
NASIONALTERKINI.COM, YOGYAKARTA – Malioboro Coffee Night (MCN) kembali hadir setelah vakum pada 2024 dan 2025. Memasuki penyelenggaraan keenam, festival kopi yang diinisiasi Komunitas Kopi Nusantara Yogyakarta ini akan berlangsung pada 29–31 Oktober 2026 di kawasan Malioboro, Yogyakarta, dengan menghadirkan program unggulan Pasar Kopi Nusantara.
Mengusung tema “Dari Petani untuk Indonesia, Kopi Indonesia untuk Dunia”, MCN #6 memberikan perhatian khusus kepada petani sebagai penghasil utama kopi. Festival ini tidak hanya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati beragam cita rasa kopi Nusantara, tetapi juga membuka peluang transaksi langsung antara petani dan pembeli.
Hal tersebut disampaikan Ketua Komunitas Kopi Nusantara, Wisnu Birowo, bersama Ketua Panitia Malioboro Coffee Night #6, Andri, dalam konferensi pers di Sellie Coffee, Jalan Malioboro Nomor 75, Sosromenduran, Kota Yogyakarta, Selasa (20/10/2026).

Wisnu Birowo mengatakan, penyelenggaraan tahun ini memiliki pendekatan berbeda dibandingkan festival sebelumnya. Jika kegiatan terdahulu lebih banyak diwarnai pembagian kopi gratis, kali ini panitia berfokus menghadirkan pasar bagi hasil panen petani.
“Kami lebih menekankan pada petani dan transaksi jual belinya. Harapannya, teman-teman pelaku usaha atau pembeli green bean bisa datang langsung ke acara untuk mencari dan membeli kopi dari petani,” ujar Wisnu.
Menurut dia, sektor hulu perkopian, terutama petani dan kebun kopi, perlu mendapatkan perhatian lebih besar di tengah perkembangan bisnis kopi yang semakin dinamis. Selama ini, aktivitas industri di sektor pengolahan, kedai, dan pemasaran berkembang pesat, sementara petani masih menghadapi tantangan dalam memperluas akses pasar.
Melalui Pasar Kopi Nusantara, penyelenggara ingin mempertemukan petani dengan pembeli dalam satu ruang yang memungkinkan terjadinya transaksi sekaligus pertukaran pengetahuan mengenai karakter dan kualitas kopi dari berbagai daerah.
Lebih dari 30 petani dijadwalkan hadir membawa kopi dari sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Gayo, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua. Penyelenggara juga menyebut keterlibatan 24 kelompok petani kopi dalam upaya memperluas pengenalan dan pemasaran produk mereka.
Kehadiran para petani ini diharapkan membuka peluang bagi pemilik kedai kopi, pelaku usaha, penyangrai kopi (roaster), dan pembeli biji kopi mentah untuk mendapatkan produk langsung dari sumbernya. Dengan demikian, hubungan antara petani dan pasar dapat terbangun lebih dekat.
Ketua Panitia Malioboro Coffee Night #6, Andri, ,menilai, keberadaan pasar yang mempertemukan petani dan pembeli menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan industri kopi nasional.
Menurut Andri, masyarakat perlu mendapat kesempatan untuk mengenal kopi lebih jauh, mulai dari asal daerah, proses budidaya, hingga cita rasa yang dihasilkan. Interaksi langsung antara petani dan pengunjung diharapkan dapat meningkatkan apresiasi terhadap kopi lokal sekaligus membuka peluang kerja sama dengan pelaku industri.
Pengalaman menikmati kopi, lanjutnya, tidak harus berhenti pada kegiatan mencicipi. Pengunjung juga dapat memanfaatkan festival untuk berbincang dengan petani, mengenal karakter kopi, dan memahami proses panjang di balik setiap cangkir yang disajikan.
Untuk mendukung kebiasaan yang lebih ramah lingkungan, pengunjung diajak membawa tumbler atau wadah minum sendiri. Semangat kebersamaan dan kesederhanaan tetap menjadi bagian dari penyelenggaraan MCN yang memadukan aktivitas perdagangan, diskusi, dan pengalaman menikmati kopi.
Petani Kopi Merapi Perkenalkan Potensi Kopi Lokal
Potensi kopi lokal Yogyakarta juga menjadi perhatian dalam penyelenggaraan tahun ini. Yopi, petani kopi Merapi, mengatakan bahwa kopi dari lereng Merapi memiliki peluang untuk bersaing dengan kopi dari berbagai daerah di Indonesia.
Namun, selama ini kopi Merapi masih kerap dikenal masyarakat sebatas sebagai produk oleh-oleh. Padahal, menurut Yopi, kopi Merapi memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk unggulan daerah apabila mendapatkan pengenalan dan akses pasar yang lebih luas.
Ia bersama komunitas kopi berupaya memperkuat identitas kopi Merapi agar semakin dikenal masyarakat, termasuk oleh pelaku usaha kedai kopi di Yogyakarta. Upaya tersebut dilakukan dengan memperkenalkan kopi berdasarkan asal daerahnya, sekaligus mendorong masyarakat mengenali karakter dan kualitas hasil perkebunan setempat.
Pengembangan kopi Merapi melibatkan petani di sejumlah wilayah, termasuk Cangkringan dan Kaliurang di Kabupaten Sleman, serta jejaring komunitas kopi di kawasan sekitarnya. Menurut Yopi, potensi kopi tidak hanya ditentukan oleh popularitas nama daerah, tetapi juga oleh proses budidaya, perawatan kebun, dan penanganan hasil panen.
Kebun yang dirawat dengan baik berpeluang menghasilkan biji kopi berkualitas, termasuk kebun berskala kecil yang dikelola secara serius. Karena itu, petani perlu memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan hasil panennya secara langsung kepada konsumen dan pelaku usaha.
Melalui Pasar Kopi Nusantara dalam Malioboro Coffee Night #6, Yopi berharap kopi Merapi semakin dikenal masyarakat dan mendapatkan ruang pemasaran yang lebih luas. Pertemuan langsung dengan pembeli juga dapat menjadi kesempatan untuk membangun jaringan usaha dan memperkenalkan potensi kopi lokal kepada pasar yang lebih besar.
Tiga Hari Merayakan Kopi Nusantara
Selama tiga hari, 29–31 Oktober 2026, Malioboro Coffee Night #6 akan menjadi ruang pertemuan petani, pelaku usaha, komunitas, dan penikmat kopi. Pasar Kopi Nusantara menjadi salah satu program utama yang membedakan penyelenggaraan tahun ini, dengan penekanan pada pemasaran hasil panen dan penguatan posisi petani dalam rantai industri kopi.
Penyelenggaraan MCN #6 juga berlangsung dalam suasana perayaan HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Festival ini turut menyemarakkan berbagai agenda kreatif sepanjang Oktober, bersamaan dengan kegiatan yang berkaitan dengan Hari Kopi Internasional, Hari Batik Nasional, dan Jogja FestiSale.
Melalui tema “Dari Petani untuk Indonesia, Kopi Indonesia untuk Dunia”, Komunitas Kopi Nusantara ingin mengajak masyarakat melihat kopi bukan sekadar minuman atau komoditas bisnis. Di balik setiap cangkir terdapat kerja petani, keberlanjutan kebun, pengetahuan budidaya, serta identitas daerah yang perlu dijaga.
Malioboro Coffee Night #6 diharapkan menjadi momentum untuk memperluas pasar kopi Nusantara sekaligus memperkuat hubungan antara petani dan konsumen. Dengan memberikan ruang lebih besar kepada petani, pertumbuhan industri kopi Indonesia diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi mereka yang berada di sektor hulu.Pungkas:Andri(Tyo) Redaksi =terkininasional@gmail.com
