foto=Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program pengabdian kepada masyarakat mendorong optimalisasi pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan

NASIONALTERKINI.COM. GUNUNGKIDUL. Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program pengabdian kepada masyarakat mendorong optimalisasi pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan dengan sistem agroforestri untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus kesejahteraan petani di sekitar kawasan hutan.Sabtu=27/06/2026

Ketua Tim Pengabdian UGM, Dr. Silvi Nur Oktalina, S.Hut., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi masih banyaknya lahan di bawah tegakan hutan yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

“Kami melihat lahan di bawah tegakan jati memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui sistem agroforestri. Dengan mengintegrasikan tanaman pertanian tanpa mengganggu fungsi ekologis hutan, masyarakat dapat memperoleh sumber pendapatan tambahan yang berkelanjutan,” ujar Dr. Silvi.

Program pengabdian tersebut dilaksanakan di Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (KTHKm) Sedyo Lestari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kelompok ini mengelola kawasan hutan negara seluas 29 hektare yang didominasi tegakan jati (Tectona grandis). Selama ini, sebagian besar lahan di bawah tegakan masih dibiarkan kosong atau hanya ditumbuhi vegetasi alami tanpa pengelolaan yang terarah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari skema Community Development berbasis riset aplikatif dan pemberdayaan masyarakat dengan kolaborator internasional tahun 2026 yang dikoordinasikan Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM.

Dalam pelaksanaannya, UGM menggandeng Dr. Russell Warman dari University of Tasmania, Australia, sebagai kolaborator internasional sekaligus narasumber pada salah satu pelatihan. Kolaborasi tersebut juga berlanjut dalam kegiatan penelitian bersama antara Dr. Russell Warman dan Dr. Silvi Nur Oktalina.

Berbagai pelatihan diberikan kepada anggota KTHKm Sedyo Lestari, mulai dari pengelolaan hutan berbasis agroforestri, budidaya serai wangi dan empon-empon, hingga pembuatan demplot tanaman serai wangi dan kunyit.

Peserta juga mendapatkan pelatihan pengolahan serai wangi menjadi minyak atsiri beserta produk turunannya, seperti sabun, pestisida alami, dan pengharum ruangan. Sementara itu, hasil panen kunyit diolah menjadi minuman kesehatan siap dipasarkan agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Untuk mendukung keberlanjutan usaha masyarakat, tim pengabdian menyerahkan bantuan berupa alat destilator berkapasitas 100 kilogram, mesin pencacah empon-empon, serta mesin penepung. Bantuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah hasil panen sehingga tidak lagi hanya dijual dalam bentuk segar.

Ketua KTHKm Sedyo Lestari, Sardi, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan UGM. Menurutnya, program tersebut memberikan pengetahuan sekaligus dukungan nyata bagi pengembangan usaha kelompok.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada UGM atas pendampingan dan bantuan alat yang diberikan. Sebagai bentuk komitmen, kami juga menyiapkan dana pendamping sebesar Rp5 juta untuk pembangunan rumah destilator serai wangi, sementara tenaga kerjanya dilakukan secara gotong royong oleh anggota kelompok,” kata Sardi.

Dr. Silvi berharap program ini mampu memperkuat Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) bidang agroforestri dan empon-empon di KTHKm Sedyo Lestari sehingga mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil hutan bukan kayu serta mendorong kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan secara berkelanjutan:Pungkas:Dr. Silvi(Tyo)

Redaksi=

terkininasional@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *