
foto=fashion Designer Irun Maulana”Sasmita Mandala”, yang menjadi ruh dalam karya Li Scarf“
NASIONALTERKINI.COM.YOGYAKARTA. Di tengah berkembangnya industri modest fashion Indonesia, sosok Irun Maulana hadir dengan pendekatan yang berbeda. Ia bukan sekadar perancang busana, tetapi juga seorang ilustrator, fashionpreneur, sekaligus akademisi yang memadukan dunia kreatif dengan nilai-nilai spiritual yang berakar dari tradisi pesantren.

Bagi Irun, fashion bukan hanya soal keindahan visual. Setiap desain adalah ruang refleksi, tempat gagasan, pengalaman hidup, dan nilai spiritual bertemu dalam bentuk karya yang bermakna. Pendekatan inilah yang membuat karya-karyanya memiliki karakter kuat sekaligus kedalaman filosofi.Ujar :Irun Maulana:Senin:14/03/2026

Perempuan yang aktif sebagai dosen ini memiliki pengalaman luas di berbagai bidang kreatif, mulai dari manajemen bisnis fashion, ilustrasi, hingga pengembangan produk. Ia memandang dunia kreatif sebagai ruang pembelajaran yang terus berkembang. Ketertarikannya untuk mempelajari berbagai peran baru menjadi bagian dari proses panjang yang membentuk perjalanan profesionalnya.

Jejak karier Irun juga terlihat dari keaktifannya di berbagai panggung fashion nasional dan internasional. Karyanya pernah tampil dalam Muslim Fashion Festival (Muffest) selama periode 2021–2025, Jogja Fashion Week, hingga forum internasional seperti Kazansummit di Rusia dan Indonesia Modest Fashion Week di Melbourne, Australia.Jelas:Irun

Di bidang ilustrasi fashion, kemampuan visualnya juga mendapat pengakuan. Pada 2020, ia terpilih sebagai favorite illustrator pilihan desainer Feny Saptalia. Penghargaan tersebut menegaskan kemampuannya menerjemahkan gagasan busana ke dalam ilustrasi yang kuat dan ekspresif.

Perjalanan kreatifnya berjalan seiring dengan dunia akademik. Irun menempuh pendidikan Sarjana Pendidikan Islam di STAISA Jakarta, kemudian melanjutkan Magister Studi Islam di Universitas Islam Indonesia (UII). Saat ini ia juga tercatat sebagai kandidat doktor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.



Pengalaman akademik tersebut membuatnya terbiasa bergerak di dua dunia sekaligus: ruang intelektual dan industri kreatif. Ia pernah mengajar bahasa Inggris di Pesantren An-Nawawi Purworejo, kemudian menjadi dosen bahasa Inggris dan kewirausahaan di institusi yang sama.



Selain aktif di dunia pendidikan, Irun juga terlibat dalam berbagai komunitas profesional. Ia bergabung dalam Indonesian Fashion Chamber (IFC) Jogja Chapter di bidang marketing dan komunikasi, menjadi anggota Junior Chamber International (JCI), serta terlibat dalam pemberdayaan ekonomi perempuan pesantren melalui organisasi Jamiyah Perempuan Pengasuh Pesantren Putri.

Salah satu gagasan kreatif yang paling mencerminkan perjalanan batinnya adalah konsep “Sasmita Mandala”, yang menjadi ruh dalam karya Li Scarf.

Bagi Irun, setiap mandala selalu memiliki satu titik pusat—titik sunyi tempat semua garis bermula dan kembali. Dalam tafsirnya, titik itu adalah tauhid. Dari titik itulah, seluruh kreativitas lahir dan kembali menemukan maknanya.
Konsep Sasmita Mandala lahir dari perjalanan seorang desainer yang ditempa oleh keheningan pesantren. Dalam pandangannya, kreativitas tidak hanya diciptakan, tetapi juga ditirakati—melalui kesabaran, doa, dan proses panjang.
Motif mandala dalam karyanya tidak sekadar menjadi ornamen estetika. Setiap garis dirancang sebagai simbol perjalanan spiritual dan ketekunan dalam berkarya. Kerumitan pola yang tersusun rapi menjadi metafora bahwa keindahan sejati selalu lahir dari proses yang jujur dan penuh kesabaran.
Lingkaran mandala dimaknai sebagai lambang keutuhan dan perlindungan. Filosofi ini kemudian diterjemahkan dalam siluet coat pardesu Turki yang panjang dan elegan, busana yang merepresentasikan nilai iffah, yakni penjagaan martabat dan kehormatan perempuan muslimah.
Busana tersebut tidak tampil mencolok. Ia hadir dalam kesederhanaan yang tenang—kemewahan yang muncul melalui makna, bukan sekadar penampilan.
Pola mandala yang berulang juga menjadi simbol resiliensi kreativitas. Dalam dunia fashion yang bergerak cepat, sebuah gagasan bisa saja ditiru atau disederhanakan. Namun bagi Irun, energi penciptaan akan selalu berputar dan melahirkan tafsir baru yang lebih matang.
Melalui Li Scarf, Irun Maulana menghadirkan karya yang berangkat dari nilai pesantren namun berbicara kepada dunia. Baginya, kemewahan sejati bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi tentang makna yang dijaga di dalamnya.
Pesona karya tersebut juga terlihat saat Irun Maulana tampil memukau dalam perhelatan Modest Style Runway 2026 yang digelar di Plaza Ambarukmo, Yogyakarta, pada 7 Maret 2026. Dalam panggung tersebut, ia menunjukkan bagaimana spiritualitas, filosofi, dan estetika dapat bertemu dalam satu karya busana yang anggun sekaligus penuh makna.Tutup:Irun(Tyo)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com
