NASIONALTERKINI. Pelestarian pusaka budaya Indonesia harus berlandaskan pada nilai-nilai dasar yang inklusif dan responsif terhadap perubahan zaman. Kesadaran kolektif dari setiap wilayah menjadi kunci dalam menjaga warisan budaya agar tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat modern.

Hal ini disampaikan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) XI Tahun 2025 di Hotel Tentrem, Kota Yogyakarta, Rabu (6/8/2025).

Dengan tema “Resiliensi Kawasan Cagar Budaya Guna Mendorong Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan,” Kota Yogyakarta menjadi tuan rumah kegiatan yang berlangsung dari 3 hingga 9 Agustus 2025. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 50 delegasi dari berbagai daerah anggota JKPI.

Merawat Pusaka Bukan Sekadar Melestarikan Masa Lalu

Dalam sambutannya, Sri Sultan HB X menekankan bahwa pelestarian pusaka tidak hanya soal merawat objek fisik semata, tetapi juga menjaga nilai-nilai hidup yang terkandung di dalamnya.

Kita bukan hanya penjaga pusaka, tetapi juga penggerak yang mampu menempatkan warisan budaya sebagai sumber daya nilai untuk membentuk masa depan kota yang cerdas, beretika, dan kontekstual,” tegas Sri Sultan.

Ia menambahkan, tantangan pelestarian pusaka saat ini jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Perubahan sosial, budaya, ekonomi, serta pola hidup manusia terjadi sangat cepat, menuntut pendekatan yang lebih adaptif dan terbuka terhadap dinamika.

Rakernas JKPI ini bukan hanya ajang bertukar praktik baik, melainkan ruang refleksi yang jujur dan mendalam tentang relevansi pendekatan kita selama ini,” ujarnya.

Sri Sultan juga mengajak seluruh peserta Rakernas untuk memastikan bahwa pelestarian pusaka bukan hanya simbolis, administratif, atau seremonial, melainkan benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat. Menurutnya, kota pusaka harus menjadi kota yang hidup, bermakna, dan menghidupi warganya.

Peran Strategis JKPI dalam Menjaga Warisan Budaya

Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, menyampaikan bahwa setiap anggota JKPI memiliki karakteristik unik yang menjadi kekuatan untuk saling bertukar pengetahuan, advokasi, perlindungan pusaka, hingga pengusulan warisan budaya ke tingkat nasional dan internasional.

Mari terus perkuat kerja sama dan dukungan antaranggota dalam melestarikan budaya. Ini adalah langkah penting agar warisan budaya kita berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Banjarmasin sekaligus Ketua Presidium JKPI, H. Muhammad Yamin HR, mengapresiasi peran aktif JKPI dalam menjaga pusaka sejarah, khususnya di tengah tekanan pembangunan yang semakin masif.

Forum ini menjadi ruang saling berbagi, memperkuat, dan mendorong program strategis keanggotaan. Setiap daerah yang memiliki pusaka wajib merawat dan mengangkat nilainya,” katanya.

Yamin juga mencontohkan Yogyakarta sebagai kota dengan sejarah panjang dalam merawat pusaka dalam berbagai bentuk, yang tidak hanya berdampak budaya, tetapi juga ekonomi.

Menuju Kota Pusaka sebagai Pilar Masa Depan

Wali Kota Semarang, Agustina Wijeng Pramestu,menyampaikan bahwa Rakernas JKPI XI ini merupakan bagian dari upaya besar dalam melestarikan warisan budaya nenek moyang. Ia meyakini bahwa pusaka tradisi dan kebudayaan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Kami juga mengucapkan terima kasih dan selamat kepada Kota Yogyakarta yang telah menjadi tuan rumah dengan suasana yang berbudaya dan hangat,”Pungkas:Agustina(Tyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *