
NASIONALTERKINI. Batik bukan sekadar sehelai kain bermotif indah. Ia adalah warisan budaya yang mengandung nilai historis, filosofi kehidupan, dan jati diri bangsa. Di Kabupaten Sleman, semangat untuk terus menghidupkan batik tumbuh melalui tangan-tangan perajin lokal yang penuh ketekunan. Namun di balik geliat tersebut, batik Sleman kini tengah menghadapi tantangan yang memerlukan perhatian lebih serius dari berbagai pihak.
Endang Wilujeng, Ketua Asosiasi Batik Sleman Mukti Manunggal sekaligus perajin batik sejak tahun 2009, menyampaikan bahwa saat ini para pembatik Sleman tengah berjuang keras mempertahankan eksistensinya. “Kami ingin memberi ruang yang lebih luas kepada teman-teman pembatik untuk mengembangkan potensi dan kreativitas. Sayangnya, dalam beberapa waktu terakhir minat dan daya beli masyarakat terhadap batik Sleman mengalami penurunan yang cukup signifikan,” Ujarnya:Minggu:27/07/2025 di House of LMAR Galeria Mall Jogja

Asosiasi yang dipimpinnya saat ini menaungi 52 kelompok batik serta lima perajin mandiri, dengan rata-rata satu kelompok terdiri dari sekitar 20 orang. Angka ini menunjukkan potensi besar yang dimiliki Sleman, baik dari sisi sumber daya manusia maupun kekayaan budaya yang bisa dikembangkan. Namun, potensi besar ini tidak akan berkembang optimal tanpa dukungan yang berkelanjutan.
Menurut Endang, selama ini memang ada dukungan dari pemerintah, namun perlu ada evaluasi dan penajaman kembali terhadap kebijakan yang diterapkan. “Kami merasa perlunya penguatan dari sisi perlindungan perajin, pelatihan yang tepat sasaran, serta tata kelola usaha batik yang lebih terstruktur. Harapannya, pemerintah benar-benar menghadirkan kebijakan yang berdampak langsung dan bisa mensejahterakan para perajin,” tegasnya.

Sebagai produk budaya yang relatif baru, batik Sleman baru dideklarasikan pada tahun 2013. Justru karena usianya yang masih muda, batik Sleman membutuhkan pendampingan ekstra agar tidak hanya bertahan, tetapi juga bisa bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Meski menghadapi banyak tantangan, para perajin Sleman tidak patah semangat. Mereka terus berinovasi, termasuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pameran dan fashion show seperti di Galeria Mall dan ajang Fashion on The Street (FOS) yang akan digelar bulan Agustus mendatang. “Kami sangat bersyukur kepada Mbak Lia Mustafa yang selalu memberikan ruang dan dukungan kepada kami untuk tampil di panggung fashion. Ini bentuk kolaborasi yang sangat berarti,” tambah Endang.

Dengan mengusung tema Batik X Denim, para pembatik ingin menunjukkan bahwa batik bukan hanya pakaian tradisional, tetapi juga bisa menjadi bagian dari fashion modern yang fleksibel, global, dan tetap mengakar pada budaya lokal. “Denim itu identik dengan gaya global, dan kami ingin menjadikan batik Sleman seperti itu: bisa diterima di mana saja, kapan saja,” jelasnya.

Lia Mustafa Fashion Designer Kondang sekaligus pemilik House of L’MAR, menyampaikan bahwa dirinya melihat potensi besar dari komunitas batik Sleman yang layak untuk terus diangkat dan dipromosikan. “Kami di House of L’MAR selalu berusaha mengangkat karya tenan kami, termasuk batik. Mbak Endang sudah lama menjadi mitra kami, dan bahkan anak beliau pernah menjadi peserta inkubasi kami yang diselenggarakan bersama Bank Indonesia ,” ungkap Lia.
Lebih lanjut, Lia menambahkan bahwa inisiatif mengangkat batik dalam event FOS ini bukan hanya sekadar bentuk kolaborasi, tetapi juga bagian dari misi bersama untuk membawa batik Sleman ke panggung lebih luas. “Kami tidak hanya sekadar menampilkan busana. Ada nilai edukatif yang ingin kami hadirkan: edukasi membatik, eksplorasi motif, hingga mempertemukan batik dengan denim secara kreatif,” ujarnya.
Yang menarik, Lia dan tim juga menggagas konsep fashion show yang lebih inklusif: para model yang tampil nantinya adalah anak-anak dari para pembatik. “Kami sempat terpikir soal keterbatasan anggaran untuk menyewa model profesional. Tapi dari situ justru muncul ide yang lebih bermakna. Anak-anak dari para pembatik ini yang akan memperagakan busana batik. Mereka adalah simbol keberlanjutan, harapan, dan regenerasi,” Papar: Lia
Dengan konsep ini, acara fashion tidak hanya menjadi ajang pamer busana, tapi juga sarana edukasi dan penyadaran publik akan pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan budaya. “Mereka mungkin belum membatik secara langsung, tapi ketika tampil membawakan karya orang tua mereka di atas panggung, ada kebanggaan yang tertanam. Dari situ benih-benih kecintaan terhadap batik akan tumbuh,” lanjutnya.
Ajang Fashion on The Street ini juga akan mempertemukan berbagai komunitas dari wilayah lain, termasuk perajin batik dari Kulon Progo yang dijadwalkan tampil pada 23 Agustus, sementara perwakilan Sleman tampil pada 22 Agustus 2025. Momen ini diharapkan menjadi titik temu bagi perajin, desainer, dan publik untuk membangun ekosistem batik yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Kini, sudah saatnya semua pihak—pemerintah, pelaku industri kreatif, komunitas, dan masyarakat luas—bersatu untuk memperkuat posisi batik Sleman. Dengan kebijakan yang berpihak, ruang kreasi yang luas, dan kolaborasi nyata, bukan tidak mungkin batik Sleman akan menjadi duta budaya Indonesia di panggung dunia.Pungkas:Lia(Tyo)
