
NASIONALTERKINI. Di bawah cahaya bulan purnama yang lembut, Babaran Segaragunung (BSG) Gallery & Studio kembali menggelar Wicara Malam Purnama bertema “Ageman: Preteks, Teks, dan Konteks Hari Ini.”
Acara yang berlangsung Rabu Legi, 5 November 2025 ini menghadirkan tiga narasumber lintas disiplin: Ninik N., desainer dan pemerhati tekstil tradisional; Tukirno B. Sutejo, seniman dan pegiat budaya; serta Agus Ismoyo, seniman batik kontemporer. Diskusi malam itu dipandu oleh Bp. Hangno.
Ninik N.: Fashion Adalah Produk Budaya, Lurik dan Batik Wujud Kearifan Jawa
Bagi Ninik N., busana tidak sekadar pelengkap penampilan, melainkan produk budaya yang merekam perjalanan nilai dan filosofi hidup masyarakat.
“Dalam konteks Jawa, ageman bukan sekadar pakaian. Ia bisa dimaknai sebagai ajaran, bahkan agama itu sendiri,” tuturnya membuka pandangan.
Sejak masa lampau, busana telah memiliki makna spiritual dan sosial yang dalam. “Seorang raja Jawa memiliki ageman lengkap yang sarat filosofi. Karena itu, saya ingin menggali lebih jauh arti ageman dari sisi kebudayaan,” ujarnya.
Ketertarikan Ninik terhadap dunia fashion berawal dari pandangannya bahwa gaya berpakaian mencerminkan perubahan zaman.
“Sekarang 90 persen perempuan memakai celana panjang. Dulu orang nyampingan ke mana-mana, sekarang sudah tidak memungkinkan. Busana itu selalu menyesuaikan diri dengan kehidupan,” katanya.
Namun di tengah arus modernitas, Ninik justru jatuh cinta pada tekstil tradisional lurik Jawa.
“Saya senang dengan hal-hal yang dibuat tangan. Saat saya ‘terdampar’ di Jogja, saya menemukan Lurik Kurnia di Krapyak. Hampir semua warga di sana dulu penenun lurik,” kenangnya.
Dari sanalah cintanya terhadap lurik tumbuh dan mengantarnya ke panggung internasional.
“Show pertama saya di Bali semuanya pakai lurik. Saat tampil di Hong Kong pun saya tetap bawa lurik. Buat saya, itu identitas yang istimewa,” ujarnya bangga.
Meski kini regenerasi perajin tradisional kian langka, Ninik optimistis lurik dan batik masih punya masa depan cerah.
“Yang penting kita ciptakan karya yang indah dan berguna. Dari situ, nilai ekonomi dan budaya akan hidup berdampingan,” pungkasnya.
Tukirno B. Sutejo: Ageman dan Gegaman dalam Jejak Peradaban
Seniman Tukirno B. Sutejo, akrab disapa Pak Tejo, memandang ageman bukan sekadar pakaian, melainkan “gegaman” — senjata peradaban yang menyatukan unsur batik, wayang, dan keris dalam satu kesadaran budaya.
“Dalam peradaban Jawa, ageman, batik, dan keris adalah tiga pondasi yang saling melengkapi. Kalau tidak dibicarakan, sebagian dari kebudayaan itu akan hilang,” ujarnya.
Menurut Tejo, setiap motif batik dan bentuk senjata menyimpan narasi tentang perjalanan manusia mencari keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan.
“Ageman hari ini bisa dimaknai sebagai identitas personal dan kolektif. Ia hidup dalam cerita, dalam tindakan, dan dalam cara kita memahami diri,” tambahnya.
Agus Ismoyo: Ageman Sebagai Jalan Kesadaran
Seniman batik kontemporer Agus Ismoyo menutup diskusi dengan refleksi mendalam tentang ageman sebagai medium penciptaan dan kesadaran diri.
“Sejak kecil saya terbiasa melihat bulan purnama. Kami bermain, bernyanyi, menyatu dengan alam. Dari situ saya belajar bahwa keindahan tumbuh dari kebersamaan,” ujarnya.
Bagi Ismoyo, setiap karya seni lahir dari akar budaya dan suara batin.
“Saya pernah membuat karya berwarna putih, sobek, dan kotor. Banyak yang mengira itu pendobrakan norma, padahal itu suara hati—ekspresi kebebasan dan kehidupan,” katanya.
Dalam proses berkarya, ia tak pernah merasa karyanya benar-benar selesai.
“Saya selalu ingin menambah ini dan itu. Lalu saya sadar, saya butuh cerita, karena di situlah keseimbangan antara pikir dan rasa,” ungkapnya.
Motif-motif batiknya seperti beras hitam dan semen putih melambangkan kesadaran tumbuh, kemakmuran, dan kesatuan dengan alam.
“Batik bagi saya bukan sekadar kain, tapi jalan spiritual untuk melihat kehidupan dengan lebih jernih,” ujarnya menutup dengan tenang.
Ruang Seni yang Menyatukan Gagasan
Malam di Babaran Segaragunung itu bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang pertemuan antara filosofi, estetika, dan spiritualitas Nusantara.
Melalui pandangan Ninik N., Tukirno B. Sutejo, dan Agus Ismoyo, tema Ageman menjelma menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini — antara wastra lama dan ruang kreatif kontemporer.
Dari lurik hingga batik, dari gegaman hingga kesadaran diri, semuanya berpadu dalam satu pesan yang sama:
Bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan napas kehidupan yang terus tumbuh, bertransformasi, dan memberi makna bagi manusia hari ini.
Lurik Klasik di Masa Kini dan Masa Depan
YOGYAKARTA —
Berbicara tentang tenun, hampir semua orang mengenalnya sebagai untaian benang yang disulam menjadi kain. Namun di balik kesederhanaannya, lurik menyimpan kisah panjang tentang kreativitas dan ketahanan budaya Jawa.
“Lurik tidak seperti batik. Batik lahir dari filosofi, sedangkan lurik lahir dari kreativitas dan teknologi di masanya. Nilai-nilai itu baru muncul ketika lurik diwujudkan menjadi busana,” ujar Ninik N. saat ditemui seusai diskusi.
Ia mencontohkan busana pranakan berbahan lurik biru yang dikenakan abdi dalem Kasultanan Yogyakarta. Nilai simbolik tentang ketakwaan dalam budaya Islam Jawa baru hadir setelah lurik itu menjelma menjadi pakaian.
“Lurik menjadi penanda kesatuan, bukan karena makna filosofinya, tapi karena fungsi dan perannya,” jelasnya.
Secara etimologis, kata lurik berasal dari “lorék,” bahasa Jawa yang berarti garis. Pada masa awal, lurik digunakan sebagai selendang, kemben, atau kain gendongan. Lahir dari tangan rakyat, bukan istana, lurik merekam denyut kehidupan masyarakat agraris Jawa.
Kini, pola lurik yang sederhana justru membuka ruang luas bagi para perancang busana untuk berekspresi.
“Lurik adalah karya klasik yang selalu bisa diterima di setiap zaman. Karena bebas dari beban filosofis, ia mudah dikembangkan sesuai tren dan selera masa kini,” ujar Ninik.
Sederhana tapi fleksibel, lurik menjembatani kebutuhan mode dan ekonomi kreatif.
“Peluang bisnis lurik besar. Ia mudah dikreasikan, bisa tampil sederhana namun elegan. Itu sebabnya lurik tetap hidup, karena punya karakter yang bisa diterima lintas generasi,” tambahnya.
Melihat perkembangan itu, Ninik optimistis bahwa lurik akan terus bertahan — bukan hanya lestari sebagai warisan budaya, tapi juga sustainable sebagai bagian dari gaya hidup modern yang berpihak pada alam dan tradisi.(Widhie)
