Skip to content
Nasional Terkini

Nasional Terkini

Sajian Berita Terkini Dan Terpercaya

  • Uncategorized
    • Uncategorized
  • Daerah
  • Bisnis
  • Pariwisata
    • Umum
      • Checkout
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Seni Budaya
  • Liifestyle
  • Fashion
  • Kuliner
  • Uncategorized
  • Toggle search form
  • Kapolri Hadiri Apel Srawung Agung, Sinergi Jaga Warga Diperkuat di Yogyakarta Daerah
  • Ngayogjazz 2025 Resmi Digelar Imogiri Bergetar dengan Tema “Jazz Diundang Mbokmu” Nasional
  • 101 SYLE Malioboro Hotel Hadir Iftar Perdana Promo Spesial & Menu Kas Kerajaan Bisnis
  • Kalurahan Condongcatur Gelar Rapat Koordinasi Pembangunan Jalan Konblok Tahun 2025 Daerah
  • YOGA NUSANTARA – Gaya Hidup Sehat, Berdaya, dan Bahagia Daerah
  • Geopolitik Dunia 2025 Antara Perebutan Kuasa dan Krisis Kesadaran Global Nasional
  • GKR Bendara Dorong Sinergi Wellness Dan Pariwisata di JCWF 2025 Nasional
  • Wabup Sleman Sambangi Penerima Beasiswa Sleman Pintar Daerah

Media Gathering Biennale Jogja 18: Seni Kontemporer Bertumbuh dari Akar Pengetahuan Lokal

Posted on Juli 9, 2025Juli 9, 2025 By adminterkini Tak ada komentar pada Media Gathering Biennale Jogja 18: Seni Kontemporer Bertumbuh dari Akar Pengetahuan Lokal

Rabu, 9 Juli 2025 | 12.00–15.00 WIB |Kampoeng Mataraman, Yogyakarta

NASIONALTERKINI– Dalam gelaran Media Gathering Biennale Jogja 18 , Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Alia Swastika, menegaskan bahwa Biennale tahun ini tidak hanya menjadi ajang pameran karya seni semata, melainkan juga ruang perjumpaan antara pengetahuan lokal dan praktik seni kontemporer global.Rabu:09/07/2025 di Kampoeng Mataraman Yogyakarta

Mengusung pendekatan trans-lokal, Biennale 2025 menggandeng seniman dari berbagai negara untuk bekerja langsung dengan masyarakat di desa-desa seperti Panggung Harjo, Bangunjiwo, Tirtonirmolo, hingga Boro di Kulon Progo. Kerja kolaboratif ini bertujuan menggali kembali pengetahuan dan praktik lokal yang nyaris terlupakan akibat dominasi pengetahuan modern.

Kami mengajak seniman untuk menggali ulang pengetahuan-pengetahuan lokal yang selama ini terlupakan atau tertindih. Seni kontemporer tak lagi hanya tentang lukisan dalam bingkai atau patung dari logam, tapi juga mencakup tradisi lokal yang hidup berdampingan dan saling memperkaya dalam konteks kekinian,” ujar Alia.

Alia juga menyebut bahwa tren global kini semakin membuka ruang bagi praktik seni dari komunitas adat dan lokal. Contohnya, Venice Biennale 2024 memberi panggung khusus bagi seniman berlatar komunitas adat. Namun, Biennale Jogja tidak sekadar mengikuti tren. Indonesia, menurut Alia, masih memiliki napas tradisi yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Kita punya Wiwitan, batik tulis, wayang, topeng, seni pertunjukan rakyat, yang semua itu masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di sinilah program Tanah Lelaku berperan: mengartikulasikan pengetahuan warga melalui kolaborasi dengan seniman sebagai fasilitator,” tambahnya.

Salah satu seniman yang terlibat dalam Biennale tahun ini berasal dari Kalidonia Baru. Meski lahir di luar Indonesia, ia memiliki darah Jawa dan kini tengah melakukan riset tentang pohon sukun—yang di Kalidonia Baru menjadi simbol perjuangan dan kebebasan, dibawa oleh leluhurnya dari Jawa saat masa kolonial.

Biennale 2025 menghadirkan seniman dari sedikitnya 12 negara, termasuk Taiwan, Jepang, Singapura, Vietnam, dan Italia. Karena Taman Budaya Yogyakarta sedang dalam proses renovasi, pameran akan tersebar di beberapa titik, seperti Benteng Vredeburg, serta desa-desa mitra program.

Kami juga melanjutkan riset pada isu-isu lokal seperti pengelolaan sampah di Tirtonirmolo, yang sebelumnya menginspirasi karya. Desa ini punya inisiatif lingkungan yang kuat dan kami ingin terus menjalin hubungan dengan narasi tersebut,” ujar Alia.

Biennale Yogyakarta tak hanya menawarkan karya visual, tapi juga proses pembelajaran lintas budaya. Di Dusun Sawit, misalnya, kelompok ibu-ibu yang sebelumnya tak mengenal seni pertunjukan kini telah tampil di berbagai acara dan menjalin kolaborasi dengan seniman internasional.

Inilah bentuk keberlanjutan yang kami harapkan. Bukan proyek datang lalu pergi, tapi hubungan yang terus tumbuh. Seniman dan warga saling mengenal, lalu menciptakan kolaborasi yang hidup meski tanpa campur tangan langsung dari kami,” kata Alia.

Puncak program Biennale Yogyakarta 2025 akan diwujudkan dalam Tanah Lelaku, sebuah rangkaian proyek yang akan digelar di Desa Boro, Panggung Harjo, dan Bangunjiwo mulai 19 September hingga 20 November 2025.

Sementara itu, kurator Greg Sindara menyoroti pentingnya pengetahuan lokal dalam membentuk jati diri masyarakat. Ia mencontohkan Desa Boro di Karangsewu, Kulon Progo, yang dulunya merupakan kawasan rawa tempat mencari ikan, namun berubah sejak industri gula masuk pada abad ke-19.

Pengetahuan yang dulu hadir dalam praktik hidup kini kita angkat kembali melalui seni. Harapannya, masyarakat desa bisa menemukan kembali jati dirinya melalui pembacaan atas sejarah dan lingkungan mereka sendiri,” ungkap Greg.

Biennale Yogyakarta 2025 bukan hanya perayaan seni, tetapi cermin dari dialog mendalam antara lokalitas dan globalitas, antara masa kini dan masa lalu, yang terus hidup dalam denyut kehidupan masyarakat.Pungkas:Greg(Tyo)

Daerah, Nasional, Seni Budaya, Umum

Navigasi pos

Previous Post: Festival Kuliner Tjap Legende Hadir di Sleman City Hall Sajikan Rasa Autentik Nusantara
Next Post: Wapres Gibran Hadiri Sarasehan Bersama HIPMI DIY, Bahas Sinergi Ekonomi dan Inovasi Daerah

Related Posts

  • Peringati Haornas ke-42, Danang Harap Sleman Raih Juara Umum PORDA XVII DIY Daerah
  • Festival Sastra Yogyakarta Hadirkan Pasar Buku Sastra di Taman Embung Giwangan Daerah
  • Maruarar Sirait Ajak Mahasiswa UMY Berperan dalam Akses Hunian Layak untuk Rakyat Ekonomi
  • Waspada “Super Flu” H3N2 Subclade K, Dinkes Kota Yogyakarta Tegaskan Bukan Virus Baru Daerah
  • Tata Kelola yang Kuat Jadi Kunci Peningkatan Layanan Ketenagakerjaan Nasional
  • Pelukan Hangat untuk Lansia, Ditlantas Polda DIY Bawa Kebahagiaan ke Panti Wreda HANNA Daerah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Selly Sagita: Perhiasan Perak Bukan Sekadar Logam, tetapi Hasil Proses Panjang Bernilai Tinggi
  • Lantik 10 Pejabat, Menaker Tekankan Penguatan K3 dan Tata Kelola yang Akuntabel
  • Bukti Pendidikan dan Inklusi Nyata, SMP Labschool UNY Yogyakarta Raih Akreditasi A
  • Gelaran “Helai Masa: Bala Maharddhika Show”
  • JKP Jadi Instrumen Strategis Pelindungan dan Pengembangan Karier Pekerja

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter mengenai Hello world!

Archives

  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025

Categories

  • Bisnis
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Fashion
  • HOTEL
  • Kuliner
  • Liifestyle
  • Nasional
  • Olah Raga
  • OPINI PEMBACA
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Seni Budaya
  • Umum
  • Uncategorized
  • Wellness
  • Narasa Resto & Coffee Hadirkan Sensasi Kuliner Khas Aceh Lengkap dengan Bandrek Khas Sumatra Kuliner
  • Presiden Prabowo Tekankan Profesionalisme dan Soliditas TNI–Polri dalam Rapim di Istana Negara Nasional
  • Polda DIY Tebar Kepedulian di Hari Bhayangkara ke-79 Daerah
  • Ketua Umum AWMI Sekaligus Dewan Pembina Pemuda Batak Bersatu: Mari Jaga Toleransi Dan Kerukunan Mayoritas Minoritas Di Yogyakarta Nasional
  • Resiliensi Budaya sebagai Strategi Keberlanjutan Peradaban Daerah
  • Ngayogjazz 2025 Jazz Diundang Mbokmu, Meriahkan Imogiri Sang Desa Pusaka Nasional
  • GKR Bendara Wellness Dari Jogja Untuk Dunia Nasional
  • FUNKY INDONESIAN STYLE”DENIM & BATIK”DI FOS PRAWIROTAMAN 2025 Fashion

Copyright © 2026 Nasional Terkini.

Powered by PressBook News Dark theme