
foto=Institut Français d’Indonésie bersama Grand Hotel De Djokja menggelar sebuah jamuan makan eksklusif
NASIONALTERKINI.COM. Di tengah arus globalisasi yang kian cepat, bahasa dan budaya tetap menemukan jalannya untuk saling menyapa. Salah satunya melalui Pekan Francophonie—sebuah perayaan lintas negara yang sejak 1988 menjadi ruang temu bagi jutaan penutur bahasa Prancis di dunia.
Bernaung di bawah Organisation internationale de la Francophonie (OIF) yang berdiri pada 1970, komunitas ini kini merangkul lebih dari 321 juta penutur. Angka yang tidak sekadar statistik, melainkan cermin dari jejaring budaya yang hidup dan terus berkembang lintas benua—dari Eropa hingga Afrika.Sabtu:02/25/2026
Di Indonesia, semangat itu dihadirkan melalui Francophonie Week yang digelar setiap tahun oleh kedutaan besar negara-negara berbahasa Prancis di Jakarta. Tak hanya seremoni, agenda ini menjadi medium pertukaran budaya—menghadirkan bahasa, seni, hingga kuliner dalam satu panggung kebersamaan.
Tahun ini, pengalaman Francophonie hadir dalam bentuk yang lebih intim di Yogyakarta. Institut Français d’Indonésie bersama Grand Hotel De Djokja menggelar sebuah jamuan makan eksklusif. Bukan sekadar santap malam, melainkan perjalanan rasa yang merentang dari Prancis hingga Afrika.
Konsep yang diusung adalah gastronomi lintas budaya. Dalam lima hidangan, tamu diajak menelusuri cita rasa dari tiga negara: Prancis, Madagaskar, dan Mali. Setiap menu bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerita—tentang tradisi, tanah asal, dan identitas yang melekat di dalamnya.
Yang menarik, proses kreatif di balik hidangan ini melibatkan mahasiswa berbahasa Prancis dari berbagai negara yang menetap di Yogyakarta. Mereka berbagi resep dan pengalaman personal tentang makanan khas, yang kemudian diterjemahkan ulang oleh tim kuliner hotel menjadi sajian yang lebih modern tanpa kehilangan karakter aslinya.
Di sinilah kuliner menunjukkan perannya sebagai bahasa universal. Ia melampaui sekat geografis, menghadirkan dialog tanpa kata, dan menyatukan perbedaan dalam satu meja.
Bagi Grand Hotel De Djokja, partisipasi dalam Francophonie Week bukan sekadar agenda kolaboratif. Ini adalah bagian dari upaya mempertegas identitas sebagai hotel heritage yang tak hanya menawarkan kemewahan, tetapi juga pengalaman budaya yang utuh.
Berlokasi di jantung Yogyakarta, hotel ini memadukan arsitektur kolonial dengan sentuhan modern. Fasilitasnya lengkap—mulai dari berbagai tipe kamar hingga ruang pertemuan berskala besar—namun yang menjadi kekuatan utamanya adalah kemampuan menghadirkan pengalaman yang personal dan berkelas.
Melalui acara seperti ini, Grand Hotel De Djokja tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga ruang perjumpaan budaya. Sebuah panggung di mana sejarah, rasa, dan cerita saling berkelindan—menghadirkan Yogyakarta sebagai bagian dari percakapan global.
Di meja makan itu, Francophonie menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling kuat: kebersamaan.
Redaksi:
terkininasional@gmail.com
