Kotabaru Heritage Film Festival 2026 Tutup, Sembilan Karya Raih Penghargaan

Festival Report & Awards Announcement digelar di ARTOTEL Suites Bianti

NASIONALTERKINI.COM YOGYAKARTA, Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 resmi menutup penyelenggaraan tahun keempat setelah menggelar rangkaian festival pada 17–19 September 2026 di Pasar Terban dan PDIN, Yogyakarta.

Penutupan ditandai dengan Closing & Awarding Night pada Sabtu, 19 malam di PDIN Yogyakarta. Malam penghargaan tersebut menjadi ajang perayaan bagi para pemenang sekaligus mempertemukan filmmaker, komunitas, relawan, mitra, dan publik yang terlibat dalam penyelenggaraan KHFF 2026.

Festival Report & Awards Announcement digelar di ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta untuk mengumumkan secara lengkap para pemenang dari tiga kompetisi utama, yakni Mahaditya Awards, Karyanagri Awards, dan Purwaseswa Awards.

Memasuki tahun keempat, KHFF mengembangkan gagasan kuratorial dari Introduksi, Interaksi, dan Posisi menuju Kontekstualisasi. Heritage tidak ditempatkan semata sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai sesuatu yang terus hidup, berubah, diperdebatkan, dan dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengatakan KHFF menjadi ruang untuk memperluas cara publik memahami warisan budaya.

“Heritage tidak hadir dalam satu bentuk atau satu perspektif. Ia dapat lahir dari pengalaman personal, keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, maupun institusi negara. Yang ingin kami lihat adalah bagaimana film membuat warisan tersebut kembali berbicara dengan kehidupan hari ini,Ujar:Yetti.Saat di Hadapan Awak media:Sabtu:19/09/2026 di Artotel Suites Bianti Hotel Yogyakarta

Festival dibuka melalui program Becak Drive-In Cinema di Pasar Terban dengan pemutaran film Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja. Program tersebut dihadiri sekitar 1.000 pengunjung dan menjadikan Pasar Terban sebagai ruang sinema terbuka sekaligus ruang pertemuan masyarakat.

Direktur Festival KHFF 2026, Siska Raharja, mengatakan antusiasme publik juga terlihat dalam berbagai program yang berlangsung di PDIN.

Pada hari kedua, tujuh program mencatat total 321 peserta dari kapasitas 350 orang atau tingkat okupansi mencapai 91,7 persen. Sejumlah program bahkan melampaui kapasitas, dengan tingkat okupansi tertinggi mencapai 124 persen.

“Antusiasme ini penting bagi kami karena menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai film dan heritage semakin mendapatkan ruang di tengah publik,” ujar Siska.

Dari sisi partisipasi, KHFF 2026 menerima 184 film submission, tertinggi selama empat tahun penyelenggaraan. Sebanyak 27 film kemudian ditayangkan, terdiri atas 24 film nasional dan tiga film internasional dalam delapan program pemutaran.

Film yang masuk berasal dari 21 provinsi di Indonesia. Partisipasi terbesar berasal dari DI Yogyakarta sebanyak 46 film, Jawa Timur 32 film, Jawa Tengah 30 film, dan Jawa Barat 29 film. Partisipasi juga datang dari berbagai daerah di luar Jawa, antara lain Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.

Direktur Program KHFF 2026, Suluh Pamuji, mengatakan pemrograman festival tidak hanya melihat heritage sebagai objek yang ditampilkan dalam film.

“Penyelenggaraan tahun ini tidak hanya mencari film yang menampilkan heritage sebagai objek, tetapi juga melihat bagaimana sinema dapat menjadi cara untuk membaca kembali hubungan manusia dengan sejarah, lingkungan, tradisi, dan perubahan sosial,” katanya.

Selain kompetisi, KHFF menghadirkan sejumlah program seperti Heritage in Indonesian Cinema, Heritage in Experimental Cinema, dan Panorama. Festival juga menggelar forum dan workshop, antara lain Director Talk: Mistik Melampaui Ketakutan bersama Wregas Bhanuteja, Heritage Workshop: Stop Motion, serta Heritage Talk: Merawat yang Hidup bersama Zaki Habibi dan Suluh Pamuji.

KHFF 2026 juga melibatkan 20 tim festival dan 68 volunteer. Festival tahun ini turut mengaktifkan website resmi khffest.id sebagai pusat informasi dan registrasi program, yang ke depan akan dikembangkan sebagai ruang pengetahuan mengenai sinema dan heritage.

Daftar Lengkap Pemenang KHFF 2026

Mahaditya Awards

  • Golden Mahaditya Award: NIAT INGSUN NGAJI — Sri Rahmawati, Cilacap, Jawa Tengah.
  • Silver Mahaditya Award: NAIJAN ON HAI AINA — Wisnu Febri Wardana, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
  • Jury Special Mention Mahaditya Award: HOPE — Angel Ching, Yogyakarta, DI Yogyakarta.

Karyanagri Awards

  • Golden Karyanagri Award: BONG — Destian Rendra, Malang, Jawa Timur.
  • Silver Karyanagri Award: MATEOS ANIN — Gilang Akbar, Banyumas, Jawa Tengah.
  • Jury Special Mention Karyanagri Award: KHATIB GANTARANG LALANG BATA — Zhaddam A. Nurdin, Makassar, Sulawesi Selatan.

Purwaseswa Awards

  • Golden Purwaseswa Award: MUPUSTI: Melestarikan dan Merawat, Bukan Menyembah — Ilya Fathimah Taqiyya, Bandung, Jawa Barat.
  • Silver Purwaseswa Award: SERADA — Septiyani Putri, Kebumen, Jawa Tengah.
  • Jury Special Mention Purwaseswa Award: Tuwuhè Rarè (Anak yang Bertumbuh) — Gede Dika Dheva Ariadi, Denpasar, Bali.

Dengan berakhirnya rangkaian KHFF 2026, penyelenggara menempatkan festival bukan hanya sebagai ruang pemutaran dan kompetisi film, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara sinema, warisan budaya, komunitas, dan kehidupan masyarakat.

Penyelenggaraan tahun keempat tersebut sekaligus memperluas jejaring KHFF melalui kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, industri perhotelan, komunitas, filmmaker, serta generasi muda yang terlibat dalam ekosistem festival.Pungkas:Siska(Tyo)
Redaksi =
terkininasional@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *