Dokter Spesialis THT Alumni UGM Kenalkan Potensi Nyamplung sebagai Sumber Energi Terbarukan dan Bahan Herbal

NASIONALTERKINI.COM.Yogyakarta. Dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) sekaligus pegiat lingkungan, dr. Sofyan Suri Susilo Hadi, mengajak masyarakat lebih mengenal potensi pohon nyamplung (Calophyllum inophyllum) sebagai tanaman yang bermanfaat bagi lingkungan, energi terbarukan, hingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan herbal.
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengatakan, perubahan iklim dan meningkatnya emisi karbon membutuhkan solusi yang ramah lingkungan. Salah satunya melalui penanaman pohon nyamplung yang mampu menyerap karbon sekaligus memiliki nilai ekonomi.Ujarnya:Kamis:16/07/2026

“Nyamplung merupakan tanaman yang sudah dikenal sejak zaman Majapahit. Selain memiliki nilai sejarah, pohon ini juga mampu menyerap karbon dalam jumlah besar sehingga membantu menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Menurut dr. Sofyan, hampir seluruh bagian pohon nyamplung dapat dimanfaatkan. Bijinya menghasilkan minyak nabati yang dapat diolah menjadi biodiesel, bioavtur, maupun bahan bakar ramah lingkungan lainnya. Sementara kulit buahnya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan campuran biomassa untuk proses co-firing pada pembangkit listrik.
Di bidang kesehatan, minyak nyamplung juga sedang banyak diteliti. Sejumlah penelitian laboratorium menunjukkan minyak ini memiliki potensi membantu mempercepat penyembuhan luka serta mengandung senyawa yang dapat berfungsi sebagai pelindung kulit dari paparan sinar ultraviolet (UV), sehingga berpeluang dikembangkan menjadi bahan tabir surya alami.
Sebagai dokter, dr. Sofyan juga membagikan pengalaman pribadinya menggunakan minyak nyamplung untuk membantu mengatasi wasir (hemoroid) luar. Namun ia menegaskan bahwa pengalaman tersebut bukan bukti ilmiah dan tidak dapat dijadikan acuan pengobatan.
“Saya merasakan manfaatnya secara pribadi, tetapi ini hanya pengalaman pribadi, bukan hasil uji klinis pada manusia. Karena itu masyarakat tidak boleh menganggapnya sebagai terapi yang sudah terbukti secara medis,” jelasnya.
Ia menambahkan, hingga kini sebagian besar penelitian mengenai minyak nyamplung masih berada pada tahap laboratorium dan uji praklinis. Untuk dapat digunakan sebagai obat atau produk kesehatan yang diakui secara ilmiah, masih diperlukan penelitian lanjutan dan uji klinis pada manusia.
Karena itu, dr. Sofyan berharap perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan dunia kesehatan dapat bersama-sama mengembangkan riset mengenai tanaman nyamplung.
“Indonesia memiliki sumber daya nyamplung yang sangat besar. Jika dikembangkan secara serius, tanaman ini dapat mendukung ketahanan energi sekaligus membuka peluang lahirnya produk herbal asli Indonesia yang bernilai ekonomi tinggi,” katanya.
Nyamplung dan Empat Unsur Kehidupan
Selain manfaat ilmiah, dr. Sofyan juga menyampaikan pandangan filosofis bahwa pohon nyamplung mampu menjaga keseimbangan empat unsur kehidupan.
Udara. Nyamplung membantu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen sehingga berkontribusi terhadap kualitas udara. Menurutnya, menanam pohon merupakan bentuk investasi lingkungan yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Air. Nyamplung memiliki sistem perakaran yang membantu menjaga cadangan air tanah. Berdasarkan pengamatannya di wilayah Ponjong, Gunungkidul, terdapat pohon nyamplung berusia ratusan tahun yang di sekitarnya muncul sumber mata air dan dimanfaatkan warga sebagai sumur.
Tanah. Pohon ini membantu menjaga kesuburan tanah, mengurangi risiko erosi di daratan, serta membantu menahan abrasi di kawasan pantai, seperti di sekitar Parangkusumo.
Energi. Biji nyamplung dapat diolah menjadi berbagai jenis bioenergi, seperti biodiesel, bioavtur, dan berpotensi menjadi bahan baku bio-LPG pada masa mendatang.
Menurut dr. Sofyan, keseimbangan udara, air, tanah, dan energi menjadi fondasi keberlangsungan kehidupan manusia.
“Mari bersama-sama menanam nyamplung untuk masa depan bangsa. Tugas manusia sebagai khalifah di bumi bukan merusaknya, tetapi menjaga, memperbaiki, dan memperindahnya. Dalam falsafah Jawa dikenal sebagai Hamemayu Hayuning Bawana,” Pungkas:Sofyan(Tyo)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com
