
NASIONALTERKINI. Setiap nasi yang kita makan dan air yang kita minum lahir dari kerja sama alam: mata air mengalir ke sawah, tanah subur menumbuhkan pangan, dan tangan petani menyajikannya di meja. Jika satu mata rantai terputus—air kering, sawah hilang, atau hutan gundul—kehidupan ikut terguncang.
Kini, pilar bangsa bernama petani semakin rapuh. Banyak sawah berganti perumahan, hutan ditebang, dan generasi muda enggan lagi bertani. Padahal, tanpa petani, kota tak akan kenyang.
Hal itu mengemuka dalam Saresehan “Ketika Mata Air, Sawah, dan Hutan Bicara” Senin:22/09/2025 di J.J. Café & Art, Sleman Yogyakarta

Tiga narasumber hadir memberikan pesan penting:Heru (eks Presiden Tani Asia): “Kedaulatan petani adalah kedaulatan bangsa.”
Dhimas (petani muda Sleman): “Sawah tidak butuh investor besar, sawah butuh anak-anaknya sendiri.”
Edwind (aktivis mangrove Kretek, Bantul): “Menjaga hutan berarti menjaga masa depan anak-anak.”
Diskusi yang dipandu Eko Hand dan Uret Pari ini ditutup dengan pertunjukan seni—mulai dari ritual hening, teater satire, hingga simbol perlawanan budaya—yang menegaskan hubungan erat antara ekologi, budaya, dan manusia.
Pesannya jelas: bumi bukan warisan, melainkan titipan untuk anak cucu. Jika hari ini mata air dibiarkan kering, sawah hilang, dan hutan gundul, maka yang kita wariskan hanyalah krisis.Pungkas:Eko(Aan)
