THE GREAT PILGRIMAGE: Transformasi Global dan Kebangkitan Wisata Kesadaran 2025–2043

NASIONALTERKINI.UOGYAKARTA – Dunia tengah memasuki fase transformatif yang melampaui batas fisik dan geopolitik. Antara tahun 2025 hingga 2043, sebuah pergeseran besar tak hanya terjadi pada lanskap ekologis dan teknologi, tetapi juga pada ranah spiritual manusia. Di balik fenomena ini, getaran energi numerologis angka 9 disebut-sebut sebagai simbol puncak dari siklus besar umat manusia—sebuah era penutupan, pembersihan, dan pembebasan kolektif.

Menurut Agus Rachman, pemerhati pariwisata dan budaya spiritual, masa ini bukan sekadar transisi global, melainkan panggilan bagi umat manusia untuk meninjau ulang tujuan hidup dan arah perjalanan kolektifnya. “Kita sedang bergerak dari paradigma liburan menuju ziarah batin. The Great Pilgrimage bukan sekadar metafora, melainkan gelombang kesadaran baru yang nyata dan terus tumbuh,” ujarnya.Kamis:24/04/2025 saat di temui di Caffe Yogyakarta

Energi 9 dan Getaran Kosmik

Dalam numerologi, angka 9 merepresentasikan kebijaksanaan, penyelesaian, dan universalitas. Bagi banyak spiritualis, ini adalah angka penutup zaman yang membuka jalan bagi kebangkitan baru. Ditinjau dari perspektif fisika spiritual, resonansi elektromagnetik bumi—dikenal sebagai Schumann Resonance—beresonansi dengan dinamika kesadaran manusia. Fenomena ini diyakini sebagai pemicu bawah sadar yang mendorong manusia untuk “melakukan perjalanan” secara literal maupun spiritual.

“Fenomena ini kita lihat dari meningkatnya minat terhadap tempat-tempat sunyi, sacred site, hingga retreat-transformasi. Wisata tidak lagi soal eksplorasi luar, tapi lebih ke dalam,” tambah Agus.

Munculnya Conscious Travel Economy

Transformasi ini memunculkan sebuah paradigma baru dalam dunia pariwisata: wisata kesadaran—gerakan yang menggeser fokus dari destinasi hiburan ke tempat-tempat berenergi tinggi, seperti gunung suci, kuil kuno, dan situs alam yang masih perawan. Konsep ini diyakini akan menjadi inti dari Conscious Travel Economy yang berkembang pesat dalam dua dekade mendatang.

Agus menyoroti bahwa masyarakat global, khususnya generasi pasca-pandemi, semakin tertarik pada perjalanan yang bermakna. “Retreat, ekowisata spiritual, bahkan komunitas digital-nomadik yang menyatukan teknologi dan meditasi, menjadi bentuk baru dari ekspresi spiritual kontemporer,” jelasnya.

Menjadikan Hidup sebagai Ziarah

Jika 2025–2043 disebut sebagai “Era 9″—maka ini adalah waktu untuk merenung: Apa yang mesti kita lepaskan sebagai umat manusia? Ego sektoral? Sistem ekonomi yang eksploitatif? Atau bahkan cara berpikir lama tentang identitas dan kemajuan?

The Great Pilgrimage bukanlah domain eksklusif para mistikus. Ia adalah panggilan kolektif bagi semua yang merasa dunia saat ini kehilangan arah. Agus menekankan bahwa transformasi yang sedang terjadi menuntut lebih dari sekadar reformasi struktural; ia menuntut transfigurasi batin.

“Ini saatnya berhenti berlari demi pencapaian semu. Mulailah berjalan perlahan, sadar, dan sejati. Karena rumah sesungguhnya bukan di luar sana, tapi dalam diri,” tutup Agus(Tyo/An)

SMK Negeri 3 Yogyakarta Akan Gelar “Peace Day 2025″

NASIONALTERKINI, SMK Negeri 3 Yogyakarta akan menyelenggarakan Peace Day 2025,pada hari Jum’at tgl:25/04/2025.sebuah inisiatif yang mencerminkan komitmen sekolah dalam membangun budaya damai dan menolak segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan. Acara ini merupakan bagian dari implementasi Model Sekolah Damai yang sedang dijalankan oleh sekolah tersebut.

“Peace Day 2025 bukan sekadar seremoni, melainkan upaya konkret kami dalam mentransformasi budaya kekerasan menjadi budaya damai. Melalui ekspresi seni dan dialog interaktif, kami ingin seluruh warga sekolah—siswa, guru, dan tenaga kependidikan—dapat menyuarakan pesan perdamaian secara positif,” ujar Kepala SMKN 3 Yogyakarta, Widada.Kamis:24/04/2025 di Yogyakarta

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program penguatan karakter berbasis nilai-nilai kemanusiaan. Dengan pendekatan pembelajaran yang edukatif dan partisipatif, sekolah menargetkan peningkatan kesadaran siswa terhadap pentingnya menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan damai. Selain itu, acara ini mendorong kreativitas dalam menyampaikan pesan perdamaian melalui seni visual dan komunikasi, serta menanamkan nilai-nilai toleransi, empati, dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari. Peace Day juga diharapkan dapat menekan perilaku negatif seperti perundungan dan kekerasan verbal di lingkungan sekolah.Paparnya

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 06.00 WIB di halaman utama sekolah. Acara dibuka dengan Senam Sehat Damai yang dilanjutkan dengan Deklarasi Sekolah Damai sebagai bentuk komitmen bersama seluruh warga sekolah. Peluncuran kampanye “Hari Tanpa Kata Kasar” menjadi simbol penolakan terhadap kekerasan verbal, diikuti penandatanganan “Pesan Damai” oleh siswa dan guru sebagai bentuk dukungan terhadap nilai-nilai perdamaian.Jelasnya

Dalam momen ini, juga diresmikan Peace Corner sebagai ruang mediasi damai di lingkungan sekolah. Pameran karya siswa dan guru pun menjadi ajang menampilkan kreativitas dalam bentuk poster, slogan, serta karya seni bertema perdamaian. Acara ditutup dengan Pagelaran Ekspresi Damai yang menghadirkan pertunjukan puisi, tari, orasi, hingga yel-yel, semuanya mengusung semangat solidaritas dan harmoni.Imbuhnya

Peace Day 2025 melibatkan seluruh elemen sekolah, termasuk siswa, guru, staf administrasi, dan pengurus OSIS sebagai panitia pelaksana. Selain menjadi ajang apresiasi seni, kegiatan ini juga berfungsi sebagai ruang kritis untuk mengasah kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan perbedaan secara konstruktif.

“Kami berharap Peace Day menjadi tradisi tahunan yang mengakar dalam budaya sekolah. Lebih dari itu, kami ingin lulusan SMKN 3 Yogyakarta tumbuh sebagai agen perdamaian yang membawa semangat toleransi dan harmoni ke tengah masyarakat,”Pungkas: Widada.(Tyo/an)

Edukasi Stunting dan Pengobatan Gratis di Condongcatur

NASIONALTERKINI. Sleman– Yayasan Mawar Sharon Peduli (MSP) kembali menunjukkan komitmennya terhadap peningkatan kesehatan masyarakat dengan menggelar kegiatan Edukasi Stunting dan Pengobatan Gratis di Gedung Serbaguna Condongcatur, Kalurahan Condongcatur, berlangsung Selasa:22/04/2025.Kegiatan sosial ini menyasar lebih dari 100 warga, terdiri dari ibu-ibu balita penderita stunting serta para lansia.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Lurah Condongcatur Reno Candra Sangaji, Pendeta Prima Nuryanto dari Gereja Mawar Sharon Yogyakarta, dr. Lina dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Trisni selaku Kepala Puskesmas Depok II, serta Dr. Yuli Setyowati. Penanggung Jawab MSP Yogyakarta.

Kegiatan terbagi dalam beberapa segmen, yakni penyuluhan tentang stunting oleh dokter spesialis anak di Ruang Wacana Loka, layanan kesehatan gratis bagi lansia, pembagian makanan tambahan bergizi, serta kegiatan mewarnai bagi balita di area gedung utama. Program ini dirancang untuk mengedukasi sekaligus memberikan layanan kesehatan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dalam sambutannya, Lurah Condongcatur Reno Candra Sangaji menyampaikan apresiasinya terhadap langkah nyata yang dilakukan Yayasan MSP.Rabu:23/04/2025 di Sleman

“Kegiatan ini sangat sejalan dengan semangat kami di pemerintah kalurahan untuk mendorong kolaborasi lintas sektor yang berpihak pada kesejahteraan warga, terutama dalam percepatan penanganan stunting dan akses kesehatan dasar,” ujarnya.

Senada dengan itu, dr. Lina dari Dinas Kesehatan Sleman menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan elemen masyarakat.

“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena mendukung target nasional dalam penurunan angka stunting. Kolaborasi dengan organisasi sosial seperti MSP sangat krusial untuk membentuk generasi yang sehat dan kompetitif,” jelasnya.

Pendeta Prima Nuryanto dari Gereja Mawar Sharon Yogyakarta menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan perwujudan nilai kasih dalam aksi nyata.

“MSP Peduli Kesehatan merupakan bentuk pelayanan kasih dalam bidang kesehatan, yang kami dedikasikan untuk masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Sementara itu, Dr. Yuli Setyowati,berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai program sesaat.

“Kami berharap ini menjadi awal dari gerakan sosial berkelanjutan. Kolaborasi antara sektor kesehatan, lembaga sosial, dan pemerintah harus terus diperkuat untuk meningkatkan kualitas hidup warga Condongcatur secara menyeluruh,” ungkapnya.

Dengan pendekatan yang menyeluruh dan partisipatif, kegiatan ini menjadi bukti bahwa solusi atas persoalan akses kesehatan bisa diwujudkan melalui kerja sama lintas sektor yang berkelanjutan dan penuh kepedulian.Pungkas:Yuli(Tyo)

Tim JTRC Joglo Resto Njeron Beteng Rally Team Siap Bersaing di Top Coffee PPMKI Jateng Tour 2025

NASIONALTERKINI.Komunitas rally Jogja Time Rallyers Community (JTRC)didukung Joglo Resto Njeron Beteng siap mengukir prestasi dalam ajang nasional Top Coffee PPMKI Jateng Tour 2025, yang akan digelar pada 3–4 Mei mendatang di Magelang. Event bergengsi ini berada di bawah naungan PPMKI Jateng dan akan diikuti oleh 150 peserta dari berbagai provinsi, terbagi dalam tiga kategori: Mobil Kuno, Retro, dan Mobil Baru.

JTRC-Joglo Resto Njeron Beteng akan menurunkan satu tim unggulan terdiri dari 10 personel yang akan bersaing di setiap kategori. Di bawah komando Stevie S.W, sebagai tim manager ini menargetkan finis di posisi lima besar nasional, setelah mencatat hasil positif di tahun sebelumnya:Senin:21/04/2025 di Joglo Resto Njeron Beteng Yogyakarta

Etape pertama akan dimulai pada Sabtu, 3 Mei, dari sisi timur Alun-Alun Magelang dan berakhir di Polresta Magelang. Etape kedua berlangsung Minggu, 4 Mei, dengan titik start di Lapangan Sidotopo dan finish di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Magelang. Rute yang menantang namun bernuansa historis dalam rangkaian memperingati 200th Perang Pangeran Diponegoro.akan menguji kecepatan dan akurasi para peserta.Ujar:Stevie

Pada kategori Mobil Kuno, JTRC-Joglo Resto Njeron Beteng mengandalkan VW Combi Double Cabin 1970 yang dikendarai oleh Condro, Anwar Anang/ Bagyo/ dan Lia. Tim ini menargetkan podium pertama setelah menempati posisi ketiga tahun lalu.

Untuk kategori Retro, Baleno 99 dengan duet Stevie S.W/M. Reza/ serta Maya S.W diharapkan mampu menembus lima besar. Sementara di kategori Mobil Baru, Honda Brio yang diperkuat perally wanita terdiri dari Silvia/ Tari,/dan Febty berambisi mempertahankan gelar juara bertahan.

Dengan dukungan penuh dari komunitas dan persiapan matang, JTRC-Joglo Resto Njeron Beteng optimistis bisa tampil gemilang dan membawa pulang prestasi membanggakan dari kancah rally setingkat nasional ini.Pungkas:Stevie(Tyo)

Jogja Tetap Jadi Magnet Wisata, Pemerintah dan Industri Harus Kompak

NASIONALTERKINI.YOGYAKARTA – Meski daya beli masyarakat tengah menurun, Yogyakarta masih menjadi magnet utama pariwisata Indonesia. Ketua Dewan Penasehat Kadin DIY, Tazbir Abdullah, mengatakan bahwa kekuatan Yogyakarta sebagai destinasi wisata terletak pada kekayaan budaya dan ikon-ikonnya yang sudah mendunia, seperti Malioboro.

“Jogja ini punya dua angle—domestik dan internasional. Malioboro dan ikon-ikon lainnya menjadikan kota ini sebagai destinasi sejati,” ujar Tazbir, saat Senin:21/04/2025 ditemui di Narasa Resto & Caffe, Banguntapan Yogyakarta

Namun, ia mengakui bahwa meski jumlah kunjungan wisatawan masih tinggi, tren pembelian produk oleh wisatawan cenderung menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Kuncinya sekarang adalah kekompakan. Pemerintah dan pelaku industri harus jalan bareng. Hotel harus tahu peran masing-masing, pelaku wisata harus saling dukung. Jogja itu ikon, dan tidak akan jatuh terlalu dalam kalau kita solid,” tegasnya.

Tazbir juga menyoroti pentingnya promosi digital, termasuk peran media sosial yang kini semakin dominan. Menurutnya, hotel-hotel besar pun mulai beralih ke pendekatan promosi yang lebih strategis dan menjangkau pasar yang lebih luas secara daring.

Tak hanya itu, sektor seni rupa juga dinilainya punya potensi besar. “Banyak pameran seni digelar, tapi apakah sudah terhubung dengan ekosistem pariwisata? Apakah tamu hotel diajak ke galeri dan membeli karya seni?” ujarnya penuh harap.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemandu wisata, galeri seni, dan pelaku pariwisata untuk menjembatani wisatawan dengan kekayaan budaya lokal. “Pemerintah perlu mendukung dengan kebijakan, tapi jangan menunggu. Semua pihak harus bergerak,”

Sementara itu, Agus Budi Rahman, pemerhati pariwisata, menyoroti sisi lain dari geliat pariwisata dan pembangunan Yogyakarta. Ia melihat bahwa di balik gemerlap kota, terdapat keresahan yang tak boleh diabaikan.

“Yogyakarta, kota yang dijuluki ‘istimewa’, nyaris tak pernah tidur. Tapi, di tengah lampu-lampu Malioboro dan angkringan yang mengepul, muncul pertanyaan: benarkah pemerintah dan industri berjalan seirama?” katanya saat ditemui di sebuah kafe di Yogyakarta.

Menurut Agus, laju pembangunan yang pesat kerap tidak selaras dengan aspirasi masyarakat lokal. Ia menyoroti menjamurnya hotel, gedung komersial, dan proyek-proyek besar yang tidak selalu berpihak pada rakyat kecil.

“Romantisme Yogyakarta yang ramah dan bersahaja kini berubah menjadi kegelisahan kolektif. Banyak warga merasa terpinggirkan dalam dinamika pembangunan,” ucapnya.

Identitas budaya Yogyakarta, tambahnya, mulai terkikis. Julukan “kota pelajar” pun terasa makin eksklusif, sulit dijangkau oleh kalangan berpenghasilan rendah. Sementara industri pariwisata dan properti tumbuh pesat, namun belum tentu sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat bawah.

“Kolaborasi antara pemerintah dan industri terlihat solid secara formal. Tapi pertanyaannya: ke mana arah pembangunan ini sebenarnya? Apakah semua pihak benar-benar satu visi, atau sekadar menari dalam irama kepentingan jangka pendek?” tanya Agus.

Ia mengajak semua pihak untuk kembali membuka ruang dialog, melibatkan masyarakat secara aktif, dan menjadikan pembangunan sebagai proses bersama.

“Yogyakarta harus bisa mencintai kemajuan tanpa mengorbankan jati dirinya. Keistimewaan sejati lahir dari keberanian untuk bertanya, berdialog, dan berjalan bersama,” pungkas:Agus;(Tyo)

Jogja Tak Pernah Sepi, Tapi Apakah Pemerintah dan Industri Sudah Satu Hati?

NASIONALTERKINI.Yogyakarta, kota yang dijuluki “istimewa”, seolah tak pernah benar-benar tidur. Ketika malam merayap turun, lampu-lampu Malioboro tetap menyala terang, warung angkringan mengepul di sudut-sudut gang, dan deru kendaraan terus membelah udara dari Tugu hingga Ring Road. Di kota ini, kehidupan berdetak nyaris tanpa jeda—ditopang harapan, ambisi, dan tak jarang, kemacetan yang kian tak terkendali.

Namun di balik dinamika yang mencerminkan geliat kemajuan itu, terselip pertanyaan mendasar yang kian mengusik: apakah pemerintah dan industri benar-benar melangkah seirama? Ataukah sinergi yang terlihat hanya ilusi, menyembunyikan perbedaan visi yang mendasar?

Pertanyaan tersebut mencuat dari pengamatan Agus Budi Rahman, seorang pemerhati pariwisata, saat ditemui :Minggu:20/04/2025 di sebuah kaffe diYogyakarta

Menurutnya, geliat pembangunan yang massif di kota ini kerap tak selaras dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat lokal.

“Bukan sekadar romantisme atas Yogyakarta yang ramah dan bersahaja,” katanya. “Ini kegelisahan kolektif masyarakat yang merasa kian terpinggirkan di tengah laju investasi dan pembangunan yang tak memberi ruang untuk berpikir jangka panjang.”Ujar:Agus

Gedung-gedung komersial menjulang, hotel-hotel tumbuh bak jamur di musim hujan, dan berbagai proyek raksasa hadir dengan jargon kesejahteraan. Namun siapa yang benar-benar merumuskan arti “kemajuan” itu? Apakah suara warga lokal, pelaku UMKM, seniman jalanan, petani pinggiran, dan mahasiswa turut dipertimbangkan? Atau justru arah pembangunan digerakkan oleh elite ekonomi dan pembuat kebijakan yang berjauhan dari denyut kehidupan warga?

Realitasnya mulai terlihat gamblang: identitas budaya Yogyakarta perlahan terkikis. Kota yang dahulu menjadi rumah bagi keberagaman dan kreativitas kini mulai bergeser ke arah yang lebih eksklusif. Julukan “kota pelajar” pun terasa makin mahal dan asing bagi mereka dari keluarga berpenghasilan rendah. Sementara itu, industri pariwisata dan properti berkembang pesat—sering kali dengan dukungan penuh dari kebijakan pemerintah—namun tidak serta-merta berpihak pada kesejahteraan rakyat kecil.Paparnya

Secara formal, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri tampak solid. Namun jika dilihat lebih jeli, pertanyaan penting muncul: ke mana arah pembangunan ini sebenarnya? Apakah semua pihak memiliki visi yang sama? Ataukah mereka sekadar menari dalam irama kepentingan ekonomi jangka pendek dan dinamika politik yang berubah-ubah?Jelasnya

Yogyakarta memang tak pernah sepi. Tapi dalam hiruk-pikuk itulah, kesepian mulai terasa. Kesepian karena tidak didengar. Karena menjadi objek pembangunan, bukan subjek yang dilibatkan. Karena kebijakan-kebijakan besar seolah lahir dari menara gading, jauh dari ruang dialog publik yang inklusif.Ungkapnya

Kini, kita dihadapkan pada dilema fundamental: mungkinkah kota ini mencintai kemajuan tanpa mengorbankan jati dirinya? Bisakah kita membangun ekonomi yang tangguh tanpa meruntuhkan nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi?

Yogyakarta mengajarkan bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam ini harus terus diajukan. Keistimewaan sejati tak terletak pada status administratif, tetapi pada keberanian untuk bertanya, berdialog, dan membentuk arah bersama.Imbuh:Agus

Jogja memang tak pernah sepi. Tapi di tengah kebisingan dunia yang terus bergerak, masihkah kita mampu mendengar suara hati?Pungkas:Agus(Tyo)

Berburu Harta Karun Lawas di Pasar Klithikan Pakuncen Yogyakarta

NASIONALTERKINI..Dikenal sebagai kota seni dan budaya, Yogyakarta tak hanya memanjakan wisatawan yang ada di Yogyakarta, Dan salah satu wisata blanja buru barang unik-unik berburu barang-barang antik di Pasar Klithikan Pakuncen.

Terletak di kawasan Wirobrajan, pasar ini telah lama menjadi surga bagi para kolektor dan pecinta barang lawasan. Dari uang kuno, radio tua, guci dan gelas antik, hingga hiasan dinding klasik, semuanya tersedia dengan harga yang bisa langsung ditawar. Nuansa tempo dulu yang kental membuat setiap sudut pasar ,namun dengan kesempatan untuk membawa pulang koleksinya saat tawar menawar barang jadi

Salah satu kios yang mencuri perhatian adalah milik Wisnu. Di sana, pengunjung bisa menemukan berbagai macam pernak-pernik, terutama koleksi uang kuno dari berbagai masa. Uniknya, Wisnu juga menerima pesanan uang mahar pernikahan dari uang kuno yang disesuaikan dengan tanggal lahir atau momen istimewa calon pengantin. Kreatif dan penuh makna.Minggu:20/04/2025 di Pasar Klithikan Pakuncen Yogyakarta

“Pembeli biasanya datang dengan konsep sendiri. Saya bantu cari dan rangkai uang kunonya sesuai permintaan,” ujar Wisnu sambil menunjukkan beberapa contoh bingkai mahar buatannya.

Yang menarik, proses transaksi di pasar ini berlangsung dengan cara tradisional. Pembeli bisa langsung menawar, dan jika sudah cocok, barang pun bisa langsung dibawa pulang—sebuah pengalaman yang jarang ditemukan di pusat perbelanjaan modern.

Pasar Klithikan Pakuncen tak hanya menjadi tempat jual beli, tapi juga ruang nostalgia dan cerita. Setiap barang punya kisah, dan setiap kunjungan menawarkan pengalaman berbeda. Cocok bagi wisatawan yang ingin merasakan sisi lain dari Yogyakarta: klasik, otentik, dan penuh cerita.Pungkas:Wisnu(Tyo)

Loman Park Hotel Siap Dukung Pariwisata Yogyakarta Lewat Layanan dan Kolaborasi Strategis

NASIONALTERKINI.General Manager Loman Park Hotel, Handono, mengatakan komitmennya dalam mendukung sektor pariwisata dan pendidikan di Yogyakarta melalui peningkatan layanan akomodasi serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Dalam sebuah rapat internal di hotel, Handono mengungkapkan bahwa sementara ini beberapa aktivitas memang belum diaktifkan sepenuhnya, seiring dengan dinamika kuartal pertama tahun yang biasanya tidak terlalu padat oleh kegiatan meeting maupun MICE. Namun, ia menyatakan optimisme terhadap tren pemulihan yang akan mulai terlihat menjelang akhir tahun.

“Kalau kita lihat dari tren, kuartal pertama biasanya memang masih sepi untuk kegiatan meeting. Tapi kami yakin bahwa akan ada peningkatan menjelang akhir tahun, apalagi jika komunikasi dan sinergi dengan pemerintah berjalan baik,” ujar Handono.Kamis:17/04/2025 di Loman Park Hotel Yogyakarta,Jam:17.00 WIB

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Yogyakarta memiliki daya tarik luar biasa dari sisi budaya, industri pendidikan, dan destinasi wisata. Kombinasi inilah yang menurutnya bisa menjadi magnet kuat bagi wisatawan lokal maupun internasional.

“Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya dan pendidikan. Dengan nama-nama besar di dunia pendidikan tinggi dan destinasi wisata yang kaya budaya, potensi untuk mengembangkan pariwisata sangat besar. Tugas kita adalah bagaimana meramu semua elemen ini menjadi pengalaman menarik bagi para pengunjung,” jelasnya.

Handono juga menyampaikan bahwa sejak awal kepemimpinannya, Loman Park Hotel telah memfokuskan diri untuk melayani wisatawan mancanegara, terutama dari pasar Eropa dan Asia. Ia percaya bahwa layanan prima dan pengalaman berkesan akan mendorong para tamu untuk menjadi duta informal yang akan menceritakan pengalamannya kepada khalayak lebih luas.

“Reputasi yang baik itu kunci. Ketika tamu merasa puas dan terkesan, mereka akan berbagi cerita dan merekomendasikan kepada teman-teman atau komunitas mereka di negara asal. Ini adalah bentuk promosi organik yang sangat efektif,” tambahnya.

Dalam konteks pendidikan, Handono juga melihat peluang besar untuk menjalin sinergi dengan lembaga pendidikan tinggi di Yogyakarta. Menurutnya, masa penerimaan mahasiswa baru hingga momen perpisahan dapat dikemas menjadi rangkaian kegiatan yang turut mendukung pariwisata edukatif.

“Kita duduk bersama dengan institusi pendidikan. Kita kemas aktivitas mulai dari penyambutan mahasiswa baru, kegiatan belajar-mengajar, hingga farewell party sebagai bagian dari ekosistem pariwisata edukatif. Ini akan menjadi nilai tambah bagi Yogyakarta sebagai kota pendidikan sekaligus destinasi wisata,” ujarnya.

Sebagai penutup, Handono mengajak seluruh pelaku industri pariwisata, UMKM, serta komunitas kreatif di Yogyakarta untuk terus menciptakan ide-ide inovatif dan event-event yang menarik perhatian publik, baik nasional maupun internasional.

“Ayo kita buat event-event kolaboratif yang bisa mengundang banyak pihak datang ke Yogyakarta. Dampaknya akan dirasakan luas, mulai dari sektor kreatif, kuliner, penginapan, hingga ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Ini semangat kita: mantap, maju, kreatif—bukan malah mundur,” tutup.Handono(Tyo)

Taman Budaya Embung Giwangan: Simfoni Budaya dan Alam di Jantung Yogyakarta Selatan

NASIONALTERKINI.Wajah Baru Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG) kini hadir sebagai oase seni, budaya, dan lingkungan hidup di kawasan selatan Yogyakarta. Berdiri di atas lahan seluas 3,49 hektare, TBEG menawarkan ruang terbuka yang memadukan nilai-nilai tradisional, sentuhan modern, dan semangat konservasi dalam satu kesatuan harmoni.

“Sekarang Taman Embung Giwangan terbuka setiap pagi untuk masyarakat. Bisa jogging gratis sambil berwisata sehat bersama keluarga atau orang tercinta,” ujar Agus Budi Rahman, Pengelola TBEG, saat ditemui di kantornya.Kamis:17/04/2025 di Taman Embung Giwangan Yogyakarta

Ia menjelaskan bahwa kawasan ini memang dirancang sebagai green cultural space—ruang budaya hijau yang inklusif dan ramah lingkungan.

Pengembangan TBEG dimulai sejak 2019 secara bertahap dengan dukungan Dana Keistimewaan, Dana Alokasi Khusus (DAK) dari kementerian terkait, serta APBD Kota Yogyakarta. Pengelolaannya dilakukan oleh UPT Pengelolaan Taman Budaya, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta dengan skema Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), menjadikannya lebih fleksibel dan profesional dalam memberikan pelayanan publik.

Mengusung gaya arsitektur indische klasik yang selaras dengan karakter kawasan cagar budaya, TBEG tampil sebagai ruang kreatif yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga fungsional. Fasilitasnya sangat lengkap, mulai dari Embung Giwangan yang berfungsi sebagai kawasan konservasi air dan pengendalian banjir, jalur jogging yang ramah lingkungan, Gedung Entrance multifungsi, hingga Amphiteater dan Grha Budaya sebagai pusat kegiatan seni.Papar:Agus

“Untuk pelaku seni rupa, TBEG juga bisa digunakan untuk menggelar pameran seni lukis dan berbagai kegiatan kreatif lainnya,” tambah Agus.

Amphiteater TBEG yang mampu menampung hingga 538 penonton menjadi panggung terbuka untuk berbagai pertunjukan, mulai dari wayang, musik tradisional, hingga seni kontemporer. Sementara itu, Grha Budaya dilengkapi ruang pameran dan auditorium berkapasitas 459 kursi—ideal untuk pameran seni rupa, teater, maupun pertunjukan budaya lintas genre.Jelas:Agus

Pengalaman pengunjung pun semakin lengkap dengan hadirnya fasilitas pendukung seperti tempat ibadah, area parkir yang luas, dan kios cinderamata yang menjual produk lokal.

Lebih dari sekadar ruang publik, Taman Budaya Embung Giwangan adalah ruang hidup bagi kebudayaan—tempat tumbuhnya kreativitas, dialog antarbudaya, serta semangat kolaborasi untuk merawat warisan bangsa.

TBEG bukan hanya milik Yogyakarta, tetapi milik kita semua. Mari hadir, berkreasi, dan bersinergi demi masa depan budaya yang lestari dan berdampak.Pungkas:Agus(Tyo)

Lurah Condongcatur Terima Laporan Pertanggungjawaban Panitia Pengisian Pamong 2025

NASIONALTERKINI. Proses panjang pengisian dan pengangkatan pamong Kalurahan Condongcatur tahun 2025 resmi berakhir. Bertempat di RM Pondok Galih, Nglaban, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Panitia Pengisian Pamong menyerahkan buku Laporan Pertanggungjawaban kepada Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji,Rabu:16/04/2025 di RM. Pondok Galih Nglaban, Sinduharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta

Ketua Panitia, Siswantoro, menyerahkan laporan lengkap yang memuat seluruh rangkaian proses seleksi, mulai dari tahapan awal hingga pelaksanaan ujian di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), termasuk daftar nilai peserta.

“Kami bersyukur seluruh tahapan berjalan lancar, tanpa hambatan berarti. Tiga pamong terpilih—Jagabaya, Dukuh Ngropoh, dan Dukuh Kayen—telah resmi dilantik pada 9 April 2025 setelah mendapatkan persetujuan dari Bupati Sleman,” ujar Siswantoro.

Ia menambahkan bahwa laporan ini tidak hanya sebagai bentuk tanggung jawab panitia, tetapi juga sebagai bahan evaluasi agar proses serupa dapat berjalan lebih baik di masa depan. “Kami harap dokumen ini bisa menjadi acuan penyelenggaraan yang lebih efektif dan akuntabel ke depan,” tambahnya.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menyampaikan apresiasi tinggi atas kerja keras dan komitmen panitia. Ia menilai seluruh tahapan seleksi dijalankan secara transparan, profesional, dan penuh semangat kebersamaan meski dibayangi oleh jadwal yang padat dan ketat.

“Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah menjalankan tugas mulia ini dengan baik. Proses seleksi ini bukan hanya menentukan sosok pamong, tetapi juga arah kepemimpinan di tiap padukuhan, termasuk peran penting Jagabaya dalam menjaga ketahanan dan keamanan wilayah,” ujar Reno.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf bila dalam pelaksanaan terdapat kekurangan, serta mengajak semua pihak untuk terus menjaga semangat gotong royong demi kemajuan Condongcatur.

Acara diakhiri dengan pembubaran resmi panitia sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan pengisian dan pengangkatan pamong tahun 2025.Pungkas:Reno(Tyo/nna)