama untuk menemukan kembali hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam.

“Wellness dapat tumbuh dari banyak pintu—salah satunya melalui aktivitas kreatif yang mengajak kita hadir sepenuhnya, menghargai proses, dan kembali terhubung dengan akar budaya kita,” tambahnya.

✨ Workshop yang Menghidupkan Kreativitas Berkelanjutan
Dalam kegiatan ini, IFC menggandeng TIRAY Batik dengan menghadirkan narasumber Tanti Syarief dalam Workshop Batik Warna Alami. Para peserta diajak menyelami filosofi dan proses pewarnaan alami dari tanaman indigo—sebuah praktik tradisi yang harmonis dengan alam dan penuh makna.
Selain itu, IFC juga berkolaborasi dengan Harmony Nusantara dan Dewi Roesdji, yang menghadirkan sesi Upcycling Denim & Kain Perca. Melalui workshop ini, peserta belajar memberi kehidupan baru pada sisa material tekstil—mengolah denim dan potongan kain menjadi produk fesyen yang bernilai estetis, fungsional, sekaligus ramah lingkungan.
Kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan kreativitas, tetapi juga membuka kesadaran akan isu limbah tekstil dan pentingnya responsible fashion.
👗 Suara IFC: Fesyen Bukan Sekadar Tren
Lanny Amborowati, selaku Person in Charge (PIC) IFC Yogyakarta Chapter, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya IFC untuk mengarahkan fesyen Indonesia menjadi lebih beretika dan berkelanjutan.
“Melalui workshop ini, kami ingin mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk memahami bahwa fesyen tidak hanya soal tren atau gaya, tapi juga soal proses, nilai, dan dampak. Alam adalah guru yang luar biasa; dari pewarnaan alami hingga daur ulang kain, semuanya mengajarkan kita tentang kesabaran, keseimbangan, dan tanggung jawab terhadap bumi,” ujar Lanny.
Ia menambahkan bahwa kehadiran IFC di JCWF sejalan dengan gerakan budaya dan wellness di Yogyakarta, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara pikiran, jiwa, dan alam.
“Kegiatan seperti ini adalah ruang yang indah untuk belajar, berbagi, dan berkreasi bersama. Kami ingin menunjukkan bahwa wellness juga bisa hadir melalui aktivitas kreatif seperti membatik atau mendaur ulang bahan, karena keduanya memberi ketenangan dan kesadaran diri,” tambahnya.

🌸 Menjadikan Yogyakarta Pusat Fesyen Berjiwa
Partisipasi IFC semakin memperkaya rangkaian program JCWF yang menampilkan beragam kegiatan budaya, kriya, dan gaya hidup berkelanjutan. Festival ini menjadi momentum untuk menghubungkan kembali manusia dengan akar budayanya, serta memperkuat posisi Yogyakarta menuju salah satu pusat fesyen dunia yang menjunjung nilai keseimbangan antara tradisi dan inovasi.

Dengan semangat kolaborasi dan rasa cinta pada kriya lokal, IFC terus berkomitmen mendorong terwujudnya ekosistem fesyen berkelanjutan di Yogyakarta. Melalui inisiatif seperti Batik Warna Alami dan Upcycling Denim, IFC berharap semakin banyak desainer, pengrajin, dan masyarakat yang terinspirasi untuk berkarya dengan lebih bijak, lestari, dan bermakna—selaras dengan spirit wellness dan budaya.Pungkas:Lanny(Tyo)
