
foto=Sri Sultan HB X membukaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI
NASOONALTERKINI.COM.Rabu malam kawasan Ketandan, Malioboro, menjadi saksi pembukaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI yang berlangsung khidmat dan penuh makna. Acara dibuka langsung oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, , yang dalam sambutannya menekankan pentingnya keseimbangan sebagai fondasi peradaban.Rabu:25/02/2026 Jam:20.30Wib

Dalam sambutannya, Sri Sultan menyampaikan bahwa kehidupan tumbuh bukan pada satu sisi semata, melainkan dalam keselarasan dua kutub yang saling melengkapi: antara terang dan teduh, gerak dan diam, kekuatan dan kelembutan.
“Kehidupan tumbuh dalam harmoni. Manusia dipanggil untuk menjaga keseimbangan dengan sesama, dengan alam, dan dengan semesta,” tuturnya.
Ia menjelaskan, dalam peradaban Jawa dikenal falsafah hamemayu hayuning bawana, yang bermakna merawat keindahan dan menjaga harmoni dunia. Nilai tersebut, menurutnya, sejalan dengan pesan moral dari berbagai kebudayaan yang menempatkan keseimbangan sebagai pondasi utama peradaban.
Memasuki tahun yang sarat semangat transformasi, Sri Sultan mengibaratkan perubahan seperti kuda dan api. Kuda melambangkan keberanian dan keteguhan melangkah, sementara api melambangkan semangat yang menyala. Namun, api hanya memberi terang ketika terkendali, dan dapat membakar jika dilepaskan tanpa arah.
Dalam kearifan Jawa dikenal watak tepa slira dan kehati-hatian—kesabaran yang tidak mudah terprovokasi, serta semangat yang tidak dipadamkan, melainkan diarahkan. Nilai ini, menurutnya, selaras dengan ajaran Konfusianisme yang menempatkan kemanusiaan sebagai nilai utama, berakar pada kasih dan penghormatan terhadap sesama.
“Martabat manusia terjaga ketika ia memperlakukan sesamanya dengan toleransi dan hormat,” tegasnya.
PBTY XXI tahun ini terasa istimewa karena berlangsung dalam suasana Ramadan. Di tengah lantunan doa dan semarak lampion, ruang budaya tetap menjadi ruang perjumpaan nilai. Berbagai atraksi seni, pertunjukan budaya, serta kegiatan kebersamaan menjadi penanda bahwa kebudayaan dan ketakwaan dapat berjalan beriringan.
Tak hanya menghadirkan perayaan budaya, PBTY juga menggerakkan roda ekonomi. Di antara gemerlap cahaya lampion dan pertunjukan seni, para pelaku UMKM dan seniman memperoleh ruang berekspresi sekaligus menghidupi keluarga mereka. Perputaran ekonomi yang tercipta tak hanya terasa di kawasan Malioboro, tetapi turut menguatkan denyut perekonomian kota.
Menurut Sri Sultan, perjumpaan budaya bukanlah hal baru di Yogyakarta. Sejak lama, kota ini menjadi ruang temu berbagai identitas—dari wayang potehi yang tampil berdampingan dengan kesenian Jawa, hingga ragam kuliner dan seni tradisi yang saling memengaruhi.
“Yogyakarta membuka ruang bagi setiap identitas yang datang dengan niat baik dan kerja keras. Harmoni bukan terjadi begitu saja, melainkan pilihan sadar yang terus kita rawat bersama,” ujarnya.
Mengakhiri sambutannya, Sri Sultan mengajak seluruh masyarakat untuk terus menanamkan nilai keseimbangan dan kebaikan dalam kehidupan bersama.
“Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kesuksesan, kekuatan, dan kesehatan kepada kita semua. Mari membuka jalan bagi setiap asas kebaikan dan menciptakan dunia yang lebih harmonis,”
Pembukaan PBTY XXI di Ketandan, Malioboro, malam itu bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan kembali bahwa Yogyakarta adalah rumah bersama—tempat keberagaman tumbuh dalam harmoni.Tutup:Sri Sultan(Tyo)
Redaksi=
terkininasional.com
