
NASIONALTERKINI Tampak berbeda. Bukan hanya padi yang menguning siap dipanen, tetapi juga kehangatan gotong royong yang memancarkan filosofi hidup orang Jawa: padi selalu merunduk saat berisi, tanda kerendahan hati dalam keberlimpahan.Rabu:10/09/2025 di Bulak Jaten Sendangrejo minggir Sleman
Ketua Umum DPP Perempuan Tani HKTI, Dr. Dian Novita Susanto, menyebut momen panen raya ini bukan sekadar hasil kerja keras para petani, melainkan juga sebuah potret wisata budaya yang menyatukan manusia dengan alam. “Kami melihat produktivitas padi M70D di sini sungguh luar biasa. Tapi lebih dari itu, panen bersama ini menunjukkan bagaimana perempuan tani bisa menjadi motor perubahan di desa-desa,” ujarnya.
Menurut Dian, filosofi panen dapat menjadi daya tarik wisata edukatif. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati panorama sawah, tetapi juga belajar tentang ketahanan pangan, teknik pertanian, dan nilai kebersamaan. “Setiap bulir padi adalah doa, setiap tetes keringat petani adalah cerita. Inilah yang bisa kita angkat sebagai kekuatan wisata Sleman,” tambahnya.
Perempuan Tani, Penjaga Pangan dan Warisan Alam
Dian menegaskan, kehadiran perempuan tani bukan sekadar pelengkap. Mereka adalah penjaga pangan sekaligus penerus tradisi agraris yang sarat nilai. “Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tapi juga tentang bagaimana kita merawat bumi dengan cinta. Perempuan punya peran kunci di sini,” jelasnya.
Ketua HKTI DPD DIY, Dwi Susilowati, menambahkan bahwa hasil uji coba benih M70D mampu menghasilkan panen lebih tinggi dibanding varietas lain. Bahkan, produksi di Bantul sebelumnya mencapai 9 ton per hektare. Di Minggir sendiri, hasil meningkat hingga 6,5 ton per hektare. Selain produktivitas, mereka juga menghadirkan inovasi sederhana untuk mengatasi hama, seperti penggunaan kapur barus untuk tikus dan perekat alami untuk wereng.
Potensi Wisata Pertanian Sleman
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sleman, Makwan, yang hadir mewakili Bupati Sleman, menyebut kegiatan panen raya ini sejalan dengan strategi pengembangan wisata berbasis pertanian. “Minggir dengan hamparan sawahnya punya potensi luar biasa, bukan hanya sebagai lumbung pangan, tetapi juga destinasi wisata edukatif dan spiritual. Kita punya varietas lokal seperti sembada merah dan sembada hitam yang kaya antioksidan, yang juga bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata kuliner sehat,” paparnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya regenerasi petani dengan melibatkan anak muda. Teknologi pertanian modern, pemasaran digital, dan kreativitas wisata bisa dipadukan agar sawah tidak hanya menjadi ladang produksi, tapi juga ruang wisata berkelanjutan.
Filosofi Padi untuk Dunia
Panen raya di Minggir memberi pesan mendalam: pangan adalah tonggak kehidupan, dan petani adalah penjaga peradaban. Melihat perempuan tani tersenyum di tengah panen, wisatawan bisa belajar arti sederhana dari hidup: bekerja dengan hati, menikmati hasil dengan syukur, dan menjaga bumi dengan cinta.
“Ke depan, selain padi, kami juga akan mengembangkan tanaman pangan lain seperti jagung. Tapi yang terpenting, kita ingin setiap desa di Sleman menjadi desa wisata pangan. Di sinilah Indonesia bisa memperlihatkan kepada dunia bahwa ketahanan pangan bukan hanya strategi, tetapi juga filosofi,” pungkas Dian.(Tyo)
