Skip to content
Nasional Terkini

Nasional Terkini

Sajian Berita Terkini Dan Terpercaya

  • Uncategorized
    • Uncategorized
  • Daerah
  • Bisnis
  • Pariwisata
    • Umum
      • Checkout
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Seni Budaya
  • Liifestyle
  • Fashion
  • Kuliner
  • Uncategorized
  • Toggle search form
  • Air Hujan, Sumber Kehidupan yang Menyatukan: GKR Bendara Apresiasi Komunitas Banyu Bening Nasional
  • Grand Final Dimas Diajeng Jogja 2025 Apresiasi Generasi Hebat dan Harapan untuk Masa Depan Yogyakarta Daerah
  • Jogja Fashion Week 2025 Ivan Gunawan Tampil Memukau di “Clamorous NIGHT” Fashion
  • Loman Hadirkan Wellness Budaya di HUT Ke:1 Taman Embung Giwangan Umum
  • Kirab Budaya dan 160 Angkringan Gratis Meriahkan HUT ke-80 Sri Sultan HB X di Jantung Kota Yogyakarta Nasional
  • Posko Angkutan Lebaran YIA Ditutup Lebih dari 250 Ribu Penumpang Terlayani Selama 18 Hari Bisnis
  • Wabup Sleman Ajak Jaga Persatuan Lewat Dialog Kerukunan Umat Beragama Daerah
  • Temukan Wellness Tourism yang Kental Aroma Budaya di Hotel Tentrem Yogyakarta Nasional

“Interregnum Prancis: Saat yang Lama Belum Mati dan yang Baru Belum Lahir”

Posted on September 13, 2025September 13, 2025 By adminterkini Tak ada komentar pada “Interregnum Prancis: Saat yang Lama Belum Mati dan yang Baru Belum Lahir”

NASIONALTERKINI. Opini: jalan-jalan Prancis, ribuan orang menutup akses, menghentikan arus transportasi, melumpuhkan denyut ekonomi kota. Slogan yang terdengar keras adalah satu: “Blokir Semua”. Namun, lebih dari sekadar protes atas kebijakan pemerintah, aksi ini menjadi cermin kegelisahan kolektif—tentang masa depan, tentang representasi, bahkan tentang makna demokrasi itu sendiri.

Prancis adalah negeri dengan warisan panjang revolusi. Namun setiap kali rakyat turun ke jalan, pertanyaan reflektif yang muncul selalu sama: apakah ini tanda lahirnya tatanan baru, atau sekadar lingkaran protes yang berulang?

  1. Krisis Legitimasi dan Kehampaan Representasi

Teori politik Jürgen Habermas tentang krisis legitimasi membantu kita membaca gejolak ini. Di mata banyak warga, institusi demokrasi tidak lagi mampu merepresentasikan aspirasi. Parlemen dianggap jauh, elit politik semakin terasing, dan kebijakan publik kerap terasa melayani logika kapitalisme global dibanding kebutuhan rakyat sehari-hari.

Di sini, blokade jalan dan lumpuhnya kota menjadi bukan hanya strategi, tetapi simbol: rakyat mengambil kembali ruang publik sebagai forum deliberasi alternatif. Namun refleksinya—apakah forum jalanan mampu menggantikan institusi formal? Atau justru mempercepat runtuhnya kepercayaan sosial?

  1. Blokade sebagai Eksperimen Demokrasi Radikal

Jika menggunakan kerangka Manuel Castells tentang network society, aksi ini bisa dibaca sebagai eksperimen demokrasi radikal. Gerakan massa tidak lagi bergantung pada serikat formal atau partai, tetapi tumbuh dari jejaring digital dan solidaritas spontan.

Di sisi lain, blokade juga dapat dipahami sebagai upaya rakyat “menghentikan waktu.” Seakan-akan dengan melumpuhkan mobilitas kota, mereka menunda laju kapitalisme yang terlalu cepat menggerus ruang sosial. Pertanyaan kontemplatifnya: apakah jeda ini hanya sekejap, atau bisa melahirkan visi alternatif tentang kehidupan bersama?

  1. Antara Revolusi Baru dan Kekacauan Tanpa Ujung

Antonio Gramsci menyebut masa krisis sebagai interregnum—masa ketika yang lama belum mati, dan yang baru belum lahir. Prancis kini berada dalam interregnum itu. Blokade bisa menjadi awal lahirnya tatanan politik baru, tetapi bisa pula membuka ruang bagi populisme sayap kanan yang menawarkan kepastian semu di tengah kekacauan.

Di sinilah sisi provokatifnya: apakah rakyat sedang menyiapkan Revolusi Prancis abad ke-21, atau sekadar mengundang regresi politik menuju otoritarianisme?

  1. Melampaui Dualitas Lama

Michel Foucault mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak hanya ada di tangan negara, melainkan menyebar dalam relasi sehari-hari. Dengan demikian, “Blokir Semua” bukan sekadar rakyat melawan negara, tetapi rakyat merebut kembali hak mengatur ritme kota, ruang, dan mobilitas.

Refleksi yang lebih dalam mengajak kita melampaui dualitas lama: rakyat versus negara, kapitalisme versus sosialisme. Masa depan Prancis mungkin tidak lagi ditentukan oleh ideologi klasik, tetapi oleh keberanian menciptakan narasi baru: solidaritas ekologis, distribusi keadilan, dan redefinisi tentang apa arti kemajuan.

  1. Penutup: Pertaruhan Masa Depan

Aksi “Blokir Semua” bukan hanya perlawanan, tetapi pertaruhan masa depan Prancis. Ia membuka ruang refleksi: apakah Prancis akan kembali menjadi pionir demokrasi partisipatif yang segar, atau tenggelam dalam spiral protes dan kelelahan sosial?

Pertanyaan mendasarnya tetap menggantung:
👉 Apakah blokade ini tanda kelahiran, atau sekadar jeritan terakhir sebelum runtuhnya imajinasi politik?

Mungkin di situlah kekuatan kontemplatifnya—bahwa di tengah jalan yang terblokir, ada ruang kosong yang menunggu diisi: ruang untuk menata ulang arah bangsa.

Pikiran Pembaca oleh Agus Budi Rachmanto, M.Sc
Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada
Member of Asia Pacific Network of Science & Technology Centres (ASPAC)

OPINI PEMBACA

Navigasi pos

Previous Post: Warna-Warni Spektakuler di SPECTRUM SEPTEMBER Sleman City Hall
Next Post: Geopolitik dan Ekonomi Global 2025: Saat Dunia Membutuhkan Kesadaran Baru

Related Posts

  • Dialog atau Konfrontasi? Pilihan Global yang Tak Bisa Lagi Ditunda OPINI PEMBACA
  • Gen Z Nepal dan Krisis Demokrasi: Dari Perlawanan Politik ke Transmutasi Sosial OPINI PEMBACA
  • Menembus Krisis, Menemukan Kesadaran: Jalan Transformasi Indonesia di Asia-Pasifik (2025–2043) OPINI PEMBACA
  • Indonesia sebagai Subjek Kosmopolitik Membaca Pidato Prabowo di Sidang Umum PBB ke-80 Nasional
  • Menyatu Dalam Hening Menemukan Diri di Kaki Gunung Slamet Daerah
  • Nang, Neng, Nong Harmoni Gamelan dan Kebersamaan dalam Nada Gundul-Gundul Pacul OPINI PEMBACA

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Selly Sagita: Perhiasan Perak Bukan Sekadar Logam, tetapi Hasil Proses Panjang Bernilai Tinggi
  • Lantik 10 Pejabat, Menaker Tekankan Penguatan K3 dan Tata Kelola yang Akuntabel
  • Bukti Pendidikan dan Inklusi Nyata, SMP Labschool UNY Yogyakarta Raih Akreditasi A
  • Gelaran “Helai Masa: Bala Maharddhika Show”
  • JKP Jadi Instrumen Strategis Pelindungan dan Pengembangan Karier Pekerja

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter mengenai Hello world!

Archives

  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025

Categories

  • Bisnis
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Fashion
  • HOTEL
  • Kuliner
  • Liifestyle
  • Nasional
  • Olah Raga
  • OPINI PEMBACA
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Seni Budaya
  • Umum
  • Uncategorized
  • Wellness
  • Jogja Tak Pernah Sepi, Tapi Apakah Pemerintah dan Industri Sudah Satu Hati? Ekonomi
  • Road to JCWF 2025 GKR Bendara Tekankan Pentingnya Gaya Hidup Sehat dan Kolaborasi Nasional
  • Pengurus IWOI dan Ratusan Jamaah Masjid Al-Huda Antarkan Fatma Udin Berangkat Haji Daerah
  • May Day Sleman 2026: Hujan Tak Surutkan Semangat, Ribuan Pekerja Rayakan Solidaritas Daerah
  • IFC Ikut Ngisi Workshop Kreatif di JCWF 2025 Fashion
  • Bekali Diri Menuju Ramadan 1447 H, Loman Park Hotel dan Hayfala Gelar Tarhib Akbar Daerah
  • Kopi Rempah hingga Sate Kronyos Meriahkan Pasar Lawas Kotagede Daerah
  • “Kartini Tanpa Batas” Generasi Muda Meriahkan Hari Kartini Fashion

Copyright © 2026 Nasional Terkini.

Powered by PressBook News Dark theme