
NASIONALTERKINI.COM BANTUL,Hari minggu cocok untuk berlibur, pengalaman kalini berwisata di perbukitan Dlingo, Kabupaten Bantul, kini tidak hanya tentang menikmati panorama alam. Di Litto Jogja, wisatawan diajak memperlambat langkah, mengenal tanaman, memetik sayuran dari kebun, hingga menikmati makanan yang diolah langsung dari hasil yang mereka petik.Minggu:13/09/2026

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari konsep wellness yang dikembangkan Litto Jogja, sekaligus memperkuat posisinya setelah terpilih sebagai salah satu Top 25 Wonderful Indonesia Scale-Up Hub (WISH) 2026, program akselerasi usaha pariwisata Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Litto terpilih setelah melewati proses seleksi yang diikuti 570 pelaku usaha pariwisata dari berbagai daerah di Indonesia. Masuknya Litto dalam 25 besar membuka tahapan baru berupa pendampingan intensif, penguatan model bisnis dan kesempatan mempresentasikan pengembangan usahanya dalam Demo Day.

General Manager Litto Jogja, Agus Setiawan, yang akrab disapa Wawan, mengatakan pencapaian tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan lebih luas konsep wisata yang selama ini dikembangkan Litto.

“Konsep wellness di Litto bukan hanya relaksasi. Kami ingin wisatawan kembali terhubung dengan alam. Mereka bisa melihat dari mana makanan berasal, memetik sayuran sendiri, lalu melihat hasilnya diolah dan menikmatinya,” kata Wawan.
Di kawasan Litto terdapat kebun herbal dan kebun pangan yang menjadi bagian dari pengalaman wisata. Tanaman yang tumbuh tidak hanya berfungsi sebagai penghijauan, tetapi juga menjadi media bagi pengunjung untuk mengenal berbagai jenis tanaman yang memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Wisatawan dapat merasakan pengalaman garden-to-table secara langsung. Sayuran yang dipetik dari kebun dapat dibawa untuk kemudian diolah menjadi hidangan. Dengan cara tersebut, jarak antara kebun dan meja makan menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.
Tidak hanya sayuran, sejumlah jenis bunga yang ditanam di kawasan Litto juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan minuman. Bunga-bunga tersebut diolah menjadi minuman yang menyegarkan, memberikan pengalaman lain bahwa apa yang tumbuh di sekitar kawasan dapat menjadi bagian dari aktivitas wisata.
“Bagi kami, ini bukan sekadar soal makanan. Pengunjung bisa belajar tentang tanaman, melihat prosesnya, kemudian menikmati hasilnya. Ada pengalaman, ada edukasi, sekaligus ada unsur wellness,” ujar Wawan.
Menghubungkan Wisatawan dengan Alam
Pengalaman di Litto juga diperkuat dengan keberadaan hewan yang dipelihara di kawasan. Salah satunya ayam petelur dengan siklus produksi telur sekitar 23 jam. Kehadiran ternak tersebut menjadi bagian dari cara Litto memperkenalkan kehidupan pangan kepada wisatawan.
Pengunjung dapat melihat bahwa makanan yang hadir di meja memiliki perjalanan panjang sebelum menjadi bagian dari hidangan. Pengalaman tersebut menjadi semakin relevan dalam konsep wisata berkelanjutan yang menempatkan hubungan antara manusia, alam dan pangan sebagai bagian penting dari perjalanan.
Pendekatan itu terinspirasi prinsip satoyama, konsep yang melihat kawasan pedesaan sebagai ruang hidup yang mempertemukan manusia dan alam dalam hubungan yang saling menjaga.
Namun, Litto tidak sekadar membawa konsep satoyama dalam bentuk suasana Jepang. Prinsip tersebut diterjemahkan melalui kondisi alam dan kehidupan lokal di Dlingo.
Kebun pangan, tanaman herbal, hasil bumi, aktivitas luar ruang, pengalaman kuliner serta interaksi dengan lingkungan menjadi bagian dari penerjemahan konsep tersebut.
“Satoyama bagi Litto bukan sekadar menghadirkan nuansa Jepang. Yang kami ambil adalah nilai bagaimana manusia menjaga hubungan dengan alam, pangan dan lingkungan. Kami menerapkannya dengan karakter lokal Jogja,” kata Wawan.
Karena itu, Litto tidak diposisikan hanya sebagai tempat menginap. Kawasan tersebut dikembangkan sebagai ruang untuk beristirahat, menikmati alam, belajar dan membangun kembali koneksi dengan lingkungan.
Konsep wellness hadir melalui berbagai pengalaman berbasis alam, termasuk berjalan di kawasan hijau, menikmati suasana perbukitan, aktivitas refleksi, serta pengalaman yang menggabungkan alam dan pangan.
Dari Dlingo Menuju Pasar Internasional
Masuknya Litto Jogja dalam Top 25 WISH 2026 menjadi langkah penting untuk membawa konsep tersebut ke pasar yang lebih luas.
Setelah melewati proses seleksi dari 570 pelaku usaha pariwisata, Litto akan mengikuti rangkaian pendampingan dan pengembangan bisnis dalam program WISH 2026, termasuk kesempatan mengikuti Demo Day.
Para peserta Top 25 WISH 2026 juga dijadwalkan mengikuti Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 pada 15–17 Oktober 2026 di Grand Ballroom JIExpo, Jakarta.
Ajang tersebut menjadi ruang pertemuan industri pariwisata Indonesia dengan pasar internasional, dengan lebih dari 1.500 delegasi dan buyer, 500 exhibitor, serta peserta dari lebih dari 42 negara.
Bagi Litto, forum tersebut membuka peluang untuk memperkenalkan produk wisata berbasis alam dan wellness dari Dlingo kepada pasar yang lebih luas, tanpa harus kehilangan karakter lokalnya.
Wawan mengatakan arah pengembangan Litto bukan sekadar mengejar pertumbuhan secara fisik, tetapi memperkuat kualitas pengalaman yang diberikan kepada wisatawan.
“Kami ingin orang datang ke Litto bukan hanya untuk menginap. Mereka datang untuk beristirahat, terhubung kembali dengan alam, mendapatkan pengalaman baru, kemudian pulang dengan energi yang lebih baik,” ujarnya.
Dari kebun herbal hingga hidangan di meja makan, Litto Jogja menawarkan cara berbeda dalam menikmati perjalanan. Alam tidak hanya menjadi latar belakang, tetapi menjadi bagian dari pengalaman.
Di tengah berkembangnya tren wellness tourism, pendekatan tersebut menempatkan Dlingo bukan sekadar sebagai kawasan perbukitan, melainkan sebagai ruang di mana wisatawan dapat beristirahat sekaligus belajar tentang pangan, alam dan keseimbangan hidup.
Dari perbukitan Dlingo menuju pasar internasional, Litto membawa satu gagasan sederhana: wisata bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang pengalaman yang dibawa pulang:Pungkas:Wawan(Tyo)
Redaksi =
terkininasional@gmail.com