Skip to content
Nasional Terkini

Nasional Terkini

Sajian Berita Terkini Dan Terpercaya

  • Uncategorized
    • Uncategorized
  • Daerah
  • Bisnis
  • Pariwisata
    • Umum
      • Checkout
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Seni Budaya
  • Liifestyle
  • Fashion
  • Kuliner
  • Uncategorized
  • Toggle search form
  • Hujan Sore Tak Surutkan Minat Wisatawan Padati Malioboro dan Nol Kilometer Daerah
  • Launching JFW 2026 Masuki Usia Tahun ke=21 Fashion
  • Indonesia Resmi Perkuat Perlindungan Awak Kapal Lewat Ratifikasi ILO 188 Nasional
  • Kemnaker Gandeng Boga Group Buka Peluang Kerja bagi Lansia Nasional
  • Menko Zulkifli Hasan: KDMP Sinduadi Ideal dan Terbaik di Indonesia Ekonomi
  • Zulfa Faiz, Ibu Rumah Tangga yang Mewakili Suara Seni di ARTJOG 2025 Nasional
  • Sarasehan HIPMI Yogyakarta Platform Marketplace Jangan Jadikan UMKM Digital Sebagai ‘Sapi Perah’ Bisnis
  • Wabup Sleman Tinjau Monev TPK DIY di Posyandu Asparagus II Condongcatur, Dorong Program Tepat Sasaran Daerah

Ageman Menyulam Makna, Menyapa Zaman dari Babaran Segaragunung

Posted on November 6, 2025November 6, 2025 By adminterkini Tak ada komentar pada Ageman Menyulam Makna, Menyapa Zaman dari Babaran Segaragunung

NASIONALTERKINI. Di bawah cahaya bulan purnama yang lembut, Babaran Segaragunung (BSG) Gallery & Studio kembali menggelar Wicara Malam Purnama bertema “Ageman: Preteks, Teks, dan Konteks Hari Ini.”
Acara yang berlangsung Rabu Legi, 5 November 2025 ini menghadirkan tiga narasumber lintas disiplin: Ninik N., desainer dan pemerhati tekstil tradisional; Tukirno B. Sutejo, seniman dan pegiat budaya; serta Agus Ismoyo, seniman batik kontemporer. Diskusi malam itu dipandu oleh Bp. Hangno.

Ninik N.: Fashion Adalah Produk Budaya, Lurik dan Batik Wujud Kearifan Jawa

Bagi Ninik N., busana tidak sekadar pelengkap penampilan, melainkan produk budaya yang merekam perjalanan nilai dan filosofi hidup masyarakat.
“Dalam konteks Jawa, ageman bukan sekadar pakaian. Ia bisa dimaknai sebagai ajaran, bahkan agama itu sendiri,” tuturnya membuka pandangan.

Sejak masa lampau, busana telah memiliki makna spiritual dan sosial yang dalam. “Seorang raja Jawa memiliki ageman lengkap yang sarat filosofi. Karena itu, saya ingin menggali lebih jauh arti ageman dari sisi kebudayaan,” ujarnya.

Ketertarikan Ninik terhadap dunia fashion berawal dari pandangannya bahwa gaya berpakaian mencerminkan perubahan zaman.
“Sekarang 90 persen perempuan memakai celana panjang. Dulu orang nyampingan ke mana-mana, sekarang sudah tidak memungkinkan. Busana itu selalu menyesuaikan diri dengan kehidupan,” katanya.

Namun di tengah arus modernitas, Ninik justru jatuh cinta pada tekstil tradisional lurik Jawa.
“Saya senang dengan hal-hal yang dibuat tangan. Saat saya ‘terdampar’ di Jogja, saya menemukan Lurik Kurnia di Krapyak. Hampir semua warga di sana dulu penenun lurik,” kenangnya.

Dari sanalah cintanya terhadap lurik tumbuh dan mengantarnya ke panggung internasional.
“Show pertama saya di Bali semuanya pakai lurik. Saat tampil di Hong Kong pun saya tetap bawa lurik. Buat saya, itu identitas yang istimewa,” ujarnya bangga.

Meski kini regenerasi perajin tradisional kian langka, Ninik optimistis lurik dan batik masih punya masa depan cerah.
“Yang penting kita ciptakan karya yang indah dan berguna. Dari situ, nilai ekonomi dan budaya akan hidup berdampingan,” pungkasnya.

Tukirno B. Sutejo: Ageman dan Gegaman dalam Jejak Peradaban

Seniman Tukirno B. Sutejo, akrab disapa Pak Tejo, memandang ageman bukan sekadar pakaian, melainkan “gegaman” — senjata peradaban yang menyatukan unsur batik, wayang, dan keris dalam satu kesadaran budaya.
“Dalam peradaban Jawa, ageman, batik, dan keris adalah tiga pondasi yang saling melengkapi. Kalau tidak dibicarakan, sebagian dari kebudayaan itu akan hilang,” ujarnya.

Menurut Tejo, setiap motif batik dan bentuk senjata menyimpan narasi tentang perjalanan manusia mencari keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan.
“Ageman hari ini bisa dimaknai sebagai identitas personal dan kolektif. Ia hidup dalam cerita, dalam tindakan, dan dalam cara kita memahami diri,” tambahnya.

Agus Ismoyo: Ageman Sebagai Jalan Kesadaran

Seniman batik kontemporer Agus Ismoyo menutup diskusi dengan refleksi mendalam tentang ageman sebagai medium penciptaan dan kesadaran diri.
“Sejak kecil saya terbiasa melihat bulan purnama. Kami bermain, bernyanyi, menyatu dengan alam. Dari situ saya belajar bahwa keindahan tumbuh dari kebersamaan,” ujarnya.

Bagi Ismoyo, setiap karya seni lahir dari akar budaya dan suara batin.
“Saya pernah membuat karya berwarna putih, sobek, dan kotor. Banyak yang mengira itu pendobrakan norma, padahal itu suara hati—ekspresi kebebasan dan kehidupan,” katanya.

Dalam proses berkarya, ia tak pernah merasa karyanya benar-benar selesai.
“Saya selalu ingin menambah ini dan itu. Lalu saya sadar, saya butuh cerita, karena di situlah keseimbangan antara pikir dan rasa,” ungkapnya.

Motif-motif batiknya seperti beras hitam dan semen putih melambangkan kesadaran tumbuh, kemakmuran, dan kesatuan dengan alam.
“Batik bagi saya bukan sekadar kain, tapi jalan spiritual untuk melihat kehidupan dengan lebih jernih,” ujarnya menutup dengan tenang.

Ruang Seni yang Menyatukan Gagasan

Malam di Babaran Segaragunung itu bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang pertemuan antara filosofi, estetika, dan spiritualitas Nusantara.
Melalui pandangan Ninik N., Tukirno B. Sutejo, dan Agus Ismoyo, tema Ageman menjelma menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini — antara wastra lama dan ruang kreatif kontemporer.

Dari lurik hingga batik, dari gegaman hingga kesadaran diri, semuanya berpadu dalam satu pesan yang sama:
Bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan napas kehidupan yang terus tumbuh, bertransformasi, dan memberi makna bagi manusia hari ini.

Lurik Klasik di Masa Kini dan Masa Depan

YOGYAKARTA —
Berbicara tentang tenun, hampir semua orang mengenalnya sebagai untaian benang yang disulam menjadi kain. Namun di balik kesederhanaannya, lurik menyimpan kisah panjang tentang kreativitas dan ketahanan budaya Jawa.

“Lurik tidak seperti batik. Batik lahir dari filosofi, sedangkan lurik lahir dari kreativitas dan teknologi di masanya. Nilai-nilai itu baru muncul ketika lurik diwujudkan menjadi busana,” ujar Ninik N. saat ditemui seusai diskusi.

Ia mencontohkan busana pranakan berbahan lurik biru yang dikenakan abdi dalem Kasultanan Yogyakarta. Nilai simbolik tentang ketakwaan dalam budaya Islam Jawa baru hadir setelah lurik itu menjelma menjadi pakaian.
“Lurik menjadi penanda kesatuan, bukan karena makna filosofinya, tapi karena fungsi dan perannya,” jelasnya.

Secara etimologis, kata lurik berasal dari “lorék,” bahasa Jawa yang berarti garis. Pada masa awal, lurik digunakan sebagai selendang, kemben, atau kain gendongan. Lahir dari tangan rakyat, bukan istana, lurik merekam denyut kehidupan masyarakat agraris Jawa.

Kini, pola lurik yang sederhana justru membuka ruang luas bagi para perancang busana untuk berekspresi.
“Lurik adalah karya klasik yang selalu bisa diterima di setiap zaman. Karena bebas dari beban filosofis, ia mudah dikembangkan sesuai tren dan selera masa kini,” ujar Ninik.

Sederhana tapi fleksibel, lurik menjembatani kebutuhan mode dan ekonomi kreatif.
“Peluang bisnis lurik besar. Ia mudah dikreasikan, bisa tampil sederhana namun elegan. Itu sebabnya lurik tetap hidup, karena punya karakter yang bisa diterima lintas generasi,” tambahnya.

Melihat perkembangan itu, Ninik optimistis bahwa lurik akan terus bertahan — bukan hanya lestari sebagai warisan budaya, tapi juga sustainable sebagai bagian dari gaya hidup modern yang berpihak pada alam dan tradisi.(Widhie)

Daerah, Seni Budaya

Navigasi pos

Previous Post: Pemkot Yogyakarta dan PT Buccheri Indonesia Teken Kesepakatan Bersama Dorong UMKM Lokal
Next Post: Sri Sultan Hadiri Penyerahan Bus Sekolah untuk Sekolah Rakyat di Sleman

Related Posts

  • Sambut HUT ke-2, Loman Park Hotel Yogyakarta Wujudkan Filosofi “Urip Iku Resik” di Pantai Goa Cemara Daerah
  • Semarak Malam Takbiran di Titik Nol Malioboro, Jogja Dipenuhi Cahaya dan Kebersamaan – Copy – Copy Daerah
  • Wabup Sleman Sambangi Penerima Beasiswa Sleman Pintar Daerah
  • Panen Padi Organik Sembada Merah Jadi Daya Tarik Agrowisata Sehat di Sleman Daerah
  • Royal Darmo Malioboro Suguhkan Malam Tahun Baru 2026 yang Meriah Daerah
  • Realisasi PBB-P2 Sleman Lampaui Target, SPPT Tahun 2026 Resmi Disampaikan Daerah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Selly Sagita: Perhiasan Perak Bukan Sekadar Logam, tetapi Hasil Proses Panjang Bernilai Tinggi
  • Lantik 10 Pejabat, Menaker Tekankan Penguatan K3 dan Tata Kelola yang Akuntabel
  • Bukti Pendidikan dan Inklusi Nyata, SMP Labschool UNY Yogyakarta Raih Akreditasi A
  • Gelaran “Helai Masa: Bala Maharddhika Show”
  • JKP Jadi Instrumen Strategis Pelindungan dan Pengembangan Karier Pekerja

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter mengenai Hello world!

Archives

  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025

Categories

  • Bisnis
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Fashion
  • HOTEL
  • Kuliner
  • Liifestyle
  • Nasional
  • Olah Raga
  • OPINI PEMBACA
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Seni Budaya
  • Umum
  • Uncategorized
  • Wellness
  • JCWF 2025 WEEK 2 “Eco-Friendly Living” Yogyakarta Siap Jadi Pusat Gerakan Wellness Dunia, Dipimpin Langsung oleh GKR Bendara Nasional
  • Prabowo Indonesia Bangkit, Siap Jadi “Rising Giant” Dunia Ekonomi
  • Ngopi Bukan Sekadar Ngopi Loman Park Hotel Gaungkan Semangat Hulu-Hilir di Jogja Coffee Week 2025 Daerah
  • THE GREAT PILGRIMAGE: Transformasi Global dan Kebangkitan Wisata Kesadaran 2025–2043 Nasional
  • Dinas Pariwisata Sleman Dorong Peran Aktif Dimas Diajeng dalam Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Daerah
  • Melangkah dalam Jejak Budaya Jeron Beteng: Merenda Ingatan, Menyulam Masa Depan Seni Budaya
  • Geopolitik dan Ekonomi Global 2025: Saat Dunia Membutuhkan Kesadaran Baru Ekonomi
  • Berburu Harta Karun Lawas di Pasar Klithikan Pakuncen Yogyakarta Bisnis

Copyright © 2026 Nasional Terkini.

Powered by PressBook News Dark theme