Cara Loman Park Hotel Merayakan HUT RI Ke 80 di Alam Dasar Laut Labuan Bajo

NASIONALTERKINI. Labuan Bajo – Dalam semangat memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, Loman Park Hotel menghadirkan perayaan yang tak biasa dan sarat makna. Bertempat di destinasi eksotis Labuan Bajo, momen sakral ini diwujudkan dengan mengibarkan Sang Saka Merah Putih di atas kapal Phinisi yang mengarungi jernihnya perairan Flores, dan tak hanya itu—bendera juga dibentangkan di kedalaman laut, di antara gugusan terumbu karang yang memesona.

Founder sekaligus Managing Director Loman Park Hotel, Handono S. Putro, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan lebih dari sekadar simbol perayaan. Ini adalah wujud nyata cinta tanah air, penghargaan terhadap alam, serta representasi dari filosofi wellness yang diusung oleh hotel tersebut.

Kami ingin menjadikan peringatan HUT RI tahun ini sebagai sesuatu yang membekas—bukan hanya secara visual, tapi juga emosional. Mengibarkan bendera di tengah laut dan membentangkannya di bawah permukaan laut adalah cara kami menyatu dengan alam Indonesia yang luar biasa,” ujar Handono.Minggu:17/08/2025 di Loman Park Hotel Yogyakarta

Yang menjadikan momen ini begitu istimewa adalah partisipasi Salah satu share holder kami Loman Park Hotel yang juga seorang penyelam. Ia secara khusus melakukan penyelaman dan membentangkan bendera Loman di dasar laut, di antara kerumunan ikan tropis dan keindahan karang yang masih alami. Pemandangan yang tak hanya menggambarkan semangat nasionalisme, tetapi juga kecintaan terhadap kekayaan bahari Nusantara.

Saat bendera kami mengembang di bawah laut, diapit ikan-ikan cantik dan karang yang elok, rasanya begitu menggetarkan. Ini bukan sekadar merayakan kemerdekaan—ini tentang menyatu dengan alam dan mengingat betapa luar biasanya negeri ini,” tambah Handono.

Sebagai hotel yang dikenal dengan konsep staycation berbasis wellness dan harmoni dengan alam, Loman Park Hotel terus berkomitmen menghadirkan pengalaman yang menyegarkan, sehat, dan penuh nilai budaya. Melalui kegiatan ini, mereka ingin menyampaikan pesan bahwa merayakan kemerdekaan tidak harus selalu dengan kemeriahan di darat—tetapi bisa juga dilakukan dengan cara yang lebih mendalam dan reflektif.

Loman Park Hotel mengajak masyarakat untuk memaknai kemerdekaan dengan lebih sadar: mencintai negeri melalui pelestarian lingkungan, menyatu dengan alam, serta menjaga kesehatan tubuh dan jiwa. Sebuah perayaan yang tidak hanya meninggalkan jejak di permukaan air, tetapi juga di hati setiap orang yang menyaksikannya.Pungkas:Handono(Tyo)

Gamelan Menyapa Dunia di Gerbang Jogja” YIA & Taman Pintar” Rayakan HUT RI ke-80 dengan Harmoni Tradisi

NASIONALTERKINI– Dalam balutan semangat Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Yogyakarta International Airport (YIA) menjelma menjadi panggung budaya yang menggetarkan hati. Bukan dengan parade militer atau kembang api, melainkan lewat denting lembut gamelan yang mengalun syahdu dari ruang kedatangan. Di sinilah, gamelan bukan sekadar musik—ia menjadi bahasa penyambutan, jembatan antarbudaya, dan harmoni dalam arti sesungguhnya.

Berjudul “Harmoni Gamelan”, kegiatan kolaboratif antara YIA dan Taman Pintar ini menjadi salah satu cara unik dan mengesankan dalam memperingati HUT RI ke-80. Tak hanya menampilkan pertunjukan, para tamu—baik yang datang maupun berangkat—diajak ikut serta dalam pertunjukan itu sendiri. Mereka diajak memainkan bendhe, salah satu alat musik dalam gamelan, yang telah diberi nomor nada, dan dipandu langsung oleh tim pemandu dari Taman Pintar. Tidak butuh latihan bertahun-tahun, hanya butuh rasa penasaran dan hati yang terbuka.

Hasilnya? Sebuah gending Jawa yang tercipta dari kolaborasi lintas bangsa, lintas usia, dan lintas latar belakang. Irama yang lahir bukan hanya dari keahlian, tapi dari kebersamaan dan semangat merdeka.

Dari Korea hingga Jerman: Turis Dunia Ikut Menabuh Tradisi

Salah satu momen paling menyentuh datang dari rombongan wisatawan asal Korea Selatan yang baru saja mendarat. Bukannya langsung menuju hotel atau antre bagasi, mereka berhenti, tersenyum, dan tanpa ragu ikut duduk bersama, memegang bendhe, dan memukulnya sesuai arahan. Tidak sedikit dari mereka yang tertawa kecil ketika nadanya meleset, lalu mencoba lagi. Bahkan, beberapa di antara mereka dengan bangga merekam momen tersebut dan mengunggahnya di media sosial.

Seorang turis asal Jerman yang baru pertama kali datang ke Yogyakarta mengatakan, “It feels so warm, so welcoming. I never imagined to be invited like this, to be part of something cultural right at the airport.”

Sementara turis dari Perancis tampak bertanya-tanya tentang filosofi di balik gamelan, yang kemudian dijelaskan oleh pemandu: tentang keselarasan, gotong royong, dan irama yang tidak pernah berebut ruang—sebuah cerminan dari nilai-nilai Jawa yang dalam.

Diplomasi Budaya di Ruang Transit

General Manager YIA, Ruli Artha, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar atraksi, melainkan bentuk diplomasi budaya yang halus namun kuat. “YIA adalah pintu gerbang dunia ke Yogyakarta. Dengan menghadirkan gamelan sebagai penyambut pertama, kami ingin menunjukkan bahwa budaya kami hidup, ramah, dan siap menyapa siapa pun,” ujarnya:Kamis:14/08/2025

Menurutnya, program ini bukan hanya mempercantik terminal, tetapi juga memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi pariwisata budaya kelas dunia. Dalam konsep place branding, ini adalah langkah cerdas: menjadikan budaya sebagai identitas dan pengalaman yang melekat sejak kaki pertama menapak di tanah Jogja.

Taman Pintar: Menyemai Cinta Tradisi Sejak Dini

Agus Rachmanto, pengelola Taman Pintar, menambahkan bahwa inisiatif ini juga bertujuan menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak dini—bukan hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi generasi muda lokal yang terlibat sebagai pemandu atau pengisi acara.

“Ini adalah perayaan kemerdekaan yang menyentuh akar kita—bahwa kita merdeka bukan hanya secara politik, tetapi juga dalam menjaga, mencintai, dan membagikan budaya kita kepada dunia,” jelas Agus. Ia pun menambahkan bahwa kegiatan semacam ini idealnya menjadi agenda rutin, bukan hanya setiap 17 Agustus, tetapi sebagai wajah baru dari bandara: Gamelan di Gerbang Wisata Jogja.

Ketika Bandara Menjadi Panggung, dan Gamelan Menjadi Salam

“Harmoni Gamelan” di YIA bukan sekadar pertunjukan musik tradisional. Ia adalah pengingat bahwa budaya bisa hidup di mana saja—bahkan di tengah lalu lintas internasional dan deru mesin jet. Ia adalah simbol bahwa keterbukaan dan warisan tradisi bisa berjalan beriringan, bahwa menjadi Indonesia di abad ke-21 adalah soal mampu menyapa dunia tanpa kehilangan akar.

Dan bagi siapa pun yang datang atau pergi melalui Yogyakarta, alunan gamelan ini adalah salam pembuka dan penutup—yang tidak hanya terdengar, tapi terasa di hati.Pungkas:Agus:(Tyo)

Wellness dan Budaya Jogja Menata Identitas Pariwisata Baru

NASIONALTERKINI. Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai pusat inovasi pariwisata Indonesia melalui Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025, sebuah perhelatan yang menyatukan konsep kesehatan holistik (wellness), kekayaan budaya, serta gerakan komunitas lokal.

Festival yang akan berlangsung sepanjang November 2025 ini diinisiasi oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY sekaligus Putri Keraton Yogyakarta, dengan dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Tidak hanya menjadi ajang hiburan, JCWF hadir sebagai strategi kebudayaan yang menempatkan wellness sebagai bagian dari identitas baru pariwisata Yogyakarta.

Gerakan Akar Rumput yang Mendunia

GKR Bendara menjelaskan bahwa ide JCWF berangkat dari realitas yang ia temukan dua tahun lalu. “Saya terkejut, ternyata komunitas wellness di Jogja sangat banyak. Tapi sayangnya, mereka belum terkoneksi dengan industri pariwisata,” Tutur GKR Bendara:Senin:11/08/2025 di Ndalem Poenakawan, Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 71, Yogyakarta.

Menurutnya, festival ini bukan program yang dibuat dari atas ke bawah, melainkan gerakan yang tumbuh dari energi komunitas. “Kami ingin menampilkan kekuatan masyarakat, bukan hanya budaya Keraton. Harapannya, festival ini bisa memperpanjang masa tinggal wisatawan dan memberi warna baru bagi pariwisata Indonesia,” tambahnya.

Program Tematik yang Berlapis

JCWF 2025 mengusung konsep Tematik Weekend, di mana setiap Sabtu dan Minggu terakhir di bulan November akan diisi dengan ragam kegiatan yang mempertemukan dimensi kesehatan fisik, mental, dan spiritual:

Workshop & Mini Class — Belajar budaya, mental health, serta prinsip keberlanjutan langsung dari praktisi dan narasumber berpengalaman.

Travel Healing Space — Terapi penyembuhan, meditasi terpandu, dan sesi relaksasi untuk pengunjung.

Marketplace Komunitas — Produk UMKM lokal, kuliner sehat, kerajinan tangan, dan ramuan herbal tradisional.

Instalasi Seni & Musik — Kolaborasi seniman lokal dan internasional menciptakan ruang interaksi artistik.

Tiket Masuk Bernilai Lingkungan

Salah satu terobosan unik JCWF adalah sistem tiket masuk non-uang. Tahun lalu, pengunjung dapat masuk dengan menukarkan 7 botol plastik bersih, dan skema ini akan kembali diberlakukan. Inovasi ini bukan sekadar gimmick, tetapi simbol nyata komitmen festival terhadap keberlanjutan lingkungan dan circular economy.

Kolaborasi Lintas Wilayah

Tahun ini, JCWF masuk dalam kalender resmi Wonderful Indonesia dan akan menjadi ruang kolaborasi antara Keraton Yogyakarta, Keraton Solo, pemerintah daerah, komunitas, dan pelaku industri pariwisata. Dukungan lintas sektor ini memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat gerakan wellness nasional, dengan visi jangka panjang untuk menjadi destinasi berkelas dunia.

Puncak Festival dan Hari Wellness Nasional

Puncak festival akan berlangsung pada 1 November 2025, yang sekaligus akan ditetapkan sebagai Hari Wellness Nasional. Penetapan ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam pengembangan industri wellness di Indonesia, sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional.

“Kami ingin dunia mengenal Jogja bukan hanya karena Candi Prambanan atau gudeg, tapi juga sebagai tempat penyembuhan yang sesungguhnya — bagi tubuh dan jiwa,” Pungkas :GKR Bendara(Tyo)

Meriah dan Penuh Apresiasi Jogja Fashion Week 2025 Resmi Ditutup

NASIONALTERKINI– Perhelatan akbar Jogja Fashion Week (JFW) 2025 resmi ditutup di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, dengan penuh kemeriahan dan apresiasi dari berbagai kalangan. Acara ini menjadi puncak selebrasi dunia fashion tanah air yang mengusung tema “Kreasi Lokal Menembus Global”.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya JFW 2025.

Terima kasih kepada Direktur OJK, perwakilan Bank Indonesia, dan para pimpinan bank yang telah hadir. Juga kepada seluruh peserta pameran yang luar biasa, sponsor, panitia, dan semua pihak yang telah bekerja keras selama empat hari ini,” ujar Yuna:10/08/2025 di Jogja Expo Centerr Yogyakarta

Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada PT More Media Kreasi Indonesia sebagai event organizer JFW 2025, serta Kementerian Perdagangan RI, Dinas Koperasi & UMKM DIY, dan berbagai sponsor seperti Bank Indonesia, Bank BPD DIY, dan Bank Mandiri yang telah mendukung penuh jalannya acara.

Selama empat hari pelaksanaan, JFW 2025 berhasil menghadirkan total 160 desainer dari berbagai daerah di Indonesia. Para desainer memamerkan karya-karya terbaiknya di runway utama dan area pameran. Tak kurang dari 5000 pengunjung hadir setiap harinya, termasuk dari daerah seperti Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sumatera, Jakarta, Bandung, Surabaya, Madiun, Kendal, hingga Solo.

Kehadiran publik figur ternama seperti Ivan Gunawan juga menambah semarak suasana penutupan JFW 2025.

“Jogja bukan hanya kota budaya, tapi juga pusat kreativitas yang mampu bersaing di pasar global,” tambah Yuna dalam penutupan yang berlangsung penuh semangat dan haru.

JFW 2025 tak hanya menjadi ajang fashion show semata, namun juga ruang kolaborasi antara desainer, pelaku UMKM, investor, dan masyarakat. Tahun ini menjadi bukti bahwa potensi lokal Jogja dan Indonesia siap bersaing di ranah internasional.Pungkas:Yuna(Tyo)

Pesona Wastra dan Etika Berbusana Warnai Kolaborasi ERHA Ultimate dan Loman Park Hotel

NASIONALTERKINI. Gelaran bertajuk “Beauty Inside and Outside” di Loman Park Hotel Yogyakarta menjadi panggung harmonisasi antara kecantikan fisik, etika, dan ekspresi budaya melalui busana. Acara ini mempertemukan ERHA Ultimate, klinik perawatan kulit terdepan, dengan Loman Park Hotel dalam sebuah kolaborasi unik yang menggabungkan edukasi kecantikan, etiket berpenampilan, serta peragaan busana muslimah karya desainer lokal.

Perhelatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh dari dunia kecantikan dan perhotelan, seperti Felicia Christania (Area Manager ERHA) dan Maria Rizki Afanti (Kepala Cabang ERHA Ultimate Pakuwon Mall Jogja), serta menampilkan sesi edukatif dan hiburan eksklusif bagi para tamu undangan.

Fashion Show: Karya Elegan Lanny Amborowati Hadirkan Tren Modest 2025–2026

Sorotan utama acara adalah fashion show dari label CHESA by Lanny Amborowati, yang menampilkan koleksi bertema “Trendforecast 2025–2026: STRIVE (Neo Nostalgic)” dan “Artisanal Elegance”. Desain yang ditampilkan memadukan elemen budaya seperti batik tulis dan tenun lurik dengan potongan modern A-line dan H-line yang anggun.Sabtu:09/08/2025

Palet warna hitam, biru, merah, dan broken white mencerminkan kekuatan sekaligus kelembutan perempuan. Setiap busana memuat filosofi mendalam tentang perempuan modern yang berakar pada nilai-nilai tradisional namun tetap relevan di ranah global.

CHESA mencerminkan sosok wanita surgawi—anggun, kuat, dan penuh makna,” ujar Lanny Amborowati dalam sesi wawancara.

“Lelana Jiwa”: Spiritualitas dalam Balutan Wastra Etnik

Tak hanya estetika, sisi spiritualitas juga tampil dalam koleksi “Lelana Jiwa” yang dibawakan Fashion Designer: Iffah M Dewi Sogan Batik by Nea Arafah dalam rangkaian Jogja Fashion Week 2025. Koleksi ini mengangkat kisah perenungan dan kesabaran, terinspirasi dari perjalanan spiritual Abu Bakar Ash-Shiddiq di Gua Tsur.

Menggunakan warna-warna bumi seperti terakota, cokelat, dan hitam, serta siluet longgar yang modest, koleksi ini menciptakan kesan mendalam dan kontemplatif.

Kami ingin mengajak pemakainya percaya bahwa selalu ada keajaiban bagi jiwa yang berserah,” kata Iffah M Dewi.

Pesan Etika dan Keseimbangan dari Dunia Fashion dan Kecantikan

Selain peragaan busana, acara ini juga menampilkan sesi edukasi table manner serta konsultasi kesehatan kulit dari ERHA Ultimate. Klinik ini menonjolkan layanan perawatan personal berbasis konsultasi medis, dengan teknologi seperti skin booster dan laser kombinasi untuk hasil kulit yang sehat dan bercahaya.

Kecantikan sejati bukan hanya fisik, tapi juga sikap dan pilihan gaya berbusana,” ungkap dr. Marizca Chyntia Pranaswari dari ERHA.

Sementara itu, Handono S. Putro, Founder & Managing Director Loman Park Hotel, menegaskan pentingnya etika dalam berpenampilan.

Tren fashion tak boleh melupakan sopan santun. Etika adalah cerminan karakter,” ujarnya.

Harmoni Penampilan dan Kepribadian

Melalui kolaborasi ini, ERHA Ultimate dan Loman Park Hotel menyuarakan pentingnya harmoni antara penampilan luar, kesehatan kulit, dan nilai-nilai etis dalam berbusana. Acara ini bukan hanya merayakan kecantikan, tetapi juga mengajak audiens untuk mengeksplorasi identitas diri melalui wastra, sikap, dan gaya hidup yang berimbang.Pungkas:Handono(Tyo)

CHESA by Lanny Amborowati Tampilkan Elegansi Artistik di Jogja Fashion Week 2025

NASIONALTERKINI. Desainer kenamaan Lanny Amborowati kembali mencuri perhatian publik mode lewat label rancangannya, CHESA, yang tampil memukau di ajang bergengsi Jogja Fashion Week 2025 yang digelar di Jogja Expo Center.

Mengangkat tema “Trendforecast 2025–2026: STRIVE (Neo Nostalgic)” dengan subtema “Artisanal Elegance”, koleksi CHESA kali ini merayakan keindahan warisan budaya lewat perpaduan seni dan kerajinan tangan yang dipresentasikan secara elegan dan kontemporer.Ujar:Lanny:Minggu:08/08/2025

Filosofi CHESA: Damai, Anggun, dan Penuh Kebaikan

Nama CHESA sendiri memiliki makna mendalam: “damai dan tenang”, “wanita surgawi”, yang mencerminkan jiwa penuh kelembutan dan kebaikan. Filosofi ini menjadi napas utama dalam setiap desain Lanny Amborowati. Ia berharap, setiap busana CHESA dapat menghadirkan perubahan positif bagi pemakainya—membangkitkan rasa percaya diri, anggun, dan berkarakter kuat.Jelas:Lanny

Chesa bby Lanny Amborowati”Foto:Widhie

Kolaborasi Tradisi dan Modernitas, Koleksi yang terdiri dari 8 total look ini mengedepankan detail unik hasil craftsmanship lokal: rajutan benang, serta aplikasi payet dan manik-manik yang disusun secara artistik. Ini bukan sekadar tren, melainkan bentuk penghormatan terhadap teknik tradisional yang dikawinkan dengan garis desain modern.Papar:Lanny

Visual koleksi menampilkan gaya Romantic Elegance, dengan perpaduan antara Japanese Look dan European Look. Pilihan material pun mempertegas pesan budaya dan keberlanjutan: katun batik tulis, tenun lurik, cotton, serta tile (tulle), diolah menjadi busana bersiluet A-line dan H-line yang ringan namun berstruktur.

Palet Warna dan Motif yang Penuh Karakter

Warna-warna seperti hitam, biru, merah, kuning, dan broken white menjadi andalan koleksi ini. Sementara dari segi motif, CHESA menampilkan kombinasi batik kontemporer-abstrak serta motif lurik, yang menghadirkan kesan klasik dan modern sekaligus.Ungkap:Lanny

Melalui CHESA, Lanny Amborowati tidak hanya menampilkan karya busana, tetapi juga narasi tentang wanita yang kuat, lembut, dan penuh pesona. Koleksi ini membuktikan bahwa keanggunan bisa hadir melalui harmoni antara warisan budaya dan inovasi desain.Pungkas:Lanny(Tyo)

“Threads of Tomorrow”: Jogja Fashion Week 2025 Resmi Dibuka,20 Tahun Perjalanan Fashion Lokal yang Mendunia

NASIONALTERKINI. Jogja Fashion Week (JFW) 2025 resmi dibuka dengan penuh semangat oleh Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Acara pembukaan berlangsung meriah di Jogja Expo Center, menandai dimulainya perhelatan fashion tahunan yang telah menjadi ikon budaya dan ekonomi kreatif Yogyakarta.

Perkembangan industri fashion, Ia menegaskan bahwa batik dan fashion khas Jogja merupakan identitas budaya sekaligus daya tarik wisata yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan dipromosikan.

Jogja Fashion Week bukan hanya panggung mode, tapi juga wadah untuk memperkuat industri kreatif dan ekonomi lokal,.

20 Tahun Jogja Fashion Week: Perjalanan Penuh Makna

Tahun ini menjadi tonggak penting bagi JFW, yang memasuki usia ke-20. Sejak pertama kali diselenggarakan, JFW telah menjadi ruang ekspresi kreatif para desainer dan pelaku fashion lokal untuk tampil di kancah nasional maupun internasional.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, menyampaikan bahwa dua dekade perjalanan JFW penuh dengan pembelajaran dan pencapaian membanggakan.Ujarnya:Kamis:07/08/2025 di Jogja Expo Center

Jogja Fashion Week telah menjadi tonggak penting dalam sejarah fashion Indonesia. Eksistensinya menunjukkan bahwa kreativitas lokal mampu bersaing di kancah global,” jelas Yuna.

Tema 2025: “Threads of Tomorrow” – Menenun Masa Depan Fashion

Dengan tema “Threads of Tomorrow”, JFW 2025 mengajak publik untuk menengok masa depan fashion yang berakar pada warisan budaya, namun berpijak pada inovasi dan keberlanjutan. Tema ini menggarisbawahi pentingnya penggunaan material ramah lingkungan, teknik pewarnaan alami, dan pemanfaatan teknologi digital dalam desain.

JFW 2025 menjadi platform eksploratif bagi para desainer untuk menghadirkan karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga berkontribusi pada masa depan yang berkelanjutan.

Rangkaian Acara JFW 2025: Lebih dari Sekadar Peragaan Busana

Diselenggarakan pada 7–10 Agustus 2025 di Jogja Expo Center, JFW 2025 menghadirkan rangkaian acara yang semakin beragam dan inklusif:

Pameran Fashion dengan lebih dari 130 tenant terkurasi yang menampilkan produk fashion dan aksesori premium.

Fashion Show menampilkan lebih dari 1.000 karya dari 96 desainer profesional, 12 desainer muda, dan 12 desainer busana anak dalam 10 sesi peragaan.

Guest Designer istimewa hadir setiap hari untuk memperkaya pengalaman penonton.

Acara Pendukung: seminar, talkshow, shop talk, presentasi produk, business matching, hingga kompetisi desainer muda (Young Fashion Designer Competition).

Pre-event: audisi model dan aktivasi kreatif yang bertujuan mengedukasi dan melibatkan masyarakat secara langsung dalam ekosistem fashion.
Bagi masyarakat dan pelaku industri yang ingin berpartisipasi atau mendapatkan informasi lebih lanjut, Jogja Fashion Week 2025 dapat diikuti melalui akun Instagram resmi @jogjafashionweek.id atau situs web jogjafashionweek.id.

Jogja Fashion Week 2025 bukan sekadar ajang fashion, tetapi sebuah perayaan kreativitas, kolaborasi, dan harapan untuk masa depan industri fashion Indonesia yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan mendunia.Pungkas:Yuna(Tyo)

Pelestarian Pusaka Harus Inklusif dan Responsif terhadap Perubahan Zaman

NASIONALTERKINI. Pelestarian pusaka budaya Indonesia harus berlandaskan pada nilai-nilai dasar yang inklusif dan responsif terhadap perubahan zaman. Kesadaran kolektif dari setiap wilayah menjadi kunci dalam menjaga warisan budaya agar tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat modern.

Hal ini disampaikan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) XI Tahun 2025 di Hotel Tentrem, Kota Yogyakarta, Rabu (6/8/2025).

Dengan tema “Resiliensi Kawasan Cagar Budaya Guna Mendorong Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan,” Kota Yogyakarta menjadi tuan rumah kegiatan yang berlangsung dari 3 hingga 9 Agustus 2025. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 50 delegasi dari berbagai daerah anggota JKPI.

Merawat Pusaka Bukan Sekadar Melestarikan Masa Lalu

Dalam sambutannya, Sri Sultan HB X menekankan bahwa pelestarian pusaka tidak hanya soal merawat objek fisik semata, tetapi juga menjaga nilai-nilai hidup yang terkandung di dalamnya.

Kita bukan hanya penjaga pusaka, tetapi juga penggerak yang mampu menempatkan warisan budaya sebagai sumber daya nilai untuk membentuk masa depan kota yang cerdas, beretika, dan kontekstual,” tegas Sri Sultan.

Ia menambahkan, tantangan pelestarian pusaka saat ini jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Perubahan sosial, budaya, ekonomi, serta pola hidup manusia terjadi sangat cepat, menuntut pendekatan yang lebih adaptif dan terbuka terhadap dinamika.

Rakernas JKPI ini bukan hanya ajang bertukar praktik baik, melainkan ruang refleksi yang jujur dan mendalam tentang relevansi pendekatan kita selama ini,” ujarnya.

Sri Sultan juga mengajak seluruh peserta Rakernas untuk memastikan bahwa pelestarian pusaka bukan hanya simbolis, administratif, atau seremonial, melainkan benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat. Menurutnya, kota pusaka harus menjadi kota yang hidup, bermakna, dan menghidupi warganya.

Peran Strategis JKPI dalam Menjaga Warisan Budaya

Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, menyampaikan bahwa setiap anggota JKPI memiliki karakteristik unik yang menjadi kekuatan untuk saling bertukar pengetahuan, advokasi, perlindungan pusaka, hingga pengusulan warisan budaya ke tingkat nasional dan internasional.

Mari terus perkuat kerja sama dan dukungan antaranggota dalam melestarikan budaya. Ini adalah langkah penting agar warisan budaya kita berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Banjarmasin sekaligus Ketua Presidium JKPI, H. Muhammad Yamin HR, mengapresiasi peran aktif JKPI dalam menjaga pusaka sejarah, khususnya di tengah tekanan pembangunan yang semakin masif.

Forum ini menjadi ruang saling berbagi, memperkuat, dan mendorong program strategis keanggotaan. Setiap daerah yang memiliki pusaka wajib merawat dan mengangkat nilainya,” katanya.

Yamin juga mencontohkan Yogyakarta sebagai kota dengan sejarah panjang dalam merawat pusaka dalam berbagai bentuk, yang tidak hanya berdampak budaya, tetapi juga ekonomi.

Menuju Kota Pusaka sebagai Pilar Masa Depan

Wali Kota Semarang, Agustina Wijeng Pramestu,menyampaikan bahwa Rakernas JKPI XI ini merupakan bagian dari upaya besar dalam melestarikan warisan budaya nenek moyang. Ia meyakini bahwa pusaka tradisi dan kebudayaan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Kami juga mengucapkan terima kasih dan selamat kepada Kota Yogyakarta yang telah menjadi tuan rumah dengan suasana yang berbudaya dan hangat,”Pungkas:Agustina(Tyo)

Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam Rakernas JKPI 2025 Jadi Momentum Merawat Warisan Budaya Nusantara

NASIONALTERKINI. Dalam suasana yang hangat dan penuh makna, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam (Gusti Putri) menyampaikan apresiasi dan harapannya terhadap penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2025, yang berlangsung di Yogyakarta dan dihadiri oleh 56 bupati dan wali kota dari berbagai penjuru Nusantara.

“Saya merasa sangat senang dan mendukung penuh terselenggaranya Rakernas ini. Ini bukan sekadar pertemuan rutin, tetapi momen penting untuk menyatukan komitmen bersama dalam merawat pusaka budaya kita,”Tutur: Gusti Putri.Selasa:05/08/2025 di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta

Sebagai tuan rumah, Yogyakarta tampil bukan hanya sebagai lokasi pelaksanaan acara, melainkan sebagai simbol hidup kota pusaka yang terus berdenyut dengan nilai-nilai warisan leluhur. “Yogyakarta adalah kota peradaban. Warisan budaya di sini hidup berdampingan dengan masyarakatnya. Ini yang harus kita rawat dan teruskan,” tambah beliau.

Dalam sesi wawancara, Gusti Putri menegaskan posisi Yogyakarta sebagai kota heritage yang memiliki kekayaan adat, tradisi, dan filosofi hidup yang mendalam. “Warisan seperti ini tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Perlu pendampingan yang aktif—baik dari pemerintah, komunitas, maupun generasi muda,” Paparnya.

Sebagai bagian dari dukungan dan partisipasi aktif dalam rangkaian kegiatan JKPI, Gusti Putri turut menghadiri “Pasar Malam Indonesia” yang digelar di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta. Kehadiran beliau menjadi simbol penting atas dukungan terhadap aktivitas budaya rakyat yang hidup dan membumi. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini, karena di sinilah denyut kebudayaan itu terasa nyata—hidup dalam suasana yang akrab, hangat, dan menyatu dengan masyarakat,” ungkapnya

Menurut beliau, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui dokumentasi atau acara seremoni, tetapi harus menyentuh kehidupan sehari-hari. “Budaya harus diuri-uri, dikembangkan, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Itu kuncinya,” ujar Gusti Putri.

Rakernas JKPI 2025 ini, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa kota-kota pusaka di seluruh Indonesia memerlukan semangat kolektif untuk menjaga identitas dan nilai-nilai luhur yang diwariskan. “Kita semua, dari Sabang sampai Merauke, harus bersama-sama punya semangat untuk merawat kota-kota pusaka. Ini bukan tugas satu dua orang, tapi tanggung jawab kita bersama.”

Menutup pernyataannya, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam menyampaikan harapan agar Rakernas JKPI 2025 menjadi pijakan strategis untuk arah pelestarian kota pusaka ke depan. “Semoga acara ini membawa semangat baru dan memperkuat kesadaran kita terhadap pentingnya menjaga warisan budaya yang kita miliki,” Pungkas:Gusti Putri.(Tyo)

Yogyakarta Tuan Rumah Spogomi World Cup 2025 Festival Memungut Sampah Bernuansa Budaya dan Wellness

NASIONALTERKINI. Kota Yogyakarta kembali menunjukkan wajahnya sebagai kota budaya yang tak hanya hidup dalam narasi sejarah, namun juga tumbuh dalam semangat zaman. Pada Minggu, 24 Agustus 2025 mendatang, Alun-alun Kidul akan menjadi panggung bagi sebuah gerakan yang sederhana namun sarat makna: Japan Foundation Spogomi World Cup 2025 Indonesia Qualifier. Sebuah kompetisi kebersihan yang telah berkembang menjadi simbol kepedulian global terhadap lingkungan, sekaligus daya tarik pariwisata yang segar dan inspiratif.

Acara ini merupakan bagian dari Road to Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF), yang diprakarsai oleh GKR Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui festival ini, Yogyakarta mengajak masyarakat dan wisatawan untuk menengok kembali nilai-nilai dasar yang membentuk keindahan sebuah kota: kebersihan, kebersamaan, dan kesadaran ekologis.

Kebersihan lingkungan adalah fondasi dari pariwisata berkelanjutan. Spogomi bukan hanya tentang memungut sampah, tapi soal membangun kesadaran bersama dalam menjaga bumi dan memperkuat citra Jogja sebagai destinasi wellness yang holistik,Tutur: GKR Bendara.Sabtu:02/08/2025

Mengangkat Sampah Menjadi Simbol Keberadaban

Nama “Spogomi” berasal dari gabungan kata “sport” dan “gomi” (bahasa Jepang untuk ‘sampah’). Di balik kompetisi ini, tersimpan filosofi mendalam: bahwa tindakan sekecil memungut sampah adalah bentuk cinta kepada bumi, dan cinta itu layak dirayakan dalam sebuah festival.

Para peserta akan beradu kecepatan dan ketelitian dalam mengumpulkan serta memilah sampah di ruang publik, mengubah kegiatan yang dulu dianggap remeh menjadi ajang prestisius bertaraf internasional. Pemenang dari tahap kualifikasi ini akan mewakili Indonesia dalam ajang Spogomi World Cup 2025 di Jepang, yang akan digelar pada 27–31 Oktober mendatang.

Dukungan juga datang dari Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo yang melihat kegiatan ini sejalan dengan Gerakan Merdeka Sampah dan misi JCWF untuk mengangkat tujuh dimensi wellness, salah satunya dimensi lingkungan.

Apa yang kita buang, mencerminkan cara kita memandang dunia. Maka menjaga kebersihan bukan sekadar urusan teknis, melainkan bentuk dari peradaban,” ujarnya.

Dari Festival Sampah ke Festival Kehidupan

Spogomi bukanlah acara tunggal. Di bawah naungan Road to JCWF, masyarakat akan diajak untuk merayakan kehidupan dalam segala bentuknya—dari gerakan fisik hingga spiritualitas ekologis. Seluruh rangkaian acara terbuka untuk umum dan dirancang sebagai ajang inklusif bagi semua kalangan.

Rangkaian kegiatan mencakup:

Senam Massal bersama ribuan pelajar DIY, membangun energi positif sejak pagi

Kompetisi Coswalk dari komunitas pencinta budaya Jepang

Heritage Ride mengelilingi Kotagede & Sumbu Filosofi, menyusuri warisan peradaban

Bazar UMKM lokal, mengangkat produk khas Jogja sebagai kekayaan identitas daerah

Festival Olahraga ASEAN & peringatan ASEAN Sports Day

Pameran komunitas lingkungan dan edukasi pengelolaan sampah

Doorprize & hiburan rakyat, memperkuat ikatan sosial dan kebahagiaan bersama

Mengajak Semua Turut Hadir dan Bergerak

Kegiatan ini adalah kesempatan untuk berkumpul, berbagi, dan bergerak bersama dalam satu semangat: menjaga bumi sambil menikmati kehidupan. Dengan mengikuti acara ini, masyarakat tidak hanya berpartisipasi dalam lomba, namun turut mengukir perubahan. Yogyakarta ingin menunjukkan bahwa pariwisata bukan hanya tentang datang dan menikmati, tetapi juga tentang memberi makna dan meninggalkan jejak kebaikan.

Bagi Anda yang rindu akan bentuk pariwisata yang menyentuh hati dan menyegarkan jiwa, ini adalah momen yang tidak boleh dilewatkan. Ajak keluarga, sahabat, dan komunitas Anda. Mari kita berkumpul, bergembira, dan bersama-sama menanamkan kesadaran bahwa setiap tindakan kecil untuk bumi adalah bentuk penghormatan pada kehidupan itu sendiri.

📞 Informasi & Pendaftaran:
Sekretariat JCWF
WhatsApp: +62 896-1951-1169 / +62 811-2552-008
Email: bppd.diy@gmail.com
Alamat: TIC, Jl. Malioboro No.16, Kota Yogyakarta

“Kita mungkin tidak bisa membersihkan dunia dalam sehari, tapi kita bisa memulai hari ini—dengan satu langkah, satu tindakan, dan satu semangat bersama.Pungkas:Hasto(Tyo)