
NASIaoNALTERKINI.COM. Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) kembali digelar. Memasuki penyelenggaraan ke-31, festival yang digagas Komunitas Gayam16 ini membawa semangat baru dengan menghadirkan gamelan bukan sekadar sebagai warisan budaya, melainkan juga sebagai ruang untuk bersukacita, berefleksi, dan menemukan kembali kegembiraan dalam kehidupan.
Hal tersebut disampaikan dalam jumpa pers Yogyakarta Gamelan Festival ke-31 yang berlangsung di Loman Park Hotel Yogyakarta, Senin (20/7/2026) sore.

Ketua Komunitas Gayam16, Ari Wulu, mengatakan, penyelenggaraan YGF tahun ini menjadi momentum penting karena menghadirkan banyak wajah baru yang terlibat dalam proses pengembangan festival.
“Kalau teman-teman memperhatikan, tahun ini ada banyak wajah baru yang kemudian terlibat dalam Yogyakarta Gamelan Festival. Bagi kami, ini merupakan bagian penting dari upaya memikirkan strategi pewarisan sekaligus pengembangan kebudayaan,” ujar Ari Wulu.
Menurutnya, keberlanjutan sebuah festival kebudayaan tidak hanya ditentukan oleh metode dan strategi, tetapi juga oleh manusia yang terlibat di dalamnya. Karena itu, regenerasi menjadi salah satu perhatian penting dalam penyelenggaraan YGF.
“Manusianya juga harus terus dikembangkan. Keberadaan manusia dalam ekosistem kebudayaan Yogyakarta sangat penting,” katanya.
Ari menambahkan, YGF telah berkembang menjadi sebuah festival yang memiliki jejaring internasional. Hingga saat ini, festival tersebut telah terhubung dengan komunitas dan jaringan dari 52 negara.
“Selain teman-teman di Yogyakarta, kami juga bekerja sama dengan berbagai komunitas dan jaringan dari berbagai negara. Ini menunjukkan bahwa gamelan memiliki daya hidup yang mampu melampaui batas-batas geografis,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan YGF ke-31, kepemimpinan festival juga memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya, posisi ketua YGF dipercayakan kepada generasi yang bukan berasal dari Komunitas Gayam16.
Sosok tersebut adalah Lanoke “Uke”, yang telah mengikuti perjalanan YGF sejak 2007. Ari menyebut, kehadiran Uke sebagai ketua menjadi bagian dari proses regenerasi sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi generasi baru untuk terlibat dalam perjalanan festival.
“Ini menjadi kesempatan bagi semuanya. Sudah selayaknya YGF menjadi sebuah perayaan. Dan setiap sesuatu yang kita kerjakan sebaiknya dilakukan dengan cara yang gembira,” kata Ari.
Gamelan sebagai Warisan Budaya yang Terus Hidup
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lasmi, mengatakan, perjalanan Yogyakarta Gamelan Festival selama 31 tahun membuktikan bahwa inisiatif kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat mampu bertahan dan berkembang secara mandiri.
Menurutnya, keberadaan YGF menjadi bagian penting dari upaya pelestarian gamelan sebagai karya budaya yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.
“Yogyakarta Gamelan Festival telah membuktikan bahwa sebuah inisiatif budaya yang tumbuh dari masyarakat mampu bertahan selama 31 tahun. Ini merupakan sesuatu yang luar biasa,” ujar Dian.
Ia mengatakan, gamelan memiliki nilai-nilai penting yang perlu terus diperkuat dalam berbagai program kebudayaan di DIY. Karena itu, gamelan tidak hanya hadir dalam YGF, tetapi juga menjadi bagian dari berbagai kegiatan kebudayaan lainnya.
“Gamelan akan hadir dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Tidak hanya dalam Yogyakarta Gamelan Festival. Besok pagi, misalnya, kami juga menggelar festival anak dan remaja yang salah satu instrumennya adalah gamelan,” katanya.
Dian menjelaskan, rangkaian kegiatan kebudayaan yang berkaitan dengan warisan dunia akan berlangsung sepanjang Juli, Agustus, hingga September. Momentum tersebut menjadi ruang untuk mengapresiasi berbagai karya budaya yang telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya dunia.
Dalam konteks YGF ke-31, tema yang diangkat adalah “Manjing, Ajeng, Ajer”. Tema tersebut merefleksikan kemampuan kebudayaan untuk terus hadir dalam kehidupan sehari-hari, beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta menghadapi arus globalisasi tanpa kehilangan akar tradisinya.
“Kebudayaan harus mampu hadir dalam kehidupan sehari-hari, beradaptasi dengan zaman, dan menghadapi globalisasi. Namun, semua itu tetap harus berakar pada nilai-nilai dan tradisi,” ujar Dian.
Ia berharap gamelan dapat terus menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah habis, baik dalam kehidupan sosial, kebudayaan, maupun kehidupan sehari-hari.
“Gamelan adalah sumber inspirasi yang tidak pernah kering. Di dalamnya terdapat nilai-nilai tradisi, kebudayaan, kebersamaan, dan kehidupan yang bisa terus menjadi inspirasi bagi masa depan,” katanya.
Dian juga memberikan apresiasi kepada Komunitas Gayam16 yang selama ini tidak hanya merawat karya budaya secara fisik, tetapi juga menjaga memori kolektif serta mempersiapkan sumber daya manusia untuk masa depan.
“Kami merasa terhormat menjadi bagian dari Yogyakarta Gamelan Festival. Semoga festival ini terus diapresiasi oleh masyarakat Yogyakarta, Indonesia, bahkan dunia. Saat ini sudah ada jejaring dari 52 negara yang terlibat dalam perjalanan YGF. Ini merupakan sesuatu yang luar biasa,” ujarnya.
Menghadirkan Gamelan sebagai Ruang Bersukacita
Sementara itu, Ketua Yogyakarta Gamelan Festival 2026, Lanoke “Uke”, mengatakan, tema besar YGF ke-31 diterjemahkan ke dalam konsep yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Menurutnya, gamelan tidak harus selalu dipahami sebagai objek kebudayaan yang hanya dinikmati dalam konteks pertunjukan. Gamelan juga dapat menjadi sarana untuk bersenang-senang, berkumpul, berefleksi, dan menemukan kegembiraan.
“Gamelan tidak hanya dimaknai sebagai objek. Gamelan juga bisa menjadi sarana untuk bersenang-senang dan menjadi oase di tengah kehidupan yang semakin kompleks,” ujar Uke.
Ia mengatakan, memasuki usia ke-31, YGF dianggap telah berada dalam fase yang lebih dewasa. Namun, festival tersebut tetap memiliki energi untuk terus bereksplorasi dan menghadirkan bentuk-bentuk kegembiraan baru.
“Kalau dianalogikan dengan usia manusia, 31 tahun adalah usia yang sudah cukup dewasa, tetapi masih memiliki banyak energi untuk bersenang-senang. Namun, jenis kegembiraan yang dicari mungkin sudah lebih tenang dan lebih bermakna,” katanya.
Dari gagasan besar tersebut, YGF 2026 kemudian menerjemahkan konsep bersenang-senang menjadi “bersukacita” atau joy. Kegembiraan yang dimaksud bukan sekadar kesenangan, melainkan kegembiraan yang memiliki kedalaman spiritual.
“Bersukacita kami maknai sebagai kegembiraan yang berasal dari dalam diri. Spirit yang kami ambil adalah harmoni, kebersamaan, dan keberagaman yang dirayakan bersama-sama,” ujar Uke.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam tiga program utama.
Program pertama adalah lokakarya yang menggabungkan gamelan dan meditasi. Kegiatan ini mengeksplorasi hubungan antara bunyi, kesadaran, keheningan, dan pengalaman batin.
Program kedua adalah kegiatan yang berkaitan dengan proses penciptaan karya budaya. Masyarakat tidak hanya diajak untuk menyaksikan karya, tetapi juga memahami proses di balik penciptaannya.
“Ketika kita bersama-sama berada dalam proses penciptaan karya, kemudian menikmati hasilnya, kita juga dapat merayakan karya tersebut dan mendukung keberlanjutan ekosistem kebudayaan,” jelas Uke.
Sementara itu, program ketiga adalah konser gamelan yang menjadi salah satu agenda utama YGF ke-31.
Konser tersebut akan digelar pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Plaza Ngasem, Yogyakarta, dengan menghadirkan sejumlah penampil dan komposisi musik gamelan dari berbagai latar belakang.
Melalui rangkaian program tersebut, YGF ke-31 ingin menegaskan bahwa gamelan merupakan tradisi yang terus hidup. Ia dapat hadir dalam ruang pertunjukan, ruang meditasi, ruang komunitas, hingga ruang perjumpaan lintas budaya.
Di usia ke-31, Yogyakarta Gamelan Festival kembali mengajak masyarakat untuk melihat gamelan dengan cara yang lebih luas: sebagai warisan budaya, sebagai ruang perjumpaan, sekaligus sebagai sumber kegembiraan dan inspirasi yang terus mengalir dari masa lalu menuju masa depan.untuk kurator YGF#31 Sudaryanto:pungkas:Uke(Tyo)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com
