
NASIONALTERKINI.COM. Ada satu pertanyaan yang jarang berani kita ajukan pada diri sendiri sebagai bangsa: apakah kita benar-benar mewarisi kejayaan Nusantara, atau hanya mewarisi kenangan tentangnya?Negarakertagama, kakawin yang digubah Mpu
Prapanca pada abad ke-14, bukan sekadar dokumen sastra yang dipuja karena usianya. Ia adalah cermin retak yang, jika kita mau jujur menatapnya,memantulkan dua wajah sekaligus: kebesaran yang pernah nyata, dan kelalaian yang kini menjadi nyata
pula. Di dalamnya tergambar Majapahit sebagai poros dunia—jaringan pelayaran, diplomasi, hukum, dan tata negara yang jauh mendahului zamannya.Selasa:29/07/2026
Namun kakawin itu juga menyimpan pertanyaan yang menggantung hingga hari ini: kejayaan macam apa yang layak diwariskan, dan kepada siapa?
Kita sering memperlakukan Negarakertagama. sebagai artefak kebanggaan, dipajang dalam kurikulum dan pidato kenegaraan, tanpa benar-benar membiarkannya menginterogasi kita. Padahal teks ini ditulis bukan untuk memuji masa lalu, melainkan untuk menata masa itu sendiri-sebuah usaha sadar merumuskan legitimasi, tata krama kekuasaan, dan cita rasa peradaban yang berdiri di atas keberagaman wilayah, bahasa, dan kepercayaan. Justru di situlah letak “emas” yang sesungguhnya: bukan pada emas literal yang mengalir dari pelabuhan-pelabuhan Nusantara, melainkan pada kemampuan merangkai keberagaman menjadi satu tata dunia yang koheren, tanpa menyeragamkannya.
Pertanyaannya kemudian menjadi tajam: sanggupkah kita, di abad ke-21, melakukan hal yang sama? Ketika identitas kebangsaan hari ini lebih sering dirawat lewat slogan ketimbang lewat kerja intelektual merumuskan ulang siapa kita, Negarakertagama justru mengingatkan bahwa kejayaan sejati selalu lahir dari keberanian menata, bukan dari kesibukan mengenang.
Ironisnya, semakin jauh kita dari abad Majapahit, semakin dangkal pula pembacaan kita terhadapnya. Nusantara diperlakukan sebagai jargon pariwisata, “kejayaan masa lalu dijadikan komoditas naratif, sementara nilai-nilai yang menopangnya-musyawarah lintas wilayah, penghormatan pada
pluralitas, tata kelola yang berorientasi jangka panjang-justru tercecer di pinggir jalan pembangunan. Emas Nusantara, dalam pengertian ini, bukan logam yang hilang digali kolonialisme semata, tetapi juga kearifan yang perlahan kita gadaikan sendiri demi kepraktisan zaman.
Kearifan lokal, dalam konteks ini, bukanlah nostalgia yang manis untuk dikenang di panggung seni, la adalah metodologi berpikir yang teruji zaman, yang menawarkan jalan keluar dari krisis makna yang kini melanda banyak masyarakat modern: krisis akan siapa diri kita ketika segala sesuatu serba cepat, seragam, dan terputus dari akar. Negarakertagama, dengan caranya sendiri, mengajukan tawaran itu-bahwa keberagaman dan keteraturan bukan dua kutub yang berlawanan, melainkan dua sisi mata uang yang sama.
Maka membaca ulang Negarakertagama hari ini semestinya bukan sekadar kegiatan filologis atau seremonial budaya. la harus menjadi undangan untuk berefleksi: sudahkah kita menata Nusantara kita sendiri dengan kedalaman yang sama seperti yang dilakukan generasi Majapahit enam abad lalu? Ataukah kita hanya mewarisi nama besar tanpa keberanian mewarisi tanggung jawab yang menyertainya?(Agus Budi Rachmanto)
Resaksi=
terkininasional@gmail.com