NASIONALTERKINI, Loman Park Hotel Jogja hadir dengan konsep unik bertajuk “Wellness Lounge dalam gelaran Jogja Coffee Week ke-5 yang diselenggarakan di Jogja Expo Center (JEC). Handono S. Putro, selaku Founder dan Managing Hotel, mengungkapkan bahwa partisipasi Loman kali ini menekankan pada kesadaran lingkungan melalui pemanfaatan limbah kopi dan teh menjadi produk bermanfaat.
“Kopi itu luar biasa. Tidak ada yang terbuang, dari bijinya hingga kulit luar cherry kopi. Semuanya bisa dimanfaatkan,” ungkap Handono:05/07/2025
Handono S Putro
Loman Park Hotel memperkenalkan berbagai produk hasil daur ulang, seperti:
Sabun dan scrub alami dari limbah kopi, yang mampu mengangkat sel kulit mati sekaligus ekonomis.
Spray linen dari limbah teh, digunakan untuk mengharumkan sprei dan sarung bantal.
Inhaler dari sisa minuman herbal (hots), sebagai pelega hidung tersumbat saat flu.
Minuman fermentasi kulit nanas bernama TEPACE yang kaya manfaat bagi kesehatan.
Tak hanya produk berbasis pangan, Loman juga bekerja sama dengan Rumah Celup Indonesia, yang dipimpin oleh Fitri, penerima penghargaan dari UNESCO atas inovasi kain halal dengan teknik ecoprint dari dedaunan. Kolaborasi ini ditampilkan dalam bentuk pameran kain dan juga seragam karyawan Loman yang seluruhnya menggunakan bahan ramah lingkungan.
Selain itu, Loman juga menggandeng desainer Lanny Amborowati, yang secara khusus menciptakan motif fashion bertema kopi. Karya tersebut dipamerkan di booth Loman selama acara berlangsung.
Handono menegaskan bahwa semua inisiatif ini memiliki pesan kuat: mencintai bumi dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
Kami ingin mengajak para pecinta kopi dan masyarakat luas untuk tidak mengeksploitasi alam. Kita harus mengembalikan kebaikan kepada lingkungan. Dari lingkungan, kembali ke lingkungan,” ujarnya.
“Mari kita jaga bumi ini bersama, sesuai filosofi Jawa memayu hayuning bawana –Mempercantik ke indahan dunia
Dengan kolaborasi lintas bidang dan semangat keberlanjutan, Loman Park Hotel berharap dapat menginspirasi lebih banyak pelaku industri untuk mengusung konsep ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam setiap inovasi.Pungkas:Handono(Tyo)
Hari Kunjung Perpustakaan Kabupaten Sleman yang diselenggarakan di Pendopo Parasamya Sleman
NASIONALTERKINI.COM Pemerintah Kabupaten Sleman terus memperkuat budaya literasi masyarakat melalui pengembangan layanan perpustakaan dan berbagai kegiatan literasi yang inklusif, edukatif, dan menyenangkan. Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui peringatan Hari Kunjung Perpustakaan Kabupaten Sleman yang diselenggarakan di Pendopo Parasamya Sleman, Senin :14/09/2026
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Danang Maharsa menyerahkan penghargaan kepada tiga pemustaka sebagai bentuk apresiasi atas pemanfaatan layanan perpustakaan. Apresiasi tersebut diberikan bagi Pemustaka Penggerak Literasi, Pemustaka Berdampak, dan Pemustaka Cendekia. Penghargaan juga diberikan kepada pemilik naskah kuno sebagai bentuk penghormatan terhadap upaya masyarakat dalam menjaga, merawat dan melestarikan naskah sebagai sumber pengetahuan serta warisan budaya.
“Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, literasi menjadi semakin penting. Masyarakat tidak cukup hanya mampu membaca dan memperoleh informasi, tetapi juga harus mampu memahami, memilah, mengolah dan menyampaikan informasi secara bijaksana,” ujar Danang.
Pada kesempatan tersebut, Danang juga menerima buku berjudul Simponi Lereng Merapi: Keajaiban Punglor Sleman. Buku yang mengangkat kekhasan Kabupaten Sleman tersebut diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman.
Danang pun mengajak masyarakat untuk menjadikan perpustakaan sebagai rumah pengetahuan, ruang kreativitas, sekaligus ruang tumbuh bagi masyarakat Sleman. Ia juga mengapresiasi semakin berkembangnya kafe buku di Kabupaten Sleman yang dinilai dapat menjadi ruang alternatif bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk membangun kebiasaan membaca.
“Mari kita bangun generasi yang tidak hanya cerdas membaca, tetapi juga cerdas berpikir, cerdas berbicara dan cerdas menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Anton Sujarwa, menyampaikan bahwa peringatan Hari Kunjung Perpustakaan menjadi salah satu momentum untuk menumbuhkan semangat masyarakat agar semakin gemar membaca. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan perpustakaan dan memperluas budaya membaca di tengah masyarakat.
“Kegiatan ini dapat menumbuhkan semangat masyarakat untuk lebih gemar membaca dan menjadi komitmen kita dalam menggerakkan kegiatan layanan perpustakaan serta menyebarkan budaya membaca ke masyarakat,” ujar Anton.
Menurutnya, perpustakaan memiliki peran strategis sebagai ruang pembelajaran sepanjang hayat. Hal tersebut tercermin dari tingginya pemanfaatan layanan perpustakaan di Kabupaten Sleman.
“Dalam satu tahun terakhir, layanan perpustakaan tercatat telah dikunjungi 12.472 pengunjung, sementara layanan perpustakaan keliling menjangkau sekitar 128.000 pengunjung,” tambahnya.
Bunda Literasi Sleman, Parmilah Harda Kiswaya, menilai seorang pegiat literasi tidak cukup hanya memiliki kegemaran membaca, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk menyampaikan pengetahuan, mengajak, menginspirasi, dan menggerakkan masyarakat.
“Berbicara adalah keterampilan yang bisa dilatih. Tidak harus langsung hebat, yang penting berani memulai,” Jelasnya(Redaksi) Terkininasional@gmail.com
NASIONALTERKINI.COM Jakarta Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menegaskan bahwa Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) memberikan landasan hukum yang lebih jelas bagi hubungan kerja antara Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan pemberi kerja.
UU PPRT mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam hubungan kerja, termasuk bagi PRT, pemberi kerja, dan Perusahaan Penempatan Pekerja Rumah Tangga (P3RT).
Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK) Kemnaker, Sugeng Heri Suseno, mengatakan hubungan kerja antara PRT dan pemberi kerja harus dilaksanakan dengan saling menghargai serta memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak.
“Saling menghargai bukan hanya soal panggilan, melainkan juga kepastian hak dan kewajiban kedua belah pihak,” ujar Sugeng melalui siaran pers Biro Humas Kemnaker, Senin (14/9/2026).
Dalam pengaturannya, PRT dapat direkrut secara langsung oleh pemberi kerja maupun melalui Perusahaan Penempatan Pekerja Rumah Tangga (P3RT).
UU PPRT juga mengatur sejumlah hak dan kewajiban para pihak, antara lain terkait waktu kerja, lingkup pekerjaan, upah, Tunjangan Hari Raya (THR), kepesertaan jaminan sosial, serta lingkungan kerja yang aman dan sehat.
Untuk penyelesaian perselisihan, UU PPRT mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat antara PRT dan pemberi kerja. Apabila kesepakatan tidak tercapai, penyelesaian dapat dilanjutkan melalui mediasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Fokus UU PPRT adalah memberikan pelindungan, pengakuan, dan perlakuan kepada PRT sebagai pekerja sesuai dengan harkat dan martabat manusia,” pungkas Sugeng.(Aan) Redaksi = terkininasional@gmail.com
Pemerintah menyerahkan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU tentang Pelindungan Ketenagakerjaan kepada Komisi IX DPR RI dalam Rapat Kerja Pembicaraan Tingkat I di Kompleks Parlemen
NASIONALTERKINI.COM. Pemerintah menyerahkan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU tentang Pelindungan Ketenagakerjaan kepada Komisi IX DPR RI dalam Rapat Kerja Pembicaraan Tingkat I di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan pemerintah mendukung inisiatif DPR dalam penyusunan RUU tersebut. Regulasi ini diharapkan mampu memperkuat pelindungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya.
Menurut Yassierli, pengaturan ketenagakerjaan perlu mencakup perencanaan tenaga kerja berbasis data, peningkatan kompetensi melalui pelatihan, serta penempatan tenaga kerja yang objektif, transparan, adil, dan nondiskriminatif.
Pemerintah juga menyoroti penguatan hubungan industrial, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta pengawasan ketenagakerjaan yang kompeten, independen, dan efektif.
Pembahasan RUU turut mempertimbangkan kesetaraan gender, pelindungan bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan, serta kebutuhan tenaga kerja untuk pembangunan nasional dan daerah.
Dalam rapat tersebut, Komisi IX DPR RI menyetujui pembentukan Panitia Kerja (Panja) sebagai tahapan lanjutan pembahasan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan.Pungkas:Yassierli(Tyo) Redaksi = terkininasional@gmail.com
Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla melantik Dewan Kehormatan dan Pengurus PMI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masa bakti 2026–2031 di Bangsal Kepatihan, Kompleks Pemda DIY
NASIONALTERKINI.COM,Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla melantik Dewan Kehormatan dan Pengurus PMI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masa bakti 2026–2031 di Bangsal Kepatihan, Kompleks Pemda DIY, Minggu (13/9/2026).
Dalam pelantikan tersebut, Jusuf Kalla meminta pengurus baru memperkuat kerja kemanusiaan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai bencana.
Menurut JK, PMI tidak hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga berperan dalam pencegahan serta menghubungkan masyarakat yang ingin membantu dengan mereka yang membutuhkan bantuan.
Kerja kemanusiaan merupakan amal dan pengabdian kepada bangsa dan negara,” kata Jusuf Kalla.
Gubernur DIY melalui sambutan yang dibacakan Asisten Sekretariat Daerah DIY Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Aria Nugrahadi menyebut DIY memiliki risiko kebencanaan yang kompleks. PMI DIY didorong memperkuat relawan, sistem informasi kedaruratan, pendidikan kebencanaan, pengelolaan logistik dan pemanfaatan teknologi.
GBPH H. Prabukusumo kembali dipercaya memimpin PMI DIY periode 2026–2031. Ia mengatakan kepengurusan baru akan memperkuat organisasi, kemitraan dan kolaborasi untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat.
Ke depan tantangan PMI semakin besar di tengah perubahan iklim, krisis bencana dan krisis kesehatan,” ujar Prabukusumo.
Sementara KGPAA Paku Alam X dipercaya sebagai Ketua Dewan Kehormatan PMI DIY. Pengurus baru diharapkan mampu menjalankan pelayanan kemanusiaan secara cepat, profesional dan akuntabel.Jelasnya(Aan) Redaksi = terkininasional@gmail.com
NASIONALTERKINI.COM Sebanyak 81.171 lowongan kerja masih aktif dan dapat dilamar melalui Karirhub Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) per 4 September 2026. Lowongan tersebut tersebar di 32.086 perusahaan.
Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi mengatakan jumlah tersebut merupakan lowongan yang masih terbuka untuk dilamar, bukan keseluruhan lowongan yang tercatat dalam sistem Karirhub.
Jumlah loker yang benar-benar masih aktif dan bisa dilamar adalah 81.171 lowongan per 4 September 2026, yang tersebar di 32.086 perusahaan,” ujar Cris Kuntadi melalui siaran pers Biro Humas Kemnaker, Minggu (13/9/2026).
Berdasarkan data Karirhub periode Januari hingga awal Agustus 2026, terdapat 310.591 lowongan kerja yang tercatat dalam sistem. Angka tersebut merupakan total akumulasi lowongan yang masuk ke sistem sehingga tidak seluruhnya masih aktif.
Cris mengimbau pencari kerja memanfaatkan lowongan yang tersedia dengan memilih posisi sesuai kualifikasi, lokasi, dan tenggat waktu pendaftaran. Pencari kerja juga perlu menyesuaikan isi CV atau resume dengan posisi yang dituju agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
“Para pencaker juga diharapkan menyesuaikan isi CV atau resume dengan posisi spesifik yang dituju agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” ujarnya.
Pencari kerja juga diingatkan untuk mewaspadai penipuan yang mengatasnamakan proses rekrutmen. Proses rekrutmen resmi yang difasilitasi pemerintah tidak memungut biaya atau imbalan dalam bentuk apa pun.
Bagi pencari kerja yang belum memenuhi kualifikasi perusahaan, Kemnaker menyediakan sarana peningkatan kompetensi melalui 21 Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) diseluruh Indonesia, selain itu Kemnaker juga memfasilitasi pelatihan penyusunan CV dan simulasi wawancara.
Pencari kerja dapat memantau dan melamar lowongan yang tersedia melalui website Karirhub Kemnaker di karirhub.kemnaker.go.id.Pyngkas:Cris(Def) Redaksi = terkininasional@gmail.com
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (PHI dan Jamsos) Kemnaker, Indah Anggoro Putri,
NASIONALTERKINI.COM Kementerian Ketenagakerjaan mengingatkan pekerja untuk memahami hak dan kewajiban serta mencermati isi perjanjian kerja sebelum menandatanganinya. Pemahaman tersebut penting agar pekerja mengetahui ketentuan yang menjadi dasar hubungan kerja dengan pemberi kerja.
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (PHI dan Jamsos) Kemnaker, Indah Anggoro Putri, mengatakan pekerja perlu memahami isi perjanjian kerja, termasuk tugas, hak, dan tanggung jawab yang disepakati bersama pemberi kerja.
“Pekerja perlu memahami isi kontrak, tugas, serta hak dan tanggung jawabnya. Pada saat yang sama, peraturan di tempat kerja juga wajib dipatuhi,” ujar Indah Anggoro Putri dalam keterangannya melalui siaran pers Biro Humas Kemnaker, Minggu (13/9/2026).
Menurut Indah, pemahaman terhadap perjanjian kerja membantu pekerja mengetahui ketentuan yang berlaku selama menjalankan pekerjaan. Hal tersebut juga penting agar pemenuhan hak dan pelaksanaan kewajiban berjalan sesuai dengan kesepakatan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sejumlah hal yang perlu dipahami pekerja antara lain ketentuan upah, waktu kerja dan waktu istirahat, serta cuti tahunan bagi pekerja yang telah memenuhi syarat. Ketentuan tersebut perlu diperhatikan sebelum pekerja menyepakati dan menandatangani perjanjian kerja.
Selain itu, aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi bagian penting dalam hubungan kerja. Perusahaan berkewajiban menyediakan lingkungan kerja yang aman untuk melindungi pekerja dari risiko kecelakaan maupun penyakit akibat kerja.
Pelindungan pekerja juga mencakup kepesertaan dalam program jaminan sosial, antara lain BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Indah menegaskan, pemahaman terhadap hak perlu berjalan seiring dengan pelaksanaan kewajiban. Pekerja memiliki hak yang perlu dipenuhi, sekaligus kewajiban untuk menjalankan pekerjaan sesuai dengan perjanjian dan ketentuan yang berlaku.
“Jadi, hak dan kewajiban bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipahami dan dijalankan secara seimbang,” tutur Indah.
Pemahaman yang baik mengenai hak dan kewajiban diharapkan dapat mendukung terciptanya hubungan industrial yang harmonis. Dengan demikian, pekerja dapat menjalankan tugas sesuai kesepakatan sekaligus memahami hak yang melekat dalam hubungan kerja. Pungkas:Indah(Aan) Redaksi = terkininasional@gmail.com
pembukaan perhelatan kebudayaan tahunan ini dihadiri langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X,
NASIONALTERKINI.COM Sleman. Gelaran Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 resmi dibuka pada Minggu, (13/9). Berlokasi di Lapangan Pemda Sleman, pembukaan perhelatan kebudayaan tahunan ini dihadiri langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Bupati Sleman, Wakil Bupati Sleman, serta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) se-DIY.
Seremoni pembukaan FKY 2026 yang mengusung tema “Aksara” ini dimulai pukul 15.30 WIB menampilkan pertunjukan seni kolaborasi memukau dari Pulung Dance Studio, Praba Sambada Kabupaten Sleman, Komunitas CANTRIK Kulon Progo, Paguyuban Seniman Tari Kabupaten Bantul, Forseta Handayani Gunungkidul, hingga YK Reborn DIY.
Usai membuka FKY 2026, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan apresiasi atas persiapan dan pelaksanaan acara yang dinilai sangat matang dan teratur. Beliau berharap kesuksesan awal ini dapat terjaga hingga penutupan serta memantik partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat.
“Kesan saya sangat baik, tertib, dan persiapannya matang sehingga semuanya berjalan lancar. Semoga sampai akhir acara tetap bagus dan partisipasi publiknya tinggi,” ujar Gubernur DIY.
Gubernur DIY juga menyoroti keunikan lokasi acara yang berada di area bernilai sejarah tinggi. Pemilihan lokasi ini dinilai tepat untuk mengingatkan kembali kekayaan sejarah Yogyakarta yang memiliki belasan titik cagar budaya penting sejak era kolonial.
Sementara itu, Bupati Sleman menyatakan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Sleman sebagai pusat penyelenggaraan FKY 2026. Bupati menekankan bahwa keberhasilan agenda budaya membutuhkan kolaborasi kuat dan terintegrasi antara pemerintah kabupaten/kota dan provinsi.
“Saya sangat bersyukur atas kolaborasi yang terbangun antara kabupaten dan provinsi. Ke depan, kita ingin kolaborasi ini tercermin hingga dalam penyusunan APBD agar program-program budaya dan pariwisata semakin terintegrasi dan tematik,” tegas Bupati Sleman.
Lebih lanjut, Bupati Sleman menjelaskan bahwa helatan FKY tidak hanya berfungsi sebagai wadah nguri-uri (melestarikan) budaya lokal, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan potensi Sleman secara lebih luas. Kehadiran ribuan pengunjung diyakini memberikan dampak langsung terhadap peningkatan sektor pariwisata serta penguatan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM lokal.
Terkait dengan lokasi acara yang menempati area bersejarah, Pemerintah Kabupaten Sleman menyambut positif potensi pengembangannya di masa depan. Meski saat ini masih dalam tahap gagasan awal, terdapat harapan lokasi tersebut dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah baru, seperti museum atau monumen edukatif.(Redaksi) Terkininasional@gmail.com
foto=General Manager Litto Jogja, Agus Setiawan saat di kebun Litto Jogja
NASIONALTERKINI.COM BANTUL,Hari minggu cocok untuk berlibur, pengalaman kalini berwisata di perbukitan Dlingo, Kabupaten Bantul, kini tidak hanya tentang menikmati panorama alam. Di Litto Jogja, wisatawan diajak memperlambat langkah, mengenal tanaman, memetik sayuran dari kebun, hingga menikmati makanan yang diolah langsung dari hasil yang mereka petik.Minggu:13/09/2026
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari konsep wellness yang dikembangkan Litto Jogja, sekaligus memperkuat posisinya setelah terpilih sebagai salah satu Top 25 Wonderful Indonesia Scale-Up Hub (WISH) 2026, program akselerasi usaha pariwisata Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Litto terpilih setelah melewati proses seleksi yang diikuti 570 pelaku usaha pariwisata dari berbagai daerah di Indonesia. Masuknya Litto dalam 25 besar membuka tahapan baru berupa pendampingan intensif, penguatan model bisnis dan kesempatan mempresentasikan pengembangan usahanya dalam Demo Day.
General Manager Litto Jogja, Agus Setiawan, yang akrab disapa Wawan, mengatakan pencapaian tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan lebih luas konsep wisata yang selama ini dikembangkan Litto.
salah satu menu Litto Jogja
“Konsep wellness di Litto bukan hanya relaksasi. Kami ingin wisatawan kembali terhubung dengan alam. Mereka bisa melihat dari mana makanan berasal, memetik sayuran sendiri, lalu melihat hasilnya diolah dan menikmatinya,” kata Wawan.
Di kawasan Litto terdapat kebun herbal dan kebun pangan yang menjadi bagian dari pengalaman wisata. Tanaman yang tumbuh tidak hanya berfungsi sebagai penghijauan, tetapi juga menjadi media bagi pengunjung untuk mengenal berbagai jenis tanaman yang memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Wisatawan dapat merasakan pengalaman garden-to-table secara langsung. Sayuran yang dipetik dari kebun dapat dibawa untuk kemudian diolah menjadi hidangan. Dengan cara tersebut, jarak antara kebun dan meja makan menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.
Tidak hanya sayuran, sejumlah jenis bunga yang ditanam di kawasan Litto juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan minuman. Bunga-bunga tersebut diolah menjadi minuman yang menyegarkan, memberikan pengalaman lain bahwa apa yang tumbuh di sekitar kawasan dapat menjadi bagian dari aktivitas wisata.
“Bagi kami, ini bukan sekadar soal makanan. Pengunjung bisa belajar tentang tanaman, melihat prosesnya, kemudian menikmati hasilnya. Ada pengalaman, ada edukasi, sekaligus ada unsur wellness,” ujar Wawan.
Menghubungkan Wisatawan dengan Alam
Pengalaman di Litto juga diperkuat dengan keberadaan hewan yang dipelihara di kawasan. Salah satunya ayam petelur dengan siklus produksi telur sekitar 23 jam. Kehadiran ternak tersebut menjadi bagian dari cara Litto memperkenalkan kehidupan pangan kepada wisatawan.
Pengunjung dapat melihat bahwa makanan yang hadir di meja memiliki perjalanan panjang sebelum menjadi bagian dari hidangan. Pengalaman tersebut menjadi semakin relevan dalam konsep wisata berkelanjutan yang menempatkan hubungan antara manusia, alam dan pangan sebagai bagian penting dari perjalanan.
Pendekatan itu terinspirasi prinsip satoyama, konsep yang melihat kawasan pedesaan sebagai ruang hidup yang mempertemukan manusia dan alam dalam hubungan yang saling menjaga.
Namun, Litto tidak sekadar membawa konsep satoyama dalam bentuk suasana Jepang. Prinsip tersebut diterjemahkan melalui kondisi alam dan kehidupan lokal di Dlingo.
Kebun pangan, tanaman herbal, hasil bumi, aktivitas luar ruang, pengalaman kuliner serta interaksi dengan lingkungan menjadi bagian dari penerjemahan konsep tersebut.
“Satoyama bagi Litto bukan sekadar menghadirkan nuansa Jepang. Yang kami ambil adalah nilai bagaimana manusia menjaga hubungan dengan alam, pangan dan lingkungan. Kami menerapkannya dengan karakter lokal Jogja,” kata Wawan.
Karena itu, Litto tidak diposisikan hanya sebagai tempat menginap. Kawasan tersebut dikembangkan sebagai ruang untuk beristirahat, menikmati alam, belajar dan membangun kembali koneksi dengan lingkungan.
Konsep wellness hadir melalui berbagai pengalaman berbasis alam, termasuk berjalan di kawasan hijau, menikmati suasana perbukitan, aktivitas refleksi, serta pengalaman yang menggabungkan alam dan pangan.
Dari Dlingo Menuju Pasar Internasional
Masuknya Litto Jogja dalam Top 25 WISH 2026 menjadi langkah penting untuk membawa konsep tersebut ke pasar yang lebih luas.
Setelah melewati proses seleksi dari 570 pelaku usaha pariwisata, Litto akan mengikuti rangkaian pendampingan dan pengembangan bisnis dalam program WISH 2026, termasuk kesempatan mengikuti Demo Day.
Para peserta Top 25 WISH 2026 juga dijadwalkan mengikuti Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 pada 15–17 Oktober 2026 di Grand Ballroom JIExpo, Jakarta.
Ajang tersebut menjadi ruang pertemuan industri pariwisata Indonesia dengan pasar internasional, dengan lebih dari 1.500 delegasi dan buyer, 500 exhibitor, serta peserta dari lebih dari 42 negara.
Bagi Litto, forum tersebut membuka peluang untuk memperkenalkan produk wisata berbasis alam dan wellness dari Dlingo kepada pasar yang lebih luas, tanpa harus kehilangan karakter lokalnya.
Wawan mengatakan arah pengembangan Litto bukan sekadar mengejar pertumbuhan secara fisik, tetapi memperkuat kualitas pengalaman yang diberikan kepada wisatawan.
“Kami ingin orang datang ke Litto bukan hanya untuk menginap. Mereka datang untuk beristirahat, terhubung kembali dengan alam, mendapatkan pengalaman baru, kemudian pulang dengan energi yang lebih baik,” ujarnya.
Dari kebun herbal hingga hidangan di meja makan, Litto Jogja menawarkan cara berbeda dalam menikmati perjalanan. Alam tidak hanya menjadi latar belakang, tetapi menjadi bagian dari pengalaman.
Di tengah berkembangnya tren wellness tourism, pendekatan tersebut menempatkan Dlingo bukan sekadar sebagai kawasan perbukitan, melainkan sebagai ruang di mana wisatawan dapat beristirahat sekaligus belajar tentang pangan, alam dan keseimbangan hidup.
Dari perbukitan Dlingo menuju pasar internasional, Litto membawa satu gagasan sederhana: wisata bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang pengalaman yang dibawa pulang:Pungkas:Wawan(Tyo) Redaksi = terkininasional@gmail.com
Astuti Arindra, fashion designer dari FC Chapter Jogja sekaligus perancang di balik brand ChantiQ Indonesia,
NASIONALTERKINI.COM. Kemegahan kawasan Borobudur menjadi panggung yang tepat bagi Astuti Arindra, fashion designer dari IFC(Indonesia Fashion Chamber) Chapter Jogja sekaligus perancang di balik brand ChantiQ Indonesia, untuk menerjemahkan kecantikan Putri Manohara ke dalam bahasa mode.Sabtu :12/09/2026 di Manohara Borobudur
Terinspirasi sosok Putri Manohara yang terukir dalam relief Candi Borobudur, Astuti menghadirkan koleksi yang memadukan karakter perempuan bangsawan yang cantik dan anggun dengan kekayaan wastra Nusantara. Fashion show yang berlangsung di Manohara Borobudur itu pun terasa semakin istimewa karena busana ChantiQ Indonesia hadir dalam atmosfer heritage yang kuat.
Dalam koleksinya, Astuti tetap mempertahankan identitas lokal melalui penggunaan batik, lurik, kebaya, serta berbagai wastra Nusantara. Unsur tradisional tersebut tidak sekadar ditempatkan sebagai ornamen, tetapi diolah menjadi bagian dari desain yang lebih modern dan mudah dikenakan.
Siluet feminin, detail yang elegan, serta permainan material membuat koleksi Manohara memiliki karakter yang anggun tanpa terlihat kaku. Busana tradisional pun terasa lebih dekat dengan gaya perempuan masa kini.
Astuti juga kembali membawa konsep padu padan yang menjadi salah satu kekuatan ChantiQ Indonesia. Setiap busana dirancang agar tidak berhenti pada satu tampilan. Satu bagian busana dapat dikombinasikan dengan elemen lain sehingga menghasilkan look dan gaya berbeda.
Konsep tersebut sekaligus menjadi cara ChantiQ Indonesia menerapkan semangat sustainable fashion. Pakaian diharapkan memiliki usia pakai yang lebih panjang dan dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan melalui kreativitas dalam styling.
Kemegahan penampilan di Manohara Borobudur semakin lengkap dengan kehadiran Kemayu Jewellery. Aksesori perhiasan tersebut memberikan aksen yang memperkuat kesan mewah dan feminin, sekaligus menghidupkan kembali karakter seorang putri bangsawan dalam interpretasi fashion masa kini.
Perpaduan ChantiQ Indonesia dan Kemayu Jewellery membuat panggung terasa lebih dramatis. Busana, perhiasan dan latar Borobudur seperti menyatukan tiga elemen dalam satu cerita: sejarah, kecantikan dan mode.
Bagi Astuti Arindra, sosok Manohara tidak berhenti sebagai figur yang hadir dalam relief masa lalu. Manohara menjadi inspirasi untuk menghadirkan kecantikan yang tetap relevan lintas zaman.
Melalui ChantiQ Indonesia, Astuti mencoba menunjukkan bahwa kekayaan tradisi tidak harus ditempatkan dalam ruang yang kaku. Batik, lurik, kebaya dan wastra Nusantara dapat terus bergerak, dipadupadankan dan menemukan bentuk baru di tengah perkembangan fashion.
Di Borobudur, koleksi itu akhirnya menemukan ruang yang selaras dengan inspirasinya—sebuah pertemuan antara warisan budaya dan kreativitas mode.Pungkas:Astuti(Tyo) Redaksi = terkininasional@gmail.com
NASIONALTERKINI.COM Minggu pagi yang cerah obrolan Seni Budaya dan di dunia seni Tidak semua perjalanan dimulai dari panggung yang besar. Ada yang justru bermula dari seseorang yang lebih banyak memilih diam, berada di balik layar, dan menyimpan kecintaannya terhadap seni di dalam dirinya.
Perjalanan itulah yang pernah dilalui Homsah Sharma, yang kini dikenal melalui nama panggungnya. Dari sosok yang dahulu cenderung tersembunyi dan pemalu, Homsah perlahan menemukan keberanian melalui dunia tari hingga akhirnya tumbuh menjadi seorang dance coach bersertifikasi dan salah satu penggerak Naresvara Multiculture di Yogyakarta.Minggu:13/09/2026
Bersama rekannya, Mastin, Homsah membangun Naresvara Multiculture sebagai sebuah wadah yang terbuka bagi siapa saja untuk mengembangkan hobl menyalurkan kreativitas, belajar tari, serta berkarya bersama tanpa dibatasi oleh gender
Kami ingin tari menjadi ruang untuk semua orang. Bukan hanya untuk perempuan, tetapi juga untuk laki-laki dan siapa pun yang memiliki kecintaan terhadap seni dan Ingin berkembang bersama.
Dari Rasa Malu Menjadi Keberanian di Atas Panggung
Bagi Homsah, tari bukan sekadar gerakan tubuh. Tari menjadi sebuah proses untuk mengenal diri sendiri, membangun kepercayaan diri, dan berani tampil di hadapan orang lain.
Seseorang yang dahulu lebih nyaman berada di balik layar kini justru berdiri di depan mengajarkan koreografi, membimbing dancer, mempersiapkan performance, hingga tampil dalam berbagai event.
Transformasi tersebut tidak terjadi dalam semalam. Homsah memilih untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan profesionalnya di bidang tari
Salah satu keputusan penting dalam perjalanan tersebut adalah mengambil sertifikasi BollyD/Bollywood Dance, sebuah langkah yang pada saat itu masih sangat terbatas aksesnya di Indonesia dan berpusat di Jakarta. Di Yogyakarta, bidang sertifikasi tersebut belum memiliki banyak pelaku yang memperkenalkannya secara profesional
Keputusan Homsah untuk mengambil sertifikasi tersebut menjadikannya salah satu pionir awal yang membawa dan memperkenalkan konsep pelatihan Bollywood Dance bersertifikasi Bolly’D di Yogyakarta.
Membawa Bollywood Dance Lebih Dekat ke Yogyakarta
Setelah memperoleh sertifikasi dan terus mengembangkan kemampuannya, Homsah tidak berhenti pada pencapaian pribadi.
Ilmu dan pengalaman tersebut kemudian dibawa ke dalam aktivitas Naresvara Multiculture.
Melalui berbagai kegiatan dan event Naresvara, Homsah mulai berperan sebagai dance coach dan performer, mengajarkan koreografi untuk kebutuhan performance, melatih anggota, serta ikut menghadirkan wama Bollywood dalam berbagai pertunjukan.
Tidak hanya tampil dalam event komunitas, kiprahnya juga berkembang ke berbagai venue dan hotel di Yogyakarta. Bollywood Dance menjadi salah satu wama yang semakin sering diperkenalkan melalui pertunjukan dan aktivitas seni yang dibawakan bersama Naresvara.
Naresvara Multiculture: Berkarya Tanpa Batas
Bersama Mastin, Homsah ingin Naresvara Multiculture bukan hanya dikenal sebagai sebuah komunitas tari.
Naresvara dibangun sebagai ruang bertemunya berbagai latar belakang, budaya, gaya tari, dan karakter manusia.
Di dalamnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, mencoba hal baru, tampil, dan menemukan potensi dirinya.
Semangat multiculture menjadi bagian penting dari perjalanan Naresvara. Bollywood Dance dapat berdampingan dengan seni tan Nusantara, menghadirkan pertukaran budaya melalui gerak, musik, kostum, dan pertunjukan.
Bagi Homsah, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa sering seseorang tampil di atas panggung, tetapi juga tentang seberapa banyak orang yang dapat diberikan kesempatan untuk berkembang.
Kini Dikenal dengan Nama Panggung Homsah Sharma
Perjalanan panjang tersebut kemudian melahirkan sebuah identitas panggung. Homsah Sharma.
Nama tersebut kini melekat dengan kiprahnya sebagai dancer, performer, dance coach, serta bagian dari perjalanan Naresvara Multiculture dalam memperkenalkan Bollywood Dance dan keberagaman seni kepada masyarakat Yogyakarta.
Dan seseorang yang dahulu pemalu dan cenderung tersembunyi, Homsah kini memilih untuk berdiri di depan dan membuka jalan bagi orang lain.
Perjalanannya menjadi bukti bahwa terkadang, bakat tidak membutuhkan seseorang yang sejak awal percaya diri. Bakat hanya membutuhkan keberanian untuk memulai
Dan dari keberanian kecil itulah, sebuah perjalanan besar dapat dimulai
Homsah Sharma-From Hidden to Empowered. From Learner to Certified Dance Coach.
From Passion to Purpose.
Melalui Naresvara Multiculture, perjalanan tersebut terus berlanjut, memberi ruang, mengembangkan bakat, merayakan keberagaman, dan berkarya bersama melalul seni tari.Tutup:Naresvara(Tyo) Redaksi = terkininasional@gmail.com