
NASIONALTERKINI. Suasana Minggu pagi di halaman Loman Park Hotel Yogyakarta terasa istimewa. Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-2, hotel yang berlokasi di wilayah Sleman ini menggelar Lomba Jemparingan, olahraga panahan tradisional gaya Mataraman yang sarat nilai filosofi dan spiritualitas Jawa.
Acara ini menjadi bentuk nyata sinergi antara dunia pariwisata dan pelestarian budaya. Jemparingan—yang dahulu hanya dikenal di lingkungan keraton—kini tumbuh menjadi olahraga rakyat yang penuh makna, sekaligus sarana untuk melatih kesabaran, fokus, dan ketenangan batin.
Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi dengan Paguyuban Jemparingan Kembang Tirto, di bawah bimbingan Muh Haris Musthofa, yang aktif memperkenalkan olahraga tradisional ini kepada masyarakat luas.
Kami dari Paguyuban Kembang Tirto merasa sangat senang bisa menjadi bagian dari perayaan ini. Antusiasme masyarakat luar biasa, terutama dari kalangan pemula. Setiap sore tempat latihan di Loman Park selalu ramai, bahkan ada peserta yang datang dari luar daerah hanya untuk belajar jemparingan,” ujar: Haris:Minggu:19/10/2025 di Loman Park Hotel Yogyakarta

Menurut Haris, jemparingan yang berasal dari lingkungan Pura Pakualaman awalnya merupakan olahraga eksklusif bagi kaum bangsawan. Namun, sejak sekitar tahun 1938, tradisi ini mulai diperkenalkan kepada masyarakat umum hingga akhirnya berkembang menjadi olahraga budaya yang dicintai lintas generasi.
Dulu jemparingan hanya milik keraton, tapi sekarang sudah menjadi milik rakyat. Siapa pun bisa belajar dan ikut berlatih. Inilah wujud keindahan budaya: ketika nilai luhur bisa dirasakan oleh semua kalangan,” tambahnya.
Kini, kegiatan latihan jemparingan di Loman Park Hotel menjadi agenda rutin yang dinantikan. Setiap bulan dibuka kelas khusus bagi masyarakat yang ingin belajar, lengkap dengan tata cara berpakaian Jawa yang menampilkan keanggunan dan etika khas Mataraman. Tak hanya dari Yogyakarta, peserta bahkan datang dari luar Jawa, seperti Kalimantan, untuk mengikuti pelatihan dan merasakan langsung atmosfer budaya Jawa.

Dalam kesempatan yang sama, Handono S. Putro, Founder & Managing Loman Park Hotel, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara dunia perhotelan, budaya, dan masyarakat.
Ulang tahun kedua ini bukan sekadar perayaan, tetapi menjadi wujud komitmen kami untuk menjadikan Loman Park Hotel sebagai ruang kolaborasi antara pariwisata dan budaya,” Papar:Handono.
“Jemparingan bukan hanya olahraga, tetapi refleksi dari nilai kehidupan—tentang keseimbangan, kesabaran, dan ketepatan arah. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat menarik wisatawan sekaligus menginspirasi masyarakat untuk terus mencintai dan menjaga budaya Jawa,” lanjutnya.
Filosofi jemparingan mengajarkan keseimbangan antara raga dan jiwa. Setiap tarikan busur mengandung latihan pengendalian diri, sementara setiap anak panah yang melesat adalah simbol doa dan keteguhan hati menuju tujuan yang baik.
Melalui lomba jemparingan dalam rangka HUT ke-2 ini, Loman Park Hotel menunjukkan peran aktifnya dalam menjaga harmoni antara kemajuan pariwisata dan pelestarian budaya. Perayaan ini menjadi bukti bahwa tradisi tidak lekang oleh waktu, dan di tangan generasi yang peduli, nilai luhur akan terus hidup—menjadi panah yang menuntun arah kebajikan bagi masa depan.Pungkas:Handono(Tyo)
