Penutupan “Srawung Rasa Nuswantara”: Saat Manusia Diajak Kembali Mengenali Dirinya

NASIONALTERKINI.COM.YOGYAKARTA. Senja perlahan turun di kawasan Taman Budaya Embung Giwangan, Minggu (24/5/2026). Di tengah suasana temaram yang menyelimuti permukaan embung, sekitar 50 peserta duduk melingkar dalam keheningan. Tidak ada hiruk-pikuk panggung besar, tidak pula gemerlap pertunjukan modern. Yang terdengar hanya denting handpan, napas yang diperlambat, dan suasana hening yang justru terasa hidup.

Momentum itu menjadi penutup rangkaian acara Srawung Rasa Nuswantara melalui sesi bertajuk Samadhi Suwung Healing Session.

Berbeda dari festival budaya pada umumnya, kegiatan ini menghadirkan pengalaman reflektif yang memadukan meditasi, healing session, spiritualitas Nusantara, hingga praktik kontemplatif berbasis budaya lokal.

“Inilah ruang untuk kembali pulang kepada diri sendiri,” ujar Agus Budi Rachmanto Inisiator dan Kurator ” Srawung Rasa Nuswantara ” saat ditemui usai acara.

Menurut Agus, Srawung Rasa Nuswantara tidak sekadar dirancang sebagai pameran budaya atau ruang pertunjukan spiritualitas. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai “laboratorium rasa”, tempat manusia diajak mempertemukan tubuh, pikiran, energi, budaya, dan kesadaran dalam satu ruang kebersamaan.

“Manusia hari ini begitu sibuk mengejar validasi, citra, dan eksistensi digital. Tetapi semakin sedikit yang benar-benar mengenali dirinya sendiri,” katanya.

Dalam sesi healing yang berlangsung sekitar dua jam itu, peserta diajak memasuki ruang hening melalui meditasi napas, relaksasi tubuh, suara frekuensi terapeutik, hingga refleksi batin. Tidak sedikit peserta yang tampak larut secara emosional.

Bagi sebagian peserta, pengalaman tersebut menjadi momen untuk berhenti sejenak dari tekanan kehidupan modern yang serba cepat.
“Biasanya kita terkoneksi terus lewat gawai, tapi justru jauh secara emosional. Di sini saya merasa bisa benar-benar hadir,” ungkap salah satu peserta.

Secara akademik, fenomena seperti ini dinilai menunjukkan bahwa praktik budaya dan spiritualitas Nusantara tidak hanya memiliki nilai simbolik, tetapi juga dimensi terapeutik. Tradisi dipandang sebagai sistem pengetahuan holistik yang mampu membantu manusia membangun keseimbangan psikis dan emosional.

Dalam perspektif wellness modern, praktik meditasi, sound healing, hingga ritual kebersamaan diketahui mampu membantu regulasi emosi, meningkatkan empati sosial, dan menghadirkan ketenangan neurologis di tengah tekanan hidup kontemporer.

Namun lebih jauh, acara ini juga menghadirkan kritik sosial terhadap arah peradaban modern.

Mengapa manusia lebih mengenal algoritma dibanding dirinya sendiri?
Mengapa teknologi semakin canggih, tetapi ketenangan jiwa justru semakin langka?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi refleksi utama yang muncul sepanjang sesi berlangsung.

Agus mengatakan, jawaban yang ditawarkan Srawung Rasa Nuswantara sesungguhnya sederhana: ” kembali duduk bersama, kembali merasakan, dan kembali menjadi manusia.*

Penutupan acara di Embung Giwangan itu bukan sekadar akhir kegiatan komunitas budaya. Ia menjadi simbol dimulainya dialog baru tentang hubungan antara budaya, spiritualitas, kesehatan mental, dan masa depan peradaban Nusantara.

Ketika malam mulai turun dan suara-suara perlahan mereda, yang tertinggal bukan hanya dokumentasi acara, melainkan pengalaman batin yang membekas bagi para peserta.

Sebuah pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin bising, manusia tetap membutuhkan ruang sunyi untuk kembali mengenali dirinya sendiri.(Wid/Tyo)

Redaksi=

terkininasional@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *