
NASIONALTERKINI. Magelang – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Magelang kembali menggelar pertemuan rutin bulanan yang kali ini berlangsung:Selasa:22/07/2025 di Orang Utan Resto & Cafe di Jln Mayor Kusen No.km 2.4, Pabelan Satu, Pabelan,Mungkid, Magelang, Jawa Tengah Jam:15.00Wib
Acara ini menjadi ajang strategis untuk membangun komunikasi intensif antara pelaku usaha sektor perhotelan dan kuliner dalam rangka memperkuat sinergi serta kolaborasi demi kemajuan pariwisata di kawasan Candi Borobudur—yang selama ini menjadi ikon wisata unggulan nasional maupun internasional.

Ketua PHRI Kabupaten Magelang, Usep Syarifudin mengatakan menyoroti tantangan besar yang dihadapi sektor pariwisata pasca-pandemi dan penyesuaian kebijakan pemerintah. Ia menyebutkan bahwa dalam dua tahun terakhir, kunjungan wisatawan ke Borobudur sempat anjlok hingga 70–80 persen, membuat sektor perhotelan dan kuliner terpukul cukup dalam.
Beberapa waktu lalu, kami benar-benar merasakan dampaknya. Banyak pelaku usaha yang harus merumahkan pegawai bahkan menutup operasionalnya sementara. Namun saat ini, kami mulai melihat sinyal kebangkitan. Adanya kebijakan baru berupa pengaturan kunjungan ke Candi Borobudur-istilahnya bukan lagi pembatasan tetapi pengaturan, memberikan harapan baru bagi para pelaku wisata,” ujar:Usep

Ia menambahkan bahwa transparansi dan kemudahan akses informasi bagi wisatawan merupakan elemen penting dalam mendorong pemulihan. Informasi yang akurat mengenai harga tiket, paket wisata, hingga promosi produk lokal dinilai mampu membentuk persepsi positif terhadap destinasi Borobudur.
Kita butuh sistem komunikasi terpadu. Kami mendorong adanya kolaborasi yang konkret antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan pengelola destinasi agar informasi sampai ke wisatawan dengan cara yang menarik dan efisien,” lanjutnya.
Selain itu, PHRI Magelang juga menggarisbawahi pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan dan sertifikasi profesional di bidang pariwisata. Usep menilai, potensi lokal yang dimiliki Kabupaten Magelang sangat besar namun belum dioptimalkan secara maksimal.
Banyak anak muda di daerah ini memiliki keterampilan di bidang hospitality, namun mereka lebih memilih bekerja di luar kota karena tidak ada jaminan karier di sini. Jika kita bisa menghadirkan pelatihan berbasis sertifikasi sesuai standar industri, tentu mereka bisa berkontribusi membangun kampung halamannya sendiri,” Paparnya

Acara ini pun disambut dengan antusias oleh para peserta. Tercatat sekitar 50 pelaku usaha perhotelan dan restoran dari berbagai penjuru Kabupaten Magelang hadir dan aktif berdiskusi. Mereka berasal dari jaringan hotel berbintang hingga kafe dan restoran lokal yang selama ini menopang geliat ekonomi pariwisata di Borobudur.

Owner Orangutan Resto & Caffee, Selly Sagita, mengungkapkan rasa bahagia dan terhormatnya bisa menjadi tuan rumah kegiatan ini. Menurutnya, tawaran untuk menjadi penyelenggara acara datang secara mendadak, namun ternyata respon dan partisipasi para anggota luar biasa.
Awalnya pertemuan ini belum ada tempat yang pasti karena semua sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Saat berbincang dengan pengurus PHRI, saya spontan menawarkan tempat ini. Tanpa persiapan khusus, ternyata antusiasmenya luar biasa. Banyak yang hadir bahkan di luar ekspektasi,” ujar Selly.
Selly juga mengapresiasi kehadiran tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi terhadap pelestarian budaya dan agama di kawasan Borobudur, seperti sekretaris Wihara Mendut yang turut hadir dan memberikan update kegiatan keagamaan yang berdampak positif pada citra kawasan Borobudur.
Yang membuat saya terharu, beliau bukan anggota PHRI, tapi kami anggap penting untuk diundang karena kontribusinya besar dalam membangun kehidupan sosial-budaya di sekitar Candi. Ini menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor memang sangat mungkin dan perlu terus dijalankan,” tambahnya.
Menurut Selly, kolaborasi semacam ini tidak hanya membangun semangat, tetapi juga menyadarkan pelaku usaha bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Meski tahun ini banyak tantangan dan tekanan, namun semangat untuk bangkit tetap menyala.
Kita semua sempat merasa tertekan, namun dari pertemuan ini saya menyadari bahwa kondisi kita tidak seburuk itu. Justru dari sinilah semangat kolaborasi bisa tumbuh. Mudah-mudahan ke depan, para pengusaha di kawasan Borobudur semakin kompak dan kreatif menghadapi tantangan,” Pungkas:Selly(Tyo)
