
NASIONALTERKINI. YOGYAKARTA – Di tengah keanggunan Gedhong Pracimasono, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Sabtu :11/10/2025, semangat kebersamaan dan pengabdian mengalun lembut. Musyawarah Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Musda Kwarda DIY) tahun 2025 menandai babak baru dengan terpilihnya Gusti Kanjeng Ratu Hayu (GKR Hayu) sebagai Ketua Kwarda DIY masa bakti 2025–2030.

Putri keempat pasangan Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas, yang memiliki nama lengkap Gusti Raden Ajeng Nurabra Juwita, tampil sebagai calon tunggal hasil usulan lima kwartir cabang dan kwartir daerah. Keputusan penetapan dituangkan melalui Surat Keputusan Nomor 08 Tahun 2025, yang dibacakan oleh pimpinan sidang Heroe Poerwadi, Edy Heri Suasana, dan Nunuk Setyowati.
Dalam sambutan perdananya, GKR Hayu menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas amanah yang dipercayakan kepadanya.
Dukungan ini merupakan penghormatan yang besar bagi saya. Saya sadar betul, ini tanggung jawab yang besar dan akan saya jalankan dengan sepenuh hati demi kemajuan Gerakan Pramuka DIY,” ungkapnya
GKR Hayu menuturkan, perjalanannya di Gerakan Pramuka bukan bermula dari dasar yang kuat, namun lima tahun terakhir menjadi masa pembelajaran yang penuh makna.
Saya belajar banyak dari dedikasi dan kecintaan Kakak-Kakak di Gerakan Pramuka. Semua itu sangat menginspirasi,”
Kepada pendahulunya, GKR Mangkubumi, yang memimpin Kwarda DIY masa bakti 2020–2025, GKR Hayu menyampaikan rasa hormat mendalam. Ia menegaskan bahwa Pramuka bukan sekadar kegiatan lapangan, tetapi wadah pembentukan karakter dan semangat keistimewaan Yogyakarta.
Kepercayaan ini adalah tanggung jawab untuk melanjutkan estafet Gerakan Pramuka—agar tetap tangguh, berintegritas, mandiri, dan berbudaya,”
Dengan kerendahan hati, GKR Hayu mengajak seluruh jajaran Kwarda untuk memperkuat sinergi. Gerakan Pramuka, katanya, harus menjadi ruang tumbuh yang selaras dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar nilai-nilai luhur.
Saya mohon banyak bimbingan, karena sadar betul pengalaman saya belum sebanyak Kakak-Kakak sekalian,”
Dalam satu bagian yang penuh filosofi, GKR Hayu menggambarkan Gerakan Pramuka seperti pohon kelapa.
Akar itu para pengurus, pembina, dan pelatih—menopang agar tumbuh kokoh. Majelis pembimbing ibarat sinar matahari yang menumbuhkan, sementara Ketua Kwarda adalah penjaga agar pohon tetap tegak dan berbuah bagi masyarakat,”
Ia juga menyinggung pentingnya keseimbangan antara generasi. Kasepuhan, menurutnya, menyimpan kebijaksanaan; sementara generasi muda membawa semangat baru yang perlu diarahkan dengan hormat.
Dengan melangkah dan bekerja bersama, saya yakin Kwarda DIY dapat menjadi contoh bagi daerah lain—lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas,”
Menutup sambutannya, GKR Hayu menegaskan bahwa kekuatan Gerakan Pramuka terletak pada kebersamaan.
Dalam Gerakan Pramuka, kita bukan hanya rekan kerja. Kita adalah keluarga besar yang memiliki tujuan mulia: menumbuhkan generasi yang berkarakter, mandiri, dan berjiwa pengabdian.”
Dari ruang bersejarah di Kepatihan itu, pesan GKR Hayu menggema: bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan tumbuh bersama dari akar yang kokoh, dengan cahaya budi dan semangat kebersamaan yang tak pernah padam.Tutup:GKR Hayu(Tyo)
