Rabu, 9 Juli 2025 | 12.00–15.00 WIB |Kampoeng Mataraman, Yogyakarta

NASIONALTERKINI– Dalam gelaran Media Gathering Biennale Jogja 18 , Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Alia Swastika, menegaskan bahwa Biennale tahun ini tidak hanya menjadi ajang pameran karya seni semata, melainkan juga ruang perjumpaan antara pengetahuan lokal dan praktik seni kontemporer global.Rabu:09/07/2025 di Kampoeng Mataraman Yogyakarta

Mengusung pendekatan trans-lokal, Biennale 2025 menggandeng seniman dari berbagai negara untuk bekerja langsung dengan masyarakat di desa-desa seperti Panggung Harjo, Bangunjiwo, Tirtonirmolo, hingga Boro di Kulon Progo. Kerja kolaboratif ini bertujuan menggali kembali pengetahuan dan praktik lokal yang nyaris terlupakan akibat dominasi pengetahuan modern.

Kami mengajak seniman untuk menggali ulang pengetahuan-pengetahuan lokal yang selama ini terlupakan atau tertindih. Seni kontemporer tak lagi hanya tentang lukisan dalam bingkai atau patung dari logam, tapi juga mencakup tradisi lokal yang hidup berdampingan dan saling memperkaya dalam konteks kekinian,” ujar Alia.

Alia juga menyebut bahwa tren global kini semakin membuka ruang bagi praktik seni dari komunitas adat dan lokal. Contohnya, Venice Biennale 2024 memberi panggung khusus bagi seniman berlatar komunitas adat. Namun, Biennale Jogja tidak sekadar mengikuti tren. Indonesia, menurut Alia, masih memiliki napas tradisi yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Kita punya Wiwitan, batik tulis, wayang, topeng, seni pertunjukan rakyat, yang semua itu masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di sinilah program Tanah Lelaku berperan: mengartikulasikan pengetahuan warga melalui kolaborasi dengan seniman sebagai fasilitator,” tambahnya.

Salah satu seniman yang terlibat dalam Biennale tahun ini berasal dari Kalidonia Baru. Meski lahir di luar Indonesia, ia memiliki darah Jawa dan kini tengah melakukan riset tentang pohon sukun—yang di Kalidonia Baru menjadi simbol perjuangan dan kebebasan, dibawa oleh leluhurnya dari Jawa saat masa kolonial.

Biennale 2025 menghadirkan seniman dari sedikitnya 12 negara, termasuk Taiwan, Jepang, Singapura, Vietnam, dan Italia. Karena Taman Budaya Yogyakarta sedang dalam proses renovasi, pameran akan tersebar di beberapa titik, seperti Benteng Vredeburg, serta desa-desa mitra program.

Kami juga melanjutkan riset pada isu-isu lokal seperti pengelolaan sampah di Tirtonirmolo, yang sebelumnya menginspirasi karya. Desa ini punya inisiatif lingkungan yang kuat dan kami ingin terus menjalin hubungan dengan narasi tersebut,” ujar Alia.

Biennale Yogyakarta tak hanya menawarkan karya visual, tapi juga proses pembelajaran lintas budaya. Di Dusun Sawit, misalnya, kelompok ibu-ibu yang sebelumnya tak mengenal seni pertunjukan kini telah tampil di berbagai acara dan menjalin kolaborasi dengan seniman internasional.

Inilah bentuk keberlanjutan yang kami harapkan. Bukan proyek datang lalu pergi, tapi hubungan yang terus tumbuh. Seniman dan warga saling mengenal, lalu menciptakan kolaborasi yang hidup meski tanpa campur tangan langsung dari kami,” kata Alia.

Puncak program Biennale Yogyakarta 2025 akan diwujudkan dalam Tanah Lelaku, sebuah rangkaian proyek yang akan digelar di Desa Boro, Panggung Harjo, dan Bangunjiwo mulai 19 September hingga 20 November 2025.

Sementara itu, kurator Greg Sindara menyoroti pentingnya pengetahuan lokal dalam membentuk jati diri masyarakat. Ia mencontohkan Desa Boro di Karangsewu, Kulon Progo, yang dulunya merupakan kawasan rawa tempat mencari ikan, namun berubah sejak industri gula masuk pada abad ke-19.

Pengetahuan yang dulu hadir dalam praktik hidup kini kita angkat kembali melalui seni. Harapannya, masyarakat desa bisa menemukan kembali jati dirinya melalui pembacaan atas sejarah dan lingkungan mereka sendiri,” ungkap Greg.

Biennale Yogyakarta 2025 bukan hanya perayaan seni, tetapi cermin dari dialog mendalam antara lokalitas dan globalitas, antara masa kini dan masa lalu, yang terus hidup dalam denyut kehidupan masyarakat.Pungkas:Greg(Tyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *