NASIONALTERKINI.Sore langit Yogyakarta berwarna keemasan ketika aroma kopi lembut memenuhi ruangan Narasa Resto & Coffee. Di sudut yang teduh, Tazbir Abdullah duduk dengan ketenangan khasnya—sederhana, hangat, dan ramah kepada siapa saja yang menyapa.Jumat:05/12/2025

Bagi Tazbir, Narasa bukan sekadar tempat pertemuan. Sore di kafe ini adalah ruang jeda, ruang bernapas, tempat pikiran kembali jernih di tengah kesibukannya menjaga denyut kebudayaan Yogyakarta.

“Tempat ini selalu memberi ruang untuk berpikir jernih,” ujarnya sambil menyesap kopi hangat.

Obrolan Mengalir: Dari Secangkir Kopi hingga Penjaga Budaya

Tanpa jeda panjang, cerita mulai mengalir. Dengan nada kalem, Tazbir berkisah tentang amanah besar yang ia pikul tahun ini sebagai Ketua Tim Seleksi Anugerah Kebudayaan DIY 2025. Ia memimpin 15 anggota tim penilai yang ditetapkan oleh Dinas Kebudayaan DIY—tugas yang menuntut ketelitian, empati, dan hati yang luas.

Namun, di balik semua itu, Tazbir selalu kembali pada satu hal: orang-orang yang bekerja dalam diam demi menjaga budaya Yogyakarta tetap hidup.

“Ketika kami menilai, kami tidak hanya melihat karya,” katanya. “Kami melihat laku hidup mereka, ketulusannya, dan napas budaya yang mereka rawat.”

Ia sesekali menatap keluar jendela, seolah memanggil kembali wajah-wajah para perawat budaya yang tahun ini mendapat kesempatan menerima anugerah.

Menjaga Akurasi, Menjaga Amanah

Di tengah obrolan santai, Tazbir menyinggung fokus penting tahun ini: perluasan cakupan anugerah. Tidak hanya ranah budaya sebagai inti, tetapi juga pariwisata, pendidikan, pertanian, dan sektor-sektor yang memperkuat karakter Yogyakarta secara menyeluruh.

“Budaya itu tidak berdiri sendiri,” tuturnya. “Ia meresap dalam pariwisata, dalam pendidikan, dalam cara masyarakat bekerja dan berdaya.”

Dalam proses itu, ada satu kategori yang paling mendapat perhatian: Anugerah Maha Bakti Budaya.

Salah satu penerima tahun ini adalah GKBRAA Paku Alam (Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam), yang lebih dikenal sebagai Gusti Putri.
Beliau menerima Anugrah Maha Bakti Budaya untuk bidang Pelestari Seni Batik.

“Beliau memiliki pengabdian luar biasa,” ujar Tazbir. “Laku budaya beliau nyata, sekaligus menjadi teladan bagi masyarakat.”

Narasa Menjadi Saksi Kisah Penjaga Nilai

Sore bergerak perlahan menuju malam, tetapi cerita Tazbir semakin dalam. Obrolan berubah menjadi perjalanan batin: tentang pelestari seni tradisi, para penggerak literasi, perajin batik yang menyalakan harapan dari desa-desa, hingga komunitas akar rumput yang menjaga denyut budaya dan pariwisata.

Tazbir menerangkan bagaimana tim menelaah rekam jejak para calon penerima, hingga terpilih 28 penerima Anugerah Kebudayaan DIY 2025 yang diumumkan pada 1 Desember di Bangsal Kepatihan.

“Setiap nama membawa cerita panjang,” katanya. “Dan setiap cerita itulah yang menjaga Yogyakarta tetap hidup.”

Seorang pelayan datang mengantarkan kopi berikutnya, dan Tazbir tersenyum kecil.
“Begini ini yang saya suka dari Narasa,” ujarnya. “Tempatnya sederhana, tapi membuat siapa pun merasa dekat—seperti budaya kita.”

Pesan Sore yang Menetap

Menjelang pulang, Tazbir meninggalkan pesan yang terasa mengendap lama:

“Selama budaya dijaga, Yogyakarta tidak akan kehilangan jati dirinya.”

Sore di Narasa menjadi saksi percakapan sederhana namun penuh makna. Dari secangkir kopi dan sosok bersahaja bernama Tazbir Abdullah, kita diingatkan bahwa budaya tidak hanya hidup di panggung besar—melainkan juga di percakapan kecil, di ruang-ruang tenang, dan di hati orang-orang yang merawatnya tanpa pamrih.Tutup:Tazbir(Tyo)

Redaksi=terkininasional@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *