
foto:acara konferensi pers yang digelar di Arby Vembria Modeling School Yogyakarta
NASIONALTERKINI.COM. YOGYAKARTA. Founder Arby Vembria Modeling School (AVMS) Indonesia, Arby Vembria, menyerukan perlunya reformasi menyeluruh dalam industri modeling dan fashion nasional. Menurutnya, ekosistem industri kreatif membutuhkan tata kelola yang lebih profesional, transparan, serta berpihak pada para talenta yang menjadi pelaku utama industri tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Arby dalam konferensi pers yang digelar di Arby Vembria Modeling School Yogyakarta, Jalan Kaliurang Timur No. 350, KM 9,2, Gantalan, Minomartani, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (1/7/2026).
Arby menegaskan pemerintah perlu memastikan penyaluran anggaran untuk kegiatan fashion benar-benar memberikan manfaat bagi generasi muda yang sedang membangun karier di industri kreatif.
Kami berharap dukungan pemerintah diarahkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, terutama generasi muda yang memiliki potensi dan ingin berkembang di dunia fashion,” ujar Arby.
Ia mengungkapkan, berbagai persoalan yang belakangan mencuat justru membuka banyak laporan dari pelaku industri yang mengaku mengalami berbagai kendala, mulai dari persoalan profesionalisme, dugaan gagal bayar, hingga minimnya perlindungan hukum.
“Selama ini profesi model belum memiliki lembaga yang mampu memberikan perlindungan secara menyeluruh. Berbeda dengan profesi lain yang telah memiliki organisasi resmi, model masih sering berjalan sendiri ketika menghadapi persoalan di lapangan,” katanya.
Berangkat dari kondisi tersebut, AVMS Indonesia tengah mempersiapkan rencana pembentukan Yayasan Arby Vembria (Arby Vembria Foundation), sebuah yayasan nirlaba yang dirancang sebagai wadah perlindungan bagi model, talenta, koreografer, fotografer, videografer, MC, kru produksi, serta berbagai profesi lain di industri fashion dan hiburan.
Menurut Arby, Yayasan Arby Vembria (Arby Vembria Foundation) nantinya akan menyediakan pendampingan hukum, perlindungan kesehatan, edukasi ketenagakerjaan, pengelolaan administrasi profesional, hingga mekanisme pelaporan apabila terjadi dugaan pelanggaran hak, kecelakaan kerja, maupun sengketa pembayaran.
Ia menuturkan, gagasan pembentukan yayasan tersebut lahir dari pengalaman lebih dari dua dekade berkiprah di dunia modeling dan industri kreatif.
Saya ingin profesi model dipandang sebagai profesi yang memiliki standar, etika, dan perlindungan yang jelas. Mereka berhak bekerja dengan aman, memperoleh kepastian hukum, serta mendapatkan penghargaan yang layak atas profesinya,” ujarnya.
Selain mendorong pembentukan yayasan, Arby juga mengajak seluruh pelaku industri untuk berani melaporkan dugaan pelanggaran yang merugikan pekerja kreatif. Menurutnya, perubahan ekosistem hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak berani menyuarakan persoalan secara bertanggung jawab dan didukung bukti yang memadai.
AVMS Indonesia juga membuka ruang mediasi hingga 30 Juli 2026 bagi pihak-pihak yang ingin menyelesaikan sengketa secara kekeluargaan. Setelah periode tersebut berakhir, setiap dugaan pelanggaran yang memenuhi unsur hukum akan diproses sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Arby menegaskan, langkah tersebut bukan untuk menciptakan polemik, melainkan sebagai upaya membangun ekosistem fashion Indonesia yang lebih sehat, profesional, dan berkeadilan bagi seluruh pelaku industri.
Ini bukan tentang saya atau AVMS. Ini tentang masa depan industri fashion Indonesia. Kita membutuhkan sistem yang melindungi semua orang, bukan hanya segelintir pihak,” pungkas Arby.(Tyo)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com
