
NASIONALTERKINI. Di bawah cahaya bulan purnama, suasana hangat menyelimuti Galeri Segara Gunung, Jalan Ngipik, Dusun Tegal Cerme, Banguntapan, Yogyakarta, Rabu (5/11/2025) malam. Tepat pukul 19.00 WIB, acara Wicara Malam Purnama bertajuk “Ageman: Konteks Ini” digelar dengan menghadirkan sejumlah tokoh seni dan budaya.

Acara yang dimoderatori oleh Pak Hangno ini menghadirkan narasumber di antaranya Agus Ismoyo (seniman batik Galeri Segara Gunung), Ninik N. (perancang busana dan pemerhati wastra), serta Tukirno B. Sutejo (seniman tempa Togan Aji).

Agus Ismoyo selaku seniman batik mengatakan, Awalnya Ia menyukai warna putih pakaian serba putih—baju, celana, hingga sepatu—yang tampak sobek-sobek dan kusam. Bagi Iswoyo itu bukan sekadar gaya, melainkan pernyataan hidup dan seni.

Saya suka warna putih. Tapi ketika baju itu mulai kotor, sobek, atau kusam, justru di situlah keindahan muncul,” ujarnya tenang. “Karena hidup tidak selalu bersih dan sempurna. Ada proses, ada perjalanan, dan dari situ kita belajar makna.”

Bagi Ismoyo keindahan bukan soal tampilan luar, melainkan tentang kejujuran terhadap pengalaman hidup. Ia menolak anggapan bahwa karya seni harus selesai atau sempurna. “Bagi saya, setiap karya itu tumbuh. Tidak ada yang benar-benar selesai. Seperti hidup—selalu berproses,” katanya.

Dalam perbincangan itu, Ismoyo mengulas dua motif batik yang menjadi sumber inspirasinya: Beras Wutah dan Semen.
Motif Beras Wutah secara harfiah berarti beras yang tumpah. Tapi dalam filosofi Jawa, itu lambang kemakmuran dan kelimpahan rezeki. Tumpah bukan berarti hilang, tapi memberi ruang bagi kehidupan baru untuk tumbuh,” jelasnya

Sementara motif Semen, berasal dari kata semi atau “tumbuh kembali”. Motif ini melambangkan kesuburan, harapan, dan semangat hidup yang tak pernah padam. “Motif Semen mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini saling terhubung—manusia, alam, dan kehidupan,” lanjut Ismoyo

Melalui Gallery Segaragunung, Agus Ismoyo terus menyalakan semangat pelestarian budaya. Ia ingin tempat itu menjadi ruang belajar, berdialog, dan bertumbuh bersama—tempat di mana seni menjadi sumber nutrisi batin bagi siapa pun yang mencintai budaya.


Malam purnama itu ditutup dengan keheningan yang hangat. Di antara aroma kopi dan temaram cahaya, para hadirin seakan diajak menyelami makna terdalam dari karya Agus Ismoyo: bahwa keindahan sejati bukanlah kesempurnaan, melainkan perjalanan yang terus mengakar dan bersemi dalam kehidupan.Pungkas:Ismoyo(Tyo)
