
NASIONALTERKINI.COM YOGYAKARTA. Suasana hangat dan penuh keceriaan mewarnai perayaan Jayanti Maharddhika ke-43 di Ballroom Royal Darmo Malioboro Hotel, Yogyakarta, Sabtu (31/10/2026) malam. Bukan sekadar perayaan hari ulang tahun, pertemuan ini menjadi ruang untuk merajut kembali kenangan, mempererat persaudaraan, sekaligus meneguhkan semangat berkesenian yang telah tumbuh selama lebih dari empat dekade.

Perayaan yang dimulai pukul 18.00 WIB itu mempertemukan anggota Perhimpunan Bala Maharddhika dari berbagai angkatan. Mereka datang dari beragam daerah, bahkan luar negeri, dengan latar belakang profesi dan perjalanan hidup yang berbeda. Namun, ada satu hal yang menyatukan mereka: kecintaan terhadap seni dan persaudaraan yang terbangun sejak organisasi ini berdiri pada 31 Oktober 1983.

Acara dibuka dengan penampilan tari yang langsung menghidupkan suasana. Sejumlah tarian yang menjadi kebanggaan Bala Maharddhika, khususnya karya-karya Guruh Soekarnoputra, kembali ditampilkan. Pemotongan tumpeng menjadi salah satu bagian penting dalam perayaan sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan panjang organisasi tersebut.

Suasana semakin meriah ketika para anggota bersama-sama menyanyikan lagu Zamrud Khatulistiwa karya Guruh Soekarnoputra. Lagu itu seolah membawa mereka kembali ke masa muda, ketika latihan tari, panggung pertunjukan, dan kreativitas menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan.
Bala Maharddhika didirikan oleh Gentur Wisnubaroto, Diary Parentsono, dan Maya Damarwati. Dua nama pertama merupakan anggota Swara Maharddhika angkatan IX. Pendirian organisasi ini juga mendapat restu dari Guruh Soekarnoputra.
Sejak awal, Bala Maharddhika hadir sebagai wadah bagi generasi muda Yogyakarta untuk menyalurkan bakat, kreativitas, dan kecintaan terhadap seni, khususnya seni tari, melalui kegiatan positif.
Nama Bala Maharddhika memiliki makna pemuda yang merdeka. Kebebasan berekspresi tetap berada dalam koridor norma positif. Dengan berlandaskan Pancasila dan motto “Persatuan dan Kesatuan adalah Kekuatan”, organisasi ini terus berupaya mempertahankan eksistensinya hingga memasuki usia ke-43.
Ketua Perhimpunan Bala Maharddhika periode 2025–2028, Semangkin Handayani, mengatakan perayaan tahun ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan kembali anggota yang kini tersebar di berbagai daerah, pulau, bahkan negara.
Menurut Handayani, sekitar 60 anggota hadir dalam perayaan tersebut. Sebagian lainnya belum dapat bergabung karena kendala kesehatan, jarak tempat tinggal, maupun kesibukan keluarga.
Ia mengakui, regenerasi menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Sebagian besar anggota lama kini telah berkeluarga dan memiliki pekerjaan sehingga waktu untuk berkegiatan tidak lagi seleluasa ketika masih menjadi pelajar.
“Dulu ketika masih menjadi pelajar, kami benar-benar bisa fokus berkarya dan menari. Sekarang sudah berkeluarga dan bekerja sehingga harus membagi waktu. Ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi kami untuk mencari generasi penerus,” ujar Handayani.
Meski demikian, ia berharap Bala Maharddhika tetap menjadi ruang bagi anak-anak muda, mulai dari tingkat SMP, SMA hingga mahasiswa, untuk mengenal seni dan ikut berkarya.
Untuk menjaga kehidupan organisasi, pengurus berupaya menghadirkan kegiatan yang beragam. Mulai dari latihan tari, line dance, joging bersama, arisan, lomba, hingga permainan dalam peringatan 17 Agustus. Kegiatan sosial juga terus dilakukan, antara lain menjenguk anggota yang sakit, tabur bunga, dan doa bersama. Iuran anggota menjadi salah satu sumber untuk mendukung operasional organisasi.

Dukungan terhadap keberlanjutan Bala Maharddhika juga disampaikan Gusti Prabu dalam sambutannya. Ia berharap organisasi ini terus dikelola dengan baik dan tidak berhenti berkegiatan.
Menurutnya, apabila diperlukan, pengurus dapat menyewa tempat untuk latihan tari agar aktivitas berkesenian tetap berjalan. Setelah kegiatan latihan terbangun secara rutin, organisasi juga dapat mengembangkan program lain, termasuk menyelenggarakan perlombaan.
Ia menekankan pentingnya memperbanyak kegiatan agar Bala Maharddhika terus tumbuh dan berkembang.
Sementara itu, Ketua Panitia, Meniek, menjelaskan bahwa perayaan HUT ke-43 tidak hanya menjadi ajang mengenang perjalanan masa lalu, tetapi juga mempererat silaturahmi di antara anggota dan keluarga para pendiri.
“Kami ingin kebersamaan ini tidak hanya terbatas pada sesama anggota Bala Maharddhika, tetapi juga melibatkan keluarga sehingga semuanya menjadi satu keluarga besar,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan, kegiatan diawali dengan doa bersama dan tabur bunga pada Sabtu pagi di Makam Keluarga Sonjoto Koesoemoprawiro, Mangunan, Pakem, Sleman. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengenang salah satu pendiri Bala Maharddhika, Gentur Wisnubaroto.
Sejumlah anggota Swara Maharddhika Jakarta, antara lain Ati Ganda, Santi, dan Nina Trio Bebek, turut hadir bersama keluarga para pendiri.
Dalam perayaan tersebut, penghargaan juga diberikan kepada para pendiri sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan dedikasi mereka dalam membangun Bala Maharddhika. Apresiasi turut disampaikan kepada keluarga almarhum Wawan, mantan Ketua Bala Maharddhika, yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi.
Salah satu sosok yang turut hadir adalah Lia Mustafa, desainer yang ternyata merupakan senior Bala Maharddhika angkatan kedua. Kehadirannya memperlihatkan bahwa ikatan persaudaraan organisasi ini tetap terjaga, bahkan setelah para anggotanya menempuh perjalanan dan profesi yang berbeda.
Di dunia mode, Lia Mustafa terus membawa kecintaan terhadap Indonesia melalui karya-karya yang diperkenalkan di berbagai negara. Salah satu kiprahnya adalah keikutsertaan dalam Melbourne Fashion Festival 2025. Semangat berkarya dan memperkenalkan identitas Indonesia melalui seni menjadi bagian dari perjalanan yang sejalan dengan nilai-nilai yang tumbuh di Bala Maharddhika.
Puncak perayaan berlangsung meriah melalui penampilan sejumlah tarian yang diiringi lagu-lagu karya Guruh Soekarnoputra, di antaranya Janger, Zamrud Khatulistiwa, Damai, dan Gilang Indonesia Gemilang.
Alunan musik, permainan cahaya, dan gerak para penari menghidupkan suasana malam itu. Para anggota dan tamu undangan larut dalam nyanyian, tarian, serta kenangan masa muda. Panggung malam itu bukan sekadar tempat pertunjukan, melainkan ruang untuk kembali merasakan kebersamaan yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Semangat tersebut sejalan dengan visi yang disampaikan Guruh Soekarnoputra, bahwa mencintai Indonesia merupakan pekerjaan seumur hidup. Kecintaan itu tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu diwujudkan melalui karya, kreativitas, dan upaya merawat kebudayaan.
Memasuki usia 43 tahun, Bala Maharddhika menghadapi tantangan untuk menjaga kesinambungan organisasi sekaligus membuka ruang bagi generasi baru. Semangat berkesenian yang menjadi dasar pendiriannya diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi terus hidup melalui kegiatan nyata, regenerasi, dan karya.
Sebab, menjaga organisasi seni bukan sekadar mempertahankan nama dan sejarah. Lebih dari itu, memastikan kecintaan terhadap seni, budaya, dan Indonesia terus tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya.Pungkas:Lia(Tyo) Redaksi=
terkininasional@gmail.com
