NASIONALTERKINI. Dalam dunia yang bergerak cepat dan kian terpengaruh oleh arus global, Jogja Fashion Week (JFW) 2025 hadir bukan sekadar perhelatan mode. Ia adalah panggung pernyataan: bahwa jati diri budaya tak boleh lekang oleh waktu, dan identitas bangsa tak boleh digantikan oleh tren yang silih berganti.

Mengusung tema “Merayakan Gaya, Menyulam Budaya: Elegansi Nusantara”, JFW 2025 resmi dibuka di Jogja Expo Center. Selama empat hari, acara ini tak hanya menampilkan busana dari desainer lokal hingga nasional, tapi juga menuturkan narasi tentang warisan, makna, dan keberanian untuk tampil otentik di tengah gemuruh modernitas.

Busana sebagai Bahasa Budaya

Setiap helai kain yang melintasi runway bukan sekadar karya estetis, melainkan juga cerita yang ditenun oleh waktu. Di balik motif dan potongan, tersembunyi kisah desa-desa yang sunyi, tangan-tangan perajin yang setia, dan filosofi hidup yang diwariskan turun-temurun.

“Apakah kita masih mengenakan siapa kita—atau sekadar mengenakan apa yang sedang tren?”
Pertanyaan ini menggema di benak pengunjung. JFW 2025 mengajak kita untuk merenungkan kembali:
Apakah fashion Indonesia masih milik kita? Ataukah perlahan digeser oleh arus cepat industri global?

Dialektika Gaya: Lokal Bertemu Global

Menurut Agus Budi Rachmanto, Sekretaris Umum DPD PUTRI DIY, JFW adalah ruang dialektika, tempat wastra Nusantara bertemu dengan eksplorasi kontemporer. “Lewat JFW, kita melihat bahwa tampil modern tidak berarti meninggalkan akar budaya. Justru, dari akar itulah inovasi bisa tumbuh dengan kuat,” ujarnya:Kamis:07/08/2025 Saat di temui di salah satu stan pameran JFW di Jogja Expo Center

Beragam koleksi ditampilkan—dari batik klasik hingga tekstil eksperimental, dari desain kontemporer hingga siluet yang mengeksplorasi filosofi Jawa dan keragaman etnik. Ini bukan sekadar pertunjukan busana; ini adalah panggung refleksi dan pergerakan.

Lebih dari Sekadar Event, Ini Adalah Gerakan

Jogja Fashion Week 2025 merupakan bagian dari ekosistem kreatif yang lebih luas. Dengan melibatkan UMKM fesyen, komunitas penggiat wastra, pelaku ekonomi kreatif, hingga platform digital, JFW menjadi wahana kolaborasi yang mempertemukan kreativitas, budaya, dan peluang ekonomi.

Jogja Expo Center disulap menjadi ruang interaktif—runway megah berpadu dengan pameran, talkshow, workshop edukatif, hingga sesi business matching. Ini adalah arena lahirnya sinergi: antara pengrajin dan desainer, antara pengunjung dan pelaku industri, antara tradisi dan masa depan

Loman Park Hotel: Selaras dengan Spirit Wastra dan Pariwisata Budaya

Dalam kesempatan yang sama, Handono S. Putro, Founder & Managing Director Loman Park Hotel menyatakan dukungannya terhadap JFW 2025. “Acara ini bukan sekadar selebrasi gaya. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur warisan budaya Indonesia. Kami percaya, industri fashion di Jogja bisa tumbuh pesat tanpa kehilangan rohnya,” ungkapnya.

Sebagai mitra budaya dan pariwisata, Loman Park Hotel hadir bukan hanya sebagai akomodasi, tetapi sebagai ruang tinggal yang menyatu dengan semangat seni, wastra, dan budaya lokal. “Kami ingin wisatawan tak sekadar singgah—tetapi merasakan, mencintai, dan akhirnya menjadi bagian dari cerita besar budaya Indonesia,” tambahnya

Jogja Fashion Week 2025 adalah momentum. Sebuah seruan untuk kembali merajut hubungan antara identitas, kreativitas, dan keberanian untuk tampil otentik. Di panggung Indonesia bisa bersaing—tetapi bersinar dengan elegansi yang berakar pada budaya.Pungkas:Handono(Tyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *