
foto:peserta saat workshop batik pewarnaan alam dalam rangka jcwf 2025, yogyakarta
NASIONALTERKINI. Batik, sebagai warisan budaya Indonesia yang kaya, kini semakin relevan dengan gaya hidup modern yang berorientasi pada keberlanjutan dan kesehatan. Penggunaan pewarnaan alami pada batik bukan hanya sekadar tren, tetapi juga sebuah langkah penting dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip eco-living ke dalam praktik wellness sehari-hari.Rabu:12/11/2025

Pewarna alami untuk batik diperoleh dari berbagai sumber daya alam seperti tumbuhan (daun indigo, kulit kayu soga, akar mengkudu), hewan (kutu daun), dan mineral (tanah liat). Penggunaan bahan-bahan ini mengurangi ketergantungan pada pewarna sintetis yang seringkali mengandung bahan kimia berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dengan memilih batik yang diwarnai secara alami, seseorang turut berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan mengurangi dampak negatif industri tekstil.
Batik dengan pewarna alami memiliki keunggulan dalam hal kesehatan. Pewarna sintetis dapat menyebabkan iritasi kulit, alergi, dan masalah kesehatan lainnya. Sementara itu, pewarna alami cenderung lebih lembut di kulit dan memiliki sifat hypoallergenic. Beberapa pewarna alami bahkan memiliki manfaat terapeutik. Misalnya, indigo dikenal memiliki sifat anti-inflamasi dan anti-bakteri.
Gaya hidup eco-living adalah tentang membuat pilihan yang sadar dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan kesehatan. Memilih batik dengan pewarna alami adalah bagian dari gaya hidup ini. Ini adalah cara untuk menghargai alam, mendukung praktik produksi yang berkelanjutan, dan meningkatkan kesejahteraan pribadi.
Hubungan antara penggunaan pewarnaan alami pada batik dan gaya eco-living sangat erat. Keduanya merupakan bagian integral dari konsep wellness yang holistik. Dengan memilih batik yang diwarnai secara alami, kita tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga berkontribusi pada lingkungan yang lebih sehat dan kesejahteraan pribadi yang lebih baik.
Oleh karena itu Indonesian Fashion Chamber (IFC) chapter Yogyakarta merasa perlu mengambil peran dalam JCWF 2025 dengan menyelenggarakan workshop tentang batik pewarnaan alam. Disainer-disainer busana berbasis materi alami seperti Tanti Syarief (Tiray Batik), Iffah M. Dewi (Sogan Batik), Dewi Roesji, dan Lanny Amborowati mengambil peran dalam kegiatan tersebut. Dan nampaknya respon positif ditunjukkan oleh kaum muda. Tidak saja dari dalam negeri, tetapi juga peserta dari mancanegara. Ini seperti menandai bahwa wellness sebagai cara hidup sudah mulai disadari oleh banyak kalangan. Harmonisasi hubungan manusia dan unsur-unsur alam dalam mencapai keseimbangan kehidupan secara universal nampaknya sudah menjadi harapan yang bisa diwujudkan secara berkelanjutan. (widhie)
