Kalurahan Condongcatur Gelar Rapat Koordinasi Pembangunan Jalan Konblok Tahun 2025

NASIONALTERKINI. Pemerintah Kalurahan Condongcatur menggelar rapat koordinasi terkait pelaksanaan pembangunan jalan konblok di 13 padukuhan yang tersebar di 17 RW. Rapat berlangsung di Ruang Wacana Loka Kalurahan Condongcatur ,dihadiri oleh para Dukuh, Ketua Sub Unit LPMKal Padukuhan, Ketua RW, serta panitia pembangunan dari masing-masing wilayah.Rabu:17/05/2025 di Kalurahan Condongcatur Yogyakarta

Rapat ini merupakan tindak lanjut dari Musyawarah Padukuhan (Musduk) yang telah dilaksanakan sebelumnya, di mana pembangunan berbasis RW menjadi prioritas program Kalurahan pada tahun anggaran 2025. Dari total 64 RW di 18 Padukuhan, pembangunan tahun ini mencakup berbagai jenis infrastruktur seperti jalan konblok, jalan aspal, jalan corblok, drainase, serta fasilitas SPAH.

“Untuk tahun ini, pembangunan jalan konblok akan dilaksanakan di 17 RW yang tersebar di 13 padukuhan,” jelas Murgiyanto, Ulu-Ulu Kalurahan Condongcatur. Adapun wilayah yang akan menerima pembangunan jalan konblok meliputi RW 3 dan 4 (Manukan), RW 9 (Sanggrahan), RW 21 (Ngringin), RW 26 (Dabang), RW 29 (Gejayan), RW 34 dan 35 (Kaliwaru), RW 40 (Pringwulung), RW 44 (Kayen), RW 47 dan 49 (Kentungan), RW 52 (Pikgondang), RW 58 dan 60 (Joho), RW 61 (Dero), serta RW 63 (Gandok).

Dalam kesempatan tersebut, Carik Condongcatur Riska Dian Nur Lestari menyampaikan adanya ketentuan baru dalam sistem pengelolaan anggaran, yakni penggunaan aplikasi Coretax untuk proses perpajakan. “Mulai tahun ini, setiap pembelian barang di atas Rp2 juta harus menggunakan NPWP dan disertai faktur pajak. Untuk itu, bantuan pembangunan akan diberikan dalam bentuk barang, yaitu konblok spesifikasi mutiara dan upah tenaga kerja,” ujarnya. Ia berharap bantuan senilai Rp40 juta per RW ini mampu menjadi stimulan partisipasi dan swadaya masyarakat.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menambahkan bahwa besaran alokasi dana tetap maksimal Rp40 juta per RW, namun dapat disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan berdasarkan hasil verifikasi teknis. “Verifikasi dilakukan untuk memastikan volume dan luas pembangunan sesuai kebutuhan. Koordinasi lanjutan juga akan dilakukan bagi RW yang akan melaksanakan pembangunan jenis lain seperti jalan aspal, corblok, drainase, dan SPAH,” terangnya.

Dengan koordinasi dan transparansi yang baik, Pemerintah Kalurahan Condongcatur menargetkan seluruh program pembangunan tahun 2025 dapat berjalan tepat sasaran, sesuai usulan dan aspirasi warga.Pungkas:Riska(Tyo)

Pariwisata DIY di Persimpangan: GIPI Dorong Strategi Diversifikasi dan Ketahanan Industri

NASIONALTERKINI. Sektor pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah memasuki masa kritis. Tak disebabkan oleh bencana atau pandemi, melainkan oleh regulasi: Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025. Kebijakan yang bertujuan menata pariwisata nasional itu justru membawa dampak signifikan bagi ekosistem wisata di DIY.

Ketua DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardiyanto, menegaskan bahwa keberadaan Inpres ini menggerus denyut utama sektor wisata, terutama dari aktivitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) dan study tour yang selama ini menjadi tulang punggung wisata domestik.

“Sekitar 60 persen kegiatan MICE DIY berasal dari instansi pemerintah. Sementara larangan study tour oleh sejumlah daerah menghapus hampir 40 persen potensi kunjungan wisatawan. Ini membuat kita harus realistis dan segera menyusun langkah antisipatif,” ujar Bobby dalam pertemuan strategis GIPI DIY :Rabu:16/04/2015 di Java Villas Yogyakarta,

Membangun Ulang Arah Strategi Pariwisata

Menghadapi situasi ini, GIPI DIY menawarkan sejumlah strategi diversifikasi pasar dan optimalisasi sumber daya yang ada. Bobby memaparkan beberapa langkah kunci yang dinilai krusial untuk mempertahankan daya saing pariwisata DIY:

Menghidupkan kembali pasar weekday tourism dengan menghadirkan produk menarik di hari kerja.

Menyusun paket bundling wisata berbasis pendidikan, seperti mengintegrasikan jadwal wisuda dan MICE kampus.

Kolaborasi pelaku event dengan industri wisata dalam program pra dan pasca-event.

Pengembangan wellness dan medical tourism, dengan ekosistem seperti Jogja Creative Wellness Festival (JCWF).

Penguatan sport tourism melalui event olahraga dan atraksi pendukung.

Revitalisasi desa wisata melalui konsep Community-Based Tourism dan festival tematik.

Sinkronisasi program promosi UMKM dan pusat belanja dengan bundling wisata seperti program great sale.

“Strategi ini tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan orkestrasi lintas pemangku kepentingan agar bisa memperkuat ekosistem wisata secara berkelanjutan, terutama di masa weekdays yang selama ini kurang tergarap,” tegas Bobby.

Selanjudnya Agus Budi Rahman Wakil Ketua Bidang Objek Daya Tarik Wisata dan Event GIPI DIY, menyoroti paradoks yang lahir dari kebijakan Inpres tersebut. Menurutnya, banyak pelaku wisata kecil—dari homestay hingga komunitas lokal—justru tergencet oleh aturan yang terlalu teknokratis.

“Homestay yang belum tersertifikasi terpaksa tutup. Pemandu wisata non-formal kehilangan ruang geraknya. Komunitas yang selama ini jadi penggerak destinasi alternatif malah terjebak dalam birokrasi,” jelas Agus.

Ia menilai bahwa regulasi ini berpotensi mengubah wajah pariwisata DIY yang selama ini inklusif dan berbasis rakyat menjadi industri yang eksklusif dan tidak ramah terhadap inisiatif akar rumput.

“Kita paham pentingnya profesionalisme, tapi regulasi harus punya empati pada realitas lapangan. Jika tidak, sektor ini bukan hanya kehilangan pemasukan, tapi juga kehilangan jiwanya,” tegas Agus.

Menuju Pariwisata DIY yang Tangguh dan Adaptif

Baik Bobby maupun Agus sepakat bahwa momentum ini harus menjadi titik refleksi untuk merumuskan ulang arah pariwisata DIY—dari sekadar destinasi menjadi ekosistem yang tangguh, adaptif, dan berkeadilan.

“Kami tidak menolak regulasi, tapi kami ingin memastikan bahwa kebijakan dibuat dengan mendengar suara pelaku di bawah. Kalau tidak, kita hanya membangun dari atas, tanpa fondasi yang kuat di akar,” Papar: Agus.

Pertemuan ini diharapkan menjadi awal dari gerakan bersama menuju pariwisata DIY yang lebih responsif, inovatif, dan tetap berpihak pada masyarakat.Tutup :Agus(Tyo)

Sarasehan Lintas Iman: Guyub Rukun Jogja Tanpa Daging Anjing

NASIONALTERKINI. – Keprihatinan peningkatan di Jawa dalam konsumsi daging anjing.Sarasehan lintas Iman “Guyup Rukun Jogja Tanpa Daging Anjing di gelar”

Menanggapi situasi ini, Animal Friends Jogja (AFJ) bersama Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) menggelar sarasehan dengan tema “Cinta Kasih Tanpa Kekerasan: Jogja Tanpa Daging Anjing”. Kegiatan ini menjadi bagian dari kampanye Hack in the Pack II, yang ingin membangun kesadaran dari berbagai sisi—agama, kesehatan, hingga hak hidup hewan.

Diskusi dibuka oleh Victor Indrawan, pendiri Shelter Ram-Ram Dog Care (RRDC), yang membagikan kisah dramatis penyelamatan 78 anjing dari jaringan perdagangan ilegal di Kulon Progo tahun 2021. “Kalau nggak cepat ditindak, bisa-bisa semuanya mati sebelum sampai pengadilan,” katanya. Ia menyoroti lemahnya penegakan hukum. “Masalahnya bukan nggak ada empati, tapi belum ada ketegasan.”

Tak kalah serius, Erwan Budi Hartadi dari Center for Tropical Medicine UGM membeberkan data mencengangkan: lebih dari 6.000 ekor anjing dikonsumsi setiap bulannya di DIY. “Dan semua itu nggak ada yang lolos pemeriksaan kesehatan. Bayangin aja risikonya—rabies, leptospirosis, dan penyakit zoonosis lainnya,” dan mengajak pendekatan One Health, yang menyatukan aspek kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.Ujar:Erwan.Jum’at;11/04/2025 di Yogyakarta

Padahal, Gubernur DIY sudah sempat mengeluarkan Surat Edaran No. 510/3896 tahun 2023 soal pengendalian daging anjing. Tapi, sampai sekarang, belum ada kelanjutan berarti. “Katanya sih ini awal menuju Perda, tapi kok jalannya masih di tempat,” keluh Elsa Lailatul Marfa’ati, Koordinator Edukasi DMFI:

Perwakilan dari Pemda DIY pun hadir, seperti Yulia Hermawati dari Biro Perekonomian dan SDA serta Kusumawardhani dari Dinas Pertanian. Mereka bilang mendukung pelarangan, tapi pengesahan regulasi masih menunggu keputusan di level pusat. Damarwati dari Dinas Kesehatan DIY menegaskan bahwa pelarangan ini juga menyangkut kesehatan masyarakat.

DMFI dan AFJ sepakat: sudah waktunya Yogyakarta benar-benar bersikap. “Jogja itu kota budaya, kota toleran. Masa iya masih mentoleransi kekejaman pada anjing? Ayo, kita tunjukkan Jogja yang penuh kasih, sehat, dan beradab,” tutup Elsa.(Tyo)
.

Sleman City Hall Gelar Halal Bihalal Bersama 50 Media, Umumkan Rangkaian Event April 2025

NASIONALTERKINI. Sleman City Hall (SCH) menggelar Halal Bihalal bersama 50 perwakilan media se-DIY, Berlangsung Rabu 9April 2025 di Coffeebreak, Ground Floor SCH. Selain sebagai ajang silaturahmi, acara ini juga menjadi momen pengumuman resmi rangkaian event April Celebration.Jum’at;12/04/2025

General Manager SCH, Sebastianus Jony Yudyantara menyampaikan apresiasinya kepada media atas dukungan selama ini. “Halal Bihalal ini menjadi momentum kami menyampaikan terima kasih kepada media sekaligus mengenalkan sederet program segar yang kami hadirkan sepanjang April,” ujarnya.

April Celebration dibuka dengan Petualangan Samudra di Atrium Rama (28 Maret–4 Mei), menampilkan oceancarium, wahana edukatif, pertunjukan Mermaid, hingga aktivitas anak seperti rainbow slide dan fish spa.

SCH juga meresmikan Ratel Escape Room bertema urban legend Magakmi Village di lantai 1. Pengunjung diajak memecahkan teka-teki dalam dua permainan misterius dan menantang.

Event lainnya meliputi:

Lomba Menghias Telur Paskah (20 April, Atrium Shinta) untuk anak 8–12 tahun.

Feeding Bunny Area sebagai wahana bermain interaktif.

Indonesia Championship Damper Style Class 2025 (25–27 April) yang melibatkan 350 tim Tamiya dari dalam dan luar negeri.

Lakujoo Run (27 April) bersama Marcel Chandrawinata.

Program belanja menarik juga digelar, antara lain Easter Egg Surprise, Hari Konsumen Nasional, dan Pay Day Treats, dengan hadiah voucher dan parkir gratis.

“Melalui April Celebration, kami ingin memberikan pengalaman belanja dan hiburan yang berbeda bagi masyarakat DIY,” tutup Sebastianus.(Tyo)

Pelantikan Jagabaya dan Dukuh Baru, Condongcatur Perkuat Pelayanan Publik

NASIONALTERKIN Pemerintah Kalurahan Condongcatur melantik Jagabaya dan dua Dukuh baru: Ngropoh dan Kayen, dalam upacara resmi di Pendopo Kalurahan, Rabu (9/4). Acara ini disaksikan tanggal 9 April 2025 pejabat daerah, tokoh masyarakat, dan keluarga pejabat terlantik.

Turut hadir Kepala Dinas PMK Sleman Samsul Bakri mewakili Bupati Sleman, Panewu Depok Wawan Widiantoro, akademisi Prof. Dr. Sudji Munadi (UNY), dan jajaran Muspika Kapanewon Depok.

Pelantikan diawali lagu kebangsaan, dilanjutkan pengambilan sumpah oleh Lurah Condongcatur Reno Candra Sangaji, disaksikan Ketua BPKal Sunarto dan Ulu-ulu Murgiyanta. Unsur keagamaan hadir dari dua tokoh lintas agama: Abu Hanifah (KUA Depok) dan Pendeta Catur Ari Krisnanto (GBI Gloria Kayen).Jum’at :11/04/2025

Surat keputusan dibacakan oleh Dukuh Tiyasan Saifullah Arief Budiman. Serah terima jabatan dilakukan dari pejabat lama ke yang baru, termasuk dari Plt. Jagabaya Wahyu Nurendra kepada Rudi Antariksawan, dari Plt. Dukuh Ngropoh Andree Setiawan kepada Nurdin Wododo, serta dari Purwanto (purna tugas Dukuh Kayen) kepada Ade Hermawan Susilo.

Dalam sambutannya, Lurah Reno menegaskan pentingnya pelayanan publik yang cepat, transparan, dan mengutamakan kepentingan warga. Ia mengingatkan pejabat baru agar menjunjung nilai kepemimpinan Jawa hamemayu hayuning bawana—mengabdi demi harmoni dunia.

“Ini bukan sekadar pelantikan, tapi awal harapan baru bagi Condongcatur. Kepemimpinan sejati adalah pelayanan,” tegasnya.

Khusus kepada Jagabaya, Reno menekankan peran strategis menjaga keamanan dan sinergi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Kepada Dukuh, ia berpesan agar selalu mendengar warga dan merespons dengan empati. Ia juga memberi penghormatan kepada Purwanto yang telah mengabdi lebih dari 35 tahun.

“Beliau adalah simbol pengabdian sejati,” ujar Reno.

Sementara itu, dalam pesan tertulis Bupati Sleman yang dibacakan Samsul Bakri, pejabat baru diminta segera beradaptasi dan membangun komunikasi efektif dengan masyarakat.

“Jagabaya harus jaga ketertiban. Dukuh harus bijak, mengedepankan musyawarah, dan tidak menyalahgunakan wewenang,” pesan Bupati.

Sebagai bentuk apresiasi, Purwanto menerima tali asih dari kalurahan dan paguyuban Dukuh. Acara ditutup dengan sesi foto, ramah tamah, dan halal bihalal pasca-Idulfitri.Pubgkas:Purwanto(Tyo)

Keberlanjutan Jadi Kunci Masa Depan Pariwisata Indonesia, Bukan Lagi Sekadar Angka Kunjungan

NASIONALTERKINI.Yogyakarta, Pendekatan terhadap pariwisata Indonesia kini mengalami pergeseran paradigma. Tidak lagi semata mengejar angka kunjungan wisatawan, sektor ini mulai diarahkan pada prinsip keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Hal ini disampaikan oleh dua tokoh yang aktif dalam pengembangan pariwisata dan kebijakan etika global.

Menurut Jaka Triyana, Staf Ahli Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Wakil Dekan Fakultas Hukum UGM, masa depan pariwisata Indonesia sangat ditentukan oleh keberanian untuk mengubah strategi pembangunan. Ia menekankan pentingnya menjadikan masyarakat lokal sebagai pusat dari pembangunan destinasi wisata.

“Pariwisata saat ini tidak bisa lagi dipahami hanya sebagai lintas batas wilayah. Ini soal bagaimana kita mengelola sumber daya lokal secara bijak, dengan mengedepankan keberlanjutan lingkungan dan sosial,” ujarnya:Kamis:10/04/2025 di Yogyakarta.

Jaka juga menyoroti temuan dari sejumlah studi lapangan yang ia lakukan di lima destinasi prioritas nasional seperti Danau Toba, Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika, dan Bali. Ia menemukan bahwa keterlibatan masyarakat lokal di destinasi utama masih sangat terbatas.

“Banyak masyarakat yang justru merantau ke kota, dan saat kembali pun mereka memilih tinggal di homestay yang dekat dengan akar budaya mereka, bukan di hotel berbintang. Ini bukti bahwa wisata berbasis pengalaman personal dan kultural lebih diminati,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa pemerintah perlu memperjelas standar pengelolaan destinasi agar tidak semata fokus pada aspek ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan keseimbangan ekologi dan sosial. “Jika tidak, kita akan menghadapi konflik kepentingan dan kerusakan lingkungan yang sulit diperbaiki,” tambahnya.

Di sisi lain, Agus Rachman, Sekretaris DPD PUTRI DIY menyoroti aspek etika dalam praktik pariwisata global. Ia mengangkat pentingnya Kode Etik Global untuk Pariwisata (Global Code of Ethics for Tourism/GCET) sebagai pedoman moral yang kini berada di persimpangan jalan.

“GCET dirancang untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan. Namun di lapangan, pariwisata masih sering menjadi alat eksploitasi, bukan pemberdayaan,” ungkapnya.

Agus menyampaikan refleksi kritis tentang bagaimana prinsip luhur dalam GCET—seperti penghormatan budaya lokal, perlindungan lingkungan, dan keadilan distribusi manfaat ekonomi—masih sering diabaikan.

“Masyarakat lokal diminta terbuka, namun tak diberi suara. Wisatawan diminta bertanggung jawab, tapi terus dibujuk untuk mengonsumsi. Ini adalah ironi dalam sistem ekonomi yang tidak sepenuhnya etis,” ujarnya.

Ia mempertanyakan efektivitas GCET dalam menghadapi realitas industri pariwisata saat ini yang kerap dikendalikan oleh kekuatan dominan. “Mungkin GCET bukan jawaban final, tapi ia tetap menjadi kompas yang menuntut kita membaca arah angin dan menilai kembali ke mana arah pembangunan pariwisata hendak dibawa,” tutup Agus.

Kedua narasumber sepakat bahwa kolaborasi antar pemangku kepentingan—pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat—adalah prasyarat mutlak untuk menciptakan sistem pariwisata yang adil, lestari, dan berakar pada nilai-nilai lokal. Dalam dunia yang kian terdigitalisasi dan terdorong oleh globalisasi, pariwisata Indonesia dituntut untuk tidak hanya mengikuti tren global, tetapi juga menjadi contoh praktik yang beretika dan berkelanjutan.Pungkas:Agus(Tyo)

Pariwisata 2025: Di Ambang Transformasi, Menuju Ekosistem yang Berkeadilan

NASIONALTERKINI.— Menyambut tahun 2025, sektor pariwisata Indonesia berada di titik kritis. Di tengah tantangan global dan perubahan cara pandang terhadap perjalanan, muncul kesadaran baru: pariwisata bukan lagi sekadar industri yang menjual pemandangan dan pengalaman instan, tetapi sebuah medan untuk refleksi, pertumbuhan, dan penyembuhan kolektif.

Agus Budi Rachman, Sekretaris Eksekutif DPD PUTRI sekaligus pengelola Taman Pintar Yogyakarta, menyampaikan pandangannya dengan nada filosofis. “Kita memasuki getaran angka 9,” ujarnya, merujuk pada simbol dalam numerologi yang kerap dimaknai sebagai akhir sebuah siklus. “Tapi benarkah ini akhir? Atau justru awal dari sesuatu yang lebih subtil,lebih mendalam:Rabu;09/04/2025 di Taman Pintar Yogyakarta

Dalam dunia yang berubah begitu cepat, kata Agus, tidak ada yang benar-benar berakhir. Justru, di titik inilah transformasi sesungguhnya bisa dimulai.

Dari Konsumsi ke Kontemplasi

Pariwisata 2025 bergerak melampaui definisi konvensional. Bukan lagi sebatas kunjungan, selfie, atau angka okupansi kamar hotel. Tren global menunjukkan pergeseran dari eksotisme menuju eksistensi. Wisatawan kini tidak hanya mencari keindahan visual, tetapi pengalaman otentik yang menggugah rasa dan memperkaya jiwa.

Namun, paradoks muncul. Di tengah konektivitas global yang semakin kuat, banyak destinasi kehilangan jati dirinya. Ketika keaslian dicari, yang ditemukan justru imitasi yang dibungkus estetika. “Ini bukan lagi soal ‘di mana kita berfoto,’ tapi ‘apa yang tersisa setelah kita pergi,’” ungkap: Agus.

Pariwisata sebagai Bentuk Kolonialisme Baru?

Secara provokatif, Agus mengangkat pertanyaan yang menggugah kesadaran: apakah pariwisata selama ini tidak lebih dari bentuk kolonialisme baru? Dengan wajah tersenyum dan lensa kamera, budaya lokal seringkali dijadikan komoditas, diabadikan sekaligus dikikis oleh logika pasar.

“Apakah kita benar-benar menghargai budaya yang kita kunjungi? Atau hanya mengambil bagian paling menarik darinya untuk kita pamerkan di media sosial?” tanyanya.

Menuju Ekosistem yang Inklusif dan Berkeadilan

Transformasi yang dibutuhkan tidak cukup hanya pada permukaan. Ini bukan tentang mengganti kemasan promosi atau menambahkan narasi “sustainability” sebagai pelengkap brosur wisata. “Yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma,” tegas Agus. “Dari eksklusi menuju inklusi. Dari eksploitasi menuju regenerasi.”

Isu-isu mendasar seperti ketimpangan akses, marginalisasi komunitas lokal, hingga eksploitasi alam dan warisan budaya tak bisa lagi diabaikan. “Tahun ini adalah undangan untuk menyelesaikan yang belum tuntas. Untuk membangun pariwisata sebagai ekosistem yang berkeadilan,” katanya.

Menurut Agus, “ekosistem pariwisata berkeadilan” bukanlah slogan kosong. Ia adalah seruan zaman untuk kolaborasi lintas sektor yang dilandasi kesadaran bersama. Kolaborasi yang tidak menempatkan satu pihak sebagai pusat, tetapi saling menopang dalam jaringan yang cair dan dinamis.

Menenun Ulang Makna Perjalanan

Tahun 2025 membuka ruang untuk menyusun ulang narasi pariwisata. Bukan sekadar alat ekonomi, melainkan sebagai ruang belajar kolektif—sebuah platform untuk membangun kesadaran baru. Pariwisata harus mampu menjadi ruang perjumpaan yang otentik, ruang pertumbuhan bersama, dan ruang penyembuhan, baik bagi individu maupun komunitas.

Agus menutup dengan refleksi mendalam:
“Pariwisata masa depan bukan tentang tempat yang dikunjungi, tapi tentang kesadaran yang dibawa pulang.”
“Yang kita cari di luar, seringkali adalah refleksi dari yang hilang di dalam.”
“Maka pariwisata harus menjadi jembatan, bukan pelarian. Transformasi sejati bukan saat kita mengganti cara berpromosi, tetapi saat kita mengubah cara kita memaknai.”Pungkas:Agus(Tyo)

Refleksi 2025: Pariwisata DIY Didorong Transformasi Kolaboratif dan Adaptif

NASIONALTERKINI.Yogyakarta – Memasuki tahun 2025, pelaku pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diingatkan untuk merefleksikan diri dan memperkuat kolaborasi lintas sektor guna membangun ekosistem pariwisata yang sehat dan berkelanjutan. Hal ini disampaikan oleh Agus Budi Rachman, Sekretaris Jenderal DPD PUTRI (Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia) DIY dalam sebuah pertemuan strategis bersama para pemangku kepentingan industri pariwisata.

Agus menyampaikan bahwa tahun 2025 memiliki makna simbolik yang mendalam. “Kalau kita jumlahkan 2+0+2+5, hasilnya adalah 9. Angka 9 ini sejatinya memiliki arti penyelesaian dan menjadi titik akhir dari sebuah siklus,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa makna angka 9 bisa menjadi refleksi kolektif untuk seluruh sektor, termasuk pemerintah pusat dan daerah, agar menyelesaikan berbagai persoalan secara bijak, arif, dan penuh kesadaran.

Lebih lanjut, Agus menggarisbawahi tiga makna utama dari angka 9 dalam konteks pembangunan pariwisata:
Pertama, proses penyelesaian, di mana seluruh persoalan lama harus dituntaskan dengan pendekatan yang menyeluruh dan berorientasi pada solusi.
Kedua, keseimbangan, yang berarti perlunya perubahan cara pandang dari pola lama menuju pendekatan baru yang lebih fleksibel, stabil, dan terbuka terhadap perbedaan.
Ketiga, transformasi dan adaptasi, di mana semua pelaku industri pariwisata harus meningkatkan kapasitas diri untuk bertransformasi sesuai dengan tingkat kesadaran masing-masing.Ujar:Agus Budi Rachman Saat ditemui :Rabu :09/04/2025 di Kantor DPD RI jln Kusumanegara Yogyakarta

“Di abad 20, kita diajarkan untuk bersaing secara keras demi mencapai tujuan. Namun, di abad 21, yang kita butuhkan adalah kolaborasi tanpa syarat. Tidak lagi tentang kompetisi, tetapi sinergi,” jelas Agus. Ia menekankan bahwa kolaborasi oportunistik yang dilandasi kepentingan sempit harus dihindari. Sebaliknya, pembangunan ekosistem pariwisata harus dilakukan secara kolektif dengan mengesampingkan ego sektoral dan pribadi.

“Kita tidak bisa lagi mengedepankan egoisme dalam membangun industri pariwisata. Yang kita perlukan adalah ekosistem yang hidup, sehat, dan dibangun bersama-sama tanpa pamrih,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua DPD GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia) DIY, Bobby Ardiyanto, menyoroti tantangan konkret yang dihadapi pelaku usaha pariwisata dalam kondisi ekonomi yang belum stabil. Ia menjelaskan bahwa saat ini pelaku industri dibebani oleh dua jenis biaya utama: fixed cost (biaya tetap) dan variable cost (biaya variabel). Menurutnya, diperlukan langkah-langkah relaksasi yang nyata dari pemerintah untuk membantu pelaku industri bertahan.

“Situasi kita saat ini sangat krusial. Seperti disampaikan PHRI, banyak pelaku industri hanya mampu bertahan satu sampai tiga bulan ke depan. Maka dari itu, kita perlu bergerak cepat untuk memastikan dukungan hadir tepat waktu,” papar Bobby.

Ia juga menegaskan pentingnya diversifikasi produk pariwisata sebagai salah satu solusi jangka menengah. Dengan menghadirkan ragam produk yang sesuai dengan kebutuhan dan minat wisatawan masa kini, industri pariwisata di DIY dapat memperluas pasar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi lokal.

“Dalam situasi sulit ini, perjuangan harus dilakukan secara bersama-sama. Tidak hanya bertahan, tetapi juga mencari peluang baru melalui inovasi produk dan diversifikasi layanan,” Jelas:Bobby.

Keduanya sepakat bahwa 2025 menjadi momentum penting untuk melakukan perubahan fundamental dalam ekosistem pariwisata DIY. Melalui pendekatan kolaboratif, transformatif, dan adaptif, diharapkan industri pariwisata dapat bangkit lebih kuat dan berkelanjutan.:Pungkas:Bobby(Tyo)

Lanny Amborowati Luncurkan Brand Baru “Chesa” dan Koleksi Upcycle Bertajuk Eclectic Soul

NASIONALTERKINI Nama Lanny Amborowati bukanlah wajah baru di dunia fashion. Desainer asal Yogyakarta ini kembali menunjukkan konsistensinya dalam berkarya lewat langkah terbaru yang penuh gebrakan. Tak hanya membuka butik baru di Sleman City Hall lantai 1, Lanny juga resmi meluncurkan brand terbarunya bertajuk Chesa, yang fokus menghadirkan busana muslim syar’i dengan gaya elegan dan modern

Gak berhenti di situ, Lanny memperkenalkan koleksi terbarunya bertajuk Eclectic Soul—sebuah lini fashion yang memadukan semangat street style anak muda dengan nuansa Korean look yang sedang digandrungi. Koleksi ini dirancang untuk wanita muda dan remaja urban yang aktif, dinamis, dan gemar travelling di tengah suasana kota yang modern.

Salah satu ciri khas dari Eclectic Soul adalah pendekatannya yang ramah lingkungan. Lanny mengangkat konsep upcycle, yakni mendaur ulang desain lama atau sisa material seperti kain denim, linen, dan cotton Lurik menjadi busana baru yang memiliki nilai estetika dan fungsi lebih tinggi. Hasilnya, tercipta busana-busana stylish yang tak hanya cocok untuk dikenakan sehari-hari, tapi juga layak tampil di berbagai kesempatan spesial.

“Butik ini bukan sekadar tempat belanja, tapi juga ruang eksplorasi kreativitas,” ujar Lanny saat ditemui di sela-sela persiapan peluncuran brand Chesa yang dijadwalkan pada Mei mendatang.Selasa:08/04/2025 di Sleman City Hall Lantai :1 Yogyakarta

Dengan visi yang menggabungkan nilai budaya, keberlanjutan, dan estetika modern, karya-karya Lanny Amborowati terus membuktikan bahwa fashion tak sekadar soal tren, tetapi juga tentang pesan, identitas, dan tanggung jawab.

Bagi Anda yang penasaran dengan karya-karya terbaru dari Lanny Amborowati, butik Chesa kini resmi dibuka untuk umum di Sleman City Hall Lantai:1.Yogyakarta Pungkas;Lanny(Tyo)

Libur Panjang, Tapi Tak Berkunjung: Ke Mana Perginya Wisatawan Lebaran 2025

NASIONALTRRKINi.Obrolan Santai Wisata Jogja bersama Agus Budi Rahman dan Selly Sagita di Borobudur Silver Jogja, Libur Lebaran 2025 seharusnya menjadi momen puncak arus wisata. Tiket pesawat habis dipesan sejak jauh hari, hotel berlomba-lomba menawarkan promo menarik, dan destinasi wisata bersiap menyambut banjir manusia. Namun kenyataannya jauh dari harapan. Kamar-kamar hotel kosong, warung tutup lebih awal, dan jalan-jalan utama yang biasanya padat justru lengang di jam sibuk.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat okupansi hotel selama libur Lebaran 2025 hanya mencapai 48,6%—turun signifikan dari 59,2% pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan paling terasa terjadi di destinasi favorit seperti Yogyakarta, Bandung, dan Bali, bahkan mencapai 30%.

Tak hanya perhotelan, destinasi wisata juga mencatat penurunan tajam. Laporan dari Dinas Pariwisata menunjukkan bahwa total wisatawan domestik selama Lebaran hanya mencapai 6,2 juta jiwa—turun 23% dibandingkan tahun sebelumnya. Dampaknya merembet ke UMKM lokal: transaksi di pusat kuliner dan cinderamata merosot rata-rata 18%, menciptakan efek domino terhadap ekonomi rakyat kecil.Ujar:Agus Budi Rahman:Selasa:08/04/2025 di Borobudur Silver Yogyakarta

Ke Mana Perginya Wisatawan?

Menurut Agus Budi Rahman, pemerhati pariwisata Yogyakarta, ada pergeseran perilaku wisatawan. “Banyak orang kini memilih staycation, menikmati waktu bersama keluarga di rumah. Mereka merasa pengalaman wisata yang ditawarkan stagnan, tidak ada hal baru,” ungkapnya.

Hal ini diamini oleh Selly Sagita, pengusaha dan pelaku industri kreatif pemilik Borobudur Silver. Menurutnya, wisata berbasis pengalaman belum sepenuhnya dimaksimalkan. “Kita masih terlalu fokus pada spot foto, bukan pada cerita di baliknya. Padahal, wisatawan ingin sesuatu yang lebih otentik dan personal,” katanya.

Biaya Naik, Daya Tarik Turun

Faktor lain yang ikut mempengaruhi adalah naiknya biaya perjalanan. Harga tiket pesawat belum sepenuhnya stabil pasca pandemi, sementara perjalanan darat masih diwarnai kemacetan dan layanan yang belum maksimal. Ditambah tekanan inflasi, masyarakat kini lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.

Namun lebih dari sekadar soal biaya, ada hal yang lebih mendasar: krisis daya tarik.

Indonesia, khususnya kawasan wisata seperti Yogyakarta, disebut sedang mengalami stagnasi dalam inovasi pariwisata. Kita menawarkan pemandangan, tapi bukan pengalaman. Menjual keramaian, tapi bukan kedekatan emosional. Yang berubah hanya banner promosi, bukan substansi destinasi.

Refleksi dari Lebaran 2025

“Ini jadi wake-up call. Kita harus mulai menyadari bahwa wisata bukan hanya tentang jumlah pengunjung, tapi tentang bagaimana menciptakan koneksi dengan mereka,” tutur Agus.

Selly menambahkan, “Kalau ingin wisatawan kembali, kita harus memberi mereka alasan. Bukan sekadar tempat, tapi kisah dan kehangatan yang mereka bawa pulang.”

Libur Lebaran 2025 menjadi pengingat bahwa euforia tidak cukup tanpa inovasi. Jika sektor pariwisata tak segera berbenah, maka yang akan datang bukanlah wisatawan—melainkan ketertinggalan.

Kini, pertanyaannya bukan lagi: “Mengapa mereka tidak datang?” Tapi: “Mengapa mereka harus kembali?”Pungkas;Agus(Tyo)