
NASIONALTERKINI COM. YOGYAKARTA,Pasar Buku Sastra dan prosesi gunungan buku menandai pembukaan Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 di Graha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Prosesi diawali dengan arak-arakan gunungan buku dan dilanjutkan rayahan gunungan yang dipimpin Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Yetti Martanti.Minggu:23/08/2026
Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian FSY 2026 yang mengusung tema “LAKU”.
Dalam sambutannya, Yetti mengatakan, gunungan buku dalam pembukaan FSY memiliki makna bahwa pengetahuan merupakan sumber kehidupan. Jika pangan menjadi sumber kehidupan bagi tubuh, buku menghidupi pikiran dan jiwa.
“Ketika hari ini buku kita hadirkan sebagai gunungan, kita ingin mengingatkan bahwa pengetahuan juga merupakan sumber kehidupan. Jadi kalau kita bicara pangan menghidupi raga, maka sebenarnya kita bicara buku menghidupi pikiran dan jiwa kita semuanya,” ujar Yetti.
Pasar Buku Sastra berlangsung selama delapan hari, 23-30 Agustus 2026. Kegiatan ini menghadirkan sekitar 3.000 judul buku dengan total 15.000 eksemplar. Buku yang ditawarkan tidak hanya karya sastra, tetapi juga buku umum dan buku anak.
Menurut Yetti, pasar buku dihadirkan bukan semata sebagai tempat transaksi, melainkan sebagai ruang pertemuan antara buku dan pembaca. Melalui pertemuan tersebut, pengetahuan diharapkan terus bergerak dan menemukan jalannya di tengah masyarakat.
“Pasar buku bukan sekadar tempat transaksi semata, karena tempat buku menemukan pembacanya dan pengetahuan menemukan jalannya,” katanya.
Setelah pembukaan dan rayahan gunungan buku, rangkaian FSY 2026 dilanjutkan dengan diskusi bertema “Potensi Ekonomi dari Ekosistem Literasi”. Diskusi menghadirkan kurator FSY 2026 Paksi Raras Alit dan Fairuzul Mumtaz serta Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY Wawan Arif Rahmat.
Diskusi membahas potensi ekonomi dalam ekosistem kepenulisan dan industri buku, mulai dari produksi karya, penerbitan dan distribusi hingga perubahan pola penjualan buku di tengah perkembangan teknologi.
Paksi mengatakan, dunia kepenulisan memiliki peluang untuk berkembang menjadi bagian dari industri yang mendukung perekonomian. Menurut dia, pembahasan mengenai industri tidak semestinya hanya berkaitan dengan sektor seperti kuliner atau manufaktur, karena ekosistem buku juga memiliki ruang ekonomi yang terus berkembang.
“Tentang buku, tentang kemudian kepenulisan, ini kan jarang-jarang dibaca. Kalau kita ngomongin tentang industri kan artinya ya sudah ada kuliner atau fabrikasi yang lainnya. Nah ini ternyata ada ruang yang kemudian menyeruak,” kata Paksi.
Sementara itu, Fairuzul menyoroti perubahan pola distribusi dan penjualan buku. Perkembangan teknologi membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk menemukan dan membeli buku. Kehadiran lokapasar atau marketplace menjadi salah satu kanal distribusi yang memperluas akses pembaca terhadap buku.
“Artinya, misalnya kita mengenal hari ini ada lokapasar, kita bisa berjalan di situ, dan kalau teman-teman melihat, itu banyak sekali marketplace,” ujarnya.
Selain melalui lokapasar, menurut Fairuzul, perkembangan ekosistem buku juga ditandai dengan munculnya model toko buku baru. Di sejumlah daerah, toko buku hadir berdampingan dengan kafe atau kedai kopi sehingga menciptakan ruang alternatif bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan buku.
“Di sudut-sudut Kota Jogja, bahkan di daerah, kita bisa menemukan anak-anak muda yang membuat kafe sekaligus toko buku kecil. Saya kira, model seperti itu bisa kita kembangkan,” katanya.
Wawan turut menyoroti pentingnya ketersediaan ruang distribusi buku. Menurut dia, akses masyarakat terhadap toko buku di sejumlah daerah masih terbatas sehingga diperlukan berbagai alternatif ruang yang mempertemukan pembaca dengan buku dan penjual dengan pasar.
“Ruang bagaimana kita sebagai pembaca ingin ketemu buku, sebagai penjual mungkin ingin mendistribusinya,” ujar Wawan.
Diskusi tersebut menunjukkan bahwa ekosistem literasi memiliki potensi ekonomi yang tidak berhenti pada proses menulis dan menerbitkan buku. Distribusi, penjualan, serta penciptaan ruang pertemuan antara buku dan pembaca turut menjadi bagian penting dalam keberlanjutan industri buku.
Dalam konteks FSY 2026, tema “LAKU” tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan sastra sebagai proses kreatif dan kebudayaan, tetapi juga sebagai gerak ekosistem sastra dalam menemukan bentuk-bentuk baru agar terus hidup dan berkembang. Pasar buku menjadi salah satu ruang yang mempertemukan karya, pengetahuan, pembaca, sekaligus peluang ekonomi bagi para pelaku ekosistem literasi.Tutup:Wawan(Aan)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com
