
NASIONALTERKINI. Sabtu malam, 14 Juni 2025, menjadi malam penuh cahaya di Balai Kota Yogyakarta. Di antara gemerlap sorotan dan tepuk tangan meriah, nama Klarines dipanggil sebagai salah satu dari 10 besar Diajeng Kota Jogja 2025. Tak hanya itu, ia juga berhasil menyabet predikat Juara Harapan II—sebuah pencapaian yang tak hanya membanggakan, tapi juga sarat makna.Minggu:15/06/2025 di Yogyakarta

Meski belum menyentuh gelar utama, senyum Klarines justru paling bersinar. Di balik peluk haru dan tawa bersama keluarga, tergambar jelas kebahagiaan yang datang dari perjuangan panjang dan ketulusan hati. Bagi Klarines, malam itu bukan sekadar penobatan, tapi puncak dari proses penuh warna yang mengubah cara pandangnya tentang Jogja—dan tentang dirinya sendiri.

“Ini pengalaman yang luar biasa,” ujarnya, matanya masih berbinar. “Saya belajar banyak, bukan hanya tentang budaya dan sejarah Jogja, tapi juga tentang siapa saya dan bagaimana saya bisa memberi arti dalam setiap langkah.”

Namun, yang paling membekas di hati Klarines bukanlah momen di atas panggung, melainkan ketika ia terjun langsung ke tengah masyarakat selama masa karantina dan pembekalan. Di sana, ia mendengar suara-suara kecil yang sering tak terdengar—cerita keseharian, harapan-harapan sederhana, dan semangat yang tetap menyala meski tersembunyi.

“Menjadi Diajeng bukan cuma soal penampilan,” katanya dengan suara mantap. “Ini tentang menyuarakan mereka yang selama ini tak punya panggung. Tentang menjadi jembatan antara tradisi, masa kini, dan masa depan.

Asesoris : Borobudur Silver
Klarines pun menyampaikan pesan yang dalam untuk generasi muda:
“Jangan takut jadi diri sendiri. Proses itu penting—jalani dengan hati. Sekecil apa pun langkahmu, asal tulus dan konsisten, bisa membawa perubahan yang nyata.

Asesoris : Borobudur Silver
Menutup perbincangan, ia menatap hangat ke arah masa depan, “Jogja itu istimewa bukan cuma karena tempatnya, tapi karena orang-orang yang mau menjaganya. Dan kita semua punya bagian di sana.
Lewat perjalanan dan semangatnya, Klarines telah membuktikan bahwa menjadi Diajeng bukan tentang mahkota atau sorotan kamera, tapi tentang hati yang mau hadir, menyapa, dan menjadi suara bagi yang selama ini tak terdengar.Pungkas:Klarines(Tyo)
