
NASIONALTERKINI.COM. BANTUL. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap perubahan iklim, kekeringan, dan kerusakan lingkungan, warga Dusun Grojogan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, memilih bergerak untuk menjaga sumber daya alam di wilayah mereka. Salah satunya melalui gerakan restorasi belik atau sumber mata air yang selama bertahun-tahun tidak lagi terawat.


kegiatan restorasi belik tersebut melibatkan warga Grojogan bersama Karang Taruna Nasional, komunitas pegiat lingkungan, serta berbagai elemen masyarakat. Ketua Karang Taruna DIY, GKR Hayu, turut hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.Minggu:23/08/2026

Dukuh Grojogan, Roy Hermawan, mengatakan terdapat sejumlah titik sumber mata air di wilayahnya yang perlu kembali dirawat dan dihidupkan. Menurutnya, keberadaan belik memiliki sejarah penting bagi kehidupan sosial masyarakat Grojogan.
Sebelum gempa bumi Yogyakarta pada Mei 2006, warga masih banyak memanfaatkan belik untuk mandi dan mencuci. Pada pagi dan sore hari, kawasan sekitar sumber air juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk bermain dan mandi, sekaligus tempat bertemunya warga dari berbagai generasi.
“Dulu belik menjadi tempat bertemunya warga, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Sumber air ini juga menjadi bagian dari kerukunan warga,” kata Roy.
Namun, setelah gempa 2006 dan seiring perubahan kehidupan masyarakat, sejumlah mata air tidak lagi dimanfaatkan dan perlahan kehilangan perhatian. Bagi sebagian warga, kondisi tersebut tidak hanya berarti hilangnya sumber air, tetapi juga terputusnya ruang interaksi sosial yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kampung.
Kegelisahan tersebut kemudian mendorong Dukuh Grojogan bersama warga untuk merestorasi sejumlah titik belik. Mereka meyakini mata air bukan sekadar sumber kebutuhan sehari-hari, melainkan bagian penting dari ekosistem dan warisan kehidupan masyarakat.
Gerakan itu mendapat dukungan dari berbagai pihak, antara lain ibu-ibu PKK, Jagawarga Grojogan, Komunitas Jaga Semesta, Jejakin, Karang Taruna Garuda Grojogan, Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT), Karang Taruna DIY, serta Karang Taruna Kabupaten Bantul.
GKR Hayu bersama Wakil Ketua PNKT, komunitas Jaga Semesta, dan warga turun langsung ke titik sumber air di tepi Sungai Belik, Grojogan, Tamanan. Mereka bergotong royong menata dan merawat kawasan sekitar mata air yang dikelilingi pepohonan, termasuk pohon gayam.
Tidak ada seremoni besar dalam kegiatan tersebut. Gerakan restorasi justru berlangsung sederhana dan membumi. Warga bersama para relawan memilih turun langsung ke alam, membersihkan kawasan sumber air, sekaligus menghidupkan kembali kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Bagi warga Grojogan, restorasi belik juga menjadi upaya mengembalikan identitas dusun yang diyakini memiliki sejarah sebagai kawasan yang kaya sumber air.
Nama Grojogan sendiri memiliki makna khusus. Dalam bahasa Jawa, “grojogan” berarti air terjun. Meski saat ini tidak terdapat air terjun di kawasan tersebut, warga meyakini nama Grojogan menyimpan jejak sejarah mengenai kondisi alam pada masa lalu, ketika air menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Warga berharap restorasi tersebut dapat menjadi langkah awal untuk merawat kembali sejumlah mata air lainnya. Mereka ingin belik tidak hanya kembali berfungsi sebagai sumber air, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan dan pengingat akan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penandatanganan tetenger atau prasasti restorasi mata air oleh GKR Hayu. Prasasti tersebut selanjutnya diserahkan kepada Carik Desa Tamanan, Ratri Erviana Anggraeni, sebagai perwakilan Pemerintah Desa Tamanan.
Restorasi Belik Grojogan menjadi contoh bahwa pelestarian lingkungan dapat dimulai dari gerakan sederhana di tingkat masyarakat. Merawat mata air bukan hanya menjaga ketersediaan air, tetapi juga mempertahankan memori, budaya gotong royong, serta ruaong sosial yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga selama bertahun-tahun.Tutup:Roy(Tyo)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com
