Loman Park Hotel Hadirkan Ustadzah Oki Setiana Dewi dalam Pengajian Akbar Bertajuk “Bolehkah Aku Menyerah?”

NASIONALTERKINI. Komitmen Loman Park Hotel Yogyakarta untuk menjadi ruang bertumbuh tidak hanya dalam dunia perhotelan dan hospitality, tetapi juga dalam aspek spiritual dan sosial, kembali diwujudkan melalui program unggulan bertajuk #LomanMengaji. Dalam edisi spesial bulan Juli ini, Loman Park Hotel akan menghadirkan salah satu tokoh muslimah inspiratif tanah air, Ustadzah Oki Setiana Dewi, dalam sebuah pengajian akbar dengan tema yang menyentuh hati: “Bolehkah Aku Menyerah?”

Acara ini akan digelar pada Kamis, 24 Juli 2025, mulai pukul 11:30 WIB hingga waktu Ashar, bertempat di Ballroom utama Loman Park Hotel. Kegiatan ini terbuka untuk umum, khususnya bagi para muslimah yang ingin memperdalam spiritualitas, menenangkan hati, dan menemukan semangat baru di tengah berbagai tantangan kehidupan.

Mengangkat Isu Kehidupan yang Relatable

Handono S. Putro, Founder & Managing Director Loman Park Hotel menyampaikan bahwa pengajian ini diangkat dari keresahan banyak orang, khususnya perempuan, dalam menghadapi tekanan hidup sehari-hari.Ujarnya :Kamis:17/2025 di Loman Park Hotel Yogyakarta

“Kami percaya, spiritualitas adalah bagian penting dari kebahagiaan hidup. Banyak yang kelihatannya kuat, tapi hatinya rapuh. Maka kami hadirkan tema ini untuk membuka ruang diskusi, ruang curhat, dan tentunya, ruang healing. Siapa lagi kalau bukan Ustadzah Oki yang bisa menyampaikannya dengan begitu menyentuh,”Papar: Handono.

Hadiah Spesial dan Layanan Gratis Bagi Jamaah

Tak hanya menyajikan kajian berkualitas, Loman Park Hotel juga menghadirkan beragam kejutan dan hadiah spesial bagi para jamaah yang hadir. Beberapa di antaranya adalah:

Hadiah 1 Kamar Gratis di Loman Park Hotel bagi jamaah yang membuat konten terbaik selama acara.

Goodie Bag eksklusif dari Wardah, brand kecantikan halal yang telah mendunia.

Voucher belanja dan produk dari Karita, pusat busana muslim ternama.

Mini Medical Check-Up dan pemeriksaan mata gratis dari RS AMC.

Bingkisan pengharum hijab eksklusif dari Racika Falah, pelengkap gaya dan kenyamanan para muslimah.

Tempat Terbatas,dan sudah dibtutup
Acara ini diprediksi akan dipenuhi oleh ratusan jamaah dari berbagai daerah. Oleh karena itu, panitia telah menyediakan tautan pendaftaran daring melalui link berikut:
🔗 https://bit.ly/lomanmengaji sehari di bukak kota terisi penuh ujar:Handono

Para peserta akan mendapatkan tempat dan berkesempatan memperoleh berbagai hadiah serta layanan spesial tersebut.

Ruang yang Menguatkan Perempuan

Sebagai salah satu hotel berbasis nilai-nilai Islami dan keluarga, Loman Park Hotel memang tak henti menginisiasi kegiatan-kegiatan yang menguatkan perempuan. Kajian #LomanMengaji bukan hanya sekadar agenda dakwah, tapi juga platform untuk saling berbagi, mempererat ukhuwah, serta memperluas wawasan keislaman secara lembut, menyenangkan, dan relevan.

“Kami ingin Loman tidak hanya dikenal sebagai hotel untuk staycation, tapi juga tempat pulang. Pulang pada nilai-nilai kebaikan dan ketenangan,” tambah Handono.

Kesimpulan

Pengajian “Bolehkah Aku Menyerah?” bersama Ustadzah Oki Setiana Dewi ini dipastikan akan menjadi salah satu momen spiritual paling mengesankan di Yogyakarta. Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk hadir, belajar, dan meresapi energi positif bersama ratusan muslimah lainnya.Tutup:Handono(Tyo)

Yogyakarta Gamelan Festival 2025 30Th YGF di Akan di Gelar di Taman Embung Giwangan

NASIONALTERKINI Festival gamelan tahunan paling bergengsi di Yogyakarta, Yogyakarta Gamelan Festival (YGF), kembali hadir tahun ini dengan semangat baru. Mengusung semangat 30 tahun perjalanan, YGF ke-30 akan diselenggarakan selama tujuh hari penuh mulai 21 hingga 27 Juli 2025 di Tanan Embung Giwangan, Kota Yogyakarta. Tahun ini, festival tak hanya menjadi ruang perayaan musik tradisi, tetapi juga momentum strategis menuju internasionalisasi gamelan sebagai warisan budaya dunia.

Dalam konferensi pers yang digelar menjelang pelaksanaan festival, Ari Wulu, selaku Festival Director YGF menyampaikan bahwa tahun ini memiliki makna khusus karena menandai tiga momentum penting: 30 tahun perjalanan YGF, 25 tahun kiprah Komunitas Gayam 16, dan pengukuhan YGF sebagai salah satu program strategis kebudayaan nasional.

“Yang istimewa tahun ini bukan hanya karena kami genap 30 tahun. Sejak awal 2025, YGF juga terpilih sebagai bagian dari program strategis nasional yang akan berjalan hingga 2027. Ini tentu pencapaian luar biasa bagi kami dan seluruh penggiat gamelan,” ujar Ari Wulu.Saat di hadapan awak media:Rabu:16/07/2025
di Le Margaux Brasserie Yogyakarta jam 16. 00Wib

Lebih lanjut, Ari menekankan bahwa edisi tahun ini mengambil tema besar yang berfokus pada anak muda. Tema lengkapnya: “Festival Musik, Seni, dan Anak Muda dengan Spirit Gamelan” mencerminkan usaha penyelenggara untuk memperluas jangkauan dan menjaring minat generasi muda terhadap gamelan.

“Kami mencoba menyederhanakan tema yang awalnya cukup panjang, agar lebih membumi dan mudah dipahami. Kami ingin membuktikan bahwa gamelan bukan hanya milik masa lalu, tapi juga milik masa kini dan masa depan, terutama di tangan anak-anak muda yang hari ini sudah sangat maju dalam hal kreativitas dan teknologi,” lanjutnya.

Dalam rangka merangkul generasi muda, tahun ini YGF menggandeng komunitas Simak Siar, yang menurut Ari telah banyak bergerak dalam aktivasi seni dan media alternatif untuk anak muda. Panji, perwakilan Simak Siar, turut hadir dalam konferensi pers dan menambahkan bahwa kolaborasi ini adalah upaya untuk memperluas ekosistem kreatif yang tetap berpijak pada budaya lokal.

Selain itu, YGF 2025 akan menampilkan 16 kelompok karawitan yang akan tampil sepanjang festival. Setiap sore hingga malam, pengunjung akan disuguhkan beragam pertunjukan gamelan, mulai dari gaya tradisi hingga kreasi baru, termasuk kolaborasi lintas genre seperti gamelan dengan alat musik elektronik. Salah satu penampilan spesial datang dari seorang profesor dari Jepang, yang dijadwalkan tampil dalam program internasional festival.

Dukungan dari berbagai pihak pun mengalir. Padmono Anggoro Prasetya, S.Sn., Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Adat Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Disbud DIY menyampaikan bahwa kehadiran YGF selama 30 tahun ini telah menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya tak harus kaku, tetapi bisa tumbuh dan bertransformasi secara relevan.

Senada dengan itu, Ernawati Purwaningsih, S.Si., M.Sc., Pamong Budaya Ahli Madya dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 10, mewakili Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyatakan kebanggaannya terhadap YGF.

“Proses panjang yang dijalani oleh YGF di bawah Komunitas Gayam 16 adalah contoh nyata dari bagaimana sebuah inisiatif komunitas dapat berkembang menjadi program strategis kebudayaan nasional. Ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan No. 5 Tahun 2017,” ujar Ernawati.

Menurutnya, YGF bukan sekadar festival tahunan, tetapi telah menjadi lokomotif ketahanan budaya nasional. Dukungan terhadap YGF juga merupakan bagian dari strategi penguatan posisi Indonesia dalam peta kebudayaan dunia.

Tak hanya musik, YGF juga akan menghadirkan pasar seni dan pasar kuliner, yang melibatkan pengrajin lokal serta pelaku UMKM. “Kami ingin pengunjung bisa menikmati festival ini sebagai ruang interaksi budaya secara menyeluruh. Bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk nongkrong, berjejaring, bahkan bertransaksi dengan para pelaku kreatif,” tambah Ari.

Program YGF 2025 juga akan menampilkan pameran visual budaya di Gedung Graha Budaya, termasuk instalasi kain dari komunitas Akar, serta konser gamelan internasional dari tanggal 25 hingga 27 Juli, dengan partisipasi kelompok gamelan dari luar negeri, termasuk Kanada dan Jepang.

Ari berharap, perayaan 30 tahun YGF bisa menjadi titik tolak untuk semakin memperkuat posisi gamelan sebagai bagian dari peradaban dunia.

“Anak-anak muda hari ini tidak hanya mengapresiasi tradisi, mereka juga mengenal diri dan identitas budayanya dengan cara yang lebih kreatif dan terbuka. Kami hanya berusaha membuka ruang untuk mereka berkembang melalui gamelan,” Pungkas Ari Wulu.(Tyo)

Yogyakarta Siap Sambut RAKERNAS JKPI 2025 Dorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Daerah

NASIONALTERKINI. Kota Yogyakarta bersiap menjadi tuan rumah perhelatan akbar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang akan digelar pada 5–9 Agustus 2025. Ajang yang diikuti puluhan kota dan kabupaten se-Indonesia ini diyakini akan memberi dampak besar terhadap sektor pariwisata, perhotelan, ekonomi kreatif, hingga UMKM lokal.

Joko Paromo, General Manager Royal Darmo Malioboro Hotel Yogyakarta, menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan Rakernas JKPI. Ia mengapresiasi konsep kegiatan yang tidak hanya terpusat di satu lokasi, tetapi menyebar ke berbagai titik heritage di Yogyakarta seperti Malioboro, Kotagede, Kotabaru, hingga Embung Giwangan.

Kami sangat mendukung pelaksanaan JKPI tahun ini. Rakernasnya memang dipusatkan di Hotel Tentrem, tapi rangkaian acaranya tersebar di berbagai kawasan pusaka Jogja. Ini kesempatan besar bagi kota kita,” ujar Joko.Saat di Temui Rabu:16/07/2025 di Royal Darmo Malioboro Hotel Yogyakarta

Menurutnya, sekitar 57 dari total 75 kota/kabupaten anggota JKPI telah mengonfirmasi kehadiran. Selain peserta Rakernas, ribuan masyarakat dari berbagai daerah juga diperkirakan akan meramaikan pawai budaya dan festival rakyat yang menjadi bagian dari agenda kegiatan.

Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, dari tanggal 5 hingga 9 Agustus. Diperkirakan akan ada sekitar 10.000 hingga 14.000 orang yang datang ke Yogyakarta. Ini tentu menjadi peluang besar bagi sektor perhotelan, restoran, transportasi, kuliner, hingga UMKM,” jelasnya.

Joko pun berharap, dengan penyebaran lokasi acara yang merata dan dukungan masyarakat, kunjungan wisatawan dan tingkat hunian hotel di Yogyakarta akan meningkat signifikan selama Rakernas berlangsung.

Harapan kami tentu, kegiatan ini bisa mendorong naiknya okupansi hotel-hotel di Jogja. Bukan hanya hotel besar, tapi juga hotel butik, homestay, dan penginapan di kawasan heritage,” tambahnya.

Sementara itu, Agus Budi Rachman, Sekjen DPD PUTRI DIY (Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia), menyatakan bahwa Rakernas JKPI 2025 bukan sekadar ajang seremonial, melainkan momentum strategis untuk memperkuat posisi Yogyakarta sebagai Kota Budaya Nasional.

JKPI melibatkan kota dan kabupaten dari seluruh Indonesia. Ini bukan hanya Rakernas, tapi juga ajang strategis untuk memperkuat Jogja sebagai poros kota budaya di Indonesia,” kata Agus.

Ia juga menegaskan bahwa efek kegiatan ini bersifat multidimensi. Selain memberi peluang promosi budaya lintas daerah, acara ini juga menjadi motor penggerak ekonomi kreatif yang inklusif.

Dengan pengakuan Yogyakarta sebagai Kota Filosofis Dunia oleh UNESCO, kota ini kini tidak hanya dikenal sebagai kota pelajar dan pariwisata, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan global. Rakernas JKPI selaras dengan semangat itu—yakni merumuskan kebijakan kolaboratif yang menguntungkan Yogyakarta secara geokultural,” Papar: Agus.

Dengan semangat kolaborasi dan keterlibatan aktif lintas daerah, Rakernas JKPI 2025 diyakini akan menjadi momentum penting yang memperkuat peran Yogyakarta di kancah budaya nasional dan internasional, sekaligus mendongkrak gairah pariwisata dan pemberdayaan ekonomi lokal.Pungkas:Agus(Tyo)

Panen Padi Organik Sembada Merah Jadi Daya Tarik Agrowisata Sehat di Sleman

NASIONALTERKIN. Hamparan sawah hijau yang membentang di Ngalian, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, pagi itu tampak berbeda. Bukan hanya karena musim panen telah tiba, namun karena varietas padi yang dipanen adalah Sembada Merah, varietas lokal unggulan beras organik yang mulai menjadi ikon baru agrowisata sehat di Sleman.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, bersama Kelompok Tani Mekar melakukan panen raya padi organik ini dengan penuh semangat. Panen ini juga dihadiri oleh Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc, yang turut mengapresiasi keberhasilan petani Sleman dalam mengembangkan varietas unggulan lokal.Selasa:15/07/2025

“Padi organik Sembada Merah ini tak hanya unggul dari segi hasil panen, tapi juga dari sisi kesehatan dan potensi wisata. Ini bisa menjadi daya tarik baru untuk wisatawan yang ingin mengenal pertanian sehat dan berkelanjutan,” ujar Danang.

Sembada Merah sendiri merupakan padi lokal khas Sleman yang telah diakui secara nasional melalui SK Kementan No. 125 tahun 2019. Selain warnanya yang unik, beras ini juga kaya akan protein dan antioksidan, serta memiliki rasa yang pulen. Kombinasi inilah yang menjadikan Sembada Merah cocok dikembangkan sebagai ikon wisata kuliner sehat khas Sleman.

Sugiono, Ketua Kelompok Tani Mekar, mengungkapkan bahwa panen kali ini mencakup lahan seluas 6,3 hektare dengan hasil mencapai lebih dari 7 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare. “Kami juga sudah bersertifikat organik dari LeSOS sejak 2022, jadi ini benar-benar produk pertanian sehat yang bisa dikembangkan untuk wisata edukatif,” jelasnya.

Menurut Ladiyani, hasil panen ini bahkan melebihi rata-rata nasional yang hanya sekitar 5,2 ton per hektare. Ia berharap keberhasilan ini bisa menjadi model pengembangan agrowisata di daerah lain.

Dengan tren gaya hidup sehat yang semakin meningkat, pengembangan kawasan pertanian organik seperti ini dinilai sangat potensial untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Wisatawan bisa belajar menanam padi secara organik, menikmati suasana pedesaan yang asri, hingga mencicipi langsung nasi dari beras merah Sembada yang sehat dan lezat.

Sleman kembali membuktikan bahwa pertanian tak hanya soal pangan, tapi juga bisa menjadi jalan kreatif untuk pengembangan wisata berbasis alam, budaya, dan gaya hidup sehat.Pungkas:Ladiyani(Tyo)

Ramaikan Jogja Volkswagen Festival 2025 Puluhan Klub VW dari Dalam dan Luar Negeri Hadir di GIK UGM

NASIONALTERKINI. Yogyakarta, 12 Juli 2025 — Jogja Volkswagen Festival (JVWF) 2025 kembali digelar dengan semarak di Grha Instiper Kampus (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), menghadirkan suasana penuh nostalgia, kreativitas, dan semangat persaudaraan para pecinta mobil klasik Volkswagen. Tidak hanya menjadi ajang pameran otomotif, JVWF juga menyuguhkan berbagai kegiatan menarik seperti show and shine, bazar, hingga edukasi kreatif untuk generasi muda.

Didik Rahardyan Adi Nugroho, M.Sc., selaku Steering Committee JVWF 2025 sekaligus Ketua Umum Volkswagen Club Yogyakarta (VCY), menyampaikan bahwa antusiasme peserta tahun ini sangat tinggi. “Hingga hari ini, sudah tercatat sekitar 64 klub VW dari luar Yogyakarta yang hadir, dan jumlah ini kemungkinan akan terus bertambah. Di bawah naungan Volkswagen Indonesia (VI) saja, ada sekitar 80 klub yang aktif. Belum termasuk rekan-rekan dari luar negeri yang rutin ikut memeriahkan setiap gelaran JVWF,” ungkap Didik.

Tak lupa, ia menyampaikan apresiasi kepada komunitas VW dari mancanegara yang selalu setia hadir. “Terima kasih kepada teman-teman dari VW Malaysia yang setiap tahun hadir dalam JVWF, juga dari Australia, serta sejumlah tamu undangan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu,” tambahnya

Salah satu daya tarik JVWF 2025 adalah kehadiran mobil VW klasik tahun-tahun awal produksi, seperti VW Type 1 tahun 1958, bahkan VW keluaran 1950-an awal, termasuk koleksi langka tahun 1950 dan 1953 yang tampil mencuri perhatian para pengunjung. Mobil-mobil ini tidak hanya tampil memesona dalam kondisi prima, tetapi juga menjadi media edukasi sejarah otomotif dunia.

Selain menjadi ruang silaturahmi antar komunitas, JVWF juga diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di bidang edukasi, pelaku UMKM, dan sektor ekonomi kreatif. “Kami berharap event ini bisa menjadi wadah pembelajaran bagi adik-adik muda serta mendukung geliat ekonomi lokal. Ke depan, kami akan terus berinovasi menghadirkan acara yang semakin menarik dan berbeda dari tahun ke tahun,” ujar Didik.

Dalam penyelenggaraan event ke-6 ini, panitia berkomitmen untuk terus memperbaiki dan memberikan yang terbaik. Dengan semangat kolaborasi dan kreativitas, JVWF diyakini akan terus menjadi ikon otomotif yang membanggakan Yogyakarta, tidak hanya di kancah nasional tetapi juga internasional.Pungkas:Didik(Tyo)

Borobudur Silver Bawa Perak Jogja Tampil di Dua Pameran Internasional

NASIONALTERKINI. Yogyakarta, Brand kerajinan perak asal Yogyakarta, Borobudur Silver, kembali menorehkan langkah di panggung internasional. Sang pemilik, Selly Sagita, memastikan keikutsertaan dalam dua pameran berskala global: CA ASEAN Expo di Nanning, Cina pada 17–20 September 2025, dan pameran di Barcelona, Spanyol, pada 27–30 September 2025.Expo Hogar, di Fira Barcelona, Spanyol Ujar Selly Sagita Saat ditemui Sabtu:12/07/2025 di Borobudur Dilver Yogyakarta

Pameran pertama, CA Expo (China-ASEAN Expo), merupakan ajang bergengsi yang melibatkan 10 negara ASEAN dan Tiongkok. Yogyakarta sendiri punya catatan prestisius dalam ajang ini, pernah menjadi anchor city dan menyabet banyak penghargaan satu dekade lalu.

“Motivasi utama kami bukan soal penjualan besar, tapi untuk melihat bagaimana kondisi pasar pasca-pandemi dan membandingkannya dengan pengalaman sebelumnya di Guangzhou,” ujar Selly. Ia menyebut timnya, yang dijuluki “Borobudur Silver Silver”, lebih ingin menjajaki peluang dan menilai dinamika pasar yang kini kembali menggeliat.

Usai dari Nanning, Borobudur Silver akan langsung terbang ke Eropa. Mereka menjadi satu dari enam brand yang terpilih untuk mengikuti pameran di Barcelona, atas undangan ITPC (Indonesian Trade Promotion Center). Ini menjadi kesempatan strategis untuk menjajaki pasar Eropa dan memperkuat eksistensi kerajinan perak asal Jogja.

“Cina mewakili pasar Asia, dan Barcelona jadi pintu masuk ke Eropa. Kami ingin menyuarakan bahwa perak Jogja masih hidup, berkarakter, dan layak bersaing di kancah global,” tegas Selly.

Tak memasang target muluk, langkah Borobudur Silver ke dua kota dunia ini adalah bentuk diplomasi budaya sekaligus promosi kreatif khas Yogyakarta. Dengan desain yang menggabungkan unsur tradisi dan sentuhan modern, perak Jogja pun siap bersinar di mata internasional.Pungkas:Selly(Tyo)

Wapres Gibran Hadiri Sarasehan Bersama HIPMI DIY, Bahas Sinergi Ekonomi dan Inovasi Daerah

NASIONTERKINI. Yogyakarta, 9 Juli 2025 — Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menghadiri sarasehan yang digelar oleh Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (BPD HIPMI DIY) pada Rabu (9/7), pukul 07.00 WIB di Gudeg Yu Djum, Yogyakarta.

Forum tersebut menjadi ruang strategis dialog antara pemerintah pusat dan pengusaha muda untuk membahas penguatan sinergi dalam pembangunan ekonomi daerah, pengembangan UMKM, serta peran teknologi dan inovasi dalam menjawab tantangan global.

Dalam sambutannya, Wapres Gibran menekankan pentingnya keberanian untuk berinovasi dan membangun kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah. Ia juga menyoroti potensi besar Yogyakarta sebagai pusat kewirausahaan berbasis digital, pertanian modern, dan pendidikan.

Yogyakarta memiliki ekosistem wirausaha yang kuat. Dengan digitalisasi, pertanian modern, dan pendidikan, kita bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” ujar Gibran.

Pada kesempatan tersebut, HIPMI DIY menyoroti potensi ekonomi berbasis pertanian dan energi baru terbarukan. Sejumlah anggotanya telah memulai budidaya jagung dan sorgum sebagai bahan baku etanol, bekerja sama dengan UGM, UMY, dan IPB. Selain itu, anggota HIPMI juga mengembangkan alat pertanian modern seperti traktor, drone pertanian, hingga pupuk organik.

Salah satu isu strategis yang dibahas adalah keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menanggapi pertanyaan dari peserta, Wapres Gibran menegaskan komitmen pemerintah terhadap program tersebut.

“Program MBG tidak mungkin dihentikan di tengah jalan karena ini merupakan proyek strategis nasional dengan anggaran yang terus meningkat,” tegasnya.

Gibran juga menjelaskan sejumlah program unggulan Presiden Prabowo Subianto, termasuk pengembangan marketplace untuk UMKM, sekolah rakyat, serta kurikulum baru seperti kecerdasan buatan (AI) dan coding di sekolah-sekolah.

“Mulai akhir bulan ini, pemerintah akan meluncurkan sekolah rakyat. Kami juga akan menghadirkan pelajaran baru seperti AI, coding, dan matematika yang akan diberikan sejak jenjang TK,” jelasnya.

Ketua Umum HIPMI DIY, Ekawati Rahayu Putri, menyampaikan bahwa tantangan utama pengusaha muda saat ini terletak pada keterbatasan akses terhadap pembiayaan dan pasar.

“Kami memohon arahan dan dukungan pemerintah agar pelaku usaha muda dapat lebih berani mengambil langkah di tengah ketidakpastian global,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa para pengusaha muda membutuhkan dukungan regulasi dan ekosistem bisnis yang adaptif terhadap perubahan zaman, terutama di tengah dinamika geopolitik, fluktuasi harga, dan percepatan teknologi.

“Kami berharap ada panduan konkret dari pemerintah agar kami tetap tangguh dan berani mengambil langkah strategis,” papar: Ekawati.

Acara yang juga dihadiri oleh Syahbenol Hasibuan, Ketua Dewan Pertimbangan KADIN DIY sekaligus Wakil Ketua Umum KADIN DIY, berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Kegiatan diawali dengan sarapan bersama dan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang mempererat komunikasi antara pemerintah dan pengusaha muda.

Sarasehan ditutup dengan penyerahan cinderamata dari BPD HIPMI DIY kepada Wakil Presiden Gibran, serta sesi foto bersama sebagai simbol sinergi dan komitmen bersama dalam membangun perekonomian daerah yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.Pungkas:Ekawati(Tyo)

Media Gathering Biennale Jogja 18: Seni Kontemporer Bertumbuh dari Akar Pengetahuan Lokal

Rabu, 9 Juli 2025 | 12.00–15.00 WIB |Kampoeng Mataraman, Yogyakarta

NASIONALTERKINI– Dalam gelaran Media Gathering Biennale Jogja 18 , Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Alia Swastika, menegaskan bahwa Biennale tahun ini tidak hanya menjadi ajang pameran karya seni semata, melainkan juga ruang perjumpaan antara pengetahuan lokal dan praktik seni kontemporer global.Rabu:09/07/2025 di Kampoeng Mataraman Yogyakarta

Mengusung pendekatan trans-lokal, Biennale 2025 menggandeng seniman dari berbagai negara untuk bekerja langsung dengan masyarakat di desa-desa seperti Panggung Harjo, Bangunjiwo, Tirtonirmolo, hingga Boro di Kulon Progo. Kerja kolaboratif ini bertujuan menggali kembali pengetahuan dan praktik lokal yang nyaris terlupakan akibat dominasi pengetahuan modern.

Kami mengajak seniman untuk menggali ulang pengetahuan-pengetahuan lokal yang selama ini terlupakan atau tertindih. Seni kontemporer tak lagi hanya tentang lukisan dalam bingkai atau patung dari logam, tapi juga mencakup tradisi lokal yang hidup berdampingan dan saling memperkaya dalam konteks kekinian,” ujar Alia.

Alia juga menyebut bahwa tren global kini semakin membuka ruang bagi praktik seni dari komunitas adat dan lokal. Contohnya, Venice Biennale 2024 memberi panggung khusus bagi seniman berlatar komunitas adat. Namun, Biennale Jogja tidak sekadar mengikuti tren. Indonesia, menurut Alia, masih memiliki napas tradisi yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Kita punya Wiwitan, batik tulis, wayang, topeng, seni pertunjukan rakyat, yang semua itu masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di sinilah program Tanah Lelaku berperan: mengartikulasikan pengetahuan warga melalui kolaborasi dengan seniman sebagai fasilitator,” tambahnya.

Salah satu seniman yang terlibat dalam Biennale tahun ini berasal dari Kalidonia Baru. Meski lahir di luar Indonesia, ia memiliki darah Jawa dan kini tengah melakukan riset tentang pohon sukun—yang di Kalidonia Baru menjadi simbol perjuangan dan kebebasan, dibawa oleh leluhurnya dari Jawa saat masa kolonial.

Biennale 2025 menghadirkan seniman dari sedikitnya 12 negara, termasuk Taiwan, Jepang, Singapura, Vietnam, dan Italia. Karena Taman Budaya Yogyakarta sedang dalam proses renovasi, pameran akan tersebar di beberapa titik, seperti Benteng Vredeburg, serta desa-desa mitra program.

Kami juga melanjutkan riset pada isu-isu lokal seperti pengelolaan sampah di Tirtonirmolo, yang sebelumnya menginspirasi karya. Desa ini punya inisiatif lingkungan yang kuat dan kami ingin terus menjalin hubungan dengan narasi tersebut,” ujar Alia.

Biennale Yogyakarta tak hanya menawarkan karya visual, tapi juga proses pembelajaran lintas budaya. Di Dusun Sawit, misalnya, kelompok ibu-ibu yang sebelumnya tak mengenal seni pertunjukan kini telah tampil di berbagai acara dan menjalin kolaborasi dengan seniman internasional.

Inilah bentuk keberlanjutan yang kami harapkan. Bukan proyek datang lalu pergi, tapi hubungan yang terus tumbuh. Seniman dan warga saling mengenal, lalu menciptakan kolaborasi yang hidup meski tanpa campur tangan langsung dari kami,” kata Alia.

Puncak program Biennale Yogyakarta 2025 akan diwujudkan dalam Tanah Lelaku, sebuah rangkaian proyek yang akan digelar di Desa Boro, Panggung Harjo, dan Bangunjiwo mulai 19 September hingga 20 November 2025.

Sementara itu, kurator Greg Sindara menyoroti pentingnya pengetahuan lokal dalam membentuk jati diri masyarakat. Ia mencontohkan Desa Boro di Karangsewu, Kulon Progo, yang dulunya merupakan kawasan rawa tempat mencari ikan, namun berubah sejak industri gula masuk pada abad ke-19.

Pengetahuan yang dulu hadir dalam praktik hidup kini kita angkat kembali melalui seni. Harapannya, masyarakat desa bisa menemukan kembali jati dirinya melalui pembacaan atas sejarah dan lingkungan mereka sendiri,” ungkap Greg.

Biennale Yogyakarta 2025 bukan hanya perayaan seni, tetapi cermin dari dialog mendalam antara lokalitas dan globalitas, antara masa kini dan masa lalu, yang terus hidup dalam denyut kehidupan masyarakat.Pungkas:Greg(Tyo)

Sebelas Selaras di Prambanan Jazz: Harmoni Waktu, Kesetiaan dan Dialog Budaya di Balik Candi

NASIONALTERKINI. Di tengah lanskap megah dan sunyi Candi Prambanan, suara jazz kembali menggema. Sejak sebelas tahun silam, festival ini bukan sekadar sajian musik. Ia adalah peristiwa budaya. Sebuah jembatan yang menyatukan warisan sejarah dengan denyut kontemporer. Dan dalam tema “Sebelas Selaras” tahun ini, Prambanan Jazz Festival semakin mempertegas posisinya sebagai ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini.

Pemerhati seni budaya dan pariwisata, Agus Budi Rahman, menilai Prambanan Jazz bukan hanya panggung pertunjukan, melainkan juga bentuk dialog antara situs arkeologis yang sakral dengan dunia hiburan yang profan. “Apa yang kita saksikan bukan sekadar konser, tapi peristiwa sosiokultural yang merayakan hibriditas budaya,” ujarnya:Senin:07/07/2025 Saat di Temui Di Kantornya di Jalan Panembahan Senopati Gondomanan Yogyakarta

Agus melihat Prambanan bukan hanya sebagai latar diam, melainkan aktor yang menghadirkan pertanyaan kritis: “Apakah kita sedang menyelamatkan warisan, atau membaurkannya dalam pusaran komersial?” Dalam gemuruh suara dan sorot lampu, ada kesunyian yang tetap dijaga. Ada penghormatan yang terbungkus dalam selebrasi.

Kahitna dan Konsistensi Rasa

Satu nama yang selalu hadir dan lekat dengan Prambanan Jazz adalah Kahitna. Sejak tahun pertama hingga kini, kehadiran mereka menjadi simbol kesetiaan di tengah dunia yang terus berubah. Di tengah pergantian tren musik dan selera publik, Kahitna tak pernah absen. Mereka hadir bukan sekadar tampil, tetapi menjaga emosi kolektif penonton, menyanyikan ulang lagu-lagu cinta yang telah berakar di kenangan.

“Sebelas kali tampil, mereka seperti penjaga rasa,” ungkap Agus. “Di tengah arus cepat industri hiburan, Kahitna adalah pengingat bahwa kehadiran yang konsisten itu sangat langka.”

Prambanan Jazz: Antara Hiburan dan Ritual Kebudayaan Baru

Pertanyaannya kini, apakah Prambanan Jazz hanya agenda tahunan? Atau justru ia sudah menjelma menjadi ritual kebudayaan baru? Festival ini seolah menawarkan harmoni antara spiritualitas dan modernitas, antara nostalgia dan kebaruan.

Agus menutup refleksinya dengan sebuah renungan, “Apakah musik hari ini masih punya makna? Ataukah hanya menjadi hiburan yang lewat begitu saja?”

Sebelas tahun bukan sekadar angka. Ia adalah tanda bahwa keberlanjutan masih mungkin di era yang serba cepat. Bahwa dalam denting musik dan getar emosi, manusia masih bisa belajar setia: pada makna, pada akar, dan pada rasa.Pungkas:Agus(Tyo)

Hari Kedua Prambanan Jazz 2025: Kolaborasi Magis dan Nostalgia yang Menggetarkan Candi

NASIONALTERKINI— Prambanan Jazz Festival 2025 kembali memikat ribuan penonton di hari kedua pelaksanaannya. Dengan latar megah Candi Prambanan dan tema tahun ini “Sebelas Selaras”, suasana semakin hangat sejak matahari mulai turun. Penonton dari berbagai daerah rela berdiri berjam-jam demi menyaksikan penampilan spektakuler dari deretan musisi terbaik Indonesia lintas generasi.Sabtu:05/07/2025 di Candi Prambanan Yogyakarta

Sore hari dibuka dengan penuh semangat oleh I’m Jazz A Kids Superband yang menghadirkan bakat-bakat muda penuh potensi. Disusul Komunitas Jogja ’90s yang sukses membawa aura nostalgia lewat lagu-lagu kenangan.

Suasana kian meriah ketika RONY PARULIAN tampil penuh energi, mengajak penonton bernyanyi bersama. Tak kalah menarik, O.M LORENZA dan NASIDARIA menghadirkan sentuhan tradisional dalam balutan aransemen jazz yang segar.

Penonton dibuat terpukau saat TEDDY ADHITYA membawakan lagu-lagu penuh emosi, dilanjut DERE dan MONITA TAHALEA yang memanjakan telinga dengan vokal lembut dan penampilan yang intim.

Malam pun memasuki puncaknya dengan kemunculan para nama besar. PAMUNGKAS tampil penuh karisma, membawa penonton ke dalam dunia lirik-lirik puitisnya. KUNTO AJI menyusul dengan pesan-pesan reflektif yang menggetarkan hati.

Momen istimewa pun hadir lewat kolaborasi memukau RAISA dan BERNADYA, dua penyanyi dengan karakter vokal berbeda namun saling melengkapi di atas panggung. Tak kalah emosional, KLA PROJECT bersama maestro biola HENDRI LAMIRI sukses menciptakan harmoni megah yang membius penonton.

YOVIE & NUNO membawakan lagu-lagu cinta yang sudah menjadi anthem generasi, sementara KAHITNA kembali menyentuh hati lewat lirik-lirik romantis yang tak lekang oleh waktu.

Kejutan pun datang dari kolaborasi spiritual nan menyentuh antara LETT0 dan KIAI KANJENG, yang membawa suasana magis dalam balutan pesan damai dan refleksi batin.

Tak ketinggalan, KARIMATA dan PANBERS menunjukkan keperkasaannya sebagai legenda musik Indonesia, membawa penonton dalam perjalanan waktu melalui karya-karya ikonik mereka.

Hari kedua ditutup dengan penampilan EAJX yang menghadirkan energi segar dan modern, membuktikan bahwa Prambanan Jazz adalah panggung inklusif untuk semua warna musik.

Festival ini bukan hanya soal konser, tapi perayaan kebudayaan, harmoni, dan rasa cinta terhadap musik Indonesia yang dikemas secara elegan di pelataran candi warisan dunia. Prambanan Jazz 2025 hari kedua terbukti menyatukan berbagai generasi dalam satu irama, satu selaras.(Tyo)