
NASIONALTERKINI. Grand Final Pemilihan Dimas Diajeng Kota Yogyakarta 2025. Lebih dari sekadar ajang adu pesona, perhelatan ini menjadi momentum apresiasi bagi generasi muda yang memiliki dedikasi dan visi kuat untuk masa depan kota budaya ini.

Hasto Wardoyo Wali Kota Jogka menyampaikan pidato inspiratif di hadapan para finalis dan tamu undangan. Ia mengungkapkan rasa syukur sekaligus harapan besar kepada para Dimas dan Diajeng yang hadir sabtu malam 14/06/2025 di Balai Kota Yogyakarta

Malam ini adalah malam yang penuh berkah. Saya bangga melihat generasi muda Jogja yang luar biasa ini. Jika 20 tahun lagi saya bertemu mereka, saya yakin merekalah yang akan menjadi pemimpin: Wali Kota, anggota DPR, bahkan mungkin Presiden Republik Indonesia,” ujar Hasto dengan penuh semangat.
Ia menekankan bahwa kehebatan generasi muda bukan hanya terlihat dari penampilan, melainkan dari kapasitas mereka sebagai agent of change. Dalam wejangannya, Hasto mengingatkan pentingnya kemandirian ekonomi dan kontribusi sosial yang nyata.
Kekayaan bukan diukur dari harta berlimpah, tetapi dari kemampuan untuk hidup layak dalam jangka panjang, bahkan tanpa harus bekerja. Menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar mencari kerja, itulah yang harus menjadi orientasi generasi muda,” tandasnya.
Lebih jauh, Hasto menyentuh isu kesenjangan sosial yang masih ada di balik kemegahan kota. Ia membagikan kisah nyata tentang seorang pemuda berusia 27 tahun yang meninggal akibat leptospirosis karena tinggal di lingkungan kumuh dan tidak layak huni di tengah kota Yogyakarta.
Kita tidak boleh lalai. Ketika kita bermimpi tinggi, jangan lupakan realita. Yogyakarta yang hebat juga harus inklusif dan peduli pada warganya yang tertinggal,” imbuhnya sambil mengapresiasi salah satu cenderamata dari finalis berupa gambar gerobak sampah, sebagai simbol kepedulian sosial.

Sementara itu, dari panggung pemilihan, dua nama terpilih menjadi ikon baru Dimas Diajeng Kota Yogyakarta 2025. Rizky Nur Setyo Nugroho sebagai Dimas terpilih menyatakan komitmennya untuk memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota budaya kelas dunia.
Saya siap berkontribusi dalam program quick win pariwisata, dan memperkuat sinergi bersama Paguyuban Dimas Diajeng dalam menjadikan Yogyakarta destinasi unggulan global,” ujarnya penuh keyakinan.

Sedangkan Ghania Taufiqa Salma Wibowo, Diajeng terpilih, tampil memukau dengan semangat advokatifnya. Ia menyampaikan niat untuk terus menjalankan program pemberdayaan perempuan dan kelompok rentan melalui inisiatif “Sawitch for Her”.
Saya ingin Yogyakarta menjadi kota yang ramah dan inklusif, tak hanya bagi warganya tetapi juga untuk wisatawan dari berbagai latar belakang,” ungkap Salma.

Malam apresiasi ini turut dihadiri Dimas Diajeng dari Kota Surakarta, Brian dan Adine, yang turut memberikan semangat dan harapan. “Pemilihan ini bukan hanya tentang siapa yang menang, tapi bagaimana mereka membawa perubahan nyata di masyarakat,” kata Adine.
Menutup malam dengan penuh haru, Hasto berpesan kepada seluruh finalis, baik yang menang maupun belum terpilih.
Kalian semua sudah menang. Perubahan cara berpikir, sikap disiplin, dan kepedulian sosial yang kalian tunjukkan selama proses seleksi adalah bekal berharga untuk masa depan. Jangan sombong jika menang, jangan berkecil hati jika belum berhasil. Sebab masa depan Yogyakarta—dan Indonesia—ada di tangan kalian,” Papar:Hasto
Malam Grand Final Dimas Diajeng Jogja 2025 bukan hanya selebrasi, tetapi refleksi. Tentang bagaimana generasi muda tak sekadar menjadi simbol budaya, melainkan motor penggerak transformasi sosial dan ekonomi kota tercinta.Pungkas:Hasto(Tyo)
