
NASIONALTERKINI. YOGYAKARTA — Di balik selembar kain batik, tersimpan makna mendalam tentang budaya, doa, dan kebaikan. Begitu pula dengan batik Segoro Amarto, karya sarat filosofi yang memadukan beragam simbol keistimewaan Yogyakarta.
Motif utama batik ini menggambarkan Gunungan, Tugu Yogyakarta, serta ornamen khas yang melambangkan kota pelajar dan budaya gotong royong masyarakat Jogja. Di dalamnya juga terdapat motif Sawo Kecik, yang melambangkan harapan agar kebaikan senantiasa tumbuh dalam kehidupan. Ada pula gambar pohon asam, simbol pelindung dan keteduhan.
“Semua keistimewaan Jogja ada di Segoro Amarto. Mulai dari Gunungan, Tugu, Sawo Kecik, sampai simbol-simbol Keraton,” ujar Bu Darsi, perajin batik yang akrab disapa Bu Paijem, saat ditemui:Jumat:24/10/2025

Menurutnya, tingkat kesulitan terbesar dalam pembuatan batik ini terletak pada teknik wiron—yakni pengambilan warna biru dengan gradasi halus yang membutuhkan ketelitian tinggi. Namun, bagi Bu Paijem, tantangan terbesar bukan hanya soal teknik, tetapi juga pemahaman makna di balik setiap motif.
“Kalau membatik tanpa memahami maknanya, hasilnya tidak punya ruh. Padahal, ruh itu yang membuat batik punya kharisma,” ujarnya dengan lembut.
Ia menambahkan, filosofi batik Segoro Amarto erat kaitannya dengan semangat gotong royong dan spiritualitas masyarakat Yogyakarta, yang selalu mengarah pada kebaikan dan keikhlasan kepada Sang Pencipta.
“Semua menuju ke Keraton, dan akhirnya menuju ke Yang Kuasa,” tutup Bu Paijem, sembari tersenyum hangat di antara aroma malam batik yang menenangkan.(TyoJ
