
foto=Cipta adalah nalar dan kesadaran berpikir. Rasa adalah kehalusan afeksi yang menuntun empati
NASIONALTERKUNI.COM.YOGYAKARTA. Pagi yang teduh di Minggu, 10 Mei 2026, menghadirkan suasana hening yang menenangkan di sisi Embung Coffee. Udara yang masih bersih berpadu dengan desir semilir angin, menjadi ruang sempurna bagi sebuah percakapan yang tidak sekadar berbincang, melainkan menyelami makna terdalam tentang bagaimana manusia menemukan keseimbangan hidupnya.

Foto=Agus Budi Rachmanto dan Ki Sutikno
Di tempat itu, Ki Sutikno—tokoh purna tugas pamong, praktisi pendidikan, sekaligus penggiat aktif ajaran Ki Hadjar Dewantara—membagikan wedaran yang mengalir tenang namun sarat makna. Sebuah refleksi tentang wellness sejati; bukan semata kesehatan jasmani, melainkan keselarasan utuh antara pikiran, rasa, dan tindakan.
Ki Sutikno membuka perbincangan dengan mengurai anatomi spiritual manusia melalui tiga unsur utama: Cipta, Rasa, dan Karsa. Menurutnya, ketiganya adalah fondasi keutuhan manusia.

Cipta adalah nalar dan kesadaran berpikir. Rasa adalah kehalusan afeksi yang menuntun empati. Sedangkan Karsa merupakan daya gerak kehidupan—motor yang lahir dari perjumpaan harmonis antara pikiran yang jernih dan hati yang bening.
“Karsa itu bukan sekadar bergerak. Ia adalah energi hidup yang terarah,” tuturnya.
Saat ketiganya selaras, seseorang akan menghadirkan ketenangan batin yang memancar dalam sikap hidup: berbicara dengan pertimbangan, melangkah dengan kesadaran, serta bertindak tanpa gegabah. Sebuah konsep yang, menurut Ki Sutikno, telah lama diwariskan oleh Ki Hadjar Dewantara, bahkan jauh mendahului teori pedagogi modern Barat seperti Taksonomi Bloom.
Pembahasan kemudian bergerak menuju metode belajar hidup yang sederhana namun mendalam: Ndeleng, Niteni, Nirokke.
Melihat. Mengamati dengan cermat. Lalu meneladani dan mengembangkan.
Dalam filosofi ini, hidup dipahami sebagai perjalanan belajar yang tak pernah selesai. Setiap pengalaman adalah guru, setiap peristiwa adalah cermin.
Dengan gaya khasnya yang jenaka namun tajam, Ki Sutikno menafsir ulang prinsip Jawa Jer Basuki Mawa Beya melalui paradoks kesadaran hidup.
Seseorang idealnya merasa tidak memiliki apa-apa, namun sesungguhnya memiliki segalanya—karena ia telah lepas dari kemelekatan duniawi.
Ia juga tidak merasa bisa apa-apa, namun mampu melakukan segalanya—karena hadirnya bukan untuk unjuk kuasa, melainkan menjadi jalan keluar ketika orang lain telah buntu.
Dan lebih jauh lagi, manusia yang matang adalah mereka yang tidak berada di mana-mana, namun manfaatnya terasa di mana-mana.
Refleksi semakin dalam ketika Ki Sutikno mengajak hadirin merenungi filosofi Ngaji Songo Ning Siji.
Ia mengingatkan tentang sembilan lubang pada tubuh manusia—mata, telinga, hidung, mulut, hingga saluran pembuangan—sebagai alat kehidupan yang kelak akan dipertanggungjawabkan sebelum tubuh memasuki “lubang yang satu”: liang peristirahatan terakhir.
Dari kesadaran itulah lahir apa yang ia sebut sebagai State Person, yakni hukum kepribadian: kemampuan menempatkan diri secara utuh, memahami situasi, mengenali ruang pijak, serta menghormati siapa pun yang sedang dihadapi.
Bagi Ki Sutikno, wellness spiritual bukan sekadar meditasi atau keheningan, melainkan kesadaran etis yang hidup dalam relasi sosial.
Ia menutup wedaran pagi itu dengan tiga petuah luhur khas Yogyakarta:
Ojo ngalahke liyan — jangan bernafsu mengalahkan orang lain.
Ojo menang soko liyan — jangan mencari kemenangan di atas penderitaan sesama.
Nyenengke liyan — hadirkan manfaat dan kebahagiaan bagi sekitar.
Semua itu, katanya, hanya bisa dijalani dengan prinsip Jejeg Jujur—tegak dalam integritas, lurus dalam kejujuran.
Sebab pada akhirnya, setiap langkah manusia tak pernah luput dari catatan semesta.
Dan di pagi yang syahdu itu, di antara aroma kopi dan embun yang belum sepenuhnya menguap, pesan itu terasa begitu hidup: bahwa wellness sejati adalah ketika manusia pulang kepada dirinya sendiri—utuh, jernih, dan selaras dengan semesta.(Tyo)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com
