
SNASIONALTERKINI. Suasana pagi di Asram Edupark, Jl. Kenanga, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, terasa berbeda. Udara sejuk pedesaan berpadu dengan energi positif ratusan peserta yang sejak pukul 07.00 WIB sudah memadati area festival. Inilah hari puncak Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025, perayaan kesehatan, budaya, dan gaya hidup berkelanjutan yang merangkai seluruh kekayaan Yogyakarta dalam satu napas: wellness untuk semua.
Pagi yang Mengalir Tenang
Hari dimulai dengan Yoga Sulur (07.00–08.30) yang membawa peserta menyelaraskan tubuh dan pernapasan di bawah pucuk-pucuk pepohonan Asram Edupark. Hampir bersamaan, kelas Olah Gerak Mayonggo Seto – Martha Tilaar (07.30–09.00) menghadirkan kombinasi gerak halus dan filosofi kecantikan nusantara.
Masuk pukul 08.00, sesi Yoga DHF menambah antusiasme pagi, disusul Yoga Ketawa (09.30–11.00) yang membuat area Asram dipenuhi suara tawa lepas peserta—metode terapi alami untuk melumerkan stres yang menumpuk.
Tradisi dan Pengetahuan Berkumpul
Sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, arena Jemparingan menjadi daya tarik tersendiri. Mengangkat tradisi memanah gaya Mataram, aktivitas ini kembali menjadi favorit pengunjung—memadukan fokus, ketenangan, dan filosofi ksatria Jawa.
Di sisi lain, diskusi hangat terjadi dalam Talkshow PPWI (09.30–12.30). Sesi ini membuka ruang refleksi tentang peran media dan komunitas dalam ekosistem wellness dan budaya.
Sorotan siang hari jatuh pada Talkshow (TBC) bertema “Dari Jogja untuk Nusantara: Budaya, Keberlanjutan, dan Wellness dalam Satu Harmoni” (14.00–15.00). Para narasumber mengajak peserta melihat Jogja sebagai laboratorium hidup untuk gaya hidup sehat berbasis budaya berkelanjutan.
Prestasi dan Selebrasi
Pukul 14.30–16.30, panggung Asram menjadi saksi MURI Daundala, sebuah pencapaian kreatif yang memadukan seni, tradisi, dan partisipasi publik berskala besar.
Mendekati senja, energi festival berubah lebih ritmis. Musik Gangsadewa (17.00–18.00) mengalun membawa suasana damai, sebelum Ayom Satria (18.00–19.30) tampil dengan sentuhan budaya kontemporer.
Sementara itu, tamu undangan menikmati Dinner VVIP & VIP (18.00–19.00) sebelum memasuki sesi Door Stop Wartawan (19.00–19.30) bersama panitia dan tokoh pendukung festival.
Penutupan Penuh Kehangatan
Pukul 19.30, Closing Ceremony resmi digelar. Lampu-lampu Asram Edupark menyala hangat, menandai berakhirnya rangkaian festival yang telah berlangsung satu bulan penuh—mulai dari kelas wellness, kolaborasi budaya, hingga kegiatan pemberdayaan komunitas.
Sebagai penutup yang paling ditunggu, Healing Concert Kunto Aji (20.00–21.30) menghadirkan alunan musik penuh makna yang menenangkan jiwa. Lagu-lagu dengan vibrasi positif seperti “Rehat”, “Pilu Membiru”, dan “Jakarta Jakarta” menjadi ruang penyembuhan bersama, mengajak peserta merefleksikan perjalanan batin mereka selama festival.
JCWF 2025: Ruang Untuk Pulang ke Diri
JCWF kembali membuktikan bahwa Yogyakarta bukan hanya kota budaya, tetapi juga pusat wellness Nusantara. Dari yoga, tradisi, diskusi, hingga musik penyembuhan, seluruh rangkaian hari ini menyatukan elemen tubuh, pikiran, dan jiwa dalam harmoni yang utuh.
