
NASIONALTERKINI.COM. Ada kota-kota yang tumbuh karena kebetulan sejarah, dan ada kota yang tumbuh karena keberanian mengambil arah baru. Yogyakarta, sepanjang perjalanannya, selalu memilih jalan yang kedua.Selasa:18/08/2026
Kota ini tidak pernah sekadar menunggu zaman berubah, ia selalu ikut menuliskan perubahan itu sendiri, dengan caranya yang khas: pelan, penuh makna, dan tak pernah kehilangan akar budayanya.
Hari ini, Yogyakarta kembali berada di persimpangan itu. Bukan persimpangan jalan raya, melainkan persimpangan masa depan pariwisatanya. Dan di tengah persimpangan itu, berdiri sebuah bandara bernama Yogyakarta International Airport, atau yang lebih akrab disebut YIA.
Sebuah gerbang yang menyimpan potensi jauh lebih besar dari sekadar landasan pacu dan menara kontrol.
Sebab sebuah bandara internasional bukanlah tujuan akhir. Ia adalah awal dari sebuah perjalanan panjang, yang keberhasilannya ditentukan oleh apa yang terjadi setelah pesawat mendarat. Ke mana wisatawan itu melangkah? Siapa yang menyambut mereka? Destinasi mana yang siap menerima arus kedatangan baru ini?
Dan yang tak kalah penting, apakah seluruh pemangku kepentingan pariwisata Yogyakarta sudah bergerak dalam arah yang sama, atau justru masih berjalan sendiri-sendiri, dengan langkah yang tak saling menyapa?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak lahirnya sebuah forum besar:
Koordinasi Strategis Kepariwisataan, dengan tema “Kolaborasi Ekosistem YIA: Menghubungkan Destinasi dan Pelaku Pariwisata.” Sebuah forum yang diinisiasi oleh DPD Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia, atau PUTRI, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai tindak lanjut dari Rapat Koordinasi Strategi Kepariwisataan yang telah lebih dulu digelar.
Forum ini akan berlangsung pada Senin, 24 Agustus 2026, pukul 13.30 WIB hingga selesai, bertempat di Phytagoras Hall, Taman Pintar, Yogyakarta.
sebuah lokasi yang menariknya, juga sarat makna. Taman Pintar, tempat di mana pengetahuan dan rasa ingin tahu dirawat sejak dini, menjadi saksi dari sebuah forum yang juga lahir dari rasa ingin tahu yang sama: bagaimana caranya membangun ekosistem pariwisata yang benar-benar terhubung, bukan sekadar berdampingan.
Mengapa forum ini begitu penting untuk diperbincangkan, bahkan sebelum harinya tiba? Karena di baliknya, ada sebuah kesadaran yang mendalam: bahwa pariwisata yang kuat tidak pernah lahir dari kerja satu pihak semata. Ia lahir dari kolaborasi. dari pengelola bandara yang membuka jalur baru, dari pemerintah yang merumuskan kebijakan yang mendukung, dari pengelola destinasi yang menyiapkan pengalaman terbaik, dan dari pelaku usaha yang berani berinovasi menyambut perubahan.
Dan momentum itu kini benar-benar berada di depan mata. Menjelang akhir tahun, YIA berencana membuka rute penerbangan langsung dari Guangzhou, Tiongkok, sebuah langkah besar yang akan membuka pintu bagi salah satu pasar wisatawan terbesar di dunia.
Tak hanya itu, India pun telah ditetapkan sebagai target pasar baru sesuai arahan Kementerian Pariwisata, menandai babak baru dalam upaya memperluas jangkauan wisatawan mancanegara ke tanah Yogyakarta.
Ini bukan sekadar berita tentang rute penerbangan. Ini adalah berita tentang kemungkinan. Kemungkinan bahwa ribuan wisatawan dari Tiongkok dan India, yang selama ini mungkin belum mengenal Yogyakarta secara mendalam, kini punya jalur langsung untuk datang, singgah, dan jatuh cinta pada kota ini, pada candi-candinya, pada budayanya, pada taman rekreasinya, pada kehangatan masyarakatnya.
Namun sebuah peluang besar, sebesar apa pun ia, tidak akan bermakna banyak jika tidak disambut dengan kesiapan yang menyeluruh.
Di sinilah forum ini mengambil perannya, merangkai lima sesi pembahasan strategis yang saling terhubung, seperti mata rantai yang tak boleh terputus satu sama lain.
Sesi pertama akan berbicara tentang konektivitas dan aksesibilitas, bagaimana menghubungkan YIA dengan destinasi-destinasi wisata yang tersebar di seluruh penjuru Yogyakarta.
Sebab, secanggih apa pun sebuah bandara, ia akan kehilangan maknanya jika wisatawan yang mendarat justru kebingungan mencari jalan menuju destinasi impian mereka. Sesi ini akan membedah strategi transportasi, sinergi moda — mulai dari bus bandara, shuttle, hingga transportasi daring, serta peran infrastruktur pendukung yang memastikan setiap perjalanan dari YIA menuju destinasi berjalan mulus, nyaman, dan tanpa hambatan berarti.
Sesi kedua membawa perbincangan pada ranah yang tak kalah krusial: peluang dan kolaborasi bisnis. Di sinilah para pelaku usaha pariwisata — pengelola taman rekreasi, agen perjalanan, hingga mitra bisnis YIA, akan duduk bersama merumuskan satu pertanyaan penting: bagaimana menyusun program bersama secara ekosistem, agar peluang pasar Tiongkok dan India ini benar-benar bisa ditangkap, bukan sekadar dibicarakan? Sebab peluang yang tidak diikuti dengan kesiapan kolaboratif, hanya akan menjadi angka statistik yang lewat begitu saja, tanpa memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Sesi ketiga kemudian menyempurnakan rangkaian ini dengan membahas strategi promosi dan pemasaran destinasi. Bagaimana Yogyakarta memperkenalkan dirinya kepada dunia, melalui gerbang YIA? Bagaimana strategi co-branding destinasi bisa dirancang bersama, agar setiap promosi yang dilakukan bukan hanya milik satu pihak, melainkan gaung bersama dari seluruh ekosistem pariwisata daerah ini? Di sesi ini, pemanfaatan media digital dan data wisatawan akan menjadi kunci, memastikan promosi yang dilakukan bukan sekadar menyebar informasi, tetapi menyentuh tepat sasaran yang dituju.Forum ini juga menghadirkan dua sesi istimewa yang membawa perspektif dari tingkat yang lebih luas.
Sesi keempat akan diisi oleh Ahmad Syauqi Soeratno, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia periode 2024 hingga 2029. Kehadiran beliau membawa satu pesan penting: bahwa kolaborasi ekosistem pariwisata ini tidak berhenti pada level lokal semata, melainkan juga membutuhkan sinergi kebijakan antara pusat dan daerah.
Bagaimana peran DPD RI dalam mengawal kebijakan konektivitas udara? Bagaimana dukungan legislatif bisa menjadi jembatan yang memperkuat langkah-langkah yang telah dirintis di level daerah? Sesi ini menjadi pengingat, bahwa perjuangan membangun ekosistem pariwisata yang kuat, membutuhkan suara yang didengar hingga ke tingkat nasional.
Sesi kelima menghadirkan Heni Smith, Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia. Dari sesi ini, publik akan diajak memahami arah kebijakan dan strategi nasional PUTRI dalam mendukung kolaborasi ekosistem pariwisata berbasis bandara.
Bagaimana program-program yang dirancang di level pusat, dapat bersinergi dengan langkah-langkah yang telah dan akan dijalankan oleh DPD PUTRI di setiap daerah, termasuk Yogyakarta. Ini adalah gambaran nyata, bahwa kekuatan sebuah asosiasi tidak hanya diukur dari jumlah anggotanya, melainkan dari seberapa erat jalinan kerja sama antara pusat dan cabang-cabangnya di seluruh negeri.
Dan di antara rangkaian sesi yang penuh substansi ini, forum juga akan diperkaya dengan sebuah leader discussion istimewa bersama GKR Bendara.
Sebuah ruang dialog yang tidak hanya membahas rencana, tetapi juga merangkul kesepakatan, menyusun rencana aksi bersama, dan yang terpenting, memastikan adanya tindak lanjut nyata setelah forum ini usai. Karena sebuah forum, secanggih apa pun materinya, akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti sebagai wacana yang menguap begitu saja setelah acara selesai.
Di sinilah letak nilai reflektif dari forum ini. Ia bukan sekadar ajang seremonial yang mempertemukan banyak pihak dalam satu ruangan untuk kemudian berpisah tanpa arah yang jelas. Ia adalah ruang di mana setiap peserta diajak untuk benar-benar merenungkan perannya masing-masing dalam ekosistem yang lebih besar.
Pengelola destinasi diajak untuk melihat dirinya bukan sebagai pesaing dari destinasi lain, melainkan sebagai bagian dari satu jaringan besar yang saling menguatkan. Pelaku usaha diajak untuk melihat peluang pasar baru bukan sebagai rebutan, melainkan sebagai kue besar yang bisa dinikmati bersama, jika dikelola dengan kolaborasi yang matang.
Dan pemerintah, baik di level daerah maupun pusat, diajak untuk hadir bukan sebagai regulator yang berjarak, melainkan sebagai mitra yang berjalan beriringan dengan para pelaku di lapangan.
Yogyakarta memiliki modal yang tidak dimiliki banyak daerah lain: kekayaan budaya yang mengakar kuat, keramahan masyarakat yang menjadi ciri khasnya, serta destinasi wisata yang beragam, mulai dari candi bersejarah, pantai selatan yang eksotis, hingga taman rekreasi modern yang terus berinovasi. Namun modal sebesar apa pun, akan tetap menjadi potensi yang tertidur, jika tidak dibangunkan oleh sinergi yang nyata.
Forum Kolaborasi Ekosistem YIA hadir untuk membangunkan potensi itu. Ia hadir bukan untuk mengklaim bahwa satu pihak lebih penting dari yang lain, melainkan untuk menegaskan bahwa setiap pihak memiliki peran yang sama pentingnya dalam rantai besar bernama ekosistem pariwisata. Sebab sebuah ekosistem, sesuai namanya, hanya bisa hidup dan berkembang jika setiap elemen di dalamnya saling menopang, bukan saling meniadakan.
Ketika nanti forum ini usai, dan setiap peserta kembali ke tempatnya masing-masing, harapan besar yang digantungkan bukanlah sekadar kenangan tentang diskusi yang hangat, melainkan langkah-langkah nyata yang akan terus bergulir setelahnya. Bagaimana rencana aksi yang telah disepakati bersama GKR Bendara benar-benar diimplementasikan.
Bagaimana dukungan legislatif yang disuarakan oleh Ahmad Syauqi Soeratno benar-benar dikawal hingga ke tingkat kebijakan nasional. Bagaimana arah strategi yang disampaikan oleh Heni Smith benar-benar diselaraskan dengan langkah-langkah DPD PUTRI di lapangan. Dan bagaimana peluang pasar Guangzhou dan India, yang hari ini masih berupa rencana, kelak benar-benar menjelma menjadi kenyataan yang membawa dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Yogyakarta.
Pada akhirnya, forum ini adalah tentang satu hal yang sederhana namun mendalam: keberanian untuk melangkah bersama. Di dunia yang semakin kompetitif, di mana setiap daerah berlomba menarik perhatian wisatawan dunia, Yogyakarta memilih jalan yang berbeda — bukan jalan kompetisi yang saling menjatuhkan, melainkan jalan kolaborasi yang saling menguatkan.
Dan mungkin, di situlah letak keistimewaan sesungguhnya dari kota ini. Bukan hanya pada gelar “Daerah Istimewa” yang disandangnya, melainkan pada caranya memandang masa depan, bahwa kemajuan sejati tidak pernah dicapai sendirian, melainkan dirajut bersama, oleh tangan-tangan yang mau saling menggenggam.
YIA hari ini adalah gerbang. Namun forum Kolaborasi Ekosistem YIA yang akan digelar pada 24 Agustus 2026 ini, adalah jembatannya. Jembatan yang menghubungkan bandara dengan destinasi, pemerintah dengan pelaku usaha, kebijakan pusat dengan langkah daerah, dan yang terpenting, menghubungkan mimpi besar Yogyakarta dengan langkah nyata untuk mewujudkannya.
Maka, mari kita nantikan bersama. Bukan hanya sebagai penonton yang menyaksikan dari kejauhan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang ini.
Perjalanan menuju ekosistem pariwisata Yogyakarta yang semakin terhubung, semakin kompetitif, dan semakin berkelanjutan, untuk generasi hari ini, dan generasi yang akan datang.
Sebab pada akhirnya, sebuah kota tidak dikenang dari seberapa besar bandaranya, melainkan dari seberapa erat ia mampu menyatukan setiap elemen yang ada di dalamnya, menjadi satu kekuatan yang utuh, dan berjalan menuju masa depan yang sama.
Selamat datang di Kolaborasi Ekosistem YIA. Selamat menyongsong babak baru pariwisata Yogyakarta.(Redaksi)
Terkininasional@gmail.com
