
NASIONALTERKINI. Di tengah lanskap megah dan sunyi Candi Prambanan, suara jazz kembali menggema. Sejak sebelas tahun silam, festival ini bukan sekadar sajian musik. Ia adalah peristiwa budaya. Sebuah jembatan yang menyatukan warisan sejarah dengan denyut kontemporer. Dan dalam tema “Sebelas Selaras” tahun ini, Prambanan Jazz Festival semakin mempertegas posisinya sebagai ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini.
Pemerhati seni budaya dan pariwisata, Agus Budi Rahman, menilai Prambanan Jazz bukan hanya panggung pertunjukan, melainkan juga bentuk dialog antara situs arkeologis yang sakral dengan dunia hiburan yang profan. “Apa yang kita saksikan bukan sekadar konser, tapi peristiwa sosiokultural yang merayakan hibriditas budaya,” ujarnya:Senin:07/07/2025 Saat di Temui Di Kantornya di Jalan Panembahan Senopati Gondomanan Yogyakarta

Agus melihat Prambanan bukan hanya sebagai latar diam, melainkan aktor yang menghadirkan pertanyaan kritis: “Apakah kita sedang menyelamatkan warisan, atau membaurkannya dalam pusaran komersial?” Dalam gemuruh suara dan sorot lampu, ada kesunyian yang tetap dijaga. Ada penghormatan yang terbungkus dalam selebrasi.
Kahitna dan Konsistensi Rasa
Satu nama yang selalu hadir dan lekat dengan Prambanan Jazz adalah Kahitna. Sejak tahun pertama hingga kini, kehadiran mereka menjadi simbol kesetiaan di tengah dunia yang terus berubah. Di tengah pergantian tren musik dan selera publik, Kahitna tak pernah absen. Mereka hadir bukan sekadar tampil, tetapi menjaga emosi kolektif penonton, menyanyikan ulang lagu-lagu cinta yang telah berakar di kenangan.
“Sebelas kali tampil, mereka seperti penjaga rasa,” ungkap Agus. “Di tengah arus cepat industri hiburan, Kahitna adalah pengingat bahwa kehadiran yang konsisten itu sangat langka.”
Prambanan Jazz: Antara Hiburan dan Ritual Kebudayaan Baru
Pertanyaannya kini, apakah Prambanan Jazz hanya agenda tahunan? Atau justru ia sudah menjelma menjadi ritual kebudayaan baru? Festival ini seolah menawarkan harmoni antara spiritualitas dan modernitas, antara nostalgia dan kebaruan.
Agus menutup refleksinya dengan sebuah renungan, “Apakah musik hari ini masih punya makna? Ataukah hanya menjadi hiburan yang lewat begitu saja?”
Sebelas tahun bukan sekadar angka. Ia adalah tanda bahwa keberlanjutan masih mungkin di era yang serba cepat. Bahwa dalam denting musik dan getar emosi, manusia masih bisa belajar setia: pada makna, pada akar, dan pada rasa.Pungkas:Agus(Tyo)
