Peran AI dalam Jurnalistik Menyatukan Teknologi dan Kesadaran Kemanusiaan

NASIONALTERKINI.Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah memasuki berbagai lini kehidupan, termasuk dunia jurnalistik. Namun, dalam sebuah diskusi bertema “Peran AI dalam Jurnalistik” yang digelar oleh DPD Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia Kabupaten Sleman di Loman Park Hotel Yogyakarta, Kamis (26/6), muncul pandangan menarik yang mengajak insan pers tidak hanya melihat AI sebagai alat teknis, tapi juga dari sisi spiritual dan kemanusiaan.

Dalam acara yang turut dihadiri Anton Sujarwo,Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum yang mewakili Bupati Sleman, hadir pula tiga narasumber utama: Agus Budi Rachman (Sekjen DPD PUTRI DIY), Dr. Mufti Nurlatifah, (Dosen FISIPOL UGM), serta Ketua DPD IWO Sleman, Yupiter Ome.Jum’at:27/06/2025

Salah satu pemikiran mendalam disampaikan oleh Agus Budi Rachman yang menekankan pentingnya keterhubungan dalam era digital ini. “Hari ini, segala sesuatu saling terhubung. Dalam spiritualitas, makna salat adalah keterhubungan—bukan hanya lima kali sehari, tetapi setiap detik, setiap tarikan napas. Jurnalisme pun harus menjadi penghubung, bukan sekadar penyampai informasi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa teknologi AI memang mampu menyampaikan data, namun manusia memiliki kemampuan unik untuk menyampaikan makna. “Inilah perbedaan antara sistem ego dan ekosistem. Dalam ekosistem, kita hidup berdampingan—dengan sesama, alam, dan semesta. Maka, AI seharusnya memperkuat ekosistem, bukan ego individu atau institusi.

Lebih jauh, Agus menjelaskan bahwa kita sedang berada di era transformasi kesadaran. Ia mengaitkan hal tersebut dengan simbolik angka spiritual: “Tahun 2025 jika dijumlahkan, 2+0+2+5 sama dengan 9. Begitu pula tahun 2034 dan 2043. Angka 9 dalam tradisi spiritual adalah simbol akhir sekaligus awal baru. Ini bukan kebetulan, tapi penanda masa transisi besar, termasuk dalam cara kita memahami teknologi.

Agus juga menyoroti pentingnya vibrasi pesan dalam jurnalisme modern. “Kita hidup di era frekuensi, di mana kata-kata, tulisan, dan informasi memiliki getaran energi. AI memang dapat memproduksi konten, tetapi manusialah yang menentukan apakah pesan itu memberi pencerahan atau justru menimbulkan kegelisahan.

Ia pun menutup paparannya dengan mengangkat filosofi Mandala Borobudur sebagai simbol keseimbangan hidup. “Bentuk lingkaran dan kotak pada Borobudur melambangkan harmoni antara arah dan elemen semesta. Jurnalisme masa depan harus seperti bunga teratai—tumbuh indah dari lumpur, menghasilkan cahaya dari keterbatasan.”

Menurut Agus, selama manusia tetap menjadi subjek yang sadar, AI tidak akan menjadi ancaman. “Yang membedakan kita dari mesin adalah rasa, kesadaran, dan koneksi batin. Jika itu masih kita pelihara, maka AI akan menjadi mitra, bukan pengganti,” pungkasnya.

Acara ini menjadi ruang refleksi bagi para jurnalis untuk mengembangkan peran mereka di era digital, tidak hanya sebagai pencari dan penyebar informasi, tetapi juga sebagai penjaga nilai, makna, dan kemanusiaan di tengah derasnya gelombang teknologi.(Tyo)

Dukungan untuk Kawendra Sosok Tepat Lanjutkan Kepemimpinan GEKRAFS Indonesia

NASIONALTERKINI. Yogyakarta, 23 Juni 2025 — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Daerah Istimewa Yogyakarta, Sharif Omela, menyatakan dukungan penuhnya kepada Kawendra Lukistian, S.E., M.Sn., untuk kembali melanjutkan kepemimpinan sebagai Ketua Umum GEKRAFS Indonesia.Ujar:Sharif Saat di temui:Senin:23/06/2025 di Qohwah Kopi di GIK UGM Yogyakarta

Sharif mengatakan bahwa Kawendra adalah figur yang tepat untuk terus memimpin organisasi yang membawahi ribuan pelaku ekonomi kreatif dari 32 provinsi di seluruh Indonesia. “Sebagai Ketua Umum, beliau sangat mampu mengayomi seluruh anggota. Kepemimpinannya terbukti solid dan mampu menjaga kekompakan tanpa gesekan di seluruh DPW maupun DPC,” ujar Sharif.

Selain menjabat sebagai Ketua Umum GEKRAFS Indonesia, Kawendra saat ini juga merupakan Anggota DPR-RI dari Fraksi Gerindra dan menjabat sebagai Wakil Sekretaris Fraksi Gerindra DPR-RI. Ia juga aktif di Komisi VI yang membidangi sektor industri, perdagangan, dan BUMN.

“Posisi beliau di Komisi VI tentu menjadi nilai tambah karena dapat langsung menjembatani kebutuhan sektor ekonomi kreatif dengan kebijakan di tingkat nasional. Menurut saya, tidak ada lagi keraguan terhadap kapasitas dan dedikasi beliau,” lanjut Sharif.

Ia menilai bahwa selama berada di bawah kepemimpinan Kawendra, GEKRAFS berkembang pesat dan berhasil menjaga harmoni di seluruh lini organisasi. “Kami dari DPW DIY merasa nyaman dan sangat terbantu dengan arahan beliau. Harapannya, Indonesia ke depan semakin solid dan ekonomi kreatif benar-benar menjadi pilar penting pembangunan nasional,” tutup Sharif(Aan)

Perkuat Literasi Digital dan Ketahanan Siber Lewat Kolaborasi Internasional Taman Pintar, UGM, dan UiTM Malaysia

NASIONALTERKINI. Yogyakarta, 23 Juni 2025 — Taman Pintar Yogyakarta berperan aktif dalam kolaborasi internasional bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam, Malaysia. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat literasi digital dan ketahanan siber generasi muda di tengah derasnya arus transformasi teknologi global.

Kegiatan ini merupakan bagian dari UGM-IT Mobility Program yang berlangsung pada 22–24 Juni 2025, dengan salah satu agenda utamanya yakni Workshop on Cybersecurity and Digital Literacy Seminar, yang digelar pada Senin, 23 Juni 2025 pukul 08.30–10.00 WIB di Ruang Penemuan Turing, Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (IKE), FMIPA UGM.

Mengusung tema “Cultural Trip and Cybersecurity and Digital Literacy”, acara ini menghadirkan para dosen dan mahasiswa dari Program Studi Elektronika dan Instrumentasi UGM serta delegasi dari UiTM Malaysia. Peserta diajak mendalami isu-isu penting seperti perlindungan data pribadi, etika bermedia sosial, dan urgensi literasi digital di era disrupsi teknologi.

Dua narasumber utama dari UiTM, yakni Dr. Nur Fatihah Binti Fauzi dan Dr. Aznoora Osman, menyampaikan pentingnya pendekatan lintas budaya dalam menghadapi tantangan global di bidang keamanan siber. Mereka menyoroti bahwa tantangan digital tidak mengenal batas negara dan menuntut kolaborasi lintas institusi serta pertukaran ilmu secara aktif.

Ketua Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM, Dr. Wahyono, S.Kom., Ph.D., dalam sambutannya menggarisbawahi pentingnya keterlibatan multidisiplin dan pendekatan edukatif dalam menyikapi isu-isu siber, terutama bagi generasi muda yang tumbuh dalam era internet tanpa batas.

Sementara itu, Agus Budi Rachman, selaku Pengelola Taman Pintar Yogyakarta, turut menekankan pentingnya pembekalan keterampilan digital sejak usia dini.

Literasi digital bukan hanya soal kecakapan teknis, tetapi juga menyangkut kesadaran etis dan tanggung jawab sosial di ruang digital. Program seperti ini merupakan investasi penting dalam membentuk karakter generasi muda yang bijak dan berdaulat di tengah era digital,” ujarnya.

Prof. Drs. Roto, M.Eng., Ph.D., selaku Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan FMIPA UGM, menambahkan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk diplomasi pendidikan internasional yang strategis, sekaligus langkah konkret dalam memperkuat fondasi keamanan digital di kawasan Asia Tenggara.

Keterangan Narasumber:

Dr. Wahyono, S.Kom., Ph.D. – Ketua Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika, FMIPA UGM

Prof. Drs. Roto, M.Eng., Ph.D. – Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan, FMIPA UGM

Agus Budi Rachman – Pengelola Taman Pintar Yogyakarta

Dr. Nur Fatihah Binti Fauzi – Dosen dan Peneliti, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam, Malaysia

Dr. Aznoora Osman – Dosen dan Peneliti, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam, Malaysia(Tyo)

Menggiling Rasa, Menyeduh Cinta Kisah Kopi Klotok dan Warung Desa yang Merawat Jiwa

NASIONALTERKINI. Pagi ini bermula dari ajakan sederhana: kumpul dan ngopi. Tempatnya sudah ditentukan—bukan di kafe kekinian, tapi di warung kopi yang namanya sudah akrab di telinga para penikmat suasana: Kopi Klotok. Siang itu, bukan hanya secangkir kopi yang menghangatkan, tapi juga sebuah perjumpaan yang memberi makna baru tentang hidup dan usaha.

Sosok Sri Handayani yang akrap di panggil Bu Yani pemilik Kopi Klotok dan juga penggagas Kopi Bukan Luwak, menyambut kami dengan wajah teduh penuh wibawa. Dalam setiap gestur dan ucapannya, terpancar ketulusan dan filosofi hidup yang dalam. “Usaha itu nggak perlu muluk-muluk,” ujarnya lembut, “menu cukup sederhana, yang penting kita hadirkan rasa, keramahan, dan niat yang lurus. Jangan hitung-hitungan terlalu rumit. Kalau kita baik kepada sesama, rezeki akan datang dengan sendirinya.”

Falsafah sederhana itu bukan sekadar omongan. Ia hidup dalam setiap sajian dan suasana di warung miliknya. Di samping Ibu Yanni, duduk juga Agus Budi Rachman, seorang mentor pemerhati seni budaya dan pariwisata di Yogyakarta. Ia turut mengamini bahwa tempat seperti Kopi Klotok adalah contoh nyata bagaimana warung sederhana bisa menjadi destinasi wisata yang otentik—menawarkan pengalaman, bukan sekadar produk.

Di tengah laju zaman yang serba cepat, Kopi Klotok mengajak kita untuk menepi sejenak. Mengingatkan kembali bahwa hidup tidak melulu soal kecepatan, tapi tentang rasa, tentang kehadiran. Di sini, kopi bukan sekadar minuman, tapi bagian dari ritual jiwa.Paparnya

Kopi Klotok—dimasak di atas tungku kayu, dalam panci sederhana, hingga mendidih dan mengeluarkan suara klotok-klotok—bukan hanya menyajikan aroma, tapi juga kenangan. Suaranya seolah menjadi mantra, membangkitkan ingatan tentang dapur nenek, suara kayu terbakar, dan tangan ibu yang sibuk di pagi hari.

Namun, kekuatan warung ini tak hanya pada kopinya. Ada sepiring Lodeh Tempe Lombok Ijo, Lodeh Kluwih, Lodeh Terong, dan Sambal Dadak yang semua dibuat dari bahan segar, disiapkan dengan cinta, dan disajikan dengan hati. Makanan-makanan desa ini bukan sekadar hidangan, tapi cerita tentang tanah, musim, dan tangan-tangan pekerja keras di belakangnya.Tutur:Agus

Dan tentu saja, nasi hangat mengepul menjadi pelengkap yang sempurna. Apakah itu nasi putih biasa atau Sego Megono—nasi dengan urap nangka muda dan kelapa parut—semuanya menyatu dalam harmoni rasa dan kesederhanaan yang tulus.Jelas:Agus

Tempat ini bukan sekadar tempat makan, tapi ruang untuk merasakan kembali apa itu “cukup”. Dari arsitektur joglo yang terbuka, aroma tanah setelah hujan, hingga tawa anak-anak yang berlarian di pekarangan—semua mengajak kita kembali ke akar, ke hal-hal yang esensial.

Bagi siapa pun yang ingin membuka usaha kuliner, kisah Ibu Yanni adalah bukti bahwa modal utama bukanlah besar-kecilan tempat, bukan pula canggihnya alat, tapi ketulusan niat dan kejelian membaca rasa manusia. Usaha kuliner yang sukses tak selalu dimulai dari modal besar, tapi dari keberanian menyajikan sesuatu yang jujur dari hati.

Kopi Klotok mengajarkan kita: bahwa dalam kesederhanaan, ada kekuatan. Dalam keaslian, ada nilai. Dan dalam keramahan, tersembunyi kunci rezeki.

Jadi, jika kamu ingin memulai usaha kuliner, jangan tunggu sempurna. Mulailah dari yang kamu punya. Hadirkan rasa, pelihara cinta, dan biarkan waktu yang menyeduh keberhasilanmu.Pungkas:Bu Yani(Tyo)

ARTJOG 2025 Resmi Dibuka, Zulfa Faiz”Ibu Rumah Tangga “yang Menembus Panggung Seni Nasional

NASIONALTERKINI. Yogyakarta – Pameran seni rupa kontemporer paling bergengsi di Indonesia, ARTJOG 2025, resmi dibuka pada Jumat, 20 Juni 2025, di Jogja National Museum. Mengusung tema besar Motif: Amalan, ARTJOG tahun ini menggugah publik untuk melihat seni bukan hanya sebagai karya visual, tetapi sebagai praktik hidup yang mengandung nilai etis, sosial, dan spiritual.

Kurator Hendro Wiyanto menekankan bahwa “Amalan” dalam konteks ini bukan sekadar rutinitas atau kebiasaan, melainkan tindakan sadar seniman dalam berkontribusi bagi kehidupan bersama. Karya seni, menurutnya, adalah “hadiah” yang tidak bisa diukur dengan hitung-hitungan untung rugi, melainkan dengan makna dan kepedulian.

Namun di antara nama-nama besar dan kolektif seni ternama, satu sosok mencuri perhatian: Zulfa Faiz, seorang ibu rumah tangga yang berhasil lolos kurasi dan menampilkan karya dalam pameran ARTJOG 2025. Sebuah pencapaian yang tidak hanya langka, tetapi juga sangat menginspirasi.

“Awalnya saya hanya ingin belajar menggambar. Tapi saat memilih latar untuk potret diri saya, tanpa sengaja saya pakai lukisan pertama saya. Ternyata itu menyentuh—seperti kembali ke titik awal, tapi dengan kesadaran baru.”

Zulfa adalah murid dari Klinik Rupa Dokter Rudolfo, sebuah ruang belajar seni non-formal di Yogyakarta yang membuka jalan bagi siapa pun yang ingin mengekspresikan diri lewat seni, tanpa batasan usia, profesi, atau latar belakang akademik.

Menurut mentor utamanya, R.E. Hartanto, proses Zulfa tidak instan. “Ia belajar sejak 2019. Kami mendampingi bukan hanya dari sisi teknik, tapi juga menggali sisi spiritual dari praktik seni. Bagaimana karya bisa menjadi jalan menemukan diri sendiri,” ujarnya.

Lukisan yang ditampilkan Zulfa adalah potret diri, namun bukan sekadar gambaran fisik. Ia adalah cermin batin, catatan sunyi tentang perjalanan menjadi, tumbuh, dan terus mencari makna. Karyanya menggambarkan bahwa seni bisa lahir dari ruang-ruang paling sederhana—dapur, ruang tamu, hingga sudut rumah yang sepi.

ARTJOG tahun ini memang menampilkan karya-karya dari nama-nama besar seperti kolektif Angsapati, Recycle Experience, Murakabi Movement, ruangrupa, hingga DEVFTO Printmaking Institute. Namun kehadiran Zulfa Faiz menghadirkan narasi lain yang tidak kalah kuat: bahwa seni adalah milik semua orang, termasuk mereka yang sebelumnya tak pernah menyangka akan berdiri di ruang pameran nasional.

Seperti kata Nietzsche, “Kita punya seni agar kita tidak mati karena kebenaran.” Dan di ARTJOG 2025, kebenaran itu hadir dalam bentuk yang paling jujur—lukisan seorang ibu, yang diam-diam sedang menyembuhkan dirinya lewat goresan warna.Pungkas:Zulfa(Tyo)

Zulfa Faiz, Ibu Rumah Tangga yang Mewakili Suara Seni di ARTJOG 2025

NASIONALTERKINI. Yogyakarta – Di ruang-ruang kontemplatif Jogja National Museum, ARTJOG 2025 resmi dibuka—pameran seni tahunan yang menyentuh batin lewat karya visual. Tahun ini, ARTJOG mengangkat tema “Motif : Amalan”. Dalam dunia seni, amalan bisa berupa sikap, pilihan, atau cara seniman berhubungan dengan sekitarnya. Karya-karya di ARTJOG dipandang sebagai bentuk sumbangan bagi kehidupan bersama—bukan soal untung rugi, tapi soal memberi makna.

Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Zulfa Faiz, seorang ibu rumah tangga yang karyanya lolos kurasi dan tampil dalam pameran prestisius ini. Siapa sangka, karya yang ditampilkan berawal dari sesuatu yang sangat personal dan bahkan “tak sengaja.”
“Dalam lukisan potret, harus ada foreground, objek utama, dan background. Waktu itu saya tak sengaja memilih lukisan pertama saya sebagai latar. Tapi justru dari situ, saya sadar—lukisan ini seperti menggambarkan perjalanan saya dalam melukis. Seperti lingkaran penuh yang membawa saya kembali ke titik awal, tapi dengan pandangan yang berbeda.”
— Zulfa Faiz, Jumat, 20 Juni 2025, di Pameran ARTJOG 2025 di Jogja National Museum

Zulfa adalah salah satu murid Klinik Rupa Dokter Rudolfo, sebuah ruang belajar seni non-formal yang membuka jalan bagi mereka yang mencintai seni tanpa harus melalui jalur akademik. Di klinik ini, seni tidak dituntut menjadi profesi, melainkan dijalani sebagai panggilan batin.

ARTJOG kali ini menjadi panggung bagi karya-karya seni hasil proses panjang ujar Zulfa, Zulfa dulu pernah ikut pameran di Sarinah pada tahun 2022 ujar R.E.Hartanto, mentor di Klinik Rupa Dokter Rudolfo, menyebut proses pendampingan berlangsung lebih dari enam bulan dan melibatkan pembinaan teknis sekaligus spiritual.
“Kami tak hanya mengajarkan teknik menggambar, tapi juga mendampingi mereka dalam perjalanan menemukan diri lewat karya,” tuturnya.


Zulfa mulai belajar secara serius sejak 2019 di bawah bimbingan Hartanto. “Awalnya saya menggambar hanya karena senang. Tapi setelah masuk kelas, saya belajar teknik dasar, kesabaran, dan keberanian untuk menatap diri sendiri. Hasilnya ya ini—sebuah potret diri, sekaligus potret perjalanan,” katanya lirih.
Tema besar karya Zulfa tahun ini adalah self-portrait—bukan hanya lukisan wajah, melainkan cermin batin. Baginya, karya itu adalah pembuktian diam-diam: bahwa dirinya masih ada, masih berkarya, dan masih mencintai proses menjadi pelukis.

ARTJOG 2025 kembali menegaskan bahwa seni bukan milik segelintir elite, tetapi milik siapa saja yang jujur menyuarakan isi hati dan berani belajar dari luka. Ia tumbuh di banyak ruang—dalam dapur, di ruang tamu, di studio kecil yang sunyi—dan berbicara dengan bahasa yang pelan tapi menggugah.
Karena, seperti yang pernah dikatakan Nietzsche, “Kita punya seni agar kita tidak mati karena kebenaran.” Dan di Jogja, seni terus menemukan rumahnya—tahun demi tahun, karya demi karya, jiwa demi jiwa. Pungkas:Zulfa(Tyo)

Zulfa Faiz, Ibu Rumah Tangga yang Mewakili Suara Seni di ARTJOG 2025

Foto: Zulfa Faiz “Dengan Karyanya di P.ameran ARTJOG 2025

ASIONALTERKINI. Yogyakarta – Di ruang-ruang kontemplatif Jogja National Museum, ARTJOG 2025 resmi dibuka—pameran seni tahunan yang menyentuh batin lewat karya visual. Tahun ini, ARTJOG mengangkat tema “Amalan”. Dalam dunia seni, amalan bisa berupa sikap, pilihan, atau cara seniman berhubungan dengan sekitarnya. Karya-karya di ARTJOG dipandang sebagai bentuk sumbangan bagi kehidupan bersama—bukan soal untung rugi, tapi soal memberi makna.

Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Zulfa Faiz, seorang ibu rumah tangga yang karyanya lolos kurasi dan tampil dalam pameran prestisius ini. Siapa sangka, karya yang ditampilkan berawal dari sesuatu yang sangat personal dan bahkan “tak sengaja.”
“Lukisan ini lahir 25 tahun lalu—polos, spontan. Tapi justru di sanalah awal perjalanan karya-karya saya dimulai.
— Zulfa Faiz, Jumat, 20 Juni 2025, di Pameran ARTJOG 2025 di Jogja National Museum

Dari lukisan inilah, Zulfa mulai merangkai sebuah narasi yang melingkar. Ia menyebut proses kreatifnya sebagai sebuah lingkaran penuh—kembali ke titik awal, namun dengan cara pandang yang telah ditempa oleh waktu dan pengalaman. Meski ia mengaku baru “beberapa bulan aktif” berkarya, seperti halnya hidup, kedalaman proses seringkali lebih bermakna dibanding panjangnya perjalanan.
Zulfa adalah salah satu murid Klinik Rupa Dokter Rudolfo, sebuah ruang belajar seni non-formal yang membuka jalan bagi mereka yang mencintai seni tanpa harus melalui jalur akademik. Di klinik ini, seni tidak dituntut menjadi profesi, melainkan dijalani sebagai panggilan batin.

“Yang paling nikmat justru ketika seni menjadi hobi yang hidup,“Banyak dari mereka datang dengan kecintaan pada gambar, tapi terbentur batas sosial atau ekonomi. Kami hanya menyediakan ruang untuk mereka tumbuh.”di klinik Dokter Rudolfo
ARTJOG kali ini menjadi panggung bagi karya-karya seni hasil proses panjang ujar Zulfa, Zulfa dulu pernah ikut pameran di Sarinah pada tahun 2022.ujar Hartanto, salah satu mentor di Klinik Rupa, menyebut proses pendampingan berlangsung lebih dari enam bulan dan melibatkan pembinaan teknis sekaligus spiritual.
“Kami tak hanya mengajarkan teknik menggambar, tapi juga mendampingi mereka dalam perjalanan menemukan diri lewat karya,” tuturnya.


Zulfa mulai belajar secara serius sejak 2019 di bawah bimbingan Pak Tanto. “Awalnya saya menggambar hanya karena senang. Tapi setelah masuk kelas, saya belajar teknik dasar, kesabaran, dan keberanian untuk menatap diri sendiri. Hasilnya ya ini—sebuah potret diri, sekaligus potret perjalanan,” katanya lirih.


Tema besar karya Zulfa tahun ini adalah self-portrait—bukan hanya lukisan wajah, melainkan cermin batin. Baginya, karya itu adalah pembuktian diam-diam: bahwa dirinya masih ada, masih berkarya, dan masih mencintai proses menjadi pelukis.

ARTJOG 2025 kembali menegaskan bahwa seni bukan milik segelintir elite, tetapi milik siapa saja yang jujur menyuarakan isi hati dan berani belajar dari luka. Ia tumbuh di banyak ruang—dalam dapur, di ruang tamu, di studio kecil yang sunyi—dan berbicara dengan bahasa yang pelan tapi menggugah.
Karena, seperti yang pernah dikatakan Nietzsche, “Kita punya seni agar kita tidak mati karena kebenaran.” Dan di Jogja, seni terus menemukan rumahnya—tahun demi tahun, karya demi karya, jiwa demi jiwa.Pungkas:Yulfa(Tyo)

Kompetisi Roket Air Tingkat Nasional 2025 Semangat Pelajar Indonesia

Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta Rabu, 18 Juni 2025. Para Peraih Juara Roket Air 2025

NASIONALTERKINI. Yogyakarta –Para peserta Lomba Roket Ais antutias ikuti acara pagi hingga sore hari, Langit cerah dan semangat membara menyelimuti Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Rabu (18/6). Langit Biru Anak Bangsa (Labiaba Indonesia) bekerja sama dengan Taman Pintar Yogyakarta kembali sukses menyelenggarakan Kompetisi Roket Air Tingkat Nasional 2025. Ajang bergengsi ini menjadi panggung inspiratif bagi para pelajar Indonesia untuk unjuk kemampuan dalam bidang sains dan teknologi.

Kompetisi ini merupakan puncak dari seleksi berjenjang yang telah digelar di sembilan provinsi, yakni: Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tengah. Setiap provinsi mengirimkan 20 peserta terbaik, sehingga lebih dari 100 pelajar hadir memadati arena perlombaan, didampingi para guru pembimbing dan penuh semangat kompetitif.

Para Juara yang Sukses Menembus Atmosfer Persaingan

Setelah melalui sesi perakitan roket dan peluncuran yang menegangkan, dewan juri akhirnya menetapkan tiga juara nasional yang berhasil mengorbit prestasi mereka ke puncak podium:

  1. Olivia Indits Harelanti – SMP Negeri 6 Magelang, Jawa Tengah
  2. Syahdan – SMAN 1 Payakumbuh, Sumatera Barat
  3. Adinda Raisya Abidin– SMP Negeri 173 Jakarta, DKI Jakarta

Ketiganya berhak mendapatkan hadiah istimewa berupa perjalanan edukatif ke luar negeri untuk mengikuti Kompetisi Roket Air Internasional di Malaysia 2025. Fasilitas lengkap seperti tiket pesawat pulang-pergi, akomodasi, dan uang saku telah disiapkan melalui kerja sama Labiaba Indonesia dengan mitra internasionalnya.

Kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 WIB, diawali dengan registrasi dan pembukaan resmi oleh Pimpinan Labiaba Indonesia, Sri Siskawati, dan Pimpinan Taman Pintar, Karmila, SE., M.Ec.Dev. Selanjutnya, para peserta memasuki sesi perakitan, istirahat, lalu dua tahap peluncuran roket—bagian yang paling dinantikan dan penuh sorak sorai.

Namun lebih dari sekadar adu teknologi, kompetisi ini juga menjadi ajang pembentukan karakter pelajar: mandiri, sportif, teliti, dan mampu bekerja sama lintas daerah. Peserta tidak hanya belajar secara teknis, tetapi juga saling bertukar pengalaman dan memperluas jaringan pertemanan sebagai calon inovator masa depan.

Melalui kompetisi ini, kami ingin menumbuhkan semangat eksplorasi sains dan membentuk generasi muda Indonesia yang unggul dalam inovasi dan kolaborasi global,” ujar Sri Siskawati, Pimpinan Labiaba Indonesia.

Daftar 20 Besar Peserta Terbaik Kompetisi Roket Air Nasional 2025

No Nama Peserta Sekolah Provinsi

Kompetisi Roket Air 2025 menjadi bukti bahwa pelajar Indonesia tak hanya mampu bermimpi besar, tetapi juga siap meluncurkan masa depan mereka ke orbit global. Pungkas:Sri Siskawati(Tyo)

Kompetisi Roket Air Tingkat Nasional 2025 Semangat Inovasi Anak Bangsa

Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta | Rabu, 18 Juni 2025

NASIONALTERKINI. Langit Biru Anak Bangsa (Labiaba Indonesia) bekerja sama dengan Taman Pintar Yogyakarta kembali menyelenggarakan Kompetisi Roket Air Tingkat Nasional 2025 pada Rabu, 18 Juni 2025, bertempat di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta.

Ajang ini menjadi puncak dari rangkaian kompetisi tingkat provinsi yang telah berlangsung sebelumnya. Tahun ini, sebanyak 9 provinsi turut berpartisipasi: Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tengah. Masing-masing provinsi mengirimkan 20 peserta terbaik yang telah melalui seleksi ketat di daerah masing-masing.

Total lebih dari 100 peserta hadir dengan semangat membara, didampingi para guru pembimbing, untuk menunjukkan keahlian mereka dalam merakit dan meluncurkan roket air. Kompetisi ini tak hanya menjadi ajang adu keterampilan di bidang sains dan teknologi, namun juga ruang untuk menumbuhkan nilai-nilai karakter seperti kemandirian, ketelitian, sportivitas, dan memperluas wawasan antar daerah.

Acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan sesi registrasi peserta, kemudian dilanjutkan dengan seremoni pembukaan oleh Pimpinan Labiaba Indonesia, Sri Siskawati, dan Pimpinan Taman Pintar, Karmila, SE., M.Ec.Dev. Setelah itu, peserta mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari perakitan roket, istirahat, dan dua sesi peluncuran yang dinilai oleh dewan juri.

Tiga peserta terbaik akan mendapatkan penghargaan spesial berupa fasilitas penuh untuk mengikuti Kompetisi Roket Air Internasional di Malaysia 2025, sebagai bagian dari kerja sama internasional yang dijalin Labiaba Indonesia dengan sejumlah negara sahabat.

Melalui kompetisi ini, kami ingin menumbuhkan semangat eksplorasi sains serta membentuk generasi muda Indonesia yang unggul dalam inovasi dan kolaborasi global,” ujar Sri Siskawati, Pimpinan Labiaba Indonesia.

Acara ini menjadi momentum yang sangat inspiratif bagi generasi muda untuk berani bermimpi setinggi langit dan mewujudkannya dengan kreativitas serta kerja keras. Media massa dan masyarakat umum pun diundang untuk menyaksikan langsung semangat luar biasa anak-anak bangsa dalam meraih prestasi dan menjelajahi dunia sains dengan cara yang menyenangkan dan membanggakan

Bikin Sendiri Roket Air, Kamu bisa membuat roket air sederhana sendiri di rumah dengan bahan-bahan bekas yang mudah ditemukan. Selain seru, kegiatan ini juga edukatif dan bisa jadi alternatif belajar STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) yang menyenangkan.Jelasnya

Bahan-Bahan yang Diperlukan:

  1. Botol bekas air mineral 1.500 ml (disarankan yang kokoh seperti AQUA)
  2. Polyfoam (untuk sirip roket)
  3. Karton manila (untuk hidung roket atau nose cone)
  4. Kertas bekas/sampah kertas (sebagai pemberat)
  5. Pensil, penggaris, jangka, spidol (alat bantu desain)
  6. Gunting dan cutter
  7. Double tape & selotip besar

Langkah-Langkah Pembuatan:

  1. Persiapkan botol
    Bersihkan botol dari label dan isi. Buka tutup botol untuk nanti dipasangi pompa angin.
  2. Buat sirip roket
    Potong polyfoam menjadi 4 persegi panjang ukuran ±4×8 cm. Rekatkan secara simetris di sisi botol agar roket stabil saat terbang.
  3. Buat dan pasang hidung roket
    Bentuk karton manila menjadi kerucut, rekatkan, lalu isi bagian dalamnya dengan kertas bekas agar seimbang. Pasang di bagian atas botol dengan selotip besar.
  4. Rekatkan semua bagian
    Pastikan seluruh bagian merekat kuat agar tidak lepas saat peluncuran.

Cara Meluncurkan:

Isi botol dengan sedikit air (±⅓ bagian), pasang pompa angin ke tutup botol (bisa pakai stopper atau adaptor khusus), pompa udara, lalu… siap-siap menyaksikan peluncuran spektakuler ke udara!

Tips Keselamatan:

Lakukan di area terbuka, seperti lapangan atau halaman luas.

Gunakan pelindung mata.

Jangan berdiri di depan roket saat dipompa.

Baik mengikuti kompetisi roket air maupun membuatnya sendiri di rumah, keduanya sama-sama menjadi pengalaman seru yang bisa membangkitkan semangat belajar, kreativitas, dan semangat berinovasi di kalangan generasi muda. Yuk, ajak teman, keluarga, atau murid-muridmu untuk mencoba eksperimen roket air hari ini. Siapa tahu, dari halaman rumahmu, lahir ilmuwan masa depan Indonesia.Pungkas:Sri Siskawati(Tyo)

Prambanan Jazz 2025 Usung Tema”Selaras”

NASIONALTERKINI.Komitmen Artotel Group dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif nasional kembali ditegaskan melalui kolaborasinya sebagai official partner Prambanan Jazz Festival 2025. Dalam konferensi pers yang digelar :Selasa:17/06/2025 di Barley & Barrel, ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta,

Mengusung tema “Selaras”, Prambanan Jazz Festival 2025 tak hanya menjanjikan pertunjukan musik berkelas, tetapi juga menyatukan kekuatan lintas sektor—mulai dari seni visual hingga ekosistem pariwisata kreatif. Salah satu penampilan yang paling dinantikan datang dari musisi legendaris dunia, Kenny G.

“Konsep line-up tahun ini kami kemas dengan pendekatan artistik yang benar-benar selaras. Kolaborasi bersama Artotel merupakan bagian penting dari visi tersebut,” ujar Gentur Handoko, Project Manager Prambanan Jazz 2025

Artotel Group hadir dengan pendekatan khas melalui empat pilar kreatifnya: Stay (akomodasi), Dine (kuliner), Play (hiburan), dan Shop (merchandise). Semuanya terintegrasi dalam platform loyalitas mereka, Artotel Wanderlust.

“Dukungan kami terhadap Prambanan Jazz bukan sekadar urusan logo atau sponsor. Ini adalah bentuk sinergi nyata antara dunia perhotelan, musik, dan kreativitas,” ungkap Evand dari Artotel Wanderlust. “Kami percaya, setiap properti Artotel bisa menjadi pusat ekosistem kreatif di kota masing-masing.”

Festival musik tahunan ini akan digelar pada 4–6 Juli 2025. Artotel Group tak hanya terlibat sebagai mitra penginapan artis dan kru, tapi juga menggelar berbagai aktivitas pra-festival di kota-kota besar lewat unit-unit hotelnya seperti ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta, ARTOTEL TS Surabaya, ARTOTEL Gajahmada Semarang, dan lainnya.

“Hotel kami penuh bahkan sejak jauh hari sebelum festival. Ini bukti bahwa event musik seperti Prambanan Jazz berdampak langsung pada pergerakan ekonomi lokal,” tambah Evand. “Dari musisi, teknisi, pedagang kaki lima, hingga UMKM—semuanya ikut terdampak positif.”

Sebagai bagian dari kolaborasi, Artotel menawarkan paket bundling kamar dengan tiket konser, menyajikan pengalaman eksklusif seperti meet & greet artis, karaoke tematik, hingga aktivitas komunitas lokal. Merchandise edisi khusus Prambanan Jazz juga akan tersedia secara daring dan luring.

Saat ini Artotel Group mengelola lebih dari 100 properti di seluruh Indonesia melalui berbagai brand seperti ARTOTEL, DAFAM, MAXONE, ROOMS INC. KYRIAD, GOLDEN TULIP, dan ROYAL TULIP.

“Dari Aceh sampai Papua, kami membangun hotel dengan semangat yang sama: menjadi ruang hidup yang menghidupkan kota, Artotel Group. “Dan Prambanan Jazz adalah panggung sempurna untuk menyuarakan seni dan budaya Indonesia ke kancah dunia.

Sementara Yusnie Azhari Selaku Director of Sales & Marketing menyampaikan melalui aplikasi Artotel Wanderlust, pelanggan bisa menikmati berbagai keuntungan eksklusif seperti harga kamar spesial, diskon F&B, hingga poin reward. Aplikasi ini tersedia gratis di Android dan iOS.

Dengan 60.000 penonton selama tiga hari penyelenggaraan. Dengan sinergi antara Artotel dan Prambanan Jazz, diharapkan ekosistem kreatif dan pariwisata Tanah Air akan semakin inklusif, kuat, dan berkelanjutan.Papar:Yusnie

“Kolaborasi ini bukan akhir, tapi awal dari lebih banyak inovasi di masa depan. Musik itu menyatukan. Pariwisata itu menggerakkan. Dan kami akan terus hadir untuk merayakan keduanya,Pungkas:Yusnie(Tyo)