Donor Darah di Orang Utan Resto Kolaborasi Sosial dan Pariwisata untuk Semangat Borobudur

NASIONALTERKINI Borobudur, 30 Juli 2025 — Semangat gotong royong dan kepedulian sosial menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali geliat pariwisata di kawasan Borobudur.,Sebuah aksi donor darah digelar di Orang Utan Resto, Jalan Borobudur, Magelang:Rabu:30/07/2025

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini berhasil menarik perhatian puluhan peserta dan pelaku industri pariwisata setempat.

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua PHRI Kabupaten Magelang, Usep Syarifudin, serta Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Magelang, Mulyanto. Dalam kegiatan ini, tercatat 50 peserta ikut serta mendonorkan darahnya.

“Donor darah ini bukan hanya bentuk kepedulian terhadap sesama, tapi juga cara kami mempererat komunitas pelaku pariwisata di Borobudur,” ujar Selly Sagita, owner BS Silver sekaligus pemilik Orang Utan Resto yang menjadi tuan rumah acara.

Selly juga menegaskan bahwa kegiatan serupa akan rutin digelar setiap tiga bulan sekali sebagai wujud kontribusi nyata pelaku pariwisata terhadap masyarakat sekitar. “Dengan aksi sosial seperti ini, kami berharap pariwisata Borobudur bisa bangkit dengan semangat baru—bukan hanya menarik wisatawan, tapi juga menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya,” tambahnya.

Aksi ini menjadi bukti bahwa pemulihan sektor pariwisata tidak hanya bergantung pada promosi destinasi, namun juga lewat kegiatan kolaboratif yang membangun solidaritas dan citra positif kawasan Borobudur di mata wisatawan.Pungkas:Selly(Tyo)

FUNKY INDONESIAN STYLE”DENIM & BATIK”DI FOS PRAWIROTAMAN 2025

NASIONALTERKINI. Yogyakarta, 22–24 Agustus 2025 – Prawirotaman, kawasan ikonik Yogyakarta yang dikenal sebagai melting pot budaya dan kreativitas, kembali menjadi tuan rumah gelaran tahunan Fashion On The Street (FOS) yang kali ini mengusung tema besar: “Funky Indonesian Style – Denim & Batik”.

Acara ini digagas oleh House of LMAR di bawah arahan Lia Mustafa, seorang desainer yang telah lama memperjuangkan pelestarian budaya melalui pendekatan fashion yang modern dan berkelanjutan.

Tahun ini, kami mengangkat denim dan batik sebagai bentuk ekspresi keberanian generasi muda yang tetap menjunjung nilai tradisi. Batik punya proses panjang dan sarat makna, sementara denim mencerminkan semangat bebas dan urban. Keduanya kami satukan dalam harmoni yang funky dan penuh warna,” ujar Lia Mustafa.Selasa:30/07/2025

FOS Prawirotaman 2025 akan melibatkan lebih dari 40 Fashion Designer, dengan partisipasi kreator dari berbagai kota seperti Jakarta, Malang, Bandung, hingga Makassar. Perhelatan ini akan digelar selama Tiga hari, dengan sesi Fashion Show di setiap harinya sore dan malam.

Tak hanya peragaan busana, FOS juga akan diramaikan oleh penampilan seni dan kolaborasi kreatif dari berbagai komunitas. Sejumlah nama besar yang akan tampil tentunya
Pembukaan acara akan dimeriahkan oleh penyanyi Bejo (Indonesia’s Got Talent), dan dilanjutkan dengan pertunjukan tari oleh Maxs Junior Dancer dan masih banyak acara lainya

Sustainable Fashion: Dari Alam, Kembali ke Alam

Salah satu misi penting FOS tahun ini adalah mengangkat isu keberlanjutan (sustainable fashion). Dalam proses kreatifnya, para desainer diajak untuk menggunakan bahan-bahan daur ulang, memanfaatkan kain yang sudah ada, dan mengolahnya kembali menjadi busana baru yang memiliki nilai estetika sekaligus ramah lingkungan.Papar:Lia

Kita prihatin dengan kondisi bumi. Maka kita ingin mengajak masyarakat kembali ke alam—bukan dengan cara menggurui, tapi dengan cara berkarya. Melalui desain ulang, kain-kain lama diberi napas baru. Ini tentang edukasi, tentang cinta lingkungan yang tumbuh dari kesadaran,” jelas Lia.

FOS juga menjadi ajang pembuktian bahwa kain tradisional Indonesia, seperti batik, tenun, dan songket, bisa tampil kontemporer dan relevan dalam panggung mode global.

Prawirotaman: Miniatur Indonesia dalam Satu Runway

Kawasan Prawirotaman tidak hanya menjadi saksi, tapi juga aktor penting dalam transformasi wajah mode Indonesia. Lewat acara ini, Prawirotaman menjelma menjadi runway terbuka yang inklusif dan progresif, mempertemukan wastra lokal dengan energi global.

Prawirotaman bukan hanya tempat, tapi semangat. Di sini, budaya, seni, dan gaya hidup urban berpadu. Ini adalah miniatur Indonesia yang siap menyapa dunia,” tambah Lia.

Fashion On The Street (FOS) Prawirotaman 2025
Tanggal: 22–24 Agustus 2025
Lokasi: Jalan Prawirotaman, Yogyakarta
Terbuka untuk umum

Mari jadi bagian dari perayaan mode yang membanggakan akar budaya Indonesia, sambil menatap masa depan yang lebih hijau dan kreatif,Pungkas:Lia(Tyo)

20 Desainer dan Profesional Mode Prancis Jelajahi Dunia Fashion Yogyakarta

NASIONALTERKINI. Kota budaya Yogyakarta kembali jadi magnet dunia fashion! Kali ini, giliran 20 desainer dan profesional mode dari Prancis yang akan menjelajahi kekayaan wastra dan seni kriya lokal, dalam rangkaian program inkubasi Prancis-Indonesia bertajuk PINTU (Indonesian-French Fashion Incubator).

Rombongan akan tiba di Jogja pada Jumat, 25 Juli 2025, untuk menjalani serangkaian kegiatan seru, mulai dari pertemuan profesional, kunjungan ke rumah-rumah produksi, hingga tur budaya yang memperkenalkan keunikan Jawa.

Destinasi mereka bukan main-main: mulai dari Batik Apip, HS Silver, Tenun Lurik “Kurnia”, Lawe Indonesia, Batik Winotosastoro, hingga Omah Budoyo dan Museum Sonobudoyo masuk dalam daftar eksplorasi. Di setiap titik, para tamu diajak menyelami langsung filosofi dan proses kreatif yang melahirkan karya-karya autentik khas Nusantara.

Sebagai puncaknya, malam keakraban akan digelar di Institut Français Indonesia (IFI) Yogyakarta di Jalan Sagan. Selain sesi networking bersama pelaku fashion lokal, acara ini juga diramaikan peragaan busana dari mahasiswa D4 Desain Mode Kriya Batik ISI Yogyakarta. Karya-karya mereka bakal tampil memesona di hadapan para tamu internasional.Jum’at:25/07/2025

Acara akan dibuka langsung oleh Vincent Degoul, Wakil Direktur IFI, dan Thresia Mareta, pendiri Lakon Indonesia, sebagai bagian dari sambutan hangat untuk menjembatani kolaborasi lintas negara di bidang fashion.

PINTU: Membuka Jalan Mode Prancis-Indonesia

Program PINTU, yang digagas sejak 2022, adalah jembatan kreatif antara Prancis dan Indonesia dalam dunia fashion. Hingga kini, lebih dari 100 desainer muda dari kedua negara telah mendapat dukungan lewat berbagai pelatihan, mentoring, dan kolaborasi internasional.

Program ini merupakan kerja sama berbagai pihak, seperti Institut français Indonesia, Jakarta Fashion Festival (JF3), Lakon Indonesia, Institut français Paris, Sekolah Duperré, dan WSN-Première Classe, serta didukung oleh Pemprov DKI Jakarta dan Kementerian terkait di Indonesia.

Edisi ke-4 PINTU tahun ini berlangsung dari 21 hingga 31 Juli 2025, mencakup kota Jakarta, Solo, dan Yogyakarta. Dalam program ini, para peserta akan menjalani pelatihan intensif, peragaan busana, kunjungan ke studio dan workshop lokal, hingga mentoring bersama talenta Tanah Air yang akan tampil di Paris pada Oktober mendatang.

Menurut François Dabin, Direktur IFI Yogyakarta, kunjungan ke Yogyakarta merupakan momen emas untuk mempertemukan dua dunia—mode dan budaya Jawa—yang bisa membuka inspirasi baru bagi para desainer Prancis. “Kami harap pertemuan ini menjadi titik awal lahirnya kolaborasi kreatif antara pelaku fashion Indonesia dan Prancis di masa depan,” ujarnya.Pungkas:Francois(Tyo)

Festival Kebaya di Candi Prambanan Kebaya Adalah Warisan Budaya

NASIONALTERKINI. Ribuan orang dari berbagai usia memadati kompleks Candi Prambanan pagi ini, dalam sebuah perhelatan istimewa yang tak hanya merayakan Hari Kebaya Nasional ke-2, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia sebagai negara adidaya budaya. Bertajuk Festival Kebaya di Situs Warisan Dunia, acara ini menjadi pertemuan antara dua pilar kebudayaan: warisan budaya tak benda kebaya, dan warisan budaya dunia Candi Prambanan.Kamis:24/07/2025 di Candi Prambanan Yogyakarta

Di tengah suasana penuh semangat budaya dan keanggunan kain tradisi, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D., tokoh budaya sekaligus penggagas berbagai forum kebudayaan internasional, tampil dengan pesan yang menggugah.Jika Indonesia ingin diakui sebagai negara kuat dan adidaya, maka budaya adalah jalannya. Budaya adalah DNA kita,” tegasnya.

Yogyakarta, menurutnya, adalah Ibu Kota Budaya Indonesia. Sejak lebih dari tiga dekade lalu, ia telah menghadirkan berbagai forum kelas dunia seperti International Conference on Culture and Tourism (ICCT), World of Archaeological Wonders (WOW), Dunia Batik, hingga World Culture Forum—semuanya berakar dari Yogyakarta.

Kini, Indonesia telah mengantongi 10 pengakuan UNESCO untuk Warisan Budaya Dunia, termasuk Candi Prambanan, serta 13 untuk Warisan Budaya Tak Benda—di antaranya kebaya, yang diakui sebagai budaya bersama bersama Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand sejak 2022.

Hari ini kita menyatukan keduanya—kebaya dan Prambanan. Tangible dan intangible heritage berpadu dalam satu panggung, sebagai simbol kehormatan dan identitas bangsa,” lanjut Wiendu dengan penuh semangat.

Dalam orasinya, ia juga mengingatkan pentingnya menyeimbangkan pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi.

Pelestarian dan ekonomi jangan dipertentangkan, apalagi didikotomikan. Justru keduanya harus disinergikan. Di situ kekuatan kita, kekuatan Indonesia,” katanya tegas.

Dan di antara kemegahan candi yang menjulang dan angin yang membawa wangi bunga, kalimat penutup Prof. Wiendu pun bergema kuat:

Kebaya adalah wajah kita. Kebaya adalah sikap kita, kehormatan kita, identitas kita. Perempuan Indonesia, bangga berkebaya!”

Festival ini bukan sekadar selebrasi busana tradisi. Ia adalah pernyataan: bahwa Indonesia besar karena budayanya, dan kebaya adalah salah satu simbol kecantikan, keteguhan, serta kebanggaan perempuan Nusantara.Pungkas:Wiendu(Tyo)

PHRI Magelang Dorong Kolaborasi dan Peningkatan Layanan Wisata Borobudur

NASIONALTERKINI. Magelang – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Magelang kembali menggelar pertemuan rutin bulanan yang kali ini berlangsung:Selasa:22/07/2025 di Orang Utan Resto & Cafe di Jln Mayor Kusen No.km 2.4, Pabelan Satu, Pabelan,Mungkid, Magelang, Jawa Tengah Jam:15.00Wib

Acara ini menjadi ajang strategis untuk membangun komunikasi intensif antara pelaku usaha sektor perhotelan dan kuliner dalam rangka memperkuat sinergi serta kolaborasi demi kemajuan pariwisata di kawasan Candi Borobudur—yang selama ini menjadi ikon wisata unggulan nasional maupun internasional.

Ketua PHRI Kabupaten Magelang, Usep Syarifudin mengatakan menyoroti tantangan besar yang dihadapi sektor pariwisata pasca-pandemi dan penyesuaian kebijakan pemerintah. Ia menyebutkan bahwa dalam dua tahun terakhir, kunjungan wisatawan ke Borobudur sempat anjlok hingga 70–80 persen, membuat sektor perhotelan dan kuliner terpukul cukup dalam.

Beberapa waktu lalu, kami benar-benar merasakan dampaknya. Banyak pelaku usaha yang harus merumahkan pegawai bahkan menutup operasionalnya sementara. Namun saat ini, kami mulai melihat sinyal kebangkitan. Adanya kebijakan baru berupa pengaturan kunjungan ke Candi Borobudur-istilahnya bukan lagi pembatasan tetapi pengaturan, memberikan harapan baru bagi para pelaku wisata,” ujar:Usep

Ia menambahkan bahwa transparansi dan kemudahan akses informasi bagi wisatawan merupakan elemen penting dalam mendorong pemulihan. Informasi yang akurat mengenai harga tiket, paket wisata, hingga promosi produk lokal dinilai mampu membentuk persepsi positif terhadap destinasi Borobudur.

Kita butuh sistem komunikasi terpadu. Kami mendorong adanya kolaborasi yang konkret antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan pengelola destinasi agar informasi sampai ke wisatawan dengan cara yang menarik dan efisien,” lanjutnya.

Selain itu, PHRI Magelang juga menggarisbawahi pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan dan sertifikasi profesional di bidang pariwisata. Usep menilai, potensi lokal yang dimiliki Kabupaten Magelang sangat besar namun belum dioptimalkan secara maksimal.

Banyak anak muda di daerah ini memiliki keterampilan di bidang hospitality, namun mereka lebih memilih bekerja di luar kota karena tidak ada jaminan karier di sini. Jika kita bisa menghadirkan pelatihan berbasis sertifikasi sesuai standar industri, tentu mereka bisa berkontribusi membangun kampung halamannya sendiri,” Paparnya

Acara ini pun disambut dengan antusias oleh para peserta. Tercatat sekitar 50 pelaku usaha perhotelan dan restoran dari berbagai penjuru Kabupaten Magelang hadir dan aktif berdiskusi. Mereka berasal dari jaringan hotel berbintang hingga kafe dan restoran lokal yang selama ini menopang geliat ekonomi pariwisata di Borobudur.

Owner Orangutan Resto & Caffee, Selly Sagita, mengungkapkan rasa bahagia dan terhormatnya bisa menjadi tuan rumah kegiatan ini. Menurutnya, tawaran untuk menjadi penyelenggara acara datang secara mendadak, namun ternyata respon dan partisipasi para anggota luar biasa.

Awalnya pertemuan ini belum ada tempat yang pasti karena semua sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Saat berbincang dengan pengurus PHRI, saya spontan menawarkan tempat ini. Tanpa persiapan khusus, ternyata antusiasmenya luar biasa. Banyak yang hadir bahkan di luar ekspektasi,” ujar Selly.

Selly juga mengapresiasi kehadiran tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi terhadap pelestarian budaya dan agama di kawasan Borobudur, seperti sekretaris Wihara Mendut yang turut hadir dan memberikan update kegiatan keagamaan yang berdampak positif pada citra kawasan Borobudur.

Yang membuat saya terharu, beliau bukan anggota PHRI, tapi kami anggap penting untuk diundang karena kontribusinya besar dalam membangun kehidupan sosial-budaya di sekitar Candi. Ini menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor memang sangat mungkin dan perlu terus dijalankan,” tambahnya.

Menurut Selly, kolaborasi semacam ini tidak hanya membangun semangat, tetapi juga menyadarkan pelaku usaha bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Meski tahun ini banyak tantangan dan tekanan, namun semangat untuk bangkit tetap menyala.

Kita semua sempat merasa tertekan, namun dari pertemuan ini saya menyadari bahwa kondisi kita tidak seburuk itu. Justru dari sinilah semangat kolaborasi bisa tumbuh. Mudah-mudahan ke depan, para pengusaha di kawasan Borobudur semakin kompak dan kreatif menghadapi tantangan,” Pungkas:Selly(Tyo)

Gamelan Menjaga Harmoni Jagat: Yogyakarta Gamelan Festival ke-30 Resmi Dibuka

NASIONALTERKINI. Di bawah langit senja yang hangat dan semilir angin Taman Embung Giwangan, denting gamelan membelah sunyi, membuka perayaan 30 tahun Yogyakarta Gamelan Festival (YGF30). Sebuah momentum istimewa, bukan sekadar festival tahunan, tetapi perayaan panjang dedikasi budaya yang terus menyala dalam ruh masyarakat Yogyakarta.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutan yang dibacakan olehDian Lakshmi Pratiwi, Kepala Dinas Kebudayaan DIY
menyampaikan pesan mendalam:Senin:21 07/2025 di Taman Embung Giwangan Yogyakarta

Gamelan adalah lebih dari sekadar perangkat musik. Ia adalah napas kebudayaan,” ujarnya, mengutip mendiang maestro karawitan Sapto Raharjo, yang menyebut gamelan sebagai “an object, the instrument, just the medium”.

Sultan juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada para seniman karawitan, komunitas, kelurahan budaya, serta panitia yang telah menjaga nyala api tradisi hingga sampai pada titik ke-30 tahun ini.

YGF30 bukan hanya merayakan usia, tetapi memperdengarkan simfoni kebersamaan. Lebih dari 400 penabuh gamelan tampil membawakan tiga karya besar: Wirang, Mars YGF, dan sejumlah gending ciptaan Sapto Raharjo, Narto Sabdo, serta Hari Rusli.


Dalam semangat “Kaum Gamelan”, YGF30 menghadirkan wajah baru festival: lebih segar, lebih inklusif Founder YGF30 Ari Wulu, menyebut bahwa gamelan hari ini hadir tidak hanya sebagai pusaka masa lalu, tetapi sebagai medium kreatif yang relevan untuk anak muda.

Ini bukan semata selebrasi tahunan. Ini dedikasi. Kami mempersembahkan diri atas nama semangat komunitas. Gamelan tidak harus berada di panggung agung — ia bisa hidup di ruang-ruang digital, video mapping, hingga musik kontemporer,” ujarnya.

YGF30 menampilkan program-program inovatif, termasuk:

Video Mapping “15 Visual 15 Gending” di Graha Budaya, dengan partisipasi 15 visual artist dari berbagai daerah di Indonesia.

Konser “Aku Anak Muda Main Musik Sekali Itu” pada 24 Juli, menampilkan kolaborasi gamelan dengan elemen musik anak muda.

Instalasi seni dari komunitas Tempuyungan Gunungkidul, yang mengusung isu ruang dan realitas sosial.

Ari Wulu menegaskan bahwa gamelan harus hadir dalam ruang keseharian masyarakat modern, bahkan di tengah tekanan kapitalisasi ruang-ruang budaya.


Gamelan sebagai Jalan “Hamemayu Hayuning Bawono”

Dalam akhir sambutannya, Gubernur DIY menekankan bahwa merawat gamelan bukan hanya soal pelestarian warisan, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab menjaga keseimbangan dunia — lahir dan batin.

Mari kita rawat gamelan bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai jalan untuk hamemayu hayuning bawono — menjaga harmoni jagat, lahir dan batin,” ujarnya, sebelum secara resmi membuka Yogyakarta Gamelan Festival ke-30 dengan membaca basmalah dan salam budaya.

Festival ini adalah suara zaman. Ketika anak muda masih memukul saron, meniup suling, dan menggema bersama gong, maka Jogja tidak akan kehilangan jati diri.


Yogyakarta Gamelan Festival ke-30 berlangsung selama sepekan ke depan di berbagai titik budaya di Yogyakarta. Festival ini adalah bukti: selama gamelan masih bergema, budaya takkan pernah padam.(Tyo)

“Lebih dari Sekadar Destinasi: Merancang Pariwisata yang Penuh Energi, Karakter, dan Makna”

NASIONALTERKINI. Di tengah arus wisata global yang semakin kompetitif, pengelolaan destinasi tak lagi cukup hanya mengandalkan keindahan alam semata. Dibutuhkan pendekatan yang lebih dalam dan menyeluruh: bagaimana sebuah tempat bisa menyentuh hati, menghidupkan pengalaman, dan meninggalkan kesan bermakna bagi siapa pun yang datang. Inilah semangat baru dalam manajemen bisnis dan pemasaran destinasi – merancang wisata yang mengalirkan energi, mencerminkan karakter lokal, dan menyampaikan makna kehidupan.

Semangat ini mewarnai rangkaian forum pelatihan dan diskusi strategis yang digelar di Pendopo Desa Wisata Lopati, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul. Bertempat di jantung kawasan dengan kearifan lokal yang kuat, kegiatan ini menghadirkan pelaku pariwisata, akademisi, dan komunitas kreatif dari berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Diskusi tidak hanya membahas soal promosi digital atau strategi branding semata, tetapi menyelami lebih dalam inti dari sebuah destinasi: getaran emosional yang dirasakan wisatawan, nilai-nilai budaya yang dikemas menjadi pengalaman otentik, serta potensi transformasi batin yang bisa dialami oleh setiap pengunjung.

“Wisata bukan sekadar datang dan melihat, tetapi mengalami dan memahami,” ujar salah satu narasumber dalam sesi diskusi terbuka. Pendekatan ini sangat sejalan dengan tren transformational tourism, yang makin diminati wisatawan global saat ini: wisata yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mencerahkan dan menyadarkan.

Narasumber utama sekaligus Ketua Bidang Objek Daya Tarik Wisata GIPI DIY, Agus Budi Rahman, mengatakan bahwa saat ini Yogyakarta memiliki peluang besar untuk menjadi pusat transformasi pariwisata nasional. “Yogyakarta bukan hanya punya alam dan budaya. Kita punya energi, karakter, dan makna yang hidup dalam keseharian masyarakat. Tantangan kita adalah bagaimana mengemas semua itu dengan narasi yang menyentuh dan strategi manajemen yang tepat,” ujarnya.Senin:21/07/2025

Agus juga menekankan pentingnya menyelaraskan antara nilai budaya lokal dan kebutuhan wisatawan modern. “Pariwisata hari ini harus bergerak dari sekadar atraksi menjadi pengalaman yang menggugah. Kita tidak sedang menjual tempat, tetapi mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri lewat ruang dan cerita yang hidup,” tambahnya.

DIY, khususnya Yogyakarta, memiliki seluruh elemen untuk menjadi pelopor paradigma baru ini. Energi spiritual dari tradisi dan ritus lokal, karakter budaya yang kuat dan hidup, serta narasi kehidupan masyarakat desa yang menyentuh dan otentik, menjadi fondasi yang tak ternilai. Tantangannya kini adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikemas dalam strategi manajemen yang terstruktur, berdampak, dan berkelanjutan.

Dengan semangat kolaboratif antar-pemangku kepentingan, transformasi pengelolaan destinasi berbasis manajemen bisnis dan pemasaran modern ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan wisata, tapi juga meningkatkan nilai ekonomi, kualitas relasi sosial, dan keharmonisan ekologis.

Lebih jauh dari itu, kegiatan ini menjadi refleksi bahwa pariwisata bukan hanya soal “ke mana” seseorang pergi, tetapi “untuk apa” ia melakukan perjalanan. Sebuah ajakan untuk menjadikan setiap destinasi sebagai ruang pembelajaran, pemulihan, dan perjumpaan makna hidup.Tutup:Agus(Tyo)

IWOI dan Jalan Panjang Menuju Verifikasi Membangun Integritas dari Akar Rumput

NASIONALTERKINI. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, di mana informasi melimpah namun kepercayaan publik makin langka, Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) menegaskan pijakan strategisnya: membangun organisasi berbasis integritas, bukan sekadar jumlah. Dalam sebuah pertemuan silaturahmi, konsolidasi, dan koordinasi para Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) se-Jawa Barat, Ketua Umum IWOI, Dr. NR. Icang Rahardian, SH., MH., S.Ak., menyampaikan pesan mendalam: verifikasi bukan sekadar syarat administratif, tetapi sebuah pernyataan eksistensi dan nilai.Sabtu:19/07/2025 di Karawang Jawa Barat

Pertemuan yang digelar di Sekretariat IWOI DPD Karawang, kawasan Jasmine Village, Melbourne Cluster A11, menjadi titik temu lintas pengalaman dan harapan. Hadir Ketua DPD dari Karawang, Sukabumi, Subang, Majalengka, Indramayu, Kota Bekasi, hingga Sumedang. Semua menyatukan semangat, bukan hanya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah menuju verifikasi Dewan Pers, tetapi juga untuk merenungi kembali tujuan dasar keberadaan sebuah organisasi wartawan: menjadi suara nurani publik.

Dalam arahannya, Icang membuka lembaran refleksi perjalanan IWOI selama tujuh tahun terakhir. “Sejak awal, kita menanam benih, memberi pupuk, mencurahkan energi agar organisasi ini tumbuh. Tapi pada akhirnya, setiap pohon hanya akan kuat jika akarnya mencengkeram tanah dengan keyakinan dan kejujuran,” ucap Icang.

Ia menegaskan, tahun ini menjadi momen krusial: fase pendewasaan. Untuk itu, DPD dan DPW diberi ruang untuk memilih langkahnya sendiri. Ini bukan bentuk lepas tangan, tapi uji kedewasaan moral dan organisasi. “Anak yang terlalu lama dininabobokan tak akan pernah tumbuh cerdas. Justru dalam kebebasan dan tantangan, karakter sejati akan muncul,” ujarnya penuh makna.

Organisasi Bukan Sekadar Nama, Tapi Nyawa Kolektif

Dalam narasi yang sarat nilai filosofi, Icang menyindir tajam mereka yang hanya duduk dalam bayang nama besar organisasi tanpa memberi kontribusi nyata. Ia menyebutkan, ketika IWOI terverifikasi Dewan Pers nanti, bukan semua akan bisa ikut serta dalam kebangkitan itu.

“Yang tak berjuang, tak berinvestasi—baik waktu, pikiran, maupun karya—tak akan kami bawa naik dalam gerbong perubahan. Organisasi ini bukan menara gading tempat berlindung, tapi medan perjuangan,” tegasnya.

Dalam pandangan Icang, organisasi profesi adalah cerminan etika kolektif. Maka, IWOI tak bisa lagi menjadi tempat berlindung bagi yang hanya ingin menyandang identitas, tapi abai terhadap substansi. Di sinilah, kata Icang, muncul urgensi verifikasi: sebagai langkah simbolik dan substantif untuk menegaskan bahwa IWOI layak dipercaya, terbuka, dan berorientasi pada kualitas.

“Verifikasi ini bukan tentang surat legalitas. Ini tentang membuktikan bahwa kita layak memanggul amanat jurnalistik, bahwa kita hadir dengan akuntabilitas dan idealisme. Kita bukan hanya ingin eksis, tapi bermartabat,” ujarnya lirih namun menggugah.

Demokrasi dan Jurnalisme: Dua Pilar, Satu Napas

Lebih jauh, Icang menekankan bahwa IWOI bukan sekadar wadah profesi, melainkan barisan intelektual dan moral. “Kami bukan kumpulan pencari berita, tapi para penjaga cahaya di tengah kabut informasi. Kami ada untuk memperkuat demokrasi, menyuarakan yang dibungkam, dan menyalakan lentera bagi publik,” ucapnya.

Visi ini diselaraskan dengan harapannya agar seluruh anggota IWOI dapat merasakan kesejahteraan nyata, bukan hanya dalam bentuk pengakuan, tetapi juga dalam peningkatan kualitas hidup. “Organisasi yang baik bukan yang hanya besar dalam struktur, tetapi yang mampu menyejahterakan anggotanya secara konkret,” imbuhnya.

Icang menargetkan verifikasi Dewan Pers rampung akhir tahun 2025. Tahun 2026 akan menjadi momentum awal untuk gebrakan kesejahteraan: pelatihan, penguatan kompetensi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia jurnalistik.

Karawang: Jejak Sejarah dan Janji Kebangkitan

Tak hanya simbolis, pemilihan Karawang sebagai lokasi konsolidasi membawa makna historis yang dalam. Icang mengingatkan bahwa Karawang adalah tanah para martir perjuangan, tempat tumpah darah para pejuang kemerdekaan.

“Karawang adalah kota pangkal perjuangan. Dari tanah ini, raga dikorbankan demi bangsa. Semangat itulah yang harus kita adopsi dalam perjuangan jurnalistik hari ini. Mengabdi bukan hanya pada berita, tapi pada kebenaran,” Paparnya

Dalam penutupnya, Icang menyampaikan pesan filosofis: bahwa setiap wartawan IWOI adalah pejuang—bukan dengan senjata, tetapi dengan pena. Bukan dengan kekuasaan, tetapi dengan integritas. Dan bahwa sejarah tidak akan mencatat mereka yang diam, tetapi mereka yang bersuara di saat yang lain memilih bungkam.

“Kita tidak sedang membangun organisasi, kita sedang membangun warisan. Warisan nilai, keberanian, dan kebebasan. Dan itu dimulai dari sekarang,” pungkas:Icang(Tyo)

Menko Zulkifli Hasan: KDMP Sinduadi Ideal dan Terbaik di Indonesia

NASIONALTERKINI. Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, melakukan kunjungan langsung ke Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sinduadi, Mlati, Sleman, Sabtu (19/7). Kunjungan ini dilakukan dalam rangka meninjau kesiapan KDMP Sinduadi menjelang peluncuran serentak 80.000 KDMP se-Indonesia oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada Senin, 21 Juli 2025.

KDMP Sinduadi merupakan salah satu dari tiga koperasi yang ditunjuk sebagai model (mockup) dalam program nasional ini di Kabupaten Sleman, bersama KDMP Tamanmartani dan KDMP Sidomulyo.

Dalam peninjauan tersebut, Menko Zulkifli didampingi oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan Bupati Sleman, Harda Kiswaya. Kunjungan dimulai dengan menelusuri berbagai gerai usaha milik KDMP Sinduadi yang terletak di halaman Kantor Kalurahan Sinduadi.Sabtu:19/07/2025

KDMP Sinduadi memiliki beragam unit layanan, seperti gerai jasa, klinik kesehatan, apotek, unit simpan pinjam, koperasi sembako, cold storage, pangkalan gas LPG, gerai kantor pos, dan gerai pupuk subsidi.

“Di sini kami melihat koperasi yang sangat lengkap dan ideal,” ujar Zulkifli usai peninjauan.

Ia menambahkan, KDMP Sinduadi menunjukkan bahwa koperasi tidak sekadar soal uang atau keuntungan, tetapi memiliki nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta interaksi sosial yang kuat—inti dari ekonomi kerakyatan.

“KDMP Sinduadi ini bisa menjadi contoh terbaik, lengkap dengan semua unit pelayanan yang dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Zulkifli juga menyampaikan harapannya agar Gubernur DIY bersedia berdialog secara virtual dengan Presiden Prabowo saat peluncuran KDMP nasional nanti, guna menjelaskan langsung keunggulan dan model pengelolaan KDMP Sinduadi sebagai percontohan nasional.

Sementara itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyatakan optimisme bahwa keberadaan KDMP di Sleman akan terus berkembang dan memberi dampak positif bagi masyarakat.

“Kami bangga karena KDMP Sinduadi mendapat apresiasi langsung dari Menko Pangan. Semoga koperasi ini terus tumbuh dan menginspirasi kalurahan lain di Sleman untuk ikut maju,” Pungkas:Harda.(Tyo)

Perum BULOG Yogyakarta Salurkan 12,8 Ton Beras Bantuan Pangan di Kapanewon Minggir Sleman

NASIONALTERKINI. Perum BULOG Kantor Wilayah (Kanwil) Yogyakarta kembali menyalurkan bantuan pangan berupa beras kepada masyarakat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyaluran kali ini dilaksanakan di Kapanewon Minggir, tepatnya di Kalurahan Sendangsari, Kabupaten Sleman, pada Sabtu 19/07/2025

Program bantuan ini merupakan bagian dari penugasan resmi dari Badan Pangan Nasional kepada Perum BULOG, sebagaimana tercantum dalam Surat Nomor 170/TS.0003/K/7/2025. Bantuan ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan menjaga stabilitas harga beras di tengah tren kenaikan harga bahan pokok di pasaran

Dalam pelaksanaan kali ini, setiap penerima manfaat mendapatkan alokasi beras sebanyak 20 kilogram. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari dua periode penyaluran sekaligus, yaitu untuk alokasi bulan Juni dan Juli 2025, di mana setiap periode memberikan 10 kilogram beras per penerima.

Sebanyak 642 keluarga penerima manfaat tercatat menerima bantuan tersebut, dengan total volume beras yang disalurkan mencapai 12.840 kilogram. Proses distribusi dilakukan dengan melibatkan pemerintah kalurahan, kapanewon, serta aparat keamanan untuk memastikan pelaksanaan berjalan tertib dan tepat sasaran.

Pemimpin Wilayah Perum BULOG Kanwil Yogyakarta, Ninik Setyowati, menegaskan bahwa program bantuan pangan ini bukan hanya bertujuan untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga beras di tingkat konsumen.

Kami terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, aparat setempat, dan para pemangku kepentingan lainnya agar bantuan pangan ini dapat disalurkan secara adil, merata, dan tepat sasaran,” ujar Ninik Setyowati dalam keterangannya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa BULOG berkomitmen menjalankan tugasnya sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan nasional dan memperkuat perlindungan sosial bagi kelompok rentan. Penyaluran bantuan seperti ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat serta memberikan kepastian pasokan bahan pangan pokok, terutama di masa-masa sulit akibat fluktuasi harga dan kondisi ekonomi global.

Program bantuan pangan oleh Perum BULOG akan terus berlanjut di berbagai wilayah lain di Daerah Istimewa Yogyakarta sesuai dengan penjadwalan dan kuota yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.Pungkas:Ninik(Tyo)