Skip to content
Nasional Terkini

Nasional Terkini

Sajian Berita Terkini Dan Terpercaya

  • Uncategorized
    • Uncategorized
  • Daerah
  • Bisnis
  • Pariwisata
    • Umum
      • Checkout
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Seni Budaya
  • Liifestyle
  • Fashion
  • Kuliner
  • Uncategorized
  • Toggle search form
  • Cetak Generasi Dalang Cilik, Sleman Teguhkan Warisan Budaya Lewat Festival Dalang Anak dan Remaja 2026 Seni Budaya
  • Olifant School Berpartisipasi di PBTY XXI, Tegaskan Komitmen Pendidikan Multikultur Pendidikan
  • Musyawarah Kabupaten IX Kadin Sleman Tetapkan Yudi Prihantana sebagai Ketua Periode 2025–2030 Daerah
  • Syawalan dan Temu Kangen Alumni SD Pujokusuman, Guyup Rukun Saklawase Daerah
  • Wabup Sleman Tanam Kelapa Hibrida Menanam Harapan dan Kesejahteraan Petani Daerah
  • Ngayogjazz 2025 Jazz Diundang Mbokmu, Meriahkan Imogiri Sang Desa Pusaka Nasional
  • Menaker Yassierli Ajak Generasi Muda Jadikan Pancasila Pedoman dalam Kehidupan Sehari-hari Nasional
  • Membangun Masa Depan Kunjungan Siswa SMK ke Doni Tata Sport Plaza Nasional

Keberlanjutan Jadi Kunci Masa Depan Pariwisata Indonesia, Bukan Lagi Sekadar Angka Kunjungan

Posted on April 10, 2025September 26, 2025 By adminterkini Tak ada komentar pada Keberlanjutan Jadi Kunci Masa Depan Pariwisata Indonesia, Bukan Lagi Sekadar Angka Kunjungan

NASIONALTERKINI.Yogyakarta, Pendekatan terhadap pariwisata Indonesia kini mengalami pergeseran paradigma. Tidak lagi semata mengejar angka kunjungan wisatawan, sektor ini mulai diarahkan pada prinsip keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Hal ini disampaikan oleh dua tokoh yang aktif dalam pengembangan pariwisata dan kebijakan etika global.

Menurut Jaka Triyana, Staf Ahli Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Wakil Dekan Fakultas Hukum UGM, masa depan pariwisata Indonesia sangat ditentukan oleh keberanian untuk mengubah strategi pembangunan. Ia menekankan pentingnya menjadikan masyarakat lokal sebagai pusat dari pembangunan destinasi wisata.

“Pariwisata saat ini tidak bisa lagi dipahami hanya sebagai lintas batas wilayah. Ini soal bagaimana kita mengelola sumber daya lokal secara bijak, dengan mengedepankan keberlanjutan lingkungan dan sosial,” ujarnya:Kamis:10/04/2025 di Yogyakarta.

Jaka juga menyoroti temuan dari sejumlah studi lapangan yang ia lakukan di lima destinasi prioritas nasional seperti Danau Toba, Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika, dan Bali. Ia menemukan bahwa keterlibatan masyarakat lokal di destinasi utama masih sangat terbatas.

“Banyak masyarakat yang justru merantau ke kota, dan saat kembali pun mereka memilih tinggal di homestay yang dekat dengan akar budaya mereka, bukan di hotel berbintang. Ini bukti bahwa wisata berbasis pengalaman personal dan kultural lebih diminati,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa pemerintah perlu memperjelas standar pengelolaan destinasi agar tidak semata fokus pada aspek ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan keseimbangan ekologi dan sosial. “Jika tidak, kita akan menghadapi konflik kepentingan dan kerusakan lingkungan yang sulit diperbaiki,” tambahnya.

Di sisi lain, Agus Rachman, Sekretaris DPD PUTRI DIY menyoroti aspek etika dalam praktik pariwisata global. Ia mengangkat pentingnya Kode Etik Global untuk Pariwisata (Global Code of Ethics for Tourism/GCET) sebagai pedoman moral yang kini berada di persimpangan jalan.

“GCET dirancang untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan. Namun di lapangan, pariwisata masih sering menjadi alat eksploitasi, bukan pemberdayaan,” ungkapnya.

Agus menyampaikan refleksi kritis tentang bagaimana prinsip luhur dalam GCET—seperti penghormatan budaya lokal, perlindungan lingkungan, dan keadilan distribusi manfaat ekonomi—masih sering diabaikan.

“Masyarakat lokal diminta terbuka, namun tak diberi suara. Wisatawan diminta bertanggung jawab, tapi terus dibujuk untuk mengonsumsi. Ini adalah ironi dalam sistem ekonomi yang tidak sepenuhnya etis,” ujarnya.

Ia mempertanyakan efektivitas GCET dalam menghadapi realitas industri pariwisata saat ini yang kerap dikendalikan oleh kekuatan dominan. “Mungkin GCET bukan jawaban final, tapi ia tetap menjadi kompas yang menuntut kita membaca arah angin dan menilai kembali ke mana arah pembangunan pariwisata hendak dibawa,” tutup Agus.

Kedua narasumber sepakat bahwa kolaborasi antar pemangku kepentingan—pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat—adalah prasyarat mutlak untuk menciptakan sistem pariwisata yang adil, lestari, dan berakar pada nilai-nilai lokal. Dalam dunia yang kian terdigitalisasi dan terdorong oleh globalisasi, pariwisata Indonesia dituntut untuk tidak hanya mengikuti tren global, tetapi juga menjadi contoh praktik yang beretika dan berkelanjutan.Pungkas:Agus(Tyo)

Ekonomi, Nasional, Pariwisata, Umum

Navigasi pos

Previous Post: Pariwisata 2025: Di Ambang Transformasi, Menuju Ekosistem yang Berkeadilan
Next Post: Pelantikan Jagabaya dan Dukuh Baru, Condongcatur Perkuat Pelayanan Publik

Related Posts

  • “Menutup Pekan, Membuka Kesadaran Refleksi Makna Wellness Bersama GKR Bendara di JCWF 2025” Nasional
  • Menparekraf Widiyanti Putri Wardhana Buka JCWF 2025 di Solo, GKR Bendara Resmikan Gelaran Perdana di Yogyakarta Nasional
  • “Manajemen Pariwisata Berkarakter Menyatukan Fokus, Energi, Kepercayaan Diri, dan Keteguhan” Daerah
  • “GALACTIC”Ketika Batik Ciprat Melintasi Semesta Fashion
  • Jogja Tak Pernah Sepi, Tapi Apakah Pemerintah dan Industri Sudah Satu Hati? Ekonomi
  • Yogyakarta Jadi Panggung Kongres XV HIMPSI 2026, Semangat Ketangguhan Bangsa Menggema dari Kota Budaya Nasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Selly Sagita: Perhiasan Perak Bukan Sekadar Logam, tetapi Hasil Proses Panjang Bernilai Tinggi
  • Lantik 10 Pejabat, Menaker Tekankan Penguatan K3 dan Tata Kelola yang Akuntabel
  • Bukti Pendidikan dan Inklusi Nyata, SMP Labschool UNY Yogyakarta Raih Akreditasi A
  • Gelaran “Helai Masa: Bala Maharddhika Show”
  • JKP Jadi Instrumen Strategis Pelindungan dan Pengembangan Karier Pekerja

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter mengenai Hello world!

Archives

  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025

Categories

  • Bisnis
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Fashion
  • HOTEL
  • Kuliner
  • Liifestyle
  • Nasional
  • Olah Raga
  • OPINI PEMBACA
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Seni Budaya
  • Umum
  • Uncategorized
  • Wellness
  • Ramaikan Jogja Volkswagen Festival 2025 Puluhan Klub VW dari Dalam dan Luar Negeri Hadir di GIK UGM Nasional
  • Transformasi Pariwisata Dari Kompetisi Menuju Kolaborasi dan Spiritualitas Ekonomi
  • Borobudur Silver Kilau Nilai dari Tangan Perajin Asli Jogja Fashion
  • HIPMI Sleman Angkat Potensi Ekonomi Keris Lewat Diskusi Budaya Tosan Aji Daerah
  • Bupati Sleman Resmikan Kepengurusan Baru Perkumpulan Tosan Aji Lar Gangsir 2025–2030 Daerah
  • Lirik Lurik LerekKain Tradisional Menjadi Kisah dalam Mode Kontemporer Show IFC Fashion
  • Sentuhan Tepat, Badan Kembali Nikmat: Sarasehan hingga Ritual Doa Warnai Pembukaan Wellness Center di Jogja Nasional
  • Sri Sultan Resmikan Posbankum, Tegaskan Negara Hadir Melindungi Hak Hukum Warga Desa Nasional

Copyright © 2026 Nasional Terkini.

Powered by PressBook News Dark theme