
NASIONALTERKINI. YOGYAKARTA — Semangat menggiatkan industri fashion di Yogyakarta kembali digaungkan melalui gelaran Funky Indonesian Style yang berlangsung di Grand Diamond Hotel, Sabtu :17/01/2026 jam 16.00Wib
Acara ini menghadirkan kolaborasi unik antara denim dan batik sebagai representasi gaya Indonesia yang dinamis, modern, dan tetap berakar pada budaya.
Owner House of L’MAR sekaligus desainer kondang, Lia Mustafa, mengatakan bahwa acara ini digelar sebagai ruang edukasi sekaligus apresiasi terhadap proses kreatif para desainer. Menurutnya, fashion tidak sekadar tentang busana yang dikenakan, tetapi juga tentang perjalanan panjang di balik sebuah karya.
“Acara ini kami gelar dalam rangka menggiatkan industri fashion di Jogja. Kami ingin mensosialisasikan bahwa seorang desainer berkarya itu melalui proses yang runut, dari A sampai Z. Proses inilah yang ingin kami perkenalkan kepada masyarakat,” ujar Lia Mustafa.

Mengusung konsep Funky Indonesian Style, Lia menjelaskan bahwa kolaborasi denim dan batik sebenarnya pernah ditampilkan sebelumnya, namun kali ini hadir dengan pendekatan yang berbeda. Acara diawali dengan pameran yang mengangkat cerita di balik karya, dilanjutkan talk show secara langsung, hingga fashion show.
“Konsepnya berbeda. Di sini diawali dengan pameran bercerita, lalu talk show live, dan harapannya juga terjadi penjualan. Meski produk yang ditampilkan terbatas, Alhamdulillah setiap libur atau long weekend minatnya cukup besar,” jelasnya.
Lia juga menambahkan bahwa pameran tidak hanya berlangsung saat acara, namun dibuka setiap hari. Masyarakat yang belum sempat hadir dapat mengunjungi langsung House of L’MAR atau mengikuti aktivitas pameran melalui Instagram dan WhatsApp L’MAR yang secara rutin menampilkan siaran langsung serta paparan karya.

Sementara itu, fashion designer Tulin Prasetyo turut memukau dengan koleksi bertema Imlek yang terinspirasi dari lampion merah sebagai ikon perayaan Tahun Baru Cina. Koleksi tersebut sarat makna keberuntungan, kemakmuran, dan harapan baru.
“Tema yang saya angkat adalah lampion merah, ikon Imlek. Saya menampilkan enam koleksi utama ditambah satu koleksi tambahan. Semuanya terinspirasi dari simbol-simbol Imlek yang penuh filosofi,” ujar Tulin.
Tulin menegaskan bahwa fashion seharusnya tidak hanya menjadi tampilan visual semata, tetapi juga dikemas dengan konsep dan cerita yang kuat. Dalam koleksi ini, ia mengombinasikan batik dan denim sebagai representasi gaya fashion Indonesia masa kini.
“Saya mengusung batik dan denim karena ini adalah Indonesian fashion style. Harapannya, ke depan fashion Indonesia, khususnya di Jogja, semakin berkembang dan bergerak ke arah slow fashion untuk menggantikan fast fashion,” katanya.
Gelaran Funky Indonesian Style turut menampilkan karya dari sejumlah desainer, di antaranya Tony Winata, Tulin Prasetyo, dan Andrean NR. Acara ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk manajemen Grand Diamond Hotel dan Lions Club Yogyakarta Puspita Mataram.
Dengan konsep edukatif, kolaboratif, dan berorientasi pada proses kreatif, acara ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem fashion lokal sekaligus menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap karya desainer Indonesia.Pungkas:Lia(Tyo)
Redaksi=terkininasional@gmail.com
