
NASIONALTERKINI.COM. Ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri sendiri sebagai bangsa: apakah Nusantara masih kita pandang sebagai cakrawala-garis batas yang memanggil untuk terus dijelajahi-atau justru telah kita reduksi menjadi sekadar peta administratif, deretan pulau yang dihubungkan proyek infrastruktur dan slogan pariwisata? Pertanyaan ini bukan retorika kosong. la adalah undangan untuk merenung, sebab cara sebuah bangsa memaknai ruang hidupnya menentukan cara ia memperlakukan masa depannya.
Kata “cakrawala” dalam khazanah pemikiran Nusantara bukan sekadar istilah geografis, la adalah metafora epistemologis: batas pandang yang bergerak setiap kali kita melangkah, horizon yang tak pernah benar-benar bisa digenggam namun selalu membimbing arah. Para pelaut Bugis, pedagang
Melayu, dan pertapa Jawa kuno memahami ini secara intuitif-bahwa lautan bukanlah pemisah, melainkan penghubung; bahwa kepulauan bukan fragmentasi, melainkan konstelasi makna yang saling menyapa lewat arus dan angin muson.
Namun di tengah derap modernitas yang serba linear dan kuantitatif, kearifan itu perlahan tergerus. Kita mulai memandang Nusantara dari kacamata yang sempit: seberapa besar produk domestik bruto yang dihasilkan, seberapa cepat konektivitas dibangun, seberapa tinggi indeks daya saing yang dicapai. Semua itu penting, tak terbantahkan. Tetapi ketika ukuran-ukuran itu menjadi satu-satunya lensa, kita kehilangan sesuatu yang lebih mendasar: kesadaran kosmologis bahwa manusia Nusantara adalah bagian dari jalinan semesta yang lebih besar, bukan penguasa tunggal atas alam yang ia huami.
Di sinilah letak provokasi yang perlu kita hadapi bersama. Jika kearifan lokal hanya dirayakan dalam festival budaya dan dipajang dalam brosur wisata, tanpa pernah benar-benar menjadi cara berpikir dalam kebijakan pembangunan, maka kita sesungguhnya sedang mengkhianati warisan leluhur sambil berpura-pura melestarikannya. Konsep “Tri Hita Karana” dari Bali, “Sasi” dari Maluku, atau “Awig-awig” dari berbagai komunitas adat-semuanya menawarkan paradigma keseimbangan antara manusia, alam, dan yang transenden. Namun
paradigma ini kerap diperlakukan sebagai artefak masa lalu, bukan sebagai kerangka berpikir yang hidup dan relevan untuk menjawab krisis ekologis serta krisis makna yang kita hadapi hari ini.
Pertanyaan reflektif yang patut diajukan adalah:
mampukah kita membangun Nusantara sebagai cakrawala pengetahuan yang otentik, alih-alih sekadar menjadi konsumen pasif dari paradigma pembangunan yang diimpor dari luar? Cakrawala sejati bukan tujuan yang bisa dicapai dan diselesaikan, melainkan proses perenungan tanpa henti tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan hendak menjadi apa kita di tengah perubahan zaman yang tak lagi bisa diprediksi dengan logika lama.
Dalam konteks ini, gagasan tentang Ibu Kota Nusantara dan berbagai proyek besar lain semestinya tidak hanya dibaca sebagai persoalan teknokratis-pemindahan pusat pemerintahan, efisiensi logistik, atau simbol pemerataan ekonomi. la mestinya juga menjadi momentum epistemologis: kesempatan untuk menata ulang cara kita memandang ruang, waktu, dan hubungan antar-manusia dengan alam. Jika kesempatan ini hanya diisi dengan pengulangan pola pembangunan lama yang ekstraktif dan antroposentris, maka nama besar “Nusantara” hanya akan menjadi label kosong yang menutupi kegagalan kita memaknai ulang jati diri kolektif
[5/8, 11.59] Welcom: Pada akhirnya, menjadi Nusantara berarti bersedia hidup dalam ketegangan kreatif antara keberagaman dan kesatuan, antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan keterhubungan global. Cakrawala tidak pernah menuntut kita untuk berhenti pada satu titik pandang. la menuntut kerendahan hati untuk terus bertanya, dan keberanian untuk terus melangkah-bukan demi mengejar batas, melainkan demi memperdalam pemahaman kita tentang makna hidup bersama di kepulauan yang oleh leluhur kita disebut, dengan penuh keyakinan, sebagai tanah air.
Barangkali sudah saatnya kita berhenti bertanya “ke mana Nusantara akan dibawa, dan mulai bertanya lebih jujur: “siapa sesungguhnya kita, di hadapan cakrawala yang setiap hari kita saksikan namun jarang benar-benar kita renungi=Oleh: Agus Budi Rachmanto, Esais dan Pemerhati Kearifan Lokal
Redaksi=
Terkininasional@gmail.com
