
NASIONALTERKINI.COM YOGYAKARTA Mitos kerap dianggap sebagai takhayul. Padahal, di balik cerita yang diwariskan turun-temurun, tersimpan pengetahuan lokal yang belum tentu dipahami melalui cara pandang ilmu pengetahuan modern. Persoalan inilah yang dibahas dalam talkshow “Membaca Mitos: Antara Tradisi Lisan, Ingatan, dan Pengetahuan Budaya” pada hari kelima Ruang Masyarakat Ketemu (RUMAKET) 2026 “Hageganti” di Pythagoras Hall, Taman Pintar Yogyakarta, Kamis (08/10/2026)
Dalam kegiatan ini, RUMAKET secara khusus menghadirkan Asosiasi Tradisi Lisan Indonesia (ATL) Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengajak masyarakat membaca mitos secara lebih kritis, bukan sekadar sebagai cerita atau kepercayaan, melainkan juga sebagai bagian dari pengetahuan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Talkshow menghadirkan Dr. Dra. Daru Winarti, M.Hum., dengan Dr. Ratun Untoro, M.Hum., sebagai moderator. Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil., Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Indonesia (ATL) Daerah Istimewa Yogyakarta, turut hadir dan memberikan pandangan mengenai mitos sebagai bentuk pengetahuan lokal.
Daru Winarti menyoroti tantangan dalam memahami pengetahuan lokal di tengah kuatnya pengaruh ilmu pengetahuan Barat.
“Kita kaya dengan pengetahuan lokal yang tidak mudah diterjemahkan oleh generasi saat ini. Hal itu terjadi karena generasi saat ini sudah terlanjur ‘dikuasai’ oleh ilmu Barat (asing),” ujarnya.
Menurut Daru, kekayaan pengetahuan lokal perlu dipahami melalui konteks budaya yang melahirkannya. Tanpa pemahaman tersebut, pengetahuan yang diwariskan leluhur berisiko dianggap tidak relevan, bahkan kehilangan maknanya ketika berhadapan dengan cara berpikir generasi sekarang.
Ratun Untoro menjelaskan bahwa mitos dapat memuat pengetahuan yang kemudian dianggap sebagai takhayul oleh orang yang tidak mampu memahami maknanya. Sebaliknya, jika seseorang terlalu yakin terhadap mitos, mitos dapat berubah menjadi kepercayaan yang diyakini sebagai kebenaran mutlak.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa mitos perlu ditempatkan secara proporsional. Masyarakat perlu memahami konteks dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya tanpa harus menerima seluruh kisah sebagai kebenaran mutlak ataupun menolaknya begitu saja.
Sementara itu, Heddy Shri Ahimsa-Putra memandang mitos sebagai ethnoscience atau pengetahuan yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat, tetapi tidak atau belum dipahami melalui pendekatan ilmu pengetahuan Barat.
“Mitos adalah ethnoscience yang tidak atau belum dipahami melalui science ala Barat. Orang Jawa mempunyai science-nya sendiri yang perlu dipahamkan kepada dunia,” ujarnya.
Pandangan tersebut menggarisbawahi pentingnya memahami kebudayaan melalui kerangka pengetahuan masyarakat yang menghidupinya. Tradisi lisan bukan hanya sarana penyampaian cerita, melainkan juga medium pewarisan pengalaman, nilai, dan cara masyarakat memahami lingkungan serta kehidupannya.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, S.Sos., M.M., mengatakan bahwa diskusi ini diharapkan membuka ruang dialog yang kritis mengenai warisan budaya.
“Melalui talkshow ‘Membaca Mitos: Antara Tradisi Lisan, Ingatan, dan Pengetahuan Budaya’, kami berharap terjadi ruang dialog yang terbuka dan kritis. Mitos dapat dibaca dari berbagai perspektif. Dari sisi tradisi lisan, kita dapat melihat bagaimana cerita diwariskan. Dari sisi ingatan, kita dapat memahami bagaimana masyarakat menyimpan pengalaman kolektifnya. Dan dari sisi pengetahuan budaya, kita dapat menggali nilai serta pemahaman yang terkandung di dalamnya,” kata Yetti.
Menurut dia, dialog semacam ini penting agar masyarakat dapat mengenali kekayaan tradisi sekaligus memahami relevansinya dalam kehidupan masa kini. Dengan demikian, warisan budaya tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi tetap menjadi sumber pemahaman yang dapat dikaji dan dibicarakan lintas generasi.
Selain diskusi, RUMAKET 2026 menghadirkan penampilan seni dari Moesa Creative Academy, SD Muhammadiyah Sapen. Empat siswa tampil membawakan beragam bentuk sastra Jawa, mulai dari geguritan, macapat, hingga maca cerkak.
Aleser Ghaizan Althaf membawakan geguritan dan merupakan peraih juara I kategori geguritan dalam Kompetisi Bahasa dan Sastra tingkat DIY. Penampilan macapat disajikan oleh Revanessa Adhilla Sekarnitya, peraih juara II kategori macapat, serta Aracelyn Kasyavani Yumna Katili, peraih juara harapan II kategori macapat dalam kompetisi yang sama. Sementara itu, Aisya Syafazea Almahyra, peraih juara II kategori maca cerkak, membawakan cerita cekak berbahasa Jawa.
Penampilan para siswa tersebut memperlihatkan bagaimana sastra Jawa terus dipelajari dan dipraktikkan oleh generasi muda. Melalui panggung kebudayaan, bahasa dan sastra daerah memperoleh ruang untuk tumbuh sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat dengan cara yang dekat dengan kehidupan anak-anak.
Perpaduan diskusi dan pertunjukan seni menjadi bagian dari upaya RUMAKET 2026 “Hageganti” untuk mempertemukan pengetahuan, tradisi, dan ekspresi budaya. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak tidak hanya mengenali warisan budaya, tetapi juga memahami pengetahuan yang tersimpan di dalamnya serta meneruskannya kepada generasi berikutnya.Pungkas:Yetti(Tyo)
Redaksi =
terkininasional@gmail.com
